BEKASI, JurnalPost.com – Sebanyak 180 peserta didik Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi mengikuti kegiatan literasi kesehatan mental yang diselenggarakan tim dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (4/8/2026).
Kegiatan bertajuk “Literasi Kesehatan Mental bagi Peserta Didik di Wilayah Bekasi Utara” tersebut melibatkan guru dan mahasiswa pendamping. Program ini menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat FIP UNJ di bidang keilmuan Bimbingan dan Konseling.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dibekali pemahaman mengenai kesehatan mental berdasarkan perspektif ilmiah sekaligus diajak mengembangkan ketahanan psikologis dalam menghadapi berbagai tantangan pada masa remaja.
Program tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 3: Good Health and Well-being, yang menekankan pentingnya kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Tim dosen Bimbingan dan Konseling UNJ yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Desriani Rahmania, M.Pd.; Dr. Eka Wahyuni, MAAPD.; Rike Ulandari, M.Pd.; Nira Prihatin Nufus, M.Pd., Kons.; Wening Cahyawulan, M.Pd.; serta Cut Munika Bastia Rahmadani, M.Pd.
Sementara itu, mahasiswa yang turut mendampingi kegiatan adalah Nadine Hafiizha Rosadi, Ramadhianne Kayla Hasna Nur Hidayat, dan Najla Nadhifa Putri Nayasin.
Literasi Kesehatan Mental di Tengah Paparan Media Sosial
Tim pengabdian menilai pemahaman mengenai kesehatan mental semakin penting bagi remaja seiring tingginya paparan informasi melalui media sosial.
Peserta didik saat ini tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang kesehatan mental dari sekolah, keluarga, maupun tenaga profesional. Berbagai konten mengenai psikologi dan kesehatan mental juga mudah ditemukan melalui platform digital.
Namun, tidak seluruh informasi yang beredar di media sosial memiliki dasar ilmiah atau disampaikan oleh pihak yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan mental.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah kecenderungan melakukan self-diagnosis, yakni ketika seseorang menyimpulkan dirinya mengalami gangguan mental tertentu berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri, terutama melalui konten di media sosial.
Karena itu, peserta didik perlu memahami bahwa munculnya perasaan sedih, cemas, lelah, atau tertekan tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan kesehatan mental tertentu.
Melalui literasi yang tepat, peserta didik diharapkan mampu memahami kondisi emosional yang mereka alami, mengenali perubahan yang membutuhkan perhatian, serta mengetahui kapan dan kepada siapa mereka dapat mencari bantuan.
Pemahaman tersebut juga penting untuk mencegah munculnya kesalahpahaman maupun pemberian label terhadap diri sendiri dan orang lain tanpa dasar yang tepat.
Gunakan Pendekatan Strength-Based Positive Psychology
Dalam pelaksanaannya, tim BK FIP UNJ menggunakan pendekatan strength-based positive psychology.
Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada persoalan atau risiko psikologis yang mungkin dialami remaja, tetapi juga membantu peserta didik mengenali kekuatan serta sumber daya positif dalam dirinya.
Peserta didik diajak mengenali berbagai aspek seperti resiliensi atau kemampuan untuk bangkit dari kesulitan, harapan, empati, rasa syukur, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak semata-mata diposisikan sebagai individu yang rentan menghadapi persoalan psikologis, melainkan sebagai individu yang mempunyai potensi untuk berkembang dan memiliki sumber daya internal dalam menghadapi kesulitan.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman dasar mengenai kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis, pengenalan serta regulasi emosi, hingga cara menghadapi stres akademik dan sosial yang umum dialami remaja.
Peserta juga memperoleh materi mengenai mitos dan fakta seputar kesehatan mental serta pentingnya mencari bantuan melalui cara dan pihak yang tepat ketika menghadapi persoalan yang tidak dapat ditangani sendiri.
Seluruh materi disusun dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga lebih mudah dikaitkan dengan pengalaman yang mereka temui dalam aktivitas sehari-hari.
Diskusi hingga Refleksi Diri
Kegiatan literasi kesehatan mental tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi satu arah.
Tim pengabdian juga menggunakan sejumlah metode interaktif, mulai dari diskusi, studi kasus, hingga refleksi diri.
Pendekatan tersebut digunakan agar peserta didik tidak sekadar menerima pengetahuan secara teoritis, tetapi juga dapat menghubungkannya dengan pengalaman akademik, kehidupan sosial, maupun kondisi emosional yang mereka alami sehari-hari.
Peserta didik juga diajak meningkatkan kemampuan dalam membedakan informasi kesehatan mental yang berbasis bukti dengan informasi populer di media sosial yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman ataupun stigma.
Literasi kesehatan mental dengan demikian tidak hanya diarahkan pada pengenalan terhadap gangguan psikologis. Peserta didik juga didorong untuk memahami kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan dan proses pertumbuhan diri.
Melalui pendekatan berbasis kekuatan, setiap peserta didik diharapkan dapat melihat bahwa dirinya memiliki kemampuan, potensi, dan sumber daya positif yang dapat dikembangkan ketika menghadapi berbagai tantangan.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta didik Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi mengenai kesehatan mental sekaligus mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang lebih terbuka, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan psikologis peserta didik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda