Perspektif Psikologi Positif tentang Kekuatan, Harapan, dan Makna di Tengah Kesulitan
Oleh: Yanti Andriyani
JurnalPost.com - Pernahkah kita merasa sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi kehidupan tetap bergerak ke arah yang tidak pernah kita rencanakan?
Kita sudah bekerja keras, tetapi hasil yang diharapkan belum juga terlihat. Kita berusaha menjaga sebuah hubungan, tetapi pada akhirnya tetap terluka. Pendidikan yang ingin diselesaikan terasa semakin berat. Masalah yang satu belum selesai, masalah lainnya sudah datang.
Pada keadaan seperti itu, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Mengapa hidup saya terasa begitu sulit?”
Pertanyaan tersebut manusiawi.
Kita tidak harus selalu terlihat kuat. Kita tidak perlu tersenyum ketika sedang kecewa. Kita juga tidak harus berpura-pura baik-baik saja hanya karena lingkungan mengharapkan kita untuk tetap positif.
Namun, setelah memberi ruang bagi kesedihan, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih membantu untuk diajukan kepada diri sendiri.
“Setelah semua ini terjadi, apa yang masih bisa saya lakukan?”
Pertanyaan sederhana itu membawa kita pada salah satu cara pandang dalam psikologi positif: kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang selalu berjalan sempurna, melainkan kehidupan yang tetap memiliki ruang untuk bertumbuh, menemukan makna, dan melangkah meskipun keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Hidup yang Baik Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah
Psikologi positif berkembang sebagai pendekatan yang tidak hanya memusatkan perhatian pada gangguan, kelemahan, atau persoalan psikologis manusia. Pendekatan ini juga mempelajari berbagai kondisi yang membantu seseorang berkembang dan menjalani kehidupan secara lebih bermakna.
Martin Seligman menjelaskan bahwa kesejahteraan manusia tidak hanya berkaitan dengan rasa senang atau kebahagiaan sesaat.
Kesejahteraan juga berkaitan dengan keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna, hubungan yang positif, pencapaian, serta kemampuan seseorang menemukan arti dalam kehidupannya.
Artinya, ketika seseorang sedang mengalami kesulitan, bukan berarti kehidupannya secara keseluruhan buruk.
Bisa jadi, ia sedang berada pada satu bagian perjalanan yang memang sangat berat.
Cara pandang ini penting karena ketika kehidupan yang baik selalu kita definisikan sebagai kehidupan tanpa masalah, setiap kegagalan mudah terasa seperti akhir dari segalanya.
Sebaliknya, ketika kita menyadari bahwa kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia, kita dapat mulai memusatkan perhatian pada hal yang masih dapat dilakukan.
Kita Boleh Sedih, tetapi Jangan Sampai Kehilangan Diri Sendiri
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kalimat-kalimat seperti, “Jangan sedih,” “Harus semangat,” atau “Coba lihat sisi positifnya.”
Kalimat tersebut biasanya disampaikan dengan niat baik.
Namun, tidak semua luka dapat selesai hanya dengan nasihat untuk berpikir positif.
Psikologi positif bukan berarti memaksa seseorang untuk bahagia sepanjang waktu. Pendekatan ini juga bukan tentang menolak kesedihan, ketakutan, kekecewaan, ataupun rasa kehilangan.
Semua emosi tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Yang penting adalah bagaimana kita memberikan ruang bagi emosi tersebut tanpa membiarkannya berubah menjadi penilaian terhadap seluruh diri kita.
Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Saya sedang gagal,” dengan mengatakan, “Saya adalah orang yang gagal.”
Begitu pula antara, “Saya sedang menghadapi masa yang sulit,” dengan, “Hidup saya sudah selesai.”
Kegagalan merupakan sebuah pengalaman. Ia bukan identitas.
Kesulitan merupakan bagian dari perjalanan. Ia tidak harus menjadi keseluruhan cerita hidup seseorang.
Kesulitan Kadang Membuat Kita Mengenal Kekuatan Sendiri
Ada kekuatan dalam diri manusia yang terkadang baru terlihat ketika keadaan menjadi sulit.
Seseorang mungkin baru menyadari bahwa dirinya memiliki ketekunan setelah berkali-kali gagal. Ada orang yang baru mengenal keberaniannya ketika harus mengambil keputusan besar. Ada pula yang baru memahami betapa kuat dirinya setelah menghadapi kehilangan.
Peterson dan Seligman membahas sejumlah kekuatan karakter manusia, antara lain keberanian, ketekunan, harapan, kasih sayang, kejujuran, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama.
Karena itu, ketika menghadapi masalah, mungkin kita tidak perlu terus-menerus bertanya, “Apa yang kurang dari diri saya?”
Ada pertanyaan lain yang juga penting.
“Kekuatan apa yang sudah membantu saya bertahan sampai sejauh ini?”
Jawabannya bisa berbeda pada setiap orang.
Bisa jadi keluarga yang terus memberikan dukungan. Seorang sahabat yang bersedia mendengarkan. Keyakinan bahwa keadaan suatu saat dapat berubah. Kemampuan untuk terus belajar dari kegagalan.
Atau mungkin kekuatan itu terlihat sangat sederhana: keputusan untuk bangun pada pagi hari dan mencoba sekali lagi.
Hal Baik Tidak Selalu Berukuran Besar
Ketika berbicara mengenai kebahagiaan, kita sering membayangkan sesuatu yang besar.
Pekerjaan impian. Rumah yang nyaman. Penghasilan tinggi. Prestasi. Perjalanan ke tempat yang sejak lama ingin dikunjungi.
Tidak ada yang salah dengan hal-hal tersebut.
Namun, kesejahteraan psikologis tidak selalu hadir melalui pencapaian besar.
Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk secangkir kopi setelah hari yang melelahkan.
Percakapan dengan seseorang yang membuat kita merasa didengarkan.
Pesan sederhana dari orang yang ternyata masih mengingat kita.
Kesempatan mempelajari sesuatu yang baru.
Atau kemampuan membuka mata pada pagi hari dan berkata kepada diri sendiri, “Hari ini saya akan mencoba lagi.”
Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil.
Tetapi bagi seseorang yang sedang berusaha keluar dari masa yang sulit, sesuatu yang kecil dapat menjadi alasan penting untuk terus berjalan.
Jangan Membandingkan Bab Hidup Kita dengan Bab Orang Lain
Media sosial membuat kita melihat banyak bagian terbaik dari kehidupan orang lain.
Seseorang baru saja mendapatkan pekerjaan. Teman lain berhasil lulus. Ada yang menikah. Ada yang membeli rumah. Ada yang menjalankan bisnis. Ada pula yang tampak sedang menikmati kehidupan yang sempurna.
Kemudian kita melihat diri sendiri dan bertanya, “Mengapa saya masih berada di tempat yang sama?”
Masalahnya, media sosial hampir tidak pernah memperlihatkan kehidupan seseorang secara utuh.
Kita melihat keberhasilan, tetapi mungkin tidak melihat kegagalan yang mendahuluinya.
Kita melihat foto bahagia, tetapi tidak selalu mengetahui konflik yang terjadi di baliknya.
Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui berapa kali orang tersebut merasa takut, lelah, atau ingin menyerah.
Karena itu, membandingkan perjalanan hidup kita dengan potongan kehidupan orang lain sering kali tidak adil bagi diri sendiri.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Ada yang melangkah cepat. Ada yang berjalan perlahan. Ada yang harus berhenti untuk beristirahat. Ada pula yang terpaksa memulai kembali dari awal.
Tidak semua perjalanan harus berlangsung dalam kecepatan yang sama.
Ketika Keadaan Tidak Bisa Diubah, Kita Masih Bisa Memilih Cara Melangkah
Tidak semua hal dalam kehidupan berada dalam kendali kita.
Kita tidak dapat mengendalikan pendapat semua orang. Kita tidak dapat menghapus masa lalu. Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk menghargai atau memahami kita.
Kita juga tidak selalu dapat mencegah kegagalan, kehilangan, atau perubahan yang tidak kita inginkan.
Namun, masih ada sesuatu yang dapat kita kelola: cara kita merespons keadaan tersebut.
Kita dapat memilih untuk meminta bantuan ketika sudah tidak sanggup menghadapi semuanya sendiri.
Kita dapat belajar dari apa yang terjadi.
Kita dapat beristirahat tanpa merasa bersalah.
Kita dapat menetapkan batasan terhadap orang atau situasi yang terus menguras energi.
Kita dapat mencoba kembali dengan cara yang berbeda.
Jika diperlukan, kita juga dapat mencari dukungan profesional.
Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Kadang-kadang, keberanian terbesar bukan mengatakan, “Saya mampu menghadapi semuanya sendirian,” tetapi berani mengakui, “Saya sedang tidak baik-baik saja dan saya membutuhkan bantuan.”
Menemukan Sisi Positif Bukan Berarti Menganggap Semua yang Terjadi Itu Baik
Ada perbedaan besar antara menemukan makna dari pengalaman sulit dan mengatakan bahwa pengalaman tersebut adalah sesuatu yang baik.
Kehilangan tetaplah kehilangan.
Kegagalan tetap dapat melukai.
Ketidakadilan tetap tidak menyenangkan.
Pengalaman yang menyakitkan tidak harus diberi label positif hanya agar kita terlihat kuat.
Namun, setelah melewati pengalaman tertentu, sebagian orang mungkin menemukan sesuatu yang berharga dari proses tersebut.
Ada yang menjadi lebih mengenal dirinya sendiri. Ada yang mulai memahami siapa saja orang yang benar-benar hadir ketika keadaan memburuk.
Ada yang menjadi lebih berani mengambil keputusan.
Ada yang belajar menetapkan batas.
Ada pula yang menemukan tujuan hidup yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Dalam psikologi, fenomena ini antara lain dibahas melalui konsep post-traumatic growth, yaitu kemungkinan munculnya perubahan positif setelah seseorang menghadapi pengalaman yang sangat menantang.
Konsep tersebut bukan berarti penderitaan diperlukan agar manusia berkembang.
Bukan pula berarti semua orang yang mengalami kesulitan pasti akan menjadi lebih kuat setelahnya.
Respons manusia terhadap pengalaman sulit sangat beragam.
Namun, konsep tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi, belajar, menyusun kembali makna, dan membangun kehidupannya setelah menghadapi keadaan yang berat.
Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Kehidupan yang Sempurna
Pada akhirnya, mungkin yang kita butuhkan bukanlah kehidupan yang sempurna.
Kita mungkin hanya membutuhkan satu alasan untuk tetap melangkah.
Satu orang yang bisa dipercaya.
Satu tujuan yang masih ingin diperjuangkan.
Satu hal yang masih dapat disyukuri.
Satu kekuatan yang masih kita miliki.
Dan satu langkah kecil yang masih dapat dilakukan hari ini.
Jika hari ini terasa terlalu berat, berjalan lebih pelan tidak berarti gagal.
Jika kita belum menemukan jawaban dari semua persoalan yang sedang dihadapi, itu pun tidak apa-apa.
Dan jika hari ini yang mampu kita lakukan hanyalah bertahan, bertahan pun tetap merupakan sesuatu.
Karena terkadang, bertahan bukan berarti diam dan tidak melakukan apa-apa.
Bertahan berarti memberi diri sendiri kesempatan agar bisa melihat apa yang akan terjadi pada halaman kehidupan berikutnya.
Ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, mungkin kita tidak harus terus bertanya, “Mengapa hidup saya tidak seperti yang saya inginkan?”
Kita dapat mencoba menggantinya dengan pertanyaan lain:
“Apa yang masih bisa saya bangun dari keadaan yang saya miliki sekarang?”
Mungkin jawabannya belum terlihat hari ini.
Namun, belum melihat jawabannya bukan berarti jawabannya tidak ada.
Bisa jadi, di tengah kehidupan yang tidak sempurna tersebut, kita justru mulai menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita sadari: bahwa kemampuan kita untuk bertahan, belajar, dan kembali melangkah ternyata jauh lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan.
Referensi
Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226.
Frankl, V. E. (2006). Man's Search for Meaning. Beacon Press. Karya asli diterbitkan pada 1946.
Peterson, C., & Seligman, M. E. P. (2004). Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. Oxford University Press.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being. Free Press.
Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic growth: Conceptual foundations and empirical evidence. Psychological Inquiry, 15(1), 1–18.
Biodata Penulis
Yanti Andriyani merupakan mahasiswa Magister Psikologi yang memiliki ketertarikan pada psikologi positif, kesejahteraan psikologis, serta penerapan ilmu psikologi dalam kehidupan masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda