“Jangan terlalu dipikirkan.” “Kamu hanya kurang bersyukur.” “Masalah seperti itu seharusnya bisa diselesaikan sendiri.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis, respons seperti itu dapat membuatnya merasa tidak dipahami. Alih-alih menceritakan masalahnya, ia mungkin memilih diam demi menjaga kehormatan keluarga, takut dianggap lemah, atau khawatir dinilai tidak bersyukur.
Bagi masyarakat Indonesia yang kaya akan keragaman budaya, nilai keluarga, agama, kebersamaan, dan rasa saling menghormati dapat menjadi sumber dukungan psikologis. Namun, di sisi lain, nilai-nilai tersebut juga dapat memicu beban emosional ketika seseorang merasa harus menyembunyikan masalah pribadinya demi menjaga nama baik atau memenuhi ekspektasi sosial di sekitarnya.
Isu kesehatan mental tidak berdiri sebagai fenomena tunggal, melainkan berkaitan erat dengan konteks sosial individu. Cara seseorang memahami tekanan psikologis, mengungkapkan perasaan, dan mencari pertolongan dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta keyakinan yang dianutnya.
Oleh karena itu, pembahasan kesehatan mental perlu mempertimbangkan konteks budaya tanpa terburu-buru menganggap budaya sebagai pemicu utama masalah.
Budaya Membentuk Cara Kita Memahami Kesehatan Mental
Dalam perspektif psikologi multikultural, pengalaman psikologis seseorang tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budayanya. Budaya memengaruhi cara individu memahami emosi, menilai perilaku, serta menentukan tindakan yang dianggap tepat ketika menghadapi masalah.
Pengaruh ini tampak pada bagaimana setiap kelompok masyarakat memahami penyebab gangguan mental dan memilih jenis penanganan yang dianggap relevan.
Penelitian Anjara et al. (2021) terhadap 75 partisipan di Yogyakarta menunjukkan bahwa masyarakat memahami masalah kesehatan mental melalui berbagai sudut pandang, mulai dari faktor pribadi, lingkungan, hingga spiritual.
Pemahaman yang beragam ini kemudian membentuk pilihan pertolongan yang dianggap sesuai, seperti layanan medis, dukungan sosial, maupun intervensi keagamaan. Hal tersebut menegaskan bahwa persepsi budaya berperan penting dalam menentukan keputusan seseorang ketika mencari bantuan.
Keyakinan spiritual tidak serta-merta menjadi penghambat pemulihan. Dukungan agama dan komunitas justru dapat membantu seseorang menghadapi tekanan hidup.
Persoalan dapat timbul ketika suatu pandangan hanya didominasi oleh satu perspektif sehingga berisiko mengesampingkan pentingnya pemeriksaan dan penanganan profesional.
Oleh karena itu, layanan kesehatan mental perlu menghormati keyakinan masyarakat sekaligus memberikan informasi yang tepat mengenai penanganan psikologis.
Selain memengaruhi pemahaman tentang gangguan mental, budaya juga membentuk cara keluarga merespons persoalan kesehatan mental.
Dalam lingkungan sosial, kemampuan mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah sendiri sering dipandang sebagai tanda kedewasaan. Nilai ini dapat mendorong seseorang untuk mandiri, tetapi juga dapat menimbulkan beban psikologis ketika ia merasa tidak boleh menunjukkan rasa lelah atau kelemahan.
Ketakutan untuk terlihat rentan ini pada akhirnya dapat memunculkan stigma yang membayangi persoalan kesehatan mental.
Melalui penelitian kualitatif terhadap 25 anggota keluarga orang dengan gangguan mental di Indonesia, Subu et al. (2023) mengidentifikasi adanya stigma keluarga, isolasi sosial, dan berbagai keyakinan mengenai penyebab gangguan mental.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak stigma tidak selalu berhenti pada individu yang mengalami gangguan, tetapi juga dapat meluas kepada anggota keluarganya.
Ketika masalah kesehatan mental dianggap sebagai aib, keluarga dapat merasa perlu menyembunyikannya dari lingkungan sekitar. Akibatnya, individu yang membutuhkan dukungan berisiko mengalami keterasingan atau terlambat memperoleh pertolongan.
Namun, pandangan tersebut tentu tidak seragam pada seluruh keluarga di Indonesia. Keberagaman pengalaman ini sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, tingkat pengetahuan, kondisi sosial, hingga aksesibilitas layanan kesehatan.
Persoalan lain terlihat pada praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan mental.
Hidayat et al. (2020), melalui tinjauan sistematis mengenai pemasungan, membahas keterkaitan persoalan tersebut dengan stigma, pemahaman masyarakat tentang gangguan mental, serta keterbatasan layanan dan dukungan komunitas.
Temuan ini menegaskan bahwa penanganan kesehatan mental tidak cukup hanya berfokus pada perubahan sudut pandang individu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, layanan kesehatan yang terjangkau, serta perlindungan terhadap hak-hak pasien.
Di sisi lain, budaya dan lingkungan sosial tidak selalu menjadi sumber hambatan. Keluarga yang terbuka, komunitas yang suportif, dan lingkungan yang menghargai perbedaan dapat membantu seseorang merasa aman untuk membicarakan masalahnya.
Penelitian Setia Lesmana dan Chung (2024) terhadap 760 remaja Indonesia menemukan bahwa lingkungan sekolah yang lebih mendukung berkaitan dengan stigma yang lebih rendah, literasi kesehatan mental yang lebih tinggi, dan perilaku mencari bantuan yang lebih baik.
Karena penelitian ini menggunakan sampel remaja dari sejumlah sekolah, hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh masyarakat Indonesia. Namun, temuan tersebut memperlihatkan pentingnya lingkungan yang mendukung keterbukaan mengenai kesehatan mental.
Dengan demikian, budaya perlu dipahami secara seimbang. Nilai kebersamaan, kepedulian, dan dukungan keluarga dapat menjadi kekuatan dalam pemulihan.
Sebaliknya, stigma yang terlalu menekankan penilaian sosial atau melarang seseorang mengungkapkan kesulitan dapat memperbesar beban psikologis.
Tantangannya bukan menghilangkan budaya, melainkan membangun cara pandang yang memungkinkan nilai-nilai budaya mendukung kesehatan mental.
Membangun Budaya yang Lebih Peduli
Upaya meningkatkan kesehatan mental masyarakat perlu dimulai dari keluarga. Ketika seseorang menceritakan kesedihan, kecemasan, atau tekanan yang dialaminya, respons pertama sebaiknya berupa kesediaan untuk mendengarkan dan berusaha memahami, bukan langsung menghakimi.
Keluarga juga perlu membedakan antara memberikan nasihat dan meremehkan pengalaman psikologis orang lain.
Kedua, literasi kesehatan mental perlu ditingkatkan.
Maya (2021), melalui penelitian terhadap 349 anak muda berusia 18–24 tahun di Bandung, mengkaji kontribusi literasi kesehatan mental dan persepsi stigma publik terhadap sikap mencari bantuan profesional.
Penelitian ini mendukung pentingnya membahas pengetahuan dan stigma sebagai faktor yang relevan dalam upaya mendorong masyarakat mencari pertolongan profesional.
Ketiga, sekolah, perguruan tinggi, tempat kerja, dan komunitas perlu membangun lingkungan yang aman untuk membicarakan kesehatan mental.
Edukasi dapat membantu masyarakat mengenali kapan tekanan psikologis membutuhkan perhatian lebih lanjut, memahami pilihan layanan, serta mengetahui bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Kaligis et al. (2022) juga menunjukkan pentingnya instrumen berbahasa Indonesia yang valid untuk menilai literasi kesehatan mental dan perilaku mencari bantuan, meskipun pengujian mereka dilakukan pada kelompok mahasiswa kedokteran tertentu.
Keempat, layanan kesehatan mental perlu sensitif terhadap latar belakang budaya.
Tenaga profesional perlu memahami nilai keluarga, keyakinan agama, bahasa, dan pengalaman sosial pasien tanpa menghakimi.
Jika sesuai dan atas persetujuan pasien, dukungan keluarga atau tokoh komunitas dapat menjadi pelengkap layanan profesional, bukan pengganti perawatan yang diperlukan.
Terakhir, masyarakat perlu membangun pemahaman bahwa menjaga nilai budaya tidak berarti mempertahankan setiap kebiasaan tanpa evaluasi.
Tradisi yang memperkuat solidaritas dan kepedulian patut dipertahankan, sedangkan praktik yang merendahkan martabat atau menghalangi akses terhadap pertolongan perlu ditinjau kembali.
Merawat Budaya, Menguatkan Kesehatan Mental
Budaya memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat Indonesia memahami kesehatan mental.
Nilai kebersamaan, dukungan keluarga, dan keyakinan spiritual dapat menjadi fondasi emosional. Namun, stigma, rasa takut terhadap penilaian sosial, dan pemahaman yang kurang tepat juga dapat membuat seseorang enggan mengungkapkan masalah atau mencari pertolongan.
Karena itu, membangun masyarakat yang lebih sehat secara psikologis tidak harus dilakukan dengan meninggalkan budaya.
Yang diperlukan adalah mengembangkan nilai-nilai budaya yang mendukung kepedulian, keterbukaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan informasi yang benar, dan mendukung akses terhadap bantuan profesional merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan bersama.
Tidak semua luka terlihat, dan tidak semua orang merasa aman untuk menceritakan lukanya.
Masyarakat yang peduli bukanlah masyarakat yang menuntut setiap orang untuk selalu kuat, melainkan masyarakat yang menyediakan ruang bagi setiap orang untuk mendapatkan dukungan ketika membutuhkannya.
Daftar Pustaka
Anjara, S. G., Brayne, C., & Van Bortel, T. (2021). Perceived causes of mental illness and views on appropriate care pathways among Indonesians. International Journal of Mental Health Systems, 15, Article 74. https://doi.org/10.1186/s13033-021-00497-5
Hidayat, M. T., Lawn, S., & Muir-Cochrane, E. (2020). The use of pasung for people with mental illness: A systematic review and narrative synthesis. International Journal of Mental Health Systems, 14, Article 90. https://doi.org/10.1186/s13033-020-00424-0
Kaligis, F., Ismail, R. I., Wiguna, T., Prasetyo, S., Indriatmi, W., Gunardi, H., Pandia, V., & Magdalena, C. C. (2022). Mental health problems and needs among transitional-age youth in Indonesia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(10), 5916. https://doi.org/10.3390/ijerph19105916
Maya, N. (2021). Kontribusi literasi kesehatan mental dan persepsi stigma publik terhadap sikap mencari bantuan profesional psikologi. Gadjah Mada Journal of Psychology, 7(1). https://doi.org/10.22146/gamajop.58470
Setia Lesmana, M. H., & Chung, M.-H. (2024). Mediating roles of perceived stigma and mental health literacy in the relationship between school climate and help-seeking behavior in Indonesian adolescents. PLOS ONE, 19(5), e0298017. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0298017
Subu, M. A., Wati, D. F., Al-Yateem, N., Netrida, N., Priscilla, V., Dias, J. M., Slewa-Younan, S., & Nurdin, A. E. (2023). “Family stigma” among family members of people with mental illness in Indonesia: A grounded theory approach. International Journal of Mental Health, 52(2), 102–123. https://doi.org/10.1080/00207411.2021.1891363
Subu, M. A., et al. (2022). Traditional, religious, and cultural perspectives on mental illness: A qualitative study on causal beliefs and treatment use. International Journal of Qualitative Studies on Health and Well-being, 17(1). https://doi.org/10.1080/17482631.2022.2123090
Yunita, F. C., et al. (2020). Coping strategies used by families in Indonesia when caring for patients with mental disorders post-pasung, based on a case study approach. General Psychiatry, 33(1), e100035. https://doi.org/10.1136/gpsych-2018-100035
World Health Organization. (2022). World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All. https://www.who.int/publications/i/item/9789240049338
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. https://www.kemkes.go.id/id/survei-kesehatan-indonesia-ski-2023
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda