CIREBON, JurnalPost.com – Di sebuah gang di kawasan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, sepasang suami istri menjalankan usaha kuliner sederhana bernama Ketoprak Sedap Malam. Tanpa bantuan karyawan, keduanya mengelola seluruh kegiatan usaha, mulai dari menyiapkan bahan baku, memasak, hingga melayani pelanggan.
Meski dijalankan secara sederhana, usaha yang berlokasi di Gang Jalak II, Sunyaragi, tersebut mampu menjual rata-rata 35 porsi ketoprak setiap hari.
Kondisi ini menarik perhatian mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, yang melakukan kajian studi kelayakan bisnis terhadap usaha tersebut.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Ketoprak Sedap Malam memiliki tingkat penjualan yang cukup baik dibandingkan dengan titik impas usahanya. Dengan kebutuhan penjualan minimal sekitar lima porsi per hari untuk menutup biaya, rata-rata penjualan mencapai tujuh kali lipat dari batas tersebut.
Namun, hasil tersebut belum sepenuhnya menjamin keberlanjutan usaha. Tim kajian memberikan penilaian "GO Bersyarat", yang berarti usaha memiliki potensi untuk dilanjutkan, tetapi masih memerlukan verifikasi sejumlah aspek keuangan dan operasional.
Ramai Pembeli pada Malam Hari
Ketoprak Sedap Malam memiliki pola penjualan yang berbeda antara siang dan malam.
Pada siang hari, jumlah pembeli rata-rata sekitar 10 orang. Sementara itu, pada malam hari, khususnya pukul 19.00 hingga 22.00, jumlah pelanggan meningkat menjadi sekitar 20 orang atau lebih.
Pelanggan usaha ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum.
Salah satu keunggulan yang ditemukan dalam kajian adalah penggunaan lontong berbungkus daun. Cara penyajian tersebut menjadi pembeda di tengah persaingan usaha ketoprak di kawasan Sunyaragi.
Dalam radius yang relatif dekat terdapat sejumlah usaha sejenis, di antaranya Ketoprak Primadona yang berjarak sekitar 200 meter dengan harga hampir sama serta Ketoprak Al Jumhur Siti yang berjarak sekitar 400 meter dengan harga Rp14.000.
Keberadaan pesaing tersebut membuat kualitas makanan, harga, dan pelayanan menjadi faktor penting untuk mempertahankan pelanggan.
Pilihan Menu dan Harga Ketoprak Sedap Malam
Ketoprak Sedap Malam menyediakan beberapa pilihan menu dengan harga yang relatif terjangkau.
Berikut daftar harga yang dicatat dalam kajian:
Ketoprak Original: Rp12.000
Ketoprak Telur: Rp15.000
Ketoprak Indomie: Rp17.000
Ketoprak Indomie + Telur: Rp20.000
Kerupuk tambahan: Rp2.000
Variasi menu tersebut memberikan pilihan bagi pelanggan sesuai selera dan kemampuan membeli.
Meski demikian, tim kajian menilai bahwa penghitungan biaya produksi untuk setiap jenis menu masih perlu dilakukan secara lebih terperinci agar keuntungan masing-masing produk dapat diketahui.
Keuntungan Rp3.000 per Porsi dan Titik Impas yang Rendah
Salah satu bagian penting dalam kajian ini adalah analisis biaya produksi dan keuntungan usaha.
Untuk Ketoprak Original yang dijual seharga Rp12.000, harga pokok penjualan (HPP) diperkirakan mencapai Rp9.000 per porsi.
Biaya tersebut terdiri atas lontong atau ketupat Rp1.500, tahu goreng Rp2.000, bihun, tauge, dan timun Rp1.500, bumbu kacang serta bawang Rp2.500, kerupuk dan kecap Rp1.000, serta gas, minyak, dan tisu Rp500.
Dengan perhitungan tersebut, setiap porsi Ketoprak Original memberikan margin kontribusi sebesar Rp3.000 untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan keuntungan.
Adapun biaya tetap usaha diperkirakan sebesar Rp450.000 per bulan, terdiri atas sewa lapak Rp400.000 dan listrik Rp50.000.
Berdasarkan simulasi penjualan 35 porsi per hari dengan harga Rp12.000, omzet usaha diperkirakan mencapai Rp420.000 per hari atau sekitar Rp12,6 juta dalam 30 hari.
Setelah memperhitungkan biaya variabel dan biaya tetap yang dimasukkan dalam simulasi, laba bulanan diperkirakan mencapai Rp2,7 juta.
Namun, angka tersebut belum termasuk upah pemilik, penyusutan peralatan, dan sejumlah biaya operasional lain yang belum diperhitungkan.
Titik impas atau break-even point (BEP) usaha diperkirakan berada pada 150 porsi per bulan. Dengan rata-rata penjualan 1.050 porsi per bulan, usaha memiliki margin keselamatan sekitar 85,7 persen.
Artinya, berdasarkan asumsi simulasi, penjualan masih berada cukup jauh di atas batas minimal untuk menutup biaya.
Kenaikan Harga Bahan Baku Menjadi Ancaman Utama
Walaupun tingkat penjualan dinilai cukup baik, Ketoprak Sedap Malam menghadapi tantangan dari perubahan harga bahan baku.
Margin kontribusi yang hanya Rp3.000 per porsi membuat keuntungan usaha cukup sensitif terhadap kenaikan biaya produksi.
Dalam simulasi yang dilakukan tim, kenaikan harga bahan baku sebesar 5 persen dapat menurunkan laba bulanan menjadi sekitar Rp2.227.500.
Apabila biaya bahan baku meningkat 10 persen, laba diperkirakan turun menjadi Rp1.755.000. Sementara itu, kenaikan sebesar 15 persen membuat laba menyusut hingga sekitar Rp1.282.500 per bulan.
Sebaliknya, apabila jumlah pembeli berkurang 20 persen dengan struktur biaya yang sama, laba simulasi masih berada pada kisaran Rp2.070.000 per bulan.
Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian biaya bahan baku menjadi salah satu faktor utama untuk menjaga keuntungan.
Tim juga mengkaji kemungkinan penyesuaian harga jual.
Apabila biaya bahan baku meningkat 10 persen dan harga Ketoprak Original dinaikkan dari Rp12.000 menjadi Rp13.000, laba simulasi dapat mencapai Rp2.805.000 per bulan, dengan asumsi jumlah pembeli tidak mengalami perubahan.
Namun, kenaikan harga tetap perlu mempertimbangkan daya beli pelanggan dan persaingan dengan pedagang ketoprak lainnya.
Proyeksi Usaha untuk Tiga Tahun Mendatang
Kajian turut menyusun proyeksi perkembangan usaha selama tiga tahun menggunakan tiga skenario, yakni optimistis, moderat, dan pesimistis.
Pada skenario optimistis dengan pertumbuhan penjualan 10 persen per tahun, laba bulanan diperkirakan meningkat dari Rp2,7 juta pada tahun pertama menjadi Rp3.015.000 pada tahun kedua dan Rp3.361.500 pada tahun ketiga.
Dalam skenario moderat dengan pertumbuhan 5 persen per tahun, laba simulasi diperkirakan mencapai Rp2.857.500 pada tahun kedua dan Rp3.022.875 pada tahun ketiga.
Sementara itu, dalam skenario pesimistis dengan penurunan penjualan 5 persen setiap tahun, laba masih diproyeksikan sekitar Rp2.542.500 pada tahun kedua dan Rp2.392.875 pada tahun ketiga.
Seluruh angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan asumsi harga jual dan struktur biaya yang tetap, bukan hasil keuangan aktual pada periode mendatang.
Karena itu, perubahan harga bahan baku, kondisi persaingan, dan perilaku konsumen tetap perlu diperhitungkan.
Legalitas dan Pencatatan Keuangan Usaha
Dari sisi legalitas, Ketoprak Sedap Malam tercatat memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan pada 12 Juli 2023 dengan kategori usaha mikro.
Pemilik juga menyatakan telah memiliki sertifikat halal serta memenuhi persyaratan perizinan dan keamanan pangan yang relevan.
Meski demikian, dokumen pendukung selain NIB masih perlu diperiksa lebih lanjut untuk memastikan kesesuaiannya.
Dalam pengelolaan keuangan, pemilik menggunakan pencatatan melalui buku dan aplikasi pada telepon seluler.
Sementara itu, kegiatan promosi dilakukan melalui media sosial untuk memperkenalkan produk dan menjangkau pelanggan.
Hasil Kajian: Usaha Layak Dilanjutkan dengan Sejumlah Catatan
Berdasarkan berbagai aspek yang dianalisis, tim mahasiswa memberikan status "GO Bersyarat" terhadap Ketoprak Sedap Malam.
Penilaian tersebut menunjukkan adanya potensi keberlanjutan usaha, tetapi belum menjadi keputusan akhir mengenai kelayakan bisnis secara menyeluruh.
Setidaknya terdapat empat hal yang perlu diselesaikan sebelum kesimpulan final dapat diberikan, yakni verifikasi omzet aktual melalui pencatatan transaksi selama 14–30 hari, penghitungan HPP seluruh menu, perhitungan upah pemilik, serta pemeriksaan dokumen legalitas.
Apabila ditemukan kelemahan yang masih dapat diperbaiki, seperti biaya produksi yang terlalu tinggi atau harga jual yang kurang sesuai, usaha dapat masuk dalam kategori perbaikan atau REVISE.
Sementara itu, opsi penggantian model usaha atau REPLACE baru dipertimbangkan apabila usaha terbukti tidak berkelanjutan meskipun telah dilakukan perbaikan yang wajar.
Kajian ini juga memberikan pelajaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengenai pentingnya pencatatan transaksi, penghitungan biaya produksi, pemantauan harga bahan baku, serta pemahaman terhadap kondisi persaingan.
Usaha kecil dengan penjualan yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan keuntungan besar apabila biaya produksi tidak dikendalikan secara tepat.
Sebaliknya, usaha sederhana yang memiliki pencatatan keuangan teratur dan memahami titik impas dapat mempunyai dasar yang lebih kuat untuk mempertahankan serta mengembangkan bisnisnya.
Tentang Penulis
Huda Fadhlunnisa merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon.
Artikel ini dikembangkan dari tugas mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis di bawah bimbingan Sandi Nasrudin Wibowo, S.E., M.M., MCE, berdasarkan Project Charter kelompok PT Achiki yang disusun bersama Fahlevy Apik Kurnia dan Khairunnisa Salsabila Gunawan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda