JurnalPost.com - Pernahkah saat menonton konten tentang kecemasan, overthinking, trauma, atau people pleasing, lalu kita spontan berpikir, “Kok relate banget ya sama aku?” Kemudian, kita mulai mencari video serupa, mencocokkan pengalaman pribadi dengan gejala yang dijelaskan, hingga merasa mengalami gangguan psikologis tertentu.
Pengalaman ini semakin relevan ketika informasi kesehatan mental mudah ditemukan di media sosial. Konten yang singkat, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan menggunakan bahasa sederhana membuat persoalan psikologis terasa lebih mudah dipahami. Namun, ketika sebuah konten terasa sangat sesuai dengan diri kita, apakah itu berarti penjelasannya sudah benar?
Ketika Konten Terasa Sangat Personal
Salah satu penjelasan psikologis yang dapat membantu memahami fenomena ini adalah Barnum effect. Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang menerima deskripsi yang cukup umum seolah-olah deskripsi tersebut secara khusus menggambarkan dirinya sendiri.
Snyder et al. (1977) membahas bagaimana orang menerima interpretasi kepribadian yang terasa personal, meskipun karakteristik yang disampaikan dapat berlaku bagi banyak orang.
Saat ada konten yang mengatakan, “Kamu sering terlihat kuat di depan orang lain, tetapi sebenarnya banyak memikirkan hal-hal kecil sendirian,” kalimat tersebut mungkin terasa sangat akurat karena banyak orang pernah mengalami situasi serupa.
Ketika pengalaman pribadi terasa terwakili, kita cenderung menganggap konten itu memahami diri kita secara mendalam. Padahal, kecocokan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa seluruh penjelasan di dalam konten benar.
Fenomena ini juga berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki (Nickerson, 1998).
Setelah merasa memiliki kecemasan, seseorang mungkin lebih memperhatikan video yang menyebutkan tanda-tanda kecemasan dan mengingat pengalaman yang sesuai. Sebaliknya, pengalaman yang tidak sesuai dengan penjelasan tersebut bisa saja kurang diperhatikan sehingga keyakinan awal terasa semakin kuat.
Dari Merasa Relate hingga Melakukan Self-Diagnosis
Perasaan terhubung dengan konten kesehatan mental tidak selalu berakhir pada kesimpulan diagnosis. Namun, penelitian Hasan et al. (2023) menunjukkan bahwa paparan unggahan media sosial yang menormalisasi kecemasan dapat meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan self-diagnosis kecemasan.
Hubungan ini dijelaskan melalui identifikasi dengan orang yang ditampilkan dalam unggahan. Dengan kata lain, ketika seseorang merasa memiliki pengalaman serupa dengan tokoh dalam konten, ia dapat lebih mudah menghubungkan kondisi tokoh tersebut dengan dirinya sendiri.
Menurut Amrah et al. (2024), proses self-diagnosis dapat berawal dari kondisi diri yang dirasakan mengganggu, kemudian dihubungkan dengan informasi mengenai gangguan mental di media sosial. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi bias kognitif sebagai salah satu faktor yang mendukung proses tersebut.
Temuan ini tidak berarti bahwa setiap orang yang merasa cocok dengan konten pasti melakukan self-diagnosis. Konten kesehatan mental juga dapat membantu seseorang menyadari kesulitan yang sebelumnya tidak dipahami dan mendorongnya untuk mencari bantuan.
Persoalannya muncul ketika kemiripan pengalaman langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang memiliki gangguan tertentu.
Media Sosial: Sumber Informasi Sekaligus Tantangan
Media sosial memberikan ruang bagi seseorang untuk berbagi pengalaman, menemukan dukungan, dan belajar tentang kesehatan mental. Namun, konten kesehatan mental di media sosial tidak selalu menyajikan informasi yang akurat.
Turuba et al. (2025) menganalisis 970 video TikTok dengan tagar #mentalhealth dan menemukan bahwa 106 dari 319 video memberikan saran atau informasi yang dinilai menyesatkan oleh ahli klinis.
Beberapa video memberikan penjelasan yang tidak akurat atau kurang mempertimbangkan konteks, termasuk mengenai gejala ADHD, gaya kelekatan, dan respons trauma. Peneliti juga menemukan bahwa video yang dinilai menyesatkan memperoleh keterlibatan pengguna yang lebih tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa konten yang populer belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Cerita pribadi memang dapat membantu penonton merasa dipahami, tetapi pengalaman satu orang tidak dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi semua orang.
Oleh karena itu, penting untuk menilai informasi kesehatan mental secara kritis, terutama ketika suatu konten terasa sangat menggambarkan pengalaman pribadi.
Diagnosis gangguan mental tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan beberapa gejala yang terasa sesuai dengan pengalaman diri. Evaluasi klinis perlu mempertimbangkan jenis gejala, waktu kemunculan, frekuensi, durasi, tingkat keparahan, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Tenaga profesional juga perlu mempertimbangkan kemungkinan penjelasan lain sebelum menetapkan diagnosis (IGDA Workgroup, 2003; McKee & Brahm, 2016).
Dalam konteks media sosial, penelitian Armstrong et al. (2025) menunjukkan bahwa informasi kesehatan mental yang ditemukan secara daring dapat berperan dalam pembentukan keyakinan seseorang mengenai diagnosis dirinya.
Oleh karena itu, merasa cocok dengan suatu konten dapat menjadi awal untuk mengenali kondisi diri, tetapi tidak cukup untuk memastikan adanya gangguan mental.
Memahami Diri Tanpa Terburu-buru Memberi Label
Bagaimana sebaiknya kita menyikapi konten kesehatan mental yang terasa sangat relevan?
1. Gunakan konten sebagai awal untuk mengenali pengalaman diri, bukan sebagai kesimpulan diagnosis.
Firmansyah dan Astuti (2026) menemukan hubungan positif antara perilaku mencari bantuan dan self-diagnosis. Peneliti menjelaskan bahwa self-diagnosis dapat menjadi tahap awal untuk memahami kondisi dan mencari informasi atau bantuan, tetapi penilaian diri tidak dapat menggantikan evaluasi profesional.
Merasa cocok dengan suatu konten dapat mendorong kita mencari pemahaman lebih lanjut, bukan memastikan bahwa kita memiliki gangguan tertentu.
2. Periksa kembali informasi yang ditemukan.
Perhatikan siapa yang menyampaikan informasi tersebut. Utamakan konten yang dibuat oleh tenaga profesional, mencantumkan sumber ilmiah, dan menjelaskan keterbatasan informasi yang diberikan.
Hindari menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan daftar gejala singkat atau pengalaman seseorang di internet.
3. Amati pengalaman diri secara lebih menyeluruh.
Perhatikan kapan suatu perasaan atau perilaku muncul, seberapa sering terjadi, dan apakah hal tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Jika perasaan atau kesulitan tersebut terus berlanjut, membuat kita merasa tertekan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kita dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.
Penelitian Saniatuzzulfa et al. (2026) menunjukkan bahwa sebagian responden dengan indikasi gangguan mental umum mencoba menyelesaikan masalah sendiri atau meminta bantuan teman, sementara hanya sebagian yang mencari bantuan profesional.
Temuan ini mengingatkan bahwa menyadari adanya kesulitan dan memperoleh bantuan profesional merupakan dua proses yang berbeda.
4. Cobalah memahami pengalaman diri tanpa langsung menghakimi atau memberi label.
Patria dan Rismarini (2026) menemukan bahwa self-compassion secara signifikan memprediksi stigma diri dalam mencari bantuan pada mahasiswa, dengan kontribusi penjelasan sebesar 12,5%.
Temuan ini tidak secara langsung menguji cara menyikapi konten media sosial, tetapi memberikan dasar untuk membahas pentingnya sikap yang lebih welas asih terhadap diri sendiri.
Kita dapat mengakui bahwa suatu pengalaman terasa berat tanpa harus segera menyimpulkan bahwa kita memiliki gangguan tertentu.
Pada akhirnya, merasa relate dengan konten kesehatan mental bukanlah sesuatu yang perlu disalahkan. Perasaan tersebut dapat menjadi awal untuk mengenali kebutuhan dan pengalaman diri.
Namun, memahami diri membutuhkan lebih dari sekadar menemukan konten yang terasa cocok. Kita perlu melihat pengalaman secara utuh, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, hingga mencari bantuan ketika diperlukan.
Tujuan mengenali kesehatan mental bukanlah menemukan label yang paling sesuai, melainkan memahami diri secara lebih tepat dan menemukan cara yang sehat untuk menjalani kehidupan.
Daftar Pustaka
Amrah, N., Murdiana, S., & Ismail, I. (2024). Gambaran self diagnose mental disorder pada dewasa awal pengguna media sosial. Jurnal Ilmiah Psikomuda (JIPM) Connectedness, 4(1), 36–47.
Ardis, N., Nasution, S., Qarimah, I. R., Fitri, Q., & Rizky, A. A. (2026). Meningkatkan literasi kesehatan mental: Edukasi gaya kelekatan untuk menghindari tren self-diagnosis. Jurnal Pengabdian Masyarakat, Ilmu, dan Aksi, 2(1), 48–56.
Firmansyah, A., & Astuti, R. D. (2026). Self-diagnosis in relation to help-seeking behavior and health literacy among adolescents in Indonesia. Journal of Educational Sciences, 10(8), 241–255.
Hasan, F., Foster, M. M., & Cho, H. (2023). Normalizing anxiety on social media increases self-diagnosis of anxiety: The mediating effect of identification (but not stigma). Journal of Health Communication, 28(9), 563–572.
Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.
Patria, A. S., & Rismarini, N. A. (2026). Self-compassion sebagai prediktor stigma diri dalam mencari bantuan. Acta Psychologia, 7(1), 64–73.
Snyder, C. R., Shenkel, R. J., & Lowery, C. R. (1977). Acceptance of personality interpretations: The “Barnum effect” and beyond. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 45(1), 104–114.
Turuba, R., Zenone, M., Srivastava, R., Stea, J., Quintana, Y., Ow, N., Marchand, K., Kwan, A., Ong, A.-J., Ding, X., Warren, C., Marcon, A. R., Henderson, J., Mathias, S., & Barbic, S. (2025). Do you have depression? A summative content analysis of mental health-related content on TikTok. Digital Health, 11.
Tentang Penulis
Ni Nyoman Yulia Niti Darma adalah mahasiswa Magister Sains Psikologi di Soegijapranata Catholic University. Fokus tulisannya mencakup literasi kesehatan mental dan fenomena self-diagnosis di era digital. Melalui perspektif psikologi, ia mengangkat pentingnya menyikapi konten kesehatan mental secara kritis dan memahami pengalaman pribadi sesuai konteksnya, tanpa terburu-buru memberikan label psikologis pada diri sendiri.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda