Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Sempat Kesulitan Menggunakan BRImo, Nasabah Umi Apresiasi Pelayanan BRI Cabang Bojonegoro

  2. Nasabah Aninda Apresiasi Pelayanan BRI Cabang Bojonegoro, Transaksi Makin Mudah dan Nyaman

  3. FH UI dan KOMPAK Jakarta Edukasi Anak Muda Kenali Modus Perdagangan Orang Lewat Simulasi Interaktif

  4. Kemenag Latih 1.207 PPPK Penghulu, Perkuat Kualitas Layanan Umat

  5. Peneliti FMIPA Universitas Negeri Malang Ungkap 4.126 Varian Bakteri Usus Katak Sawah di Kawasan Pertanian

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Logat Jawa Dianggap Kampungan, Ketika Cara Berbicara Justru Menjadi Alasan untuk Diremehkan

Logat Jawa Dianggap Kampungan, Ketika Cara Berbicara Justru Menjadi Alasan untuk Diremehkan

V
Penulis: VINA | Poltekkes Kemenkes Surakarta
04 November 2026, 15.00 WITA Editor: Alvin Pradana
7 menit baca
Cozy Hijabi Home Study Corner
Ilustrasi mahasiswi yang sedang belajar. Logat Jawa merupakan bagian dari identitas budaya yang tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan seseorang.

JurnalPost.com - Bahasa merupakan bagian penting dari identitas seseorang. Melalui bahasa, manusia tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menunjukkan asal daerah, budaya, dan lingkungan tempat mereka tumbuh. Namun, dalam kehidupan sosial, perbedaan cara berbicara terkadang justru menjadi alasan seseorang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Salah satu fenomena yang masih dapat dijumpai adalah anggapan bahwa logat Jawa terdengar kampungan, kurang modern, atau tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan.

Logat Jawa, terutama yang dikenal dengan sebutan medok, memiliki ciri khas dalam pengucapan kata, tekanan suara, dan intonasi. Bagi sebagian masyarakat, karakter tersebut dianggap unik dan menarik. Akan tetapi, tidak sedikit pula orang yang menjadikannya bahan candaan, bahkan menghubungkannya dengan stereotip bahwa penuturnya berasal dari lingkungan pedesaan atau kurang mengikuti perkembangan zaman.

IKLAN

Anggapan seperti ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa masih sering dinilai berdasarkan standar sosial tertentu. Padahal, cara seseorang mengucapkan kata tidak dapat dijadikan ukuran kecerdasan, pendidikan, maupun kemampuan dalam berkomunikasi.

Ilustrasi seorang mahasiswa berlatih
Baca Juga

Public Speaking: Mengapa Keberanian Berbicara Lebih Penting daripada Keinginan untuk Tampil Sempurna?

Ketika Logat Menjadi Bahan Candaan

Dalam pergaulan sehari-hari, seseorang yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Jawa yang kental mungkin pernah mendengar komentar seperti, "Medok banget, sih," atau "Ngomongnya jangan terlalu Jawa, kedengaran kampungan."

Sekilas, komentar tersebut mungkin dianggap sebagai candaan biasa. Namun, apabila disampaikan secara berulang dengan nada merendahkan, hal itu dapat memengaruhi rasa percaya diri seseorang.

Tidak semua orang mampu menerima komentar mengenai cara berbicaranya dengan santai. Ada yang kemudian merasa malu menggunakan logat daerahnya, terutama ketika berada di lingkungan baru yang memiliki kebiasaan berbahasa berbeda.

Fenomena ini dapat ditemukan dalam berbagai situasi, termasuk lingkungan pendidikan, pertemanan, maupun dunia kerja. Seseorang mungkin berusaha mengubah intonasi atau menyembunyikan logat aslinya agar lebih mudah diterima dalam kelompok sosial tertentu.

Comforting Support in a Warm Living Room
Baca Juga

Di Antara Nilai Budaya dan Kesehatan Mental: Mengapa Tidak Semua Luka Berani Diceritakan?

Keinginan untuk menyesuaikan diri sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan muncul ketika perubahan tersebut dilakukan bukan karena kebutuhan komunikasi, melainkan karena takut mendapatkan ejekan.

Mengapa Logat Jawa Sering Dianggap Kampungan?

Anggapan bahwa logat tertentu terdengar kampungan berkaitan dengan stereotip sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam sebagian lingkungan pergaulan, gaya berbicara yang dianggap modern sering diasosiasikan dengan cara berkomunikasi masyarakat perkotaan. Sementara itu, logat daerah yang terdengar kuat terkadang dipandang sebagai sesuatu yang kurang mengikuti perkembangan zaman.

Pandangan tersebut tidak memiliki dasar yang dapat digunakan untuk menilai kualitas seseorang. Masyarakat yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan sama-sama memiliki kemampuan untuk berkembang, memperoleh pendidikan, dan berprestasi.

sosaial media
Baca Juga

Berbeda Budaya, Bukan Berarti Harus Bermusuhan: Mengatasi Prasangka di Media Sosial

Selain itu, logat Jawa sendiri bukanlah satu bentuk pengucapan yang seragam. Masyarakat di Surakarta, Yogyakarta, Banyumas, Surabaya, dan daerah lainnya memiliki karakter bahasa serta intonasi yang berbeda-beda.

Keragaman tersebut terbentuk melalui sejarah, kebudayaan, dan kebiasaan masyarakat setempat. Karena itu, menyamaratakan seluruh logat Jawa sebagai sesuatu yang kampungan merupakan pandangan yang terlalu sederhana dan tidak menghargai kekayaan bahasa daerah.

Dampak terhadap Kepercayaan Diri Generasi Muda

Bagi generasi muda, penerimaan sosial memiliki peran penting dalam membangun rasa percaya diri. Lingkungan pertemanan yang terlalu sering mengejek cara berbicara seseorang dapat membuat individu merasa berbeda atau bahkan rendah diri.

Sebagian anak muda mungkin mulai menghindari penggunaan bahasa Jawa ketika berbicara dengan teman-temannya. Ada pula yang berusaha menggunakan gaya bahasa lain agar dianggap lebih modern dan mudah bergaul.

Menyesuaikan cara berbicara dengan situasi sebenarnya merupakan keterampilan komunikasi yang baik. Misalnya, seseorang dapat menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan formal dan bahasa Jawa ketika berinteraksi dengan keluarga atau masyarakat di lingkungan asalnya.

Namun, kemampuan menyesuaikan bahasa seharusnya menjadi pilihan, bukan tuntutan akibat tekanan sosial.

Apabila seseorang terus merasa bahwa logat daerahnya merupakan kekurangan, pandangan tersebut berpotensi mengurangi kebanggaan terhadap identitas budaya yang dimilikinya.

Dalam jangka panjang, stigma terhadap bahasa daerah juga dapat membuat generasi muda semakin enggan menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.

IKLAN

Logat Tidak Menentukan Tingkat Kecerdasan

Salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa seseorang dengan logat daerah yang kuat memiliki kemampuan komunikasi atau tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Kenyataannya, logat merupakan bagian dari kebiasaan berbahasa yang terbentuk sejak seseorang tumbuh dalam lingkungan tertentu. Sementara itu, kecerdasan dan kompetensi berkaitan dengan banyak faktor lain, termasuk proses belajar, pengalaman, dan kemampuan mengolah informasi.

Seorang mahasiswa, tenaga kesehatan, dosen, pengusaha, maupun profesional dari berbagai bidang tetap dapat memiliki logat Jawa yang kental ketika berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

Hal tersebut sama sekali tidak mengurangi pengetahuan atau keterampilan yang mereka miliki.

Dalam lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan, misalnya, hal yang jauh lebih penting adalah kemampuan menyampaikan informasi secara jelas, memahami kebutuhan orang lain, dan menunjukkan sikap menghargai lawan bicara.

