Malang, JurnalPost — Menjadi relawan sering kali identik dengan semangat memberi, hadir untuk membantu, serta mendahulukan kebutuhan orang lain. Namun, di balik peran tersebut, relawan juga memiliki batas, emosi, dan kebutuhan untuk menjaga kondisi dirinya sendiri.
Kesadaran itu menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Psikoedukasi Self-Compassion “Bangkit Hati” untuk Relawan yang diselenggarakan di Kota Malang, Jawa Timur.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Dr. Anjarie Dharmastuti, S.Psi., M.Sc., bersama tim dosen dan mahasiswa psikologi. Program “Bangkit Hati” dirancang untuk meningkatkan pemahaman relawan mengenai pentingnya self-compassion dalam menghadapi berbagai tekanan dan tantangan selama menjalankan peran kemanusiaan.
Nama “Bangkit Hati” merupakan akronim dari “BANGun diri KITa dari HATI”. Filosofi tersebut menggambarkan bahwa kepedulian kepada sesama perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap diri sendiri.
Melalui kegiatan ini, para relawan diajak untuk mengenali keterbatasan diri, menerima pengalaman tanpa terlalu menghakimi diri sendiri, serta membangun kebiasaan memperlakukan diri dengan lebih baik.
“Menjadi relawan bukan berarti harus selalu kuat. Relawan tetap manusia yang dapat merasa lelah, sedih, dan kewalahan. Yang terpenting adalah mampu tetap hadir bagi sesama tanpa kehilangan diri sendiri,” menjadi semangat yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
Relawan Juga Perlu Mendapatkan Kepedulian
Dalam kegiatan psikoedukasi, peserta diajak memahami bahwa kepedulian kepada orang lain tidak harus diwujudkan melalui pengorbanan diri secara berlebihan.
Dorongan untuk terus membantu terkadang membuat relawan mengabaikan kondisi fisik maupun emosionalnya sendiri. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan emosional dan memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sosial.
Melalui materi self-compassion, peserta diperkenalkan pada pemahaman bahwa merawat diri bukanlah bentuk egoisme. Sebaliknya, perhatian terhadap diri sendiri dapat menjadi bagian penting agar relawan tetap mampu membantu secara sehat dan berkelanjutan.
Dalam konsep yang dikembangkan oleh Kristin Neff, self-compassion merupakan sikap memperlakukan diri dengan kebaikan ketika menghadapi kesulitan, kegagalan, maupun kekurangan.
Konsep tersebut mencakup tiga elemen utama, yaitu self-kindness atau kebaikan terhadap diri sendiri, common humanity atau kesadaran bahwa kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia, serta mindfulness atau kemampuan menyadari pikiran dan perasaan secara seimbang.

Belajar Peduli Tanpa Melupakan Diri Sendiri
Salah satu bagian yang menonjol dalam kegiatan “Bangkit Hati” adalah sesi refleksi peserta.
Para relawan mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai cara mereka memperlakukan diri sendiri. Mereka menyadari bahwa selama ini perhatian, tenaga, dan dukungan lebih mudah diberikan kepada orang lain dibandingkan kepada dirinya sendiri.
Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi pribadi yang peduli tidak berarti harus terus-menerus mengesampingkan kebutuhan diri.
“Selama ini saya berpikir membantu orang lain adalah hal yang utama, tetapi ternyata menjaga diri sendiri juga bagian dari proses membantu. Kalau kita terus memaksakan diri, justru kita bisa kehilangan kemampuan untuk hadir bagi orang lain,” ungkap salah satu peserta saat sesi refleksi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian kepada sesama dan perhatian terhadap diri sendiri dapat berjalan bersama.
Relawan tetap dapat memberikan dukungan kepada orang lain tanpa harus mengabaikan kebutuhan emosional dan psikologisnya sendiri.
Membangun Relawan yang Lebih Tangguh dan Berkelanjutan
Melalui pendekatan edukatif dan reflektif, program “Bangkit Hati” tidak hanya memberikan pemahaman mengenai self-compassion, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan cara memperlakukan diri dengan lebih lembut.
Peserta dilatih untuk mengenali kritik diri yang berlebihan dan menggantinya dengan respons yang lebih suportif dan realistis, sebagaimana mereka memberikan dukungan kepada orang lain yang sedang menghadapi kesulitan.
Kegiatan ini juga menekankan bahwa beristirahat bukanlah tanda kelemahan. Memberikan waktu bagi diri sendiri untuk pulih justru menjadi bagian penting agar seseorang mampu mempertahankan perannya dalam jangka panjang.
Melalui psikoedukasi “Bangkit Hati”, para relawan di Kota Malang diharapkan tidak hanya semakin kuat dalam menjalankan aktivitas kemanusiaan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan psikologis dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kepedulian kepada sesama dapat terus tumbuh ketika seseorang juga mampu memberikan ruang, perhatian, dan kebaikan kepada dirinya sendiri.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda