Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  2. Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  4. Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

  5. Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Mengapa Kondisi Mental Anda Adalah Kemewahan bagi Orang Lain?

Mengapa Kondisi Mental Anda Adalah Kemewahan bagi Orang Lain?

Foto profil Rina Maharani
Editor: Rina Maharani
21 September 2026, 16.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Kondisi Mental

Oleh: Fidela Azzahra
Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata

JurnalPost.com — Pada 21 Agustus 2026, Maudy Ayunda mengunggah video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Dalam video tersebut, ia membagikan sejumlah cara untuk menghadapi paparan berita buruk, mulai dari mematikan notifikasi untuk sementara waktu, mempraktikkan mindfulness, hingga mengarahkan perhatian pada hal-hal positif.

IKLAN

Pesannya terdengar sederhana: ketika arus informasi mulai mengganggu kondisi psikologis, seseorang dapat mengambil jarak untuk menjaga kesehatan mentalnya.

Foto Channel YouTube Maudy Ayunda
Baca Juga

Bad News atau Bad Reality? Kesehatan Mental yang Valid, Privilege yang Perlu Dipertanyakan

Namun, respons sebagian warganet menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana mengatur notifikasi.

“For many of us, it's not just a news. It's our REALITY … can’t ignore it …”

Komentar lain menyampaikan kritik serupa.

“Bad news kamu adalah bad reality dari orang-orang tau, info aja.”

Maudy Ayunda di platform Youtube
Baca Juga

Maudy Ayunda Bicara Soal Mindfulness, Mengapa Netizen Ramai Berkomentar?

Ada pula warganet yang mempertanyakan jarak antara kenyamanan seseorang ketika menerima berita dengan kenyataan yang dialami orang lain.

Kontroversi tersebut menunjukkan satu persoalan penting dalam diskusi mengenai kesehatan mental: tidak semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk mengambil jarak dari masalah.

Bagi sebagian orang, berita buruk memang hanya muncul sebagai notifikasi di layar ponsel. Namun bagi sebagian lainnya, berita buruk adalah kehidupan sehari-hari.

Perawat yang bekerja di garis depan pelayanan kesehatan tidak dapat begitu saja mengabaikan pesan ketika kondisi pasien memburuk. Seorang ibu yang menggantungkan informasi bantuan sosial melalui WhatsApp tidak selalu memiliki pilihan untuk mematikan notifikasi.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi juga tidak dapat sekadar “fokus pada hal positif” ketika keberlanjutan studinya bergantung pada nilai, beasiswa, atau kemampuan keluarganya membayar kebutuhan pendidikan.

Begitu pula ketika bencana, kebakaran hutan, kemiskinan, kehilangan pekerjaan, atau kekerasan terjadi secara langsung dalam kehidupan seseorang. Dalam keadaan seperti itu, apa yang bagi orang lain disebut bad news dapat menjadi bad reality bagi mereka yang mengalaminya.

Ketika Berpikir Positif Menjadi Tuntutan

Barbara S. Held dalam tulisan The Tyranny of the Positive Attitude in America mengkritik kecenderungan budaya yang terlalu menekankan sikap positif sebagai jawaban terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Held (2002) menunjukkan bahwa dorongan untuk selalu berpikir positif dapat membawa asumsi bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan sumber daya yang sama untuk memilih bagaimana ia merespons keadaan.

Padahal, manusia hidup dalam situasi yang tidak seragam.

Ada orang yang memiliki ruang aman untuk beristirahat ketika merasa kewalahan. Ada yang memiliki waktu untuk menjauh dari media sosial. Ada pula yang memiliki dukungan keluarga, stabilitas finansial, serta akses terhadap layanan psikologis.

Namun, tidak semua orang memiliki hal tersebut.

Psikologi positif sendiri tentu tidak identik dengan sekadar mengatakan bahwa seseorang harus bahagia atau optimistis setiap saat. Martin Seligman, salah satu tokoh utama dalam perkembangan psikologi positif, sejak awal menekankan bahwa bidang tersebut dibangun melalui pendekatan ilmiah terhadap kesejahteraan manusia.

Masalah dapat muncul ketika gagasan ilmiah tersebut berpindah ke percakapan sehari-hari dan disederhanakan menjadi semacam doktrin: berpikirlah positif, bersyukurlah, jangan terlalu memikirkan berita buruk.

Dalam bentuk seperti itu, perhatian terhadap kesehatan mental justru berisiko berubah menjadi tekanan baru.

Seseorang yang tetap merasa cemas kemudian seolah-olah dianggap kurang mampu mengendalikan pikirannya. Padahal, kecemasan dalam situasi tertentu justru dapat menjadi respons manusiawi terhadap kondisi yang memang mengancam atau tidak pasti.

Mindfulness Bukan Berarti Selalu Berpikir Positif

Ada perbedaan penting antara mindfulness dan sekadar menilai sesuatu secara positif.

Ellen Langer (2002) membedakan mindfulness dari positive evaluation. Dalam pendekatan Langer, mindfulness berkaitan dengan kondisi pikiran yang terbuka, fleksibel, dan sensitif terhadap konteks.

Seseorang yang mindful mampu memperhatikan perubahan, memahami berbagai kemungkinan, dan melihat pengalaman dari sudut pandang yang tidak kaku.

IKLAN

Artinya, mindfulness tidak menuntut seseorang untuk merasa baik sepanjang waktu.

Kesedihan, ketakutan, kemarahan, ketidakpastian, atau kekhawatiran tetap dapat hadir dalam pengalaman mindful. Individu tidak harus menyingkirkan emosi tersebut. Sebaliknya, ia belajar menyadari keberadaannya tanpa langsung terperangkap di dalam satu cara pandang.

Hal tersebut berbeda dengan positive evaluation, ketika seseorang berusaha memberikan penilaian positif terhadap berbagai keadaan.

Upaya untuk selalu mencari sisi baik memang dapat membantu dalam kondisi tertentu. Namun jika dilakukan secara kaku, pendekatan tersebut justru dapat membuat seseorang mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan kerangka optimistis yang ingin dipertahankannya.

Dalam konteks inilah pesan mengenai “fokus pada hal positif” perlu diterapkan dengan hati-hati.

Mengambil jarak dari informasi dapat menjadi strategi yang sehat bagi seseorang yang mengalami kelelahan akibat paparan berita. Akan tetapi, strategi tersebut tidak selalu relevan bagi orang yang sedang hidup di dalam persoalan yang diberitakan.

Ketika “Bad News” Adalah Realitas

Perbedaan konteks inilah yang sering hilang ketika mindfulness disampaikan melalui media sosial sebagai solusi yang seolah-olah dapat digunakan secara universal.

Seseorang yang mengalami doomscrolling selama berjam-jam mungkin memang mendapatkan manfaat ketika membatasi paparan berita.

Namun, situasinya berbeda bagi seseorang yang sedang menunggu kabar anggota keluarganya, menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, memperjuangkan bantuan ekonomi, atau hidup dalam kondisi sosial yang tidak stabil.

Bagi mereka, mematikan notifikasi tidak otomatis mematikan persoalan.

Kalimat seperti “being able to step away from the news is itself a privilege” kemudian menjadi relevan. Kemampuan untuk menjauh sementara dari berita juga berkaitan dengan kondisi sosial dan sumber daya yang dimiliki seseorang.

Mengakui adanya privilese tersebut seharusnya tidak berhenti pada simpati.

Yang lebih penting adalah memahami bahwa strategi kesehatan mental tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan orang yang menjalaninya.

Jika tidak, seseorang yang sudah menghadapi masalah nyata justru dapat memperoleh beban psikologis tambahan. Setelah tidak mampu merasa tenang, ia mungkin berpikir bahwa dirinya gagal melakukan mindfulness, gagal berpikir positif, atau gagal menjaga kesehatan mentalnya dengan benar.

Padahal, persoalannya mungkin bukan terletak pada kurangnya usaha individual, melainkan pada keadaan yang memang berat.

Mindfulness Tetap Penting, tetapi Konteks Tidak Boleh Hilang

Mindfulness bukan sesuatu yang keliru. Berbagai pendekatan berbasis mindfulness telah digunakan dalam psikologi untuk membantu individu meningkatkan kesadaran terhadap pengalaman serta mengembangkan hubungan yang lebih adaptif dengan pikiran dan emosinya.

Namun, mindfulness bukan obat universal untuk seluruh persoalan sosial.

Ada keadaan ketika seseorang memang membutuhkan jeda dari arus informasi. Ada pula keadaan ketika yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan mengatur pikiran, melainkan dukungan sosial, keamanan ekonomi, perlindungan hukum, layanan kesehatan, atau perubahan kondisi yang menjadi sumber tekanan itu sendiri.

Karena itu, kontroversi mengenai video tersebut dapat menjadi refleksi yang lebih luas tentang cara masyarakat berbicara mengenai kesehatan mental.

Pesan seperti “jaga kesehatan mental”, “ambil jeda”, atau “fokus pada hal positif” memang terdengar baik. Namun, pesan tersebut perlu disampaikan dengan kesadaran bahwa tidak semua orang hidup dalam kondisi yang memungkinkan mereka melakukannya dengan mudah.

Kesehatan mental tidak pernah berdiri dalam ruang hampa. Ia berhubungan dengan kondisi ekonomi, pekerjaan, pendidikan, keluarga, lingkungan, serta situasi sosial tempat seseorang hidup.

Bagi sebagian orang, mengambil jeda dari dunia mungkin hanya membutuhkan satu sentuhan untuk mematikan notifikasi.

Bagi orang lain, dunia yang ingin mereka hindari justru sedang terjadi tepat di depan mata.

Referensi

Held, B. S. (2002). The tyranny of the positive attitude in America: Observation and speculation. Journal of Clinical Psychology, 58(9), 965–992. https://doi.org/10.1002/jclp.10093

Langer, E. (2002). Well-being: Mindfulness versus positive evaluation. Dalam C. R. Snyder & S. J. Lopez (Eds.), Handbook of Positive Psychology (hlm. 214–230). Oxford University Press.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengapa-kondisi-mental-anda-adalah-kemewahan-bagi-orang-lain/97781/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.59 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #Maudy Ayunda
  • #berita buruk
  • #mindfulness
  • #privilese
  • #psikologi positif
  • #sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Pilihan Editor

  1. 1 Modernisasi Bioproses Pangan: Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
  2. 2

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  3. 3

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  4. 4

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  5. 5

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.