Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Agen BRILink di Bojonegoro Permudah Transaksi Warga Lansia yang Belum Terbiasa Mobile Banking

  2. Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

  3. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  4. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  5. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Makan Sendiri, Jalan Sendiri: Kenapa Kesendirian Masih Dianggap Aneh?

Makan Sendiri, Jalan Sendiri: Kenapa Kesendirian Masih Dianggap Aneh?

Y
Penulis: Yusa Rahmawati
15 Oktober 2026, 00.48 WITA Editor: Rina Maharani
6 menit baca
Contented Café Moment by the Window
Ilustrasi seorang perempuan menikmati makanan sendirian di sebuah kafe. Menghabiskan waktu sendiri tidak selalu berarti kesepian, tetapi bisa menjadi cara menikmati kebebasan dan mengenal diri sendiri.

JurnalPost.com - Pernah nggak, kamu masuk ke restoran, lalu pelayannya bertanya, "Berapa orang, Kak?" dan kamu menjawab, "Satu," dengan suara yang tiba-tiba mengecil? Atau kamu sudah mengantre di depan loket bioskop, tetapi mendadak ragu karena merasa semua orang di sekitarmu datang berpasangan atau bergerombol?

Aku pernah. Dan kalau dipikir-pikir, perasaan canggung itu agak lucu. Nggak ada yang melarang, nggak ada aturan tertulis, tetapi kita tetap merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah. Seolah-olah makan nasi goreng sendirian di pojok warung adalah pengumuman bahwa kita nggak punya teman.

IKLAN

Kenapa Kita Merasa Dilihat?

Kalau ditelusuri, rasa canggung ini jarang datang dari tatapan orang lain. Lebih sering, perasaan itu muncul dari pikiran kita sendiri. Kita membayangkan orang-orang di meja sebelah sedang berpikir, "Kasihan, sendirian terus."

Seseorang berbaring di lantai dengan kaki bertumpu pada kursi putar tua, menggambarkan rasa enggan memulai pekerjaan.
Baca Juga

Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

Padahal, kenyataannya mereka mungkin sibuk dengan makanan dan obrolannya masing-masing. Ada istilah psikologis yang disebut spotlight effect, yaitu kecenderungan seseorang merasa dirinya diperhatikan orang lain jauh lebih besar daripada yang sebenarnya terjadi.

Namun, perasaan itu juga nggak muncul begitu saja. Dalam budaya kita, makan dan jalan-jalan identik dengan kebersamaan. Sejak kecil, kita terbiasa makan bersama keluarga, nongkrong bersama teman, hingga liburan beramai-ramai.

Kata "ngumpul" hampir selalu terdengar positif, sementara "menyendiri" sering dianggap sebagai tanda adanya masalah.

Kalau ada seseorang yang lebih sering pergi sendiri, komentar yang muncul biasanya, "Kok sendirian? Temannya mana?" Atau yang lebih halus, tetapi sama menusuknya, "Nggak apa-apa, kok. Sini gabung aja."

Mifta Nur Khasanah
Baca Juga

Barangkali Kita Hanya Takut Tidak Lagi Disukai

Niatnya mungkin baik, tetapi pesan yang tersirat cukup jelas: sendirian dianggap sebagai kondisi yang perlu diselamatkan.

Media sosial juga ikut berperan. Beranda kita dipenuhi foto makan bersama, liburan bersama, hingga perayaan ulang tahun dengan satu meja penuh teman.

Tanpa sadar, kita mulai menganggap kebersamaan sebagai standar kehidupan yang normal dan bahagia. Sementara itu, foto seseorang yang sedang makan sendirian jarang terlihat. Kalaupun ada, biasanya disertai keterangan seperti me time, seolah-olah menikmati waktu sendiri memerlukan sebuah pembenaran.

Sendiri Itu Latihan yang Berguna

Di sisi lain, justru ada banyak hal yang baru bisa kita rasakan ketika melakukan sesuatu sendirian.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Pertama, kita menjadi lebih mandiri. Kita belajar menentukan sendiri ingin makan apa, menonton film apa, atau pergi ke mana, tanpa harus menyesuaikan pilihan dengan selera orang lain.

Kedengarannya sepele, tetapi kebiasaan kecil seperti ini dapat melatih kita untuk lebih percaya pada keputusan sendiri.

Kedua, kita bisa lebih menikmati apa yang sedang dilakukan. Saat makan sendiri, kita punya kesempatan untuk benar-benar merasakan makanan yang tersaji.

Saat menonton film sendirian, kita bisa lebih fokus mengikuti alur cerita tanpa terganggu bisikan atau percakapan dengan teman. Begitu pula ketika berjalan-jalan sendiri. Kita bebas berhenti lebih lama di tempat yang disukai atau melewati tempat yang kurang menarik, tanpa merasa nggak enak kepada siapa pun.

Ketiga, dan ini yang sering terlewat, kita memiliki kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri.

Ketika nggak ada orang lain yang mengisi keheningan, kita punya ruang untuk mendengarkan pikiran dan memahami apa yang sebenarnya kita inginkan.

Nggak semua orang membutuhkan waktu sendiri setiap hari. Namun, hampir semua orang memerlukan kesempatan untuk menikmati ruang pribadinya sesekali.

Sendirian Bukan Berarti Kesepian

Nah, ini bagian yang menurutku paling penting. Sendirian dan kesepian adalah dua hal yang berbeda.

IKLAN

Kesepian merupakan perasaan ketika seseorang merasa kurang memiliki hubungan atau kedekatan emosional dengan orang lain. Perasaan tersebut bahkan bisa muncul ketika seseorang sedang berada di tengah keramaian.

Mungkin kita pernah duduk di sebuah acara yang dipenuhi banyak orang, tetapi tetap merasa hampa atau nggak benar-benar terhubung dengan siapa pun.

Sebaliknya, seseorang bisa duduk sendirian di kedai kopi selama dua jam, menikmati suasana dengan tenang, lalu pulang dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Jadi, melihat seseorang makan sendiri lalu langsung menyimpulkan bahwa dia nggak punya teman merupakan penilaian yang terlalu terburu-buru.

Bisa jadi dia memiliki banyak teman, tetapi sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Bisa juga teman-temannya sedang sibuk, sementara dia memilih untuk nggak menunda keinginannya hanya karena nggak ada yang menemani.

Atau mungkin dia memang senang melakukan sesuatu sendirian. Dan sebenarnya, itu sudah cukup menjadi alasan.

Kebahagiaan nggak harus selalu punya penonton. Kita boleh menikmati hidup tanpa harus ditemani, dan pilihan itu sama sekali nggak mengurangi nilai kebersamaan.

Keduanya bisa berjalan beriringan. Ada waktu untuk berkumpul bersama orang lain, dan ada pula waktu untuk menikmati hidup seorang diri.

Yuk, Berhenti Menghakimi

Kalau kamu masih merasa canggung ketika makan atau berjalan sendirian, perasaan itu wajar. Kebiasaan dan pandangan lingkungan yang terbentuk selama bertahun-tahun tentu nggak mudah berubah begitu saja.

Namun, nggak ada salahnya mencoba sedikit demi sedikit.

Sesekali, cobalah pergi ke tempat makan favoritmu tanpa mengajak siapa pun. Pesan makanan yang kamu suka, pilih tempat duduk yang nyaman, lalu nikmati waktumu sendiri.

Perhatikan sekelilingmu. Kemungkinan besar, orang lain nggak terlalu memikirkan apakah kamu datang sendirian atau bersama teman. Mereka juga sedang sibuk menikmati kehidupan masing-masing.

Dan kalaupun ada yang memperhatikan, itu bukan sesuatu yang harus membuatmu merasa bersalah.

Sementara itu, bagi kita yang sering menjadi pengamat, ada satu kebiasaan kecil yang juga perlu diubah, yaitu berhenti memberikan komentar atau tatapan iba kepada orang yang sedang sendirian.

Nggak semua orang yang sendiri sedang membutuhkan teman. Nggak semua orang yang duduk sendirian sedang merasa kesepian.

Sering kali, mereka hanya sedang menikmati hidup dengan cara yang paling nyaman bagi dirinya.

Pada akhirnya, kita nggak perlu selalu bersama seseorang untuk merasa bahagia. Kebersamaan memang menyenangkan, tetapi kesendirian juga bisa menjadi pengalaman yang berharga.

Jadi, lain kali ketika kamu melihat seseorang menikmati makan malamnya sendirian, cukup biarkan dia menikmati waktunya.

Mungkin dia sedang bahagia. Dan kebahagiaan itu nggak membutuhkan persetujuan siapa pun.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/makan-sendiri-jalan-sendiri-kenapa-kesendirian-masih-dianggap-aneh/98178/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 09.11 WITA

  • #Kehidupan
  • #Kesehatan Mental
  • #gaya hidup
  • #kesendirian
  • #makan sendiri
  • #me time
  • #psikologi
  • #sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Pilihan Editor

  1. 1 Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital
  2. 2

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  3. 3

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  4. 4

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  5. 5

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.