JurnalPost.com - Pesantren sejak dahulu dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan kepribadian dan akhlak santri. Di dalamnya, santri tidak sekadar belajar membaca kitab, menghafal Al-Qur'an, memahami hadis, atau menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Lebih dari itu, santri juga dibimbing untuk memiliki adab, kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kemampuan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam praktik pendidikan, terkadang keberhasilan seorang santri masih lebih banyak diukur berdasarkan kemampuan akademiknya. Santri dianggap berhasil apabila mampu menghafal banyak materi, memahami pelajaran, mendapatkan nilai tinggi, atau menyelesaikan jenjang pendidikan dengan baik. Padahal, ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana ilmu tersebut membentuk perilaku dan kepribadiannya.
Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara taklim dan tarbiyah. Keduanya merupakan unsur penting dalam pendidikan Islam, tetapi memiliki penekanan yang berbeda. Taklim berkaitan dengan proses penyampaian dan pengajaran ilmu, sedangkan tarbiyah mencakup proses pembinaan dan pengembangan manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Lantas, mengapa santri lebih membutuhkan tarbiyah daripada sekadar taklim? Apakah mengajarkan ilmu saja tidak cukup untuk membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak?
Makna Taklim dan Tarbiyah
Secara sederhana, taklim dapat dipahami sebagai proses mengajarkan ilmu pengetahuan kepada seseorang. Dalam proses taklim, terdapat aktivitas guru menyampaikan materi, menjelaskan suatu konsep, memberikan pemahaman, serta membimbing peserta didik agar mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum mereka ketahui.
Taklim memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Bahkan, aktivitas pengajaran ilmu disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman:
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
"Dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (As-Sunnah)." (QS. Al-Baqarah: 129).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pengajaran ilmu merupakan bagian penting dari tugas para rasul dalam membimbing umat manusia.
Sementara itu, tarbiyah memiliki cakupan yang lebih luas. Tarbiyah tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga proses membimbing, membina, memelihara, dan mengembangkan potensi manusia secara bertahap. Di dalamnya terdapat pembinaan keimanan, akhlak, kebiasaan, kedisiplinan, serta pembentukan karakter.
Dengan demikian, apabila taklim lebih menekankan pada pertanyaan, "Apa yang harus diketahui oleh santri?", maka tarbiyah juga mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam, yaitu "Menjadi pribadi seperti apakah santri setelah mendapatkan ilmu tersebut?"
Keduanya bukanlah dua konsep yang harus dipertentangkan. Taklim merupakan bagian penting dari proses pendidikan, sedangkan tarbiyah memberikan arah agar ilmu yang dipelajari mampu membentuk kepribadian dan perilaku seseorang.
Mengapa Santri Tidak Cukup Hanya Diajari?
1. Ilmu Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Akhlak
Seseorang bisa saja mengetahui banyak dalil tentang kejujuran, tetapi belum tentu terbiasa berkata jujur. Seseorang bisa memahami hukum tentang ghibah, tetapi masih mudah membicarakan keburukan orang lain. Bahkan, seseorang dapat menguasai berbagai kitab tentang adab, tetapi belum tentu mampu menunjukkan adab yang baik kepada gurunya.
Hal ini menunjukkan bahwa mengetahui suatu kebaikan tidak selalu berarti mampu mengamalkannya.
Pengetahuan membutuhkan proses pembinaan agar dapat menjadi kebiasaan dan tercermin dalam perilaku. Santri tidak cukup hanya diberi pemahaman tentang pentingnya menghormati guru, tetapi juga perlu dibimbing untuk mempraktikkannya. Mereka tidak cukup hanya diajarkan tentang kesabaran, tetapi perlu dilatih menghadapi keadaan yang menuntut kesabaran.
Di sinilah tarbiyah mengambil peran. Tarbiyah menjembatani pengetahuan dengan pengamalan sehingga ilmu tidak berhenti sebagai informasi yang tersimpan dalam pikiran, tetapi menjadi bagian dari karakter seseorang.
2. Adab Tidak Cukup Diajarkan, tetapi Harus Diteladankan
Dalam tradisi pendidikan Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat penting. Adab bukan sekadar materi pelajaran yang dapat disampaikan melalui ceramah atau tulisan. Adab juga harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang ustaz yang mengajarkan kesabaran, misalnya, perlu menunjukkan kesabaran dalam menghadapi santri. Guru yang mengajarkan kejujuran harus memberikan teladan kejujuran. Demikian pula, seorang pendidik yang mengajarkan tawadhu perlu menunjukkan sikap rendah hati dalam interaksinya dengan orang lain.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan teladan utama dalam pendidikan. Beliau tidak hanya menyampaikan wahyu dan mengajarkan ilmu, tetapi juga memperlihatkan akhlak mulia dalam kehidupan nyata.
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui perkataan, tetapi juga melalui keteladanan. Santri membutuhkan figur yang dapat mereka contoh, bukan hanya sosok yang mampu menjelaskan teori tentang kebaikan.
3. Tarbiyah Membentuk Kebiasaan, Bukan Sekadar Pengetahuan
Pendidikan yang baik tidak berhenti ketika kegiatan belajar mengajar selesai. Justru, keberhasilan pendidikan dapat terlihat dari kebiasaan yang terbentuk setelah seseorang mendapatkan pembelajaran.
Dalam lingkungan pesantren, pembiasaan bangun sebelum subuh, menjaga kebersihan, melaksanakan salat berjamaah, menghormati sesama, menjaga lisan, dan bertanggung jawab terhadap tugas merupakan bagian dari proses pembinaan.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter santri.
Santri yang terbiasa menjaga kebersihan bukan hanya mengetahui bahwa kebersihan merupakan bagian dari ajaran Islam, melainkan juga memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan tanpa harus terus-menerus diperintah.
Begitu pula santri yang terbiasa disiplin akan belajar mengatur waktu dan bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Tarbiyah membutuhkan proses, pengulangan, kesabaran, dan pendampingan. Karakter tidak terbentuk hanya melalui satu kali nasihat, melainkan melalui pembiasaan yang terus-menerus.
4. Santri Membutuhkan Bimbingan dalam Menghadapi Kehidupan
Pesantren bukan hanya tempat untuk mempersiapkan santri menghadapi ujian akademik. Pesantren juga menjadi tempat untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari, santri akan berhadapan dengan berbagai persoalan, mulai dari perbedaan pendapat, konflik pertemanan, rasa kecewa, kegagalan, keterbatasan, hingga godaan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama.
Taklim dapat memberikan pengetahuan tentang bagaimana Islam mengajarkan penyelesaian suatu persoalan. Namun, tarbiyah membantu santri menerapkan pengetahuan tersebut ketika mereka benar-benar menghadapinya.
Misalnya, santri mungkin telah mempelajari hadis tentang keutamaan menahan amarah. Akan tetapi, ketika terjadi perselisihan dengan temannya, ia tetap membutuhkan bimbingan agar mampu mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan cara yang baik.
Dengan demikian, tarbiyah tidak hanya membentuk santri yang mengetahui ajaran Islam, tetapi juga membimbing mereka agar mampu menjadikan ajaran tersebut sebagai pedoman dalam menghadapi kehidupan.
Tarbiyah dan Taklim dalam Perspektif Al-Qur'an
Menariknya, Al-Qur'an menggambarkan tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melalui beberapa unsur pendidikan yang saling berkaitan, yaitu membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, serta mengajarkan Kitab dan Hikmah.
Allah Ta'ala berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah." (QS. Al-Jumu'ah: 2).
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat penting tentang pendidikan dalam Islam. Tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga melakukan tazkiyah, yaitu penyucian jiwa.
Artinya, pendidikan Islam memiliki dimensi intelektual sekaligus spiritual dan moral. Ilmu perlu disertai dengan pembinaan jiwa agar seseorang tidak hanya cerdas dalam memahami agama, tetapi juga memiliki keimanan dan akhlak yang baik.
Jika dikaitkan dengan pendidikan pesantren, kegiatan belajar kitab, tahfiz Al-Qur'an, kajian hadis, dan pembelajaran ilmu agama merupakan bagian dari taklim. Sementara itu, pembinaan ibadah, penanaman adab, keteladanan ustaz, pembiasaan amal saleh, dan pendampingan kepribadian merupakan bagian dari proses tarbiyah.
Keduanya perlu berjalan beriringan. Taklim tanpa pembinaan berisiko menghasilkan pengetahuan yang tidak tercermin dalam perilaku. Sebaliknya, pembinaan tanpa dasar ilmu yang benar juga dapat kehilangan arah. Oleh karena itu, pesantren perlu menghadirkan pendidikan yang menggabungkan keduanya.
Tantangan Pendidikan Pesantren Masa Kini
Salah satu tantangan pendidikan pesantren saat ini adalah kecenderungan mengukur keberhasilan santri berdasarkan capaian yang mudah terlihat dan dihitung. Misalnya, jumlah hafalan Al-Qur'an, banyaknya kitab yang dipelajari, nilai ujian, atau prestasi dalam perlombaan.
Indikator tersebut tentu penting. Namun, ada pertanyaan yang perlu direnungkan: apakah santri yang memiliki hafalan banyak selalu menunjukkan adab yang baik? Apakah santri yang memahami banyak materi agama selalu mampu mengendalikan lisannya? Apakah keberhasilan menyelesaikan target pembelajaran otomatis menunjukkan keberhasilan pendidikan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk merendahkan capaian akademik santri, melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam tidak boleh dibatasi pada aspek kognitif.
Pesantren perlu memberikan perhatian yang seimbang terhadap perkembangan ilmu, keimanan, dan akhlak santri.
Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah:
Menguatkan keteladanan pendidik. Ustaz dan ustazah perlu menjadi contoh dalam sikap, ibadah, kedisiplinan, dan interaksi sehari-hari.
Mengintegrasikan adab dalam pembelajaran. Setiap kegiatan belajar sebaiknya tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga mengandung nilai-nilai adab yang dapat dipraktikkan.
Membangun budaya pesantren yang mendidik. Peraturan, rutinitas, dan kegiatan harian perlu diarahkan untuk membentuk tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan, dan kepedulian.
Memberikan pendampingan secara personal. Setiap santri memiliki latar belakang, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Mengevaluasi perkembangan akhlak dan perilaku. Keberhasilan santri perlu dilihat bukan hanya dari nilai akademik, tetapi juga dari perkembangan ibadah, tanggung jawab, adab, dan pengamalan ilmu.
Tujuan Pendidikan Bukan Sekadar Membuat Santri Tahu
Pada akhirnya, pendidikan pesantren bukan sekadar proses memindahkan ilmu dari guru kepada murid. Pendidikan merupakan proses panjang dalam membimbing manusia agar mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan.
Santri memang membutuhkan taklim agar memiliki ilmu. Namun, mereka juga membutuhkan tarbiyah agar ilmu tersebut membentuk kepribadian dan menjadi pedoman dalam bertindak.
Kita tentu berharap pesantren melahirkan generasi yang bukan hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam perilakunya.
Bukan hanya mampu menjelaskan hadis tentang akhlak, tetapi juga berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bukan hanya memahami hukum-hukum agama, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjalankan dan menjaga batasan-batasan syariat.
Sebab, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak ilmu yang berhasil disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana ilmu tersebut memberikan pengaruh terhadap kehidupan orang yang mempelajarinya.
Santri tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajarinya banyak hal, tetapi juga pendidik yang bersedia membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab, tujuan pendidikan Islam bukan sekadar mencetak orang yang berilmu, melainkan membentuk manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Daftar Pustaka
Al-Qur'an al-Karim.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1999). The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: ISTAC.
Langgulung, Hasan. (1986). Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Nata, Abuddin. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Tafsir, Ahmad. (2012). Ilmu Pendidikan Islami. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda