Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

  2. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  3. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  4. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  5. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Cuma Cari Tahu, Kok Jadi Cemas?

Cuma Cari Tahu, Kok Jadi Cemas?

Foto profil Rina Maharani
Editor: Rina Maharani
24 September 2026, 13.43 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Kesehatan Mental
Ilustrasi seseorang mencari informasi kesehatan mental melalui internet. Pencarian berulang terkait gejala kesehatan dapat memicu kekhawatiran berlebihan atau cyberchondria. (Ilustrasi/JurnalPost)

Nadya Ulya Arifviandy
Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara

Meike Kurniawati
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara

IKLAN

JurnalPost.com - Pernah melihat konten tentang kesehatan mental di media sosial, lalu merasa bahwa beberapa hal yang dijelaskan ternyata mirip dengan kondisi yang sedang dialami?

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara individu memperoleh informasi kesehatan. Internet memungkinkan seseorang mencari informasi mengenai gejala, kondisi, hingga penanganan kesehatan dengan cepat tanpa harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan (McMullan et al., 2019).

Di Indonesia, penggunaan internet juga terus berkembang. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan penetrasi internet pada 2026 mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna (APJII, 2026). Kondisi tersebut menjadikan ruang digital sebagai salah satu sumber informasi kesehatan yang penting. Namun, kemudahan akses terhadap informasi tidak selalu diikuti oleh kualitas informasi yang memadai (Naslund et al., 2020).

Basch et al. (2022), misalnya, menemukan bahwa sebagian besar video bertagar #mentalhealth di media sosial dibuat oleh pengguna biasa dan hanya sebagian kecil yang berasal dari tenaga kesehatan. Temuan ini menunjukkan bahwa informasi mengenai kesehatan mental di media sosial tidak selalu disampaikan oleh sumber yang memiliki kredibilitas dan kompetensi di bidang kesehatan.

Sebagian konten memang dibuat berdasarkan informasi ilmiah, tetapi tidak sedikit pula yang bersumber dari pengalaman pribadi, pendapat individu, atau informasi yang belum terverifikasi. Karena itu, kualitas dan sumber informasi yang diterima pengguna perlu menjadi perhatian.

Individu yang mengonsumsi konten kesehatan mental di media sosial dapat memperoleh informasi melalui dua cara, yaitu dengan mencarinya secara aktif maupun melalui paparan konten yang muncul ketika menggunakan media sosial (Lim et al., 2022).

Ketika suatu konten terasa sangat sesuai dengan kondisi diri, seseorang mungkin terdorong untuk mencari informasi lebih jauh. Satu pencarian kemudian membawa pada pencarian berikutnya. Semakin banyak informasi yang ditemukan, semakin banyak pula kemungkinan kondisi atau diagnosis yang muncul.

Alih-alih memperoleh kepastian dan merasa lebih tenang, pencarian tersebut justru dapat membuat seseorang semakin khawatir terhadap kondisi kesehatannya.

IKLAN

Fenomena pencarian informasi kesehatan melalui internet secara berulang dan berlebihan yang justru meningkatkan kekhawatiran ini dikenal sebagai cyberchondria.

Istilah cyberchondria diperkenalkan oleh White dan Horvitz (2009) untuk menggambarkan peningkatan kecemasan terkait kesehatan yang muncul akibat pencarian informasi kesehatan secara berulang melalui internet.

White dan Horvitz (2009) menjelaskan bahwa individu sering kali memulai pencarian berdasarkan gejala yang sebenarnya bersifat ringan atau umum. Namun, hasil pencarian di internet dapat menampilkan berbagai kemungkinan diagnosis, termasuk penyakit yang serius.

Informasi tersebut kemudian dapat mendorong seseorang menginterpretasikan gejala yang dialaminya secara berlebihan. Akibatnya, kekhawatiran atau kecemasan terhadap kondisi kesehatan justru meningkat.

Lalu, mengapa seseorang terus mencari informasi meskipun pencarian tersebut malah membuatnya semakin cemas?

Salah satu faktor yang dapat berperan adalah intolerance of uncertainty, yaitu kesulitan seseorang dalam menerima situasi yang tidak pasti. Ketika merasa tidak yakin terhadap kondisi yang dialami, seseorang dapat terdorong untuk terus mencari berbagai informasi dengan harapan memperoleh kepastian.

Masalahnya, informasi di internet tidak selalu memberikan jawaban yang pasti. Semakin banyak informasi yang ditemukan, semakin banyak pula kemungkinan yang harus dipertimbangkan. Situasi ini dapat memunculkan siklus pencarian informasi dan kekhawatiran yang terus berulang.

Kebiasaan mencari informasi kesehatan sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Internet dan media sosial bahkan dapat membantu masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan mental dengan lebih mudah dan cepat.

Namun, penting untuk tetap memperhatikan sumber, kredibilitas, dan konteks informasi yang diperoleh. Konten kesehatan mental di media sosial sebaiknya digunakan sebagai sumber pengetahuan awal, bukan sebagai dasar untuk mendiagnosis kondisi diri sendiri.

Mengenali kondisi diri melalui informasi yang tersedia dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental. Namun, apabila terdapat keluhan yang menetap, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menimbulkan kekhawatiran berlebihan, konsultasi dengan tenaga profesional tetap menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan terus mencari kepastian melalui media sosial.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cuma-cari-tahu-kok-jadi-cemas/97839/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 04.28 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #cyberchondria
  • #informasi kesehatan
  • #kecemasan
  • #media sosial
  • #psikologi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Pilihan Editor

  1. 1 PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online
  2. 2

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  5. 5

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.