Bagi calon tenaga kesehatan, keberagaman logat juga menjadi pengingat bahwa setiap pasien memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda. Pelayanan yang baik membutuhkan komunikasi yang mudah dipahami, bukan penilaian terhadap asal daerah berdasarkan cara seseorang berbicara.

Menghargai Bahasa Daerah sebagai Identitas Budaya

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman bahasa daerah. Setiap bahasa dan logat membawa nilai budaya, sejarah, serta identitas masyarakat yang menggunakannya.

Logat Jawa merupakan salah satu bagian dari kekayaan tersebut. Cara pengucapan yang khas tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memalukan, melainkan sebagai bentuk keberagaman yang patut dihargai.

Menghormati logat daerah bukan berarti seseorang harus selalu menggunakan bahasa daerah dalam setiap situasi. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan jelas tetap penting, terutama dalam komunikasi formal yang melibatkan masyarakat dari latar belakang berbeda.

Namun, penggunaan bahasa Indonesia tidak mengharuskan seseorang menghilangkan seluruh ciri khas daerah dari pengucapannya.

Sikap saling menghargai dapat dimulai dari hal sederhana, seperti tidak menjadikan logat sebagai bahan penghinaan, tidak menirukan cara bicara orang lain untuk mempermalukannya, dan tidak menilai kemampuan seseorang hanya berdasarkan aksen yang terdengar.

Lingkungan pendidikan juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran tersebut. Mahasiswa seharusnya dapat menjadi bagian dari generasi yang menghargai keberagaman, termasuk perbedaan bahasa dan cara berbicara.

Medok Bukan Berarti Kampungan

Pada akhirnya, persoalan utama bukan terletak pada logat Jawa, melainkan pada cara masyarakat memberikan penilaian terhadap perbedaan.

Seseorang tidak menjadi lebih rendah hanya karena berbicara dengan logat medok. Sebaliknya, seseorang juga tidak otomatis menjadi lebih cerdas, modern, atau berpendidikan hanya karena memiliki gaya berbicara yang dianggap lebih netral.

Kemajuan seseorang seharusnya dilihat dari pemikiran, sikap, kemampuan, dan kontribusinya, bukan dari seberapa kuat logat daerah yang melekat dalam tutur katanya.

Generasi muda perlu memahami bahwa mempertahankan identitas budaya dan mengikuti perkembangan zaman bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang tetap dapat menjadi pribadi yang percaya diri, berpendidikan, dan profesional tanpa harus merasa malu terhadap asal daerahnya.

Logat Jawa bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Medok bukan berarti kampungan, dan berbicara dengan aksen daerah bukanlah tanda rendahnya kualitas seseorang.

Justru melalui keberagaman cara berbicara, kita dapat melihat betapa kayanya budaya Indonesia. Sudah saatnya masyarakat berhenti menjadikan logat sebagai ukuran status sosial dan mulai menghargai setiap individu berdasarkan sikap serta kemampuannya.

Sebab, yang menentukan nilai seseorang bukanlah bagaimana logatnya terdengar, melainkan bagaimana ia berpikir, berbicara dengan santun, dan memperlakukan orang lain.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/logat-jawa-dianggap-kampungan-stigma-cara-berbicara/98533/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 16.12 WITA

  • #Bahasa Daerah
  • #Keberagaman
  • #Stigma Sosial
  • #generasi muda
  • #identitas budaya
  • #kepercayaan diri
  • #komunikasi
  • #logat jawa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kamitetep, Si Kecil yang Nyaris Tak Terlihat: Ini Bahayanya

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

Dari Watchdog menjadi Trusted Advisor: Peran Baru Inspektorat Daerah sebagai APIP dalam Mengawal Kebijakan dan Tata Kelola Daerah

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Pilihan Editor

  1. 1 Agen BRILink di Bojonegoro Permudah Transaksi Warga Lansia yang Belum Terbiasa Mobile Banking
  2. 2

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  3. 3

    Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

  4. 4

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. 5

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.