Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Putus Cinta Bukan Berarti Kamu Tidak Berharga: Belajar Menerima Diri Setelah Hubungan Berakhir

Putus Cinta Bukan Berarti Kamu Tidak Berharga: Belajar Menerima Diri Setelah Hubungan Berakhir

G
Penulis: Gerraldina Caca
29 September 2026, 21.37 WITA • Editor: Gilang Pamungkas
9 menit baca
Putus Cinta

Gloryossa Gerraldina Zefanya
Mahasiswa Magister Sains Psikologi
Soegijapranata Catholic University

“Kenapa dia memilih pergi?”

IKLAN

“Apakah aku memang tidak cukup baik?”

“Kalau dulu aku lebih sabar, mungkin hubungan ini tidak akan berakhir.”

Pertanyaan seperti itu kerap muncul setelah sebuah hubungan romantis berakhir. Putus cinta tidak hanya menghadirkan kehilangan seseorang yang pernah dekat, tetapi terkadang juga mengguncang cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Sebagian orang mulai menyalahkan diri setelah hubungan kandas. Ada yang merasa dirinya kurang menarik, kurang perhatian, terlalu banyak kekurangan, atau tidak cukup baik untuk dipertahankan. Perasaan tersebut bisa semakin berat ketika mengetahui mantan pasangan telah menjalin hubungan baru.

Pada kondisi seperti ini, kehilangan pasangan perlahan dapat berubah menjadi kehilangan rasa percaya terhadap diri sendiri.

Padahal, berakhirnya sebuah hubungan tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak cukup baik atau gagal sebagai pribadi. Hubungan romantis melibatkan dua individu yang memiliki kebutuhan, harapan, pengalaman, karakter, dan pilihan masing-masing.

Karena itu, ketika hubungan berakhir, hal tersebut tidak selalu berarti salah satu pihak merupakan “orang yang gagal”. Di sinilah kemampuan menerima diri atau self-acceptance menjadi penting.

Ketika Putus Cinta Membuat Kita Meragukan Nilai Diri

Putus cinta dapat memunculkan beragam emosi, mulai dari kesedihan, kecewa, marah, kesepian, rindu hingga rasa bersalah. Intensitas emosi tersebut tentu berbeda pada setiap orang.

Namun, persoalan setelah perpisahan terkadang bukan hanya terletak pada rasa kehilangan, melainkan pada bagaimana seseorang memaknai kejadian tersebut.

Seseorang mungkin berpikir, “Hubungan ini berakhir karena aku melakukan kesalahan.”

Pemikiran tersebut masih memberi ruang untuk melakukan evaluasi terhadap perilaku yang pernah dilakukan.

Namun, situasinya berbeda ketika pemikiran tersebut berubah menjadi, “Hubungan ini berakhir karena aku memang tidak layak dicintai.”

Sekilas kedua pemikiran itu terlihat serupa, tetapi secara psikologis memiliki makna yang berbeda. Kalimat pertama berfokus pada evaluasi terhadap perilaku, sedangkan kalimat kedua berubah menjadi penilaian terhadap keseluruhan diri.

Penerimaan diri dapat membantu seseorang membedakan keduanya.

Kita dapat mengakui pernah melakukan kesalahan tanpa harus menyimpulkan bahwa seluruh diri kita adalah sebuah kesalahan.

Penelitian Vasile (2013) mengenai self-acceptance menunjukkan bahwa penerimaan diri berkaitan dengan kemampuan seseorang menerima dirinya secara lebih utuh, termasuk kualitas positif maupun keterbatasan yang dimilikinya.

Dengan demikian, menerima diri bukan berarti menganggap diri sempurna. Penerimaan diri justru berkaitan dengan kemampuan melihat diri secara realistis, termasuk menyadari kekuatan sekaligus kekurangan.

Menerima Diri Bukan Berarti Membenarkan Semua Kesalahan

Salah satu kesalahpahaman tentang penerimaan diri adalah anggapan bahwa menerima diri berarti tidak perlu berubah atau memperbaiki kesalahan.

Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.

Seseorang tetap dapat berkata, “Aku melakukan kesalahan dalam hubungan ini dan aku ingin belajar darinya,” tanpa harus mengatakan, “Karena aku melakukan kesalahan, berarti aku orang yang buruk dan tidak layak dicintai.”

Penerimaan diri memberikan ruang bagi seseorang untuk bertanggung jawab tanpa harus terus-menerus menghukum dirinya sendiri.

Hal ini penting setelah putus cinta karena rasa bersalah dapat membuat seseorang terjebak pada masa lalu. Percakapan terakhir terus dipikirkan, keputusan yang pernah dibuat disesali, dan berbagai kemungkinan mengenai apa yang seharusnya dilakukan terus muncul dalam pikiran.

Padahal, masa lalu tidak dapat diulang. Yang dapat dilakukan adalah mengambil pelajaran darinya.

Zhang dan Chen (2017) menemukan bahwa self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri dapat membantu seseorang yang menyalahkan dirinya atas berakhirnya hubungan romantis.

Individu dengan self-compassion dapat memiliki pandangan yang lebih positif terhadap hubungan romantis berikutnya sekaligus mempertahankan motivasi untuk memperbaiki diri.

Artinya, memperlakukan diri sendiri dengan baik bukan berarti menghindari tanggung jawab. Seseorang tetap dapat mengakui kesalahan dan belajar darinya tanpa harus membenci dirinya sendiri.

“Aku Sedang Sedih” Tidak Sama dengan “Aku Lemah”

Setelah hubungan berakhir, seseorang terkadang merasa harus segera move on. Ketika beberapa minggu bahkan beberapa bulan berlalu dan kesedihan masih muncul, muncul pula pertanyaan baru.

“Kenapa aku belum bisa melupakannya?”

Padahal, proses pemulihan tidak memiliki batas waktu yang sama bagi semua orang.

Sbarra, Smith, dan Mehl (2012) menemukan bahwa self-compassion berkaitan dengan proses pemulihan emosional yang lebih baik setelah perpisahan. Temuan ini menunjukkan bahwa bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri ketika menghadapi kehilangan dapat berperan dalam proses penyesuaian emosional.

Karena itu, merasa sedih setelah putus cinta bukan berarti lemah.

Merindukan seseorang juga tidak berarti harus kembali kepadanya. Menangis bukan berarti gagal move on. Masih mengingat mantan pasangan pun bukan berarti seseorang tidak mampu menghargai dirinya sendiri.

Emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Hal yang penting adalah bagaimana seseorang merespons emosi tersebut.

Kita dapat berkata, “Aku sedang sedih karena kehilangan seseorang yang pernah penting dalam hidupku,” tanpa harus melanjutkannya dengan kesimpulan, “Berarti aku lemah.”

Jangan Menjadikan Hubungan sebagai Ukuran Harga Diri

Salah satu jebakan yang muncul setelah putus cinta adalah menjadikan keberhasilan hubungan sebagai ukuran nilai diri.

Saat hubungan berjalan baik, seseorang merasa dicintai dan berharga. Namun ketika hubungan berakhir, ia mulai merasa dirinya tidak lagi bernilai.

Padahal, nilai diri seseorang tidak semestinya sepenuhnya bergantung pada status hubungan romantis.

Kita tetap memiliki nilai ketika sedang sendiri.

Kita tetap berharga ketika seseorang memilih pergi.

Kita juga tetap memiliki masa depan, meskipun rencana yang pernah disusun bersama pasangan tidak lagi dapat diwujudkan.

Hubungan romantis merupakan salah satu bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan identitas seseorang.

Karena itu, setelah putus cinta, seseorang perlu perlahan membangun kembali kehidupan yang mungkin sebelumnya terlalu berpusat pada hubungan.

Mulailah kembali bertemu teman, menjalani pekerjaan atau perkuliahan, melakukan hobi, berolahraga, menjalankan aktivitas spiritual, hingga menikmati waktu sendiri.

IKLAN

Aktivitas tersebut dapat membantu seseorang menemukan kembali bagian dari dirinya yang mungkin sempat terabaikan ketika berada dalam sebuah hubungan.

Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Baru

Hal lain yang dapat memperberat proses penerimaan diri adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang baru yang hadir dalam kehidupan mantan pasangan.

“Dia lebih cantik daripada aku.”

“Dia lebih sukses.”

“Berarti aku kalah.”

Ketika pemikiran semacam itu muncul, tanpa disadari seseorang sedang membandingkan keseluruhan kehidupan dirinya dengan potongan kecil informasi tentang orang lain.

Kita tidak benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan maupun hubungan orang tersebut berlangsung.

Nilai manusia juga tidak dapat diukur seperti sedang membandingkan dua produk untuk menentukan mana yang lebih baik.

Seseorang yang dipilih mantan pasangan tidak otomatis menjadi lebih berharga. Sebaliknya, seseorang yang tidak lagi dipilih bukan berarti memiliki nilai lebih rendah.

Hubungan romantis bukan sebuah kompetisi untuk menentukan siapa manusia yang paling berharga.

Bagaimana Belajar Menerima Diri Setelah Putus Cinta?

Menerima diri setelah putus cinta tentu bukan proses yang dapat selesai dalam satu malam. Namun, terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan secara perlahan.

Pertama, akui bahwa hubungan tersebut telah berakhir.

Menerima kenyataan tidak berarti kita harus menyukai kenyataan tersebut. Kita boleh kecewa atau tidak menyukai fakta bahwa hubungan itu berakhir, tetapi tetap perlu mengakui bahwa hal tersebut memang sudah terjadi.

Kedua, izinkan diri merasakan emosi.

Tidak perlu memaksa diri menghilangkan kesedihan secepat mungkin. Berikan ruang untuk merasakan kehilangan, tetapi tetap perhatikan kebutuhan dasar seperti tidur, makan, bekerja, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain.

Ketiga, bedakan kesalahan dengan identitas diri.

Jika memang terdapat kesalahan selama menjalani hubungan, akui dan pelajari. Namun, jangan menjadikan satu kesalahan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh diri kita buruk.

Keempat, belajar tanpa membenci diri sendiri.

Perlahan kurangi pertanyaan, “Apa yang kurang dari diriku?”

Gantilah dengan pertanyaan, “Apa yang bisa aku pelajari dari pengalaman ini?”

Pertanyaan kedua memberikan ruang yang lebih besar untuk tumbuh tanpa harus menjadikan diri sendiri sebagai musuh.

Kelima, perlakukan diri seperti kita memperlakukan seorang teman.

Bayangkan seorang teman datang dalam keadaan patah hati. Kemungkinan besar kita tidak akan berkata kepadanya, “Kamu memang tidak layak dicintai.”

Kita mungkin akan mendengarkan ceritanya, menemaninya, dan meyakinkan bahwa masa sulit tersebut dapat dilewati.

Cobalah memberikan perlakuan yang sama kepada diri sendiri.

Yang Perlu Ditemukan Kembali Bukan Hanya Pasangan Baru

Setelah putus cinta, kita sering mendengar kalimat, “Nanti juga akan menemukan orang yang lebih baik.”

Mungkin suatu hari memang akan hadir hubungan baru.

Namun, proses pemulihan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pencarian seseorang sebagai pengganti.

Ada sesuatu yang tidak kalah penting untuk ditemukan kembali, yaitu diri sendiri.

Siapa diri kita ketika tidak sedang menjadi pasangan seseorang?

Apa yang sebenarnya kita sukai?

Apa yang kita inginkan dalam hidup?

Batasan apa yang ingin kita bangun dalam hubungan berikutnya?

Apa yang dapat dipelajari dari hubungan sebelumnya?

Dan mungkin pertanyaan yang paling penting adalah: bisakah kita tetap menghargai diri sendiri meskipun seseorang tidak lagi memilih kita?

Penerimaan diri bukan berarti mengatakan bahwa putus cinta tidak menyakitkan.

Penerimaan diri juga tidak mengharuskan seseorang segera melupakan orang yang pernah dicintainya.

Penerimaan diri adalah kemampuan untuk mengatakan kepada diri sendiri:

“Hubungan ini mungkin telah berakhir, tetapi nilai diriku tidak ikut berakhir bersamanya.”

Kita boleh merasa sedih. Kita boleh kecewa. Kita juga boleh membutuhkan waktu untuk kembali pulih.

Namun, berakhirnya sebuah hubungan tidak perlu menjadi alasan untuk berhenti menyayangi diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, move on bukan hanya tentang meninggalkan seseorang di masa lalu. Lebih dari itu, move on juga merupakan proses belajar untuk kembali menjadi rumah yang aman bagi diri sendiri.

Referensi

Sbarra, D. A., Smith, H. L., & Mehl, M. R. (2012). When leaving your ex, love yourself: Observational ratings of self-compassion predict the course of emotional recovery following marital separation. Psychological Science, 23(3), 261–269. https://doi.org/10.1177/0956797611429466

Tran, K., Castiglioni, L., Walper, S., & Lux, U. (2024). Resolving relationship dissolution—What predicts emotional adjustment after breakup? Family Process, 63(3), 1157–1170.

Vasile, C. (2013). An evaluation of self-acceptance in adults. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 78, 605–609. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.04.360

Zefanya, G. G. (2022). Hubungan self-talk dan penerimaan diri pada individu dewasa awal atas sebuah peristiwa putus cinta [Skripsi, Universitas Sanata Dharma]. USD Repository.

Zhang, J. W., & Chen, S. (2017). Self-compassion promotes positive adjustment for people who attribute responsibility of a romantic breakup to themselves. Self and Identity, 16(6), 732–759. https://doi.org/10.1080/15298868.2017.1305985


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/putus-cinta-bukan-berarti-kamu-tidak-berharga-belajar-menerima-diri-setelah-hubungan-berakhir/97902/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 12.12 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #hubungan romantis
  • #patah hati
  • #penerimaan diri
  • #psikologi
  • #putus cinta
  • #self acceptance
  • #self-compassion

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Inovasi Pendidikan UM: Dosen dan Mahasiswa Kembangkan “DIGESTA” STEAM-Workbook untuk Tingkatkan Keterampilan Kolaborasi Siswa SMP

Koalisi Pemuda Jakarta Soroti Seleksi Ahmad Rijal di DTKJ, Desak Pemprov DKI Lakukan Evaluasi

Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

Dosen UMI Tingkatkan Literasi Ilmiah dan Kesadaran Hukum Guru Pesantren Mizanul Ulum melalui Pelatihan Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.