BEKASI, JurnalPost.com – Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memberikan edukasi literasi kesehatan mental kepada para guru Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) bertajuk “Literasi Kesehatan Mental bagi Guru” tersebut dilaksanakan pada Selasa, 4 Agustus 2026, pukul 13.00–16.00 WIB, di Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi, Jalan HM. Joyomartono No. 19, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Sebanyak 20 guru mengikuti kegiatan yang bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga pendidik mengenai kesehatan mental serta kemampuan mengenali berbagai tanda permasalahan psikologis yang dapat muncul pada murid di lingkungan sekolah.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, S.Pd., M.Pd. Setelah itu, peserta mengikuti sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ.
Program P2M tersebut diketuai oleh Dr. Eka Wahyuni, MAAPD, yang juga bertindak sebagai narasumber bersama Dr. Cut Munika Bastia Rahmadani, M.Pd.
Pada sesi pertama, Dr. Eka Wahyuni membahas konsep dasar kesehatan mental serta berbagai persoalan kesehatan mental yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Materi tersebut memberikan gambaran kepada para guru mengenai pentingnya kondisi kesehatan mental terhadap perkembangan dan kehidupan individu, termasuk dalam proses belajar dan interaksi sosial murid di sekolah.
Guru juga diajak memahami pentingnya kemampuan mengenali berbagai tanda awal ketika seorang murid mulai mengalami persoalan yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Pemahaman tersebut dinilai penting karena guru merupakan salah satu pihak yang berinteraksi secara rutin dengan murid dan dapat turut berperan dalam memberikan dukungan awal maupun mengarahkan murid kepada layanan bantuan yang tepat.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr. Cut Munika Bastia Rahmadani. Dalam pemaparannya, ia membahas berbagai faktor yang dapat memengaruhi maupun berkaitan dengan munculnya masalah kesehatan mental.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai “Mental Health: Mitos vs. Fakta”, stigma terhadap persoalan kesehatan mental, tanda-tanda seseorang membutuhkan bantuan, hingga berbagai jenis layanan kesehatan mental yang dapat diakses.
Melalui materi tersebut, peserta diajak membedakan informasi yang benar dengan berbagai anggapan keliru yang masih berkembang di masyarakat mengenai kesehatan mental.
Guru juga didorong untuk membangun perspektif yang lebih terbuka sehingga persoalan kesehatan mental tidak dipandang sebagai sesuatu yang memalukan atau menjadi dasar pemberian stigma kepada individu yang membutuhkan dukungan.
Selain memahami tanda-tanda permasalahan kesehatan mental, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya proses rujukan kepada layanan yang sesuai apabila ditemukan murid yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Peran guru dalam konteks tersebut bukan untuk melakukan diagnosis, melainkan mengenali kondisi yang memerlukan perhatian dan membantu murid memperoleh dukungan dari pihak yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para guru terlihat aktif menyampaikan pertanyaan serta mendiskusikan berbagai persoalan kesehatan mental yang berkaitan dengan lingkungan pendidikan.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam proses pendampingan murid di sekolah.
Diskusi juga memberikan ruang bagi para guru untuk memperdalam pemahaman mengenai bagaimana merespons murid yang menunjukkan perubahan perilaku maupun kondisi emosional tertentu secara lebih tepat dan proporsional.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut, Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ berupaya memperkuat kapasitas guru dalam memahami isu kesehatan mental sekaligus meningkatkan kepekaan terhadap kondisi psikologis murid.
Literasi kesehatan mental yang baik di kalangan tenaga pendidik diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang lebih peduli, terbuka, aman, dan responsif terhadap kebutuhan psikologis peserta didik.
Dengan meningkatnya pemahaman guru, sekolah juga diharapkan dapat menjadi lingkungan yang tidak hanya mendukung perkembangan akademik murid, tetapi turut memberikan ruang bagi perkembangan sosial dan emosional mereka secara sehat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda