Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. “Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Y
Penulis: Yulia Darma
29 Oktober 2026, 13.26 WITA Editor: Hasbi
7 menit baca
Reflective Nighttime Social Feed
Ilustrasi/JurnalPost.com — Seorang perempuan mengakses konten kesehatan mental melalui media sosial. Konten tentang kecemasan, overthinking, dan trauma kerap terasa sangat relevan dengan pengalaman pribadi, tetapi belum tentu dapat dijadikan dasar untuk melakukan self-diagnosis.

JurnalPost.com - Pernahkah saat menonton konten tentang kecemasan, overthinking, trauma, atau people pleasing, lalu kita spontan berpikir, “Kok relate banget ya sama aku?” Kemudian, kita mulai mencari video serupa, mencocokkan pengalaman pribadi dengan gejala yang dijelaskan, hingga merasa mengalami gangguan psikologis tertentu.

Pengalaman ini semakin relevan ketika informasi kesehatan mental mudah ditemukan di media sosial. Konten yang singkat, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan menggunakan bahasa sederhana membuat persoalan psikologis terasa lebih mudah dipahami. Namun, ketika sebuah konten terasa sangat sesuai dengan diri kita, apakah itu berarti penjelasannya sudah benar?

Ketika Konten Terasa Sangat Personal

Salah satu penjelasan psikologis yang dapat membantu memahami fenomena ini adalah Barnum effect. Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang menerima deskripsi yang cukup umum seolah-olah deskripsi tersebut secara khusus menggambarkan dirinya sendiri.

Snyder et al. (1977) membahas bagaimana orang menerima interpretasi kepribadian yang terasa personal, meskipun karakteristik yang disampaikan dapat berlaku bagi banyak orang.

Saat ada konten yang mengatakan, “Kamu sering terlihat kuat di depan orang lain, tetapi sebenarnya banyak memikirkan hal-hal kecil sendirian,” kalimat tersebut mungkin terasa sangat akurat karena banyak orang pernah mengalami situasi serupa.

Ketika pengalaman pribadi terasa terwakili, kita cenderung menganggap konten itu memahami diri kita secara mendalam. Padahal, kecocokan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa seluruh penjelasan di dalam konten benar.

Fenomena ini juga berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki (Nickerson, 1998).

Setelah merasa memiliki kecemasan, seseorang mungkin lebih memperhatikan video yang menyebutkan tanda-tanda kecemasan dan mengingat pengalaman yang sesuai. Sebaliknya, pengalaman yang tidak sesuai dengan penjelasan tersebut bisa saja kurang diperhatikan sehingga keyakinan awal terasa semakin kuat.

Dari Merasa Relate hingga Melakukan Self-Diagnosis

Perasaan terhubung dengan konten kesehatan mental tidak selalu berakhir pada kesimpulan diagnosis. Namun, penelitian Hasan et al. (2023) menunjukkan bahwa paparan unggahan media sosial yang menormalisasi kecemasan dapat meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan self-diagnosis kecemasan.

Hubungan ini dijelaskan melalui identifikasi dengan orang yang ditampilkan dalam unggahan. Dengan kata lain, ketika seseorang merasa memiliki pengalaman serupa dengan tokoh dalam konten, ia dapat lebih mudah menghubungkan kondisi tokoh tersebut dengan dirinya sendiri.

Menurut Amrah et al. (2024), proses self-diagnosis dapat berawal dari kondisi diri yang dirasakan mengganggu, kemudian dihubungkan dengan informasi mengenai gangguan mental di media sosial. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi bias kognitif sebagai salah satu faktor yang mendukung proses tersebut.

Temuan ini tidak berarti bahwa setiap orang yang merasa cocok dengan konten pasti melakukan self-diagnosis. Konten kesehatan mental juga dapat membantu seseorang menyadari kesulitan yang sebelumnya tidak dipahami dan mendorongnya untuk mencari bantuan.

Persoalannya muncul ketika kemiripan pengalaman langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang memiliki gangguan tertentu.

Media Sosial: Sumber Informasi Sekaligus Tantangan

Media sosial memberikan ruang bagi seseorang untuk berbagi pengalaman, menemukan dukungan, dan belajar tentang kesehatan mental. Namun, konten kesehatan mental di media sosial tidak selalu menyajikan informasi yang akurat.

Turuba et al. (2025) menganalisis 970 video TikTok dengan tagar #mentalhealth dan menemukan bahwa 106 dari 319 video memberikan saran atau informasi yang dinilai menyesatkan oleh ahli klinis.

Beberapa video memberikan penjelasan yang tidak akurat atau kurang mempertimbangkan konteks, termasuk mengenai gejala ADHD, gaya kelekatan, dan respons trauma. Peneliti juga menemukan bahwa video yang dinilai menyesatkan memperoleh keterlibatan pengguna yang lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa konten yang populer belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Cerita pribadi memang dapat membantu penonton merasa dipahami, tetapi pengalaman satu orang tidak dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi semua orang.

Oleh karena itu, penting untuk menilai informasi kesehatan mental secara kritis, terutama ketika suatu konten terasa sangat menggambarkan pengalaman pribadi.

Diagnosis gangguan mental tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan beberapa gejala yang terasa sesuai dengan pengalaman diri. Evaluasi klinis perlu mempertimbangkan jenis gejala, waktu kemunculan, frekuensi, durasi, tingkat keparahan, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Tenaga profesional juga perlu mempertimbangkan kemungkinan penjelasan lain sebelum menetapkan diagnosis (IGDA Workgroup, 2003; McKee & Brahm, 2016).

Dalam konteks media sosial, penelitian Armstrong et al. (2025) menunjukkan bahwa informasi kesehatan mental yang ditemukan secara daring dapat berperan dalam pembentukan keyakinan seseorang mengenai diagnosis dirinya.

Oleh karena itu, merasa cocok dengan suatu konten dapat menjadi awal untuk mengenali kondisi diri, tetapi tidak cukup untuk memastikan adanya gangguan mental.

Memahami Diri Tanpa Terburu-buru Memberi Label

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi konten kesehatan mental yang terasa sangat relevan?

1. Gunakan konten sebagai awal untuk mengenali pengalaman diri, bukan sebagai kesimpulan diagnosis.

Firmansyah dan Astuti (2026) menemukan hubungan positif antara perilaku mencari bantuan dan self-diagnosis. Peneliti menjelaskan bahwa self-diagnosis dapat menjadi tahap awal untuk memahami kondisi dan mencari informasi atau bantuan, tetapi penilaian diri tidak dapat menggantikan evaluasi profesional.

Merasa cocok dengan suatu konten dapat mendorong kita mencari pemahaman lebih lanjut, bukan memastikan bahwa kita memiliki gangguan tertentu.

2. Periksa kembali informasi yang ditemukan.

Perhatikan siapa yang menyampaikan informasi tersebut. Utamakan konten yang dibuat oleh tenaga profesional, mencantumkan sumber ilmiah, dan menjelaskan keterbatasan informasi yang diberikan.

Hindari menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan daftar gejala singkat atau pengalaman seseorang di internet.

3. Amati pengalaman diri secara lebih menyeluruh.

Perhatikan kapan suatu perasaan atau perilaku muncul, seberapa sering terjadi, dan apakah hal tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Jika perasaan atau kesulitan tersebut terus berlanjut, membuat kita merasa tertekan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kita dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.

Penelitian Saniatuzzulfa et al. (2026) menunjukkan bahwa sebagian responden dengan indikasi gangguan mental umum mencoba menyelesaikan masalah sendiri atau meminta bantuan teman, sementara hanya sebagian yang mencari bantuan profesional.

Temuan ini mengingatkan bahwa menyadari adanya kesulitan dan memperoleh bantuan profesional merupakan dua proses yang berbeda.

4. Cobalah memahami pengalaman diri tanpa langsung menghakimi atau memberi label.

Patria dan Rismarini (2026) menemukan bahwa self-compassion secara signifikan memprediksi stigma diri dalam mencari bantuan pada mahasiswa, dengan kontribusi penjelasan sebesar 12,5%.

Temuan ini tidak secara langsung menguji cara menyikapi konten media sosial, tetapi memberikan dasar untuk membahas pentingnya sikap yang lebih welas asih terhadap diri sendiri.

Kita dapat mengakui bahwa suatu pengalaman terasa berat tanpa harus segera menyimpulkan bahwa kita memiliki gangguan tertentu.

Pada akhirnya, merasa relate dengan konten kesehatan mental bukanlah sesuatu yang perlu disalahkan. Perasaan tersebut dapat menjadi awal untuk mengenali kebutuhan dan pengalaman diri.

Namun, memahami diri membutuhkan lebih dari sekadar menemukan konten yang terasa cocok. Kita perlu melihat pengalaman secara utuh, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, hingga mencari bantuan ketika diperlukan.

Tujuan mengenali kesehatan mental bukanlah menemukan label yang paling sesuai, melainkan memahami diri secara lebih tepat dan menemukan cara yang sehat untuk menjalani kehidupan.


Daftar Pustaka

Amrah, N., Murdiana, S., & Ismail, I. (2024). Gambaran self diagnose mental disorder pada dewasa awal pengguna media sosial. Jurnal Ilmiah Psikomuda (JIPM) Connectedness, 4(1), 36–47.

Ardis, N., Nasution, S., Qarimah, I. R., Fitri, Q., & Rizky, A. A. (2026). Meningkatkan literasi kesehatan mental: Edukasi gaya kelekatan untuk menghindari tren self-diagnosis. Jurnal Pengabdian Masyarakat, Ilmu, dan Aksi, 2(1), 48–56.

Firmansyah, A., & Astuti, R. D. (2026). Self-diagnosis in relation to help-seeking behavior and health literacy among adolescents in Indonesia. Journal of Educational Sciences, 10(8), 241–255. 

Hasan, F., Foster, M. M., & Cho, H. (2023). Normalizing anxiety on social media increases self-diagnosis of anxiety: The mediating effect of identification (but not stigma). Journal of Health Communication, 28(9), 563–572.

Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.

Patria, A. S., & Rismarini, N. A. (2026). Self-compassion sebagai prediktor stigma diri dalam mencari bantuan. Acta Psychologia, 7(1), 64–73.

Snyder, C. R., Shenkel, R. J., & Lowery, C. R. (1977). Acceptance of personality interpretations: The “Barnum effect” and beyond. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 45(1), 104–114.

Turuba, R., Zenone, M., Srivastava, R., Stea, J., Quintana, Y., Ow, N., Marchand, K., Kwan, A., Ong, A.-J., Ding, X., Warren, C., Marcon, A. R., Henderson, J., Mathias, S., & Barbic, S. (2025). Do you have depression? A summative content analysis of mental health-related content on TikTok. Digital Health, 11.


Tentang Penulis

Ni Nyoman Yulia Niti Darma adalah mahasiswa Magister Sains Psikologi di Soegijapranata Catholic University. Fokus tulisannya mencakup literasi kesehatan mental dan fenomena self-diagnosis di era digital. Melalui perspektif psikologi, ia mengangkat pentingnya menyikapi konten kesehatan mental secara kritis dan memahami pengalaman pribadi sesuai konteksnya, tanpa terburu-buru memberikan label psikologis pada diri sendiri.


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kok-relate-banget-mengapa-konten-kesehatan-mental-terasa-seperti-menceritakan-diri-sendiri/98403/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.54 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #Literasi Digital
  • #Overthinking
  • #barnum effect
  • #kecemasan
  • #media sosial
  • #psikologi
  • #psikologi positif
  • #self diagnosis

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.