Oleh: Fidela Azzahra
Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
JurnalPost.com — Pada 21 Agustus 2026, Maudy Ayunda mengunggah video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Dalam video tersebut, ia membagikan sejumlah cara untuk menghadapi paparan berita buruk, mulai dari mematikan notifikasi untuk sementara waktu, mempraktikkan mindfulness, hingga mengarahkan perhatian pada hal-hal positif.
Pesannya terdengar sederhana: ketika arus informasi mulai mengganggu kondisi psikologis, seseorang dapat mengambil jarak untuk menjaga kesehatan mentalnya.
Namun, respons sebagian warganet menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana mengatur notifikasi.
“For many of us, it's not just a news. It's our REALITY … can’t ignore it …”
Komentar lain menyampaikan kritik serupa.
“Bad news kamu adalah bad reality dari orang-orang tau, info aja.”
Ada pula warganet yang mempertanyakan jarak antara kenyamanan seseorang ketika menerima berita dengan kenyataan yang dialami orang lain.
Kontroversi tersebut menunjukkan satu persoalan penting dalam diskusi mengenai kesehatan mental: tidak semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk mengambil jarak dari masalah.
Bagi sebagian orang, berita buruk memang hanya muncul sebagai notifikasi di layar ponsel. Namun bagi sebagian lainnya, berita buruk adalah kehidupan sehari-hari.
Perawat yang bekerja di garis depan pelayanan kesehatan tidak dapat begitu saja mengabaikan pesan ketika kondisi pasien memburuk. Seorang ibu yang menggantungkan informasi bantuan sosial melalui WhatsApp tidak selalu memiliki pilihan untuk mematikan notifikasi.
Mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi juga tidak dapat sekadar “fokus pada hal positif” ketika keberlanjutan studinya bergantung pada nilai, beasiswa, atau kemampuan keluarganya membayar kebutuhan pendidikan.
Begitu pula ketika bencana, kebakaran hutan, kemiskinan, kehilangan pekerjaan, atau kekerasan terjadi secara langsung dalam kehidupan seseorang. Dalam keadaan seperti itu, apa yang bagi orang lain disebut bad news dapat menjadi bad reality bagi mereka yang mengalaminya.
Ketika Berpikir Positif Menjadi Tuntutan
Barbara S. Held dalam tulisan The Tyranny of the Positive Attitude in America mengkritik kecenderungan budaya yang terlalu menekankan sikap positif sebagai jawaban terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Held (2002) menunjukkan bahwa dorongan untuk selalu berpikir positif dapat membawa asumsi bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan sumber daya yang sama untuk memilih bagaimana ia merespons keadaan.
Padahal, manusia hidup dalam situasi yang tidak seragam.
Ada orang yang memiliki ruang aman untuk beristirahat ketika merasa kewalahan. Ada yang memiliki waktu untuk menjauh dari media sosial. Ada pula yang memiliki dukungan keluarga, stabilitas finansial, serta akses terhadap layanan psikologis.
Namun, tidak semua orang memiliki hal tersebut.
Psikologi positif sendiri tentu tidak identik dengan sekadar mengatakan bahwa seseorang harus bahagia atau optimistis setiap saat. Martin Seligman, salah satu tokoh utama dalam perkembangan psikologi positif, sejak awal menekankan bahwa bidang tersebut dibangun melalui pendekatan ilmiah terhadap kesejahteraan manusia.
Masalah dapat muncul ketika gagasan ilmiah tersebut berpindah ke percakapan sehari-hari dan disederhanakan menjadi semacam doktrin: berpikirlah positif, bersyukurlah, jangan terlalu memikirkan berita buruk.
Dalam bentuk seperti itu, perhatian terhadap kesehatan mental justru berisiko berubah menjadi tekanan baru.
Seseorang yang tetap merasa cemas kemudian seolah-olah dianggap kurang mampu mengendalikan pikirannya. Padahal, kecemasan dalam situasi tertentu justru dapat menjadi respons manusiawi terhadap kondisi yang memang mengancam atau tidak pasti.
Mindfulness Bukan Berarti Selalu Berpikir Positif
Ada perbedaan penting antara mindfulness dan sekadar menilai sesuatu secara positif.
Ellen Langer (2002) membedakan mindfulness dari positive evaluation. Dalam pendekatan Langer, mindfulness berkaitan dengan kondisi pikiran yang terbuka, fleksibel, dan sensitif terhadap konteks.
Seseorang yang mindful mampu memperhatikan perubahan, memahami berbagai kemungkinan, dan melihat pengalaman dari sudut pandang yang tidak kaku.
Artinya, mindfulness tidak menuntut seseorang untuk merasa baik sepanjang waktu.
Kesedihan, ketakutan, kemarahan, ketidakpastian, atau kekhawatiran tetap dapat hadir dalam pengalaman mindful. Individu tidak harus menyingkirkan emosi tersebut. Sebaliknya, ia belajar menyadari keberadaannya tanpa langsung terperangkap di dalam satu cara pandang.
Hal tersebut berbeda dengan positive evaluation, ketika seseorang berusaha memberikan penilaian positif terhadap berbagai keadaan.
Upaya untuk selalu mencari sisi baik memang dapat membantu dalam kondisi tertentu. Namun jika dilakukan secara kaku, pendekatan tersebut justru dapat membuat seseorang mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan kerangka optimistis yang ingin dipertahankannya.
Dalam konteks inilah pesan mengenai “fokus pada hal positif” perlu diterapkan dengan hati-hati.
Mengambil jarak dari informasi dapat menjadi strategi yang sehat bagi seseorang yang mengalami kelelahan akibat paparan berita. Akan tetapi, strategi tersebut tidak selalu relevan bagi orang yang sedang hidup di dalam persoalan yang diberitakan.
Ketika “Bad News” Adalah Realitas
Perbedaan konteks inilah yang sering hilang ketika mindfulness disampaikan melalui media sosial sebagai solusi yang seolah-olah dapat digunakan secara universal.
Seseorang yang mengalami doomscrolling selama berjam-jam mungkin memang mendapatkan manfaat ketika membatasi paparan berita.
Namun, situasinya berbeda bagi seseorang yang sedang menunggu kabar anggota keluarganya, menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, memperjuangkan bantuan ekonomi, atau hidup dalam kondisi sosial yang tidak stabil.
Bagi mereka, mematikan notifikasi tidak otomatis mematikan persoalan.
Kalimat seperti “being able to step away from the news is itself a privilege” kemudian menjadi relevan. Kemampuan untuk menjauh sementara dari berita juga berkaitan dengan kondisi sosial dan sumber daya yang dimiliki seseorang.
Mengakui adanya privilese tersebut seharusnya tidak berhenti pada simpati.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa strategi kesehatan mental tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan orang yang menjalaninya.
Jika tidak, seseorang yang sudah menghadapi masalah nyata justru dapat memperoleh beban psikologis tambahan. Setelah tidak mampu merasa tenang, ia mungkin berpikir bahwa dirinya gagal melakukan mindfulness, gagal berpikir positif, atau gagal menjaga kesehatan mentalnya dengan benar.
Padahal, persoalannya mungkin bukan terletak pada kurangnya usaha individual, melainkan pada keadaan yang memang berat.
Mindfulness Tetap Penting, tetapi Konteks Tidak Boleh Hilang
Mindfulness bukan sesuatu yang keliru. Berbagai pendekatan berbasis mindfulness telah digunakan dalam psikologi untuk membantu individu meningkatkan kesadaran terhadap pengalaman serta mengembangkan hubungan yang lebih adaptif dengan pikiran dan emosinya.
Namun, mindfulness bukan obat universal untuk seluruh persoalan sosial.
Ada keadaan ketika seseorang memang membutuhkan jeda dari arus informasi. Ada pula keadaan ketika yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan mengatur pikiran, melainkan dukungan sosial, keamanan ekonomi, perlindungan hukum, layanan kesehatan, atau perubahan kondisi yang menjadi sumber tekanan itu sendiri.
Karena itu, kontroversi mengenai video tersebut dapat menjadi refleksi yang lebih luas tentang cara masyarakat berbicara mengenai kesehatan mental.
Pesan seperti “jaga kesehatan mental”, “ambil jeda”, atau “fokus pada hal positif” memang terdengar baik. Namun, pesan tersebut perlu disampaikan dengan kesadaran bahwa tidak semua orang hidup dalam kondisi yang memungkinkan mereka melakukannya dengan mudah.
Kesehatan mental tidak pernah berdiri dalam ruang hampa. Ia berhubungan dengan kondisi ekonomi, pekerjaan, pendidikan, keluarga, lingkungan, serta situasi sosial tempat seseorang hidup.
Bagi sebagian orang, mengambil jeda dari dunia mungkin hanya membutuhkan satu sentuhan untuk mematikan notifikasi.
Bagi orang lain, dunia yang ingin mereka hindari justru sedang terjadi tepat di depan mata.
Referensi
Held, B. S. (2002). The tyranny of the positive attitude in America: Observation and speculation. Journal of Clinical Psychology, 58(9), 965–992. https://doi.org/10.1002/jclp.10093
Langer, E. (2002). Well-being: Mindfulness versus positive evaluation. Dalam C. R. Snyder & S. J. Lopez (Eds.), Handbook of Positive Psychology (hlm. 214–230). Oxford University Press.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda