Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  2. Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  3. Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  4. Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Gaya Hidup Influencer bagi Gen Z: Sebuah Inspirasi Positif atau Standar Hidup Palsu?

Gaya Hidup Influencer bagi Gen Z: Sebuah Inspirasi Positif atau Standar Hidup Palsu?

K
Penulis: Karina Achmad Yulianti
13 Oktober 2026, 20.32 WITA Editor: Danang Purnama
7 menit baca
80069f76 a30a 4e3e bad2 1044ff54b28e
Ilustrasi seorang anak muda yang sedang melihat media sosial, berisi unggahan tentang keberhasilan, liburan, dan gaya hidup mewah yang mengelilingnya.

JurnalPost.com -- Bayangkan ketika kita membuka media sosial pada pagi hari. Baru beberapa menit menjelajahi TikTok atau Instagram, berbagai unggahan influencer sudah memenuhi layar. Ada yang menikmati kopi di kafe mewah, mengenakan pakaian bermerek, berlibur ke luar negeri, menghadiri konser, merayakan ulang tahun dengan pesta besar, hingga memperlihatkan bentuk tubuh yang dianggap ideal.

Bagi sebagian generasi Z atau Gen Z, konten tersebut mungkin menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Namun, di balik kehidupan yang terlihat menyenangkan itu, muncul pertanyaan penting: apakah gaya hidup yang ditampilkan influencer benar-benar layak dijadikan standar kehidupan?

IKLAN

Pertanyaan ini semakin relevan karena media sosial telah menjadi bagian dari keseharian Gen Z. Influencer tidak lagi sekadar menjadi sumber hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kesuksesan, menentukan pilihan, hingga membentuk identitas sosialnya.

Integrity Education for a Better Future
Baca Juga

Pendidikan Antikorupsi: Menanamkan Kejujuran Sejak Dini untuk Membangun Generasi Berintegritas

Penelitian Pohan et al. (2024) menjelaskan bahwa influencer memiliki peran dalam memengaruhi preferensi, keputusan pembelian, dan pembentukan identitas sosial Gen Z. Artinya, konten yang muncul di media sosial tidak hanya dikonsumsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi cara generasi muda menentukan gaya hidup yang dianggap ideal.

Persoalannya, apa yang ditampilkan influencer di media sosial belum tentu mencerminkan keseluruhan kehidupan mereka di dunia nyata.

Kehidupan Sempurna yang Ditampilkan di Media Sosial

Salah satu alasan gaya hidup influencer mudah menjadi acuan adalah karena media sosial sangat mengandalkan tampilan visual yang menarik. Foto, video, musik, hingga pemilihan kata dalam sebuah unggahan dirancang untuk menarik perhatian audiens.

Konten yang terlihat spontan sekalipun bisa saja melalui proses perencanaan, pengambilan gambar berulang, penyuntingan, dan pemilihan momen terbaik sebelum dipublikasikan.

Contented Café Moment by the Window
Baca Juga

Makan Sendiri, Jalan Sendiri: Kenapa Kesendirian Masih Dianggap Aneh?

Kehidupan yang diperlihatkan biasanya didominasi oleh pengalaman menyenangkan, seperti liburan, pencapaian pribadi, barang mewah, atau aktivitas yang sedang populer. Sementara itu, persoalan sehari-hari, kegagalan, tekanan pekerjaan, hingga masalah pribadi belum tentu mendapatkan ruang yang sama.

Akibatnya, audiens sering kali hanya melihat bagian terbaik dari kehidupan seseorang.

Menurut saya, kondisi ini dapat menciptakan gambaran yang kurang realistis tentang kehidupan ideal. Seseorang mungkin mulai merasa hidupnya biasa saja karena tidak mampu menikmati pengalaman serupa dengan influencer yang diikutinya.

Padahal, membandingkan kehidupan sehari-hari dengan konten pilihan yang telah dikemas secara menarik merupakan perbandingan yang tidak seimbang.

suasana pasar tradisional Timor
Baca Juga

Ekonomi Timor-Leste Tumbuh. Mengapa Kemakmuran Masih Terasa Jauh bagi Banyak Warga?

Keterangan foto: Ilustrasi anak muda sedang melihat media sosial yang menampilkan berbagai unggahan tentang kesuksesan, liburan, dan gaya hidup mewah. (Foto: Ilustrasi)

Ketika Tren Menimbulkan Rasa Takut Tertinggal

Fenomena lain yang muncul akibat paparan konten gaya hidup adalah Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.

Penelitian Hakiki et al. (2026) menunjukkan bahwa konten mengenai gaya hidup ideal, pencapaian pribadi, dan aktivitas yang sedang tren dapat berkaitan dengan munculnya FOMO. Kondisi ini juga berhubungan dengan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain serta mencari validasi melalui media sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena tersebut cukup mudah ditemukan. Ketika sebuah produk sedang viral, sebagian orang merasa perlu memilikinya. Ketika banyak influencer mengunjungi tempat wisata tertentu, muncul keinginan untuk pergi ke tempat yang sama. Bahkan, aktivitas sederhana seperti minum kopi atau membeli pakaian dapat berubah menjadi kebutuhan untuk mengikuti tren.

Masalah muncul ketika keputusan tersebut tidak lagi didasarkan pada kebutuhan pribadi, melainkan keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Menurut saya, FOMO menjadi persoalan ketika seseorang merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, media sosial bukan lagi menjadi tempat mencari hiburan atau informasi, melainkan ruang yang menciptakan tekanan untuk selalu terlihat mengikuti perkembangan orang lain.

Tidak Semua Tren Harus Diikuti

Meski demikian, pengaruh influencer tidak selalu membawa dampak negatif. Banyak influencer yang membagikan konten bermanfaat, mulai dari pendidikan, pengembangan diri, olahraga, kesehatan, hingga keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Konten mengenai kebiasaan belajar, manajemen waktu, atau perjalanan seseorang membangun usaha, misalnya, dapat memberikan motivasi bagi Gen Z untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Dalam kondisi tersebut, gaya hidup influencer dapat menjadi inspirasi positif karena audiens mengambil nilai dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sebaliknya, pengaruh tersebut dapat menjadi persoalan apabila kehidupan influencer dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan keberhasilan.

Seseorang mungkin merasa belum sukses karena tidak memiliki barang bermerek, belum pernah bepergian ke luar negeri, atau tidak mampu mengikuti gaya hidup yang populer di media sosial.

IKLAN

Padahal, setiap individu memiliki kondisi ekonomi, lingkungan keluarga, tanggung jawab, dan prioritas kehidupan yang berbeda.

Menurut saya, keberhasilan seseorang tidak dapat diukur hanya dari barang yang dimiliki atau pengalaman yang diperlihatkan kepada publik.

Ada orang yang merasa berhasil ketika mampu menyelesaikan pendidikan, membantu keluarganya, memiliki pekerjaan yang stabil, atau mencapai tujuan pribadi yang mungkin tidak pernah dibagikan di media sosial.

Karena itu, tidak semua tren harus diikuti. Sesuatu yang terlihat menarik di layar belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita dalam kehidupan nyata.

Pengaruh Media Sosial terhadap Cara Gen Z Menilai Diri

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media sosial dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Ketika terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, seseorang bisa mulai mempertanyakan pencapaian pribadinya. Perasaan kurang berhasil, kurang menarik, atau tertinggal dari teman sebaya dapat muncul akibat kebiasaan membandingkan diri.

Situasi ini menjadi semakin rumit ketika jumlah suka, komentar, penonton, dan pengikut dianggap sebagai ukuran penerimaan sosial.

Menurut saya, media sosial seharusnya tidak menjadi penentu utama nilai diri seseorang. Popularitas di dunia digital tidak selalu mencerminkan kualitas kehidupan, kemampuan, ataupun kebahagiaan seseorang.

Gen Z perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup dengan waktu dan tantangannya masing-masing.

Tidak semua pencapaian harus diumumkan, dan tidak semua kebahagiaan perlu dibuktikan melalui unggahan.

Memahami hal tersebut dapat membantu kita menikmati media sosial tanpa terus-menerus merasa harus bersaing dengan kehidupan orang lain.

Menentukan Standar Hidup Sendiri

Di tengah banyaknya konten influencer, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Gen Z perlu memahami bahwa media sosial merupakan ruang tempat orang memilih bagian tertentu dari kehidupannya untuk ditampilkan kepada publik.

Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keadaan seseorang secara menyeluruh.

Oleh karena itu, setiap individu perlu menentukan standar hidup berdasarkan kebutuhan, kemampuan, nilai, dan tujuan pribadinya, bukan semata-mata mengikuti gambaran kehidupan yang populer di media sosial.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri mempertanyakan alasan sebelum mengikuti tren.

Apakah barang yang ingin dibeli benar-benar dibutuhkan? Apakah aktivitas yang sedang populer memberikan manfaat? Apakah keputusan tersebut sesuai dengan kemampuan finansial? Atau jangan-jangan keinginan itu muncul hanya karena takut tertinggal dari orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Selain itu, memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat, membatasi paparan konten yang memicu perbandingan berlebihan, dan lebih menghargai pencapaian pribadi juga dapat menjadi langkah untuk membangun hubungan yang sehat dengan media sosial.

Menurut saya, kita tidak perlu berhenti mengikuti influencer. Yang lebih penting adalah memahami batas antara mengambil inspirasi dan menjadikan kehidupan orang lain sebagai tuntutan bagi diri sendiri.

Penutup

Gaya hidup influencer dapat menjadi inspirasi positif sekaligus berpotensi menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi Gen Z. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana audiens menerima, memahami, dan merespons konten yang mereka lihat.

Influencer dapat memberikan motivasi, pengetahuan, serta ide baru yang bermanfaat. Namun, ketika kehidupan yang ditampilkan dianggap sebagai ukuran mutlak kebahagiaan dan kesuksesan, media sosial justru dapat menimbulkan tekanan sosial yang tidak perlu.

Menurut saya, Gen Z perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi serta perjalanan hidup yang berbeda.

Kebahagiaan tidak harus selalu terlihat mewah, kesuksesan tidak harus selalu dipamerkan, dan kehidupan yang bermakna tidak harus mengikuti tren.

Pada akhirnya, sebelum memutuskan mengikuti sesuatu yang sedang ramai di media sosial, ada satu pertanyaan sederhana yang patut diajukan kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkannya, atau hanya takut tertinggal dari orang lain?”

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/gaya-hidup-influencer-bagi-gen-z-sebuah-inspirasi-positif-atau-standar-hidup-palsu/98153/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.57 WITA

  • #Dapat
  • #Hidup
  • #Influencer
  • #Inspirasi
  • #Kehidupan
  • #Media
  • #Positif
  • #Tidak
  • #gaya
  • #sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?
  2. 2

    Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

  3. 3

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  4. 4

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  5. 5

    Awali Hari dengan Salat Subuh Berjamaah dan Senam Pagi, MAN 1 Bulukumba Tanamkan Semangat Sehat Lahir dan Batin

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.