Tasya Leony Poting
Mahasiswa Magister Sains Psikologi
Soegijapranata Catholic University
Ketika membuka media sosial, kehidupan orang lain sering terlihat begitu menarik. Ada teman sebaya yang menikah, teman kuliah yang mendapat pekerjaan di perusahaan impian, seseorang yang melanjutkan pendidikan, membuka bisnis, membeli rumah, hingga berlibur ke tempat yang selama ini hanya kita lihat melalui layar.
Sementara itu, kehidupan kita mungkin masih berjalan dengan rutinitas yang kurang lebih sama.
Kita kemudian terus menggulir layar. Satu unggahan berubah menjadi puluhan. Tanpa disadari, pencapaian orang lain mulai memunculkan pertanyaan dalam diri.
“Apakah aku tertinggal?”
“Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
Kekhawatiran bahwa kita sedang melewatkan pengalaman yang dimiliki orang lain dikenal dalam psikologi sebagai fear of missing out atau FoMO.
Przybylski et al. (2013) mendefinisikan FoMO sebagai kekhawatiran terus-menerus bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang menyenangkan tanpa kehadiran kita, disertai keinginan untuk terus mengetahui dan terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa FoMO berkaitan dengan penggunaan media sosial yang lebih tinggi serta tingkat kepuasan hidup dan suasana hati yang lebih rendah.
Namun, bukan berarti setiap kali merasa iri, penasaran, atau tertarik mengikuti tren kita otomatis mengalami FoMO. Pengalaman tersebut jauh lebih kompleks.
Ketika Hidup Orang Lain Menjadi Cermin untuk Menilai Diri Sendiri
Salah satu cara memahami FoMO adalah melalui teori social comparison atau perbandingan sosial.
Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan maupun kondisinya dengan orang lain.
Perbandingan sosial sebenarnya tidak selalu buruk. Melihat orang lain dapat memberikan informasi mengenai diri sendiri, membantu seseorang menetapkan tujuan, bahkan menjadi sumber inspirasi.
Masalah mulai muncul ketika media sosial membuat bahan untuk membandingkan diri tersedia nyaris tanpa batas.
Dalam beberapa menit, kita dapat melihat pencapaian puluhan bahkan ratusan orang.
Di saat yang sama, kita mengetahui seluruh sisi kehidupan kita sendiri: kegagalan, kebingungan, konflik, kekhawatiran, hingga hari-hari ketika kita tidak produktif.
Sebaliknya, kehidupan orang lain di media sosial sering kali hadir dalam bentuk yang telah dipilih dan disusun sebelum dibagikan.
Kita pun tanpa sadar membandingkan keseluruhan hidup kita dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Akibatnya, sesuatu yang sebelumnya terasa cukup perlahan mulai terlihat kurang.
FoMO Bukan Sekadar Takut Ketinggalan Tren
Dalam percakapan sehari-hari, istilah FoMO sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang selalu ingin mengikuti tren, datang ke acara tertentu, atau membeli sesuatu yang sedang populer.
Namun, dalam psikologi, FoMO memiliki makna yang lebih luas.
FoMO berhubungan dengan keinginan untuk terus mengetahui pengalaman yang sedang dijalani orang lain. Ketika seseorang merasa ada pengalaman berharga atau menyenangkan yang berlangsung tanpa dirinya, muncul dorongan untuk tetap terhubung.
Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa seseorang berulang kali membuka media sosial meskipun sebenarnya sudah lelah.
Bukan selalu karena ada sesuatu yang benar-benar ingin dilihat, tetapi karena muncul kekhawatiran bahwa mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi dan ia tidak mengetahuinya.
Hubungan antara FoMO, teknologi digital, dan psychological well-being juga tidak sesederhana yang sering dibayangkan.
Groenestein et al. (2024), melalui scoping review terhadap 106 artikel ilmiah, menemukan bahwa penelitian mengenai FoMO masih memiliki variasi dalam definisi, mekanisme, hingga hubungannya dengan kesejahteraan psikologis.
Karena itu, FoMO kurang tepat jika dipahami sebagai satu-satunya penyebab penurunan kesehatan mental.
Persoalannya juga bukan sekadar bahwa media sosial itu buruk atau bahwa FoMO selalu membuat seseorang tidak bahagia. Konteks penggunaan media sosial dan pengalaman psikologis masing-masing individu tetap perlu diperhatikan.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Bangun?
Pada titik inilah perspektif psikologi positif menjadi relevan.
Psikologi positif tidak hanya mempelajari masalah atau gangguan psikologis, tetapi juga kondisi yang memungkinkan seseorang berkembang dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Seligman (2011), melalui kerangka PERMA, menjelaskan bahwa well-being terdiri atas lima unsur, yaitu positive emotion, engagement, relationships, meaning, dan accomplishment.
Dengan demikian, kesejahteraan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering seseorang merasa senang.
Perspektif ini membantu kita mengubah pertanyaan.
Bukan hanya, “Apa yang harus aku lakukan agar tidak tertinggal?”
Tetapi juga, “Apa yang sebenarnya penting dalam kehidupan yang ingin aku jalani?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah.
Semakin sering melihat kehidupan orang lain, semakin besar kemungkinan kita menggunakan standar eksternal untuk menentukan keberhasilan diri.
Karier harus terlihat sukses.
Liburan harus menarik.
Hubungan harus terlihat bahagia.
Bahkan waktu istirahat terkadang seolah harus tetap menghasilkan sesuatu.
Padahal, kehidupan yang bermakna tidak harus selalu terlihat menarik di mata orang lain.
Belajar Lebih Ramah kepada Diri Sendiri
Salah satu konsep yang relevan ketika seseorang merasa tertinggal adalah self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.
Neff (2003) menjelaskan bahwa self-compassion terdiri atas tiga komponen, yaitu self-kindness, common humanity, dan mindfulness.
Ketika mengalami kegagalan atau merasa belum cukup baik, seseorang dengan self-compassion belajar memperlakukan dirinya dengan lebih baik, memahami bahwa kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia, serta menyadari emosi yang muncul tanpa harus tenggelam dalam penilaian negatif terhadap diri sendiri.
Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara self-compassion dan well-being (Gunnell et al., 2017; Homan, 2016; Neff, Toth-Kiraly & Colosimo, 2021; Zessin, Dickhauser & Garbade, 2015).
Bersikap baik terhadap diri sendiri bukan berarti menjadi malas atau berhenti berkembang.
Kita tetap dapat mengakui bahwa ada sesuatu yang belum tercapai tanpa harus menyimpulkan bahwa diri kita gagal.
Dari FoMO Menuju JoMO
Jika FoMO menggambarkan kekhawatiran karena merasa tertinggal dari pengalaman orang lain, ada konsep lain yang mulai berkembang, yakni joy of missing out atau JoMO.
Barry et al. (2023) menggambarkan JoMO sebagai kemampuan seseorang untuk merasa nyaman atau puas ketika tidak mengikuti aktivitas sosial yang sedang dilakukan orang lain.
Bukan karena tidak peduli terhadap dunia sekitar, melainkan karena seseorang tidak merasa harus hadir dalam setiap pengalaman agar kehidupannya tetap terasa bernilai.
Dengan kata lain, JoMO bukan tentang mengisolasi diri.
JoMO lebih dekat dengan kemampuan mengatakan, “Aku tidak harus mengikuti semuanya, dan itu tidak masalah.”
Kaya et al. (2026) menemukan bahwa JoMO memiliki kaitan dengan FoMO, penggunaan media sosial, mindfulness, self-compassion, dan mental well-being.
Namun, penelitian mengenai JoMO masih relatif terbatas karena konsep ini tergolong baru dalam kajian psikologi.
JoMO masih terus berkembang sebagai salah satu cara memahami hubungan antara kehidupan digital, keterhubungan sosial, dan kesejahteraan psikologis.
Bagaimana Mempraktikkan JoMO?
Menjadi lebih nyaman dengan apa yang kita lewatkan tentu tidak berarti harus langsung menghapus seluruh media sosial.
Beberapa langkah sederhana dapat dimulai dari kesadaran terhadap diri sendiri.
Pertama, kenali saat kita mulai membandingkan diri.
Perhatikan apa yang muncul setelah melihat unggahan tertentu.
Apakah kita merasa terinspirasi, atau justru merasa diri tidak cukup baik?
Kesadaran tersebut membantu kita memahami bahwa reaksi emosional terhadap media sosial dapat diamati dan tidak harus langsung dipercaya sebagai kenyataan.
Kedua, bedakan keinginan pribadi dengan tekanan sosial.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah aku memang menginginkan ini, atau aku menginginkannya karena melihat orang lain memilikinya?”
Tidak semua tujuan perlu kita miliki hanya karena orang lain telah mencapainya.
Ketiga, belajar bersyukur tanpa kehilangan ambisi.
Bersyukur tidak berarti berhenti memiliki tujuan.
Kita tetap boleh ingin berkembang sambil mengakui bahwa sudah ada bagian-bagian kehidupan yang berjalan dengan baik.
Keempat, izinkan diri untuk tidak mengetahui semuanya.
Kita tidak harus mengetahui setiap acara, tren, pencapaian, atau perjalanan yang dilakukan orang lain.
Tidak mengetahui sesuatu bukan berarti tertinggal.
Kelima, kembali pada kehidupan yang sedang dijalani.
Ada hubungan yang perlu dirawat, pekerjaan atau tugas yang perlu diselesaikan, keluarga yang perlu ditemui, tubuh yang membutuhkan istirahat, serta tujuan pribadi yang ingin dicapai.
Kehidupan nyata tetap berjalan bahkan ketika layar ponsel dimatikan.
Tidak Semua yang Kita Lewatkan Adalah Kehilangan
Pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan sekadar apakah kita mengalami FoMO atau tidak.
Sebagai manusia, kita memang memiliki kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain. Kita juga wajar merasa penasaran, memiliki keinginan untuk berkembang, dan sesekali membandingkan diri.
Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika kehidupan orang lain mulai menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah kehidupan kita cukup baik.
Psikologi positif mengingatkan bahwa well-being bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak pengalaman menyenangkan dibandingkan orang lain.
Kesejahteraan juga mencakup keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna, hubungan yang berkualitas, pencapaian, emosi positif, dan perasaan bahwa kehidupan memiliki tujuan.
Karena itu, mungkin kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak pengalaman.
Terkadang, yang kita perlukan justru keberanian untuk melewatkan beberapa hal.
Tidak ikut bukan berarti gagal.
Tidak mengetahui sesuatu bukan berarti tertinggal.
Tidak memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain bukan berarti kehidupan kita lebih rendah.
Mungkin sudah waktunya menggeser pertanyaan dari, “Apakah aku tertinggal dari orang lain?” menjadi, “Apakah kehidupan yang sedang aku jalani bergerak menuju sesuatu yang benar-benar berarti bagiku?”
Jika jawabannya belum, kita masih memiliki kesempatan untuk bergerak.
Namun kali ini bukan karena takut tertinggal dari orang lain, melainkan karena kita mulai mengetahui ke mana sebenarnya ingin pergi.
Referensi
Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Process. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
Groenestein, E., Wilemsen, L., Van-Koningsbruggen, G. M., Ket, H., & Kerkhof, P. (2024). The Relationship Between Fear of Missing Out, Digital Technology Use, and Psychological Well-Being: A Scoping Review of Conceptual and Empirical Issues. PLOS ONE, 19(10). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0308643
Gunnell, K. E., Mosewich, A. D., McEwen, C. E., Eklund, R. C., & Crocker, P. R. E. (2017). Don’t Be So Hard on Yourself! Changes in Self-Compassion During the First Year of University Are Associated With Changes in Well-Being. Personality and Individual Differences, 107, 43–48.
Homan, K. J. (2016). Self-Compassion and Psychological Well-Being in Older Adults. Journal of Adult Development, 23(2), 111–119.
Kaya, Y., Kurtulus, H. Y., Taskin, S., Deniz, M. E., & Satici, S. A. (2026). Adaptation of The Joy of Missing Out (JoMO) Scale: Its Association With Fear of Missing Out (FoMO), Social Media Use, Mental Well-Being, Mindfulness, and Self-Compassion. Educational and Developmental Psychologist, 43(1), 58–68.
Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being. New York: Free Press.
Zessin, U., Dickhäuser, O., & Garbade, S. (2015). The Relationship Between Self-Compassion and Well-Being: A Meta-Analysis. Applied Psychology: Health and Well-Being.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda