Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  2. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  3. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  4. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  5. Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Validasi Orang Lain Menjadi Tolak Ukur Kebahagiaan

Ketika Validasi Orang Lain Menjadi Tolak Ukur Kebahagiaan

G
Penulis: Gisela Zefanya Sihite
14 Oktober 2026, 15.32 WITA Editor: Shella Paramitha
5 menit baca
Quiet Moments Beyond the Feed
Ilustrasi seorang perempuan muda yang tengah mengakses media sosial. Ketergantungan pada likes, komentar, dan pengakuan orang lain dapat memengaruhi kepercayaan diri serta cara seseorang memaknai kebahagiaan

JurnalPost.com - Di tengah kehidupan yang semakin erat dengan media sosial, kebahagiaan tidak jarang diukur dari seberapa banyak seseorang mendapatkan pengakuan. Jumlah likes, komentar, pujian, hingga perhatian dari orang lain seolah menjadi bukti bahwa seseorang memiliki kehidupan yang menarik dan layak dihargai. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membuat seseorang lebih sibuk membangun citra diri demi memenuhi ekspektasi orang lain daripada menikmati kehidupannya sendiri.

Mendapatkan pengakuan dari orang lain sebenarnya merupakan hal yang wajar. Setiap individu memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan diakui keberadaannya. Namun, kebutuhan tersebut dapat menjadi persoalan ketika seseorang mulai menggantungkan kebahagiaan dan kepercayaan dirinya pada penilaian orang lain. Dalam kondisi ini, seseorang tidak lagi merasa cukup dengan apa yang dimiliki atau dicapai karena selalu membutuhkan pengakuan dari luar untuk merasa berharga.

IKLAN

Fenomena tersebut semakin mudah ditemukan di media sosial. Platform digital memungkinkan setiap orang menampilkan berbagai sisi kehidupannya, mulai dari pencapaian akademik, pekerjaan, hubungan pertemanan, hingga gaya hidup. Akan tetapi, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Di balik foto yang terlihat bahagia, pencapaian yang membanggakan, atau aktivitas yang menyenangkan, terdapat cerita dan persoalan pribadi yang belum tentu diketahui orang lain.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Sayangnya, tidak semua pengguna media sosial menyadari hal tersebut. Sebagian orang justru menjadikan unggahan orang lain sebagai standar untuk menilai kehidupannya sendiri. Ketika melihat teman berhasil meraih prestasi, mendapatkan pekerjaan, atau menjalani kehidupan yang tampak menyenangkan, muncul perasaan bahwa dirinya belum mencapai apa-apa. Perbandingan semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak puas, rendah diri, bahkan tekanan untuk selalu terlihat berhasil di hadapan orang lain.

Dalam kehidupan mahasiswa, kebutuhan akan validasi juga dapat muncul melalui lingkungan pertemanan dan perkuliahan. Misalnya, mahasiswa yang merasa pencapaiannya tidak berarti karena tidak mendapatkan apresiasi, atau seseorang yang mengikuti kegiatan tertentu hanya agar dianggap aktif dan diterima oleh kelompoknya.

Ada pula mahasiswa yang merasa harus selalu mendapatkan nilai tinggi agar memperoleh pengakuan dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Pada akhirnya, keputusan yang diambil bukan lagi berdasarkan minat, kebutuhan, atau tujuan pribadi, melainkan karena keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai mengubah dirinya secara berlebihan demi mendapatkan penerimaan. Ia mungkin merasa harus selalu menyenangkan orang lain, takut menyampaikan pendapat yang berbeda, atau merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi.

Midnight Doomscrolling in a Tangled Mind
Baca Juga

Brain Rot: Ketika Otak Terjebak dalam Doomscrolling

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mengenali keinginan dan prinsip hidupnya sendiri. Ia menjadi lebih fokus pada bagaimana orang lain memandang dirinya daripada bagaimana ia memandang dirinya sendiri.

Ketergantungan pada validasi juga dapat membuat kebahagiaan terasa tidak menetap. Ketika mendapatkan pujian, seseorang mungkin merasa senang dan percaya diri. Namun, saat pujian tersebut berhenti atau respons orang lain tidak sesuai harapan, rasa percaya dirinya dapat menurun.

IKLAN

Akibatnya, ia terus mencari pengakuan baru untuk mempertahankan perasaan berharga tersebut. Siklus ini dapat melelahkan karena standar penerimaan orang lain tidak selalu sama dan tidak sepenuhnya berada dalam kendali diri sendiri.

Menurut saya, persoalan utamanya bukan terletak pada keinginan untuk mendapatkan validasi, melainkan pada ketergantungan terhadap validasi tersebut. Apresiasi memang dapat memberikan semangat, tetapi seharusnya tidak menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.

Putus Cinta
Baca Juga

Putus Cinta Bukan Berarti Kamu Tidak Berharga: Belajar Menerima Diri Setelah Hubungan Berakhir

Seseorang tetap memiliki nilai meskipun pencapaiannya tidak diketahui banyak orang, unggahannya tidak mendapatkan banyak respons, atau pilihannya tidak selalu disetujui oleh lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk membangun penerimaan terhadap diri sendiri. Hal ini dapat dimulai dengan menghargai proses, bukan hanya hasil, serta memahami bahwa setiap individu memiliki waktu dan perjalanan hidup yang berbeda.

Media sosial juga perlu digunakan secara lebih bijak, bukan sebagai tempat untuk terus-menerus membandingkan diri, melainkan sebagai sarana untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, dan berbagi pengalaman.

Selain itu, keberanian untuk mengatakan tidak, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan sesuai dengan nilai pribadi merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan diri.

Pada akhirnya, kebahagiaan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang harus dibuktikan melalui pengakuan orang lain. Tidak semua pencapaian perlu dipublikasikan, tidak semua kebaikan harus mendapatkan pujian, dan tidak semua keputusan harus memperoleh persetujuan.

Menghargai diri sendiri bukan berarti mengabaikan pendapat orang lain, melainkan mampu menerima masukan tanpa menjadikannya sebagai penentu seluruh nilai diri.

Di tengah lingkungan yang semakin mudah memberikan penilaian, kemampuan untuk mengenali dan menerima diri sendiri menjadi semakin penting. Kita boleh merasa senang ketika dihargai, tetapi jangan sampai lupa bahwa diri kita tetap berharga, bahkan ketika tidak ada orang lain yang memberikan pengakuan.

Sebab, kebahagiaan yang hanya bergantung pada validasi orang lain akan mudah berubah mengikuti penilaian lingkungan. Sebaliknya, penerimaan terhadap diri sendiri dapat membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih tenang, percaya diri, dan tidak terus-menerus merasa harus membuktikan sesuatu kepada orang lain.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-validasi-orang-lain-menjadi-tolak-ukur-kebahagiaan/98167/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.23 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #kebahagiaan
  • #kepercayaan diri
  • #media sosial
  • #penerimaan diri
  • #psikologi
  • #validasi orang lain

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Pilihan Editor

  1. 1 Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital
  2. 2

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  3. 3

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  4. 4

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  5. 5

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.