
OLEH : I Gede Bobi Suryanto, SE/NIM : 2129131030/( Mahasiswa program Studi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha ) JurnalPost - Keterpurukan Ekonomi Nasional sering kali terjadi, kekisruhan politik ditahun 1998 dan wabah pandemi covid 19 ditahun 2020 adalah bagian penyebab terjadinya keterpurukan ekonomi Nasional.
Ekonomi yang tengah dalam masa terepuruk memang membuat banyak orang lemah secara financial, Ekonomi menjadi lesu karena daya beli masyarakat turun dan bangkrutnya banyak bisnis yang harus ditutup. Ancaman PHK pun membayangi orang-orang yang bersetatus sebagai karyawan. Namun haruskah bersikap perisimis menghadapi masa krisis? dan Adakah Peluang Investasi Yang kita bisa lakukan dimasa keterpurukan ekonomi seperti ini?.
Pertanyaan ini Mungkin dianggap kontrovesial bagi sebagian orang, yang menganggap semua usaha telah terpuruk, semua peluang investasi telah buntu. Tapi disisi lain banyak investor yang memiliki cadangan dana besar dan orang orang yang memiliki kecermatan membaca peluang justru disaat terjadinya keterpurukan ekonomi global malah menjadi sebuah momentum untuk menginvestasikan dananya baik di pasar modal maupun investasi lainnya. Krisis merupakan ancaman dan kesempatan ( Rhenald Kasali, 2009 ). Dalam keterpurukan ekonomi sering kali merubah sistem. pandemi covid 19 Tahun 2020 telah banyak membuat pemerintah merubah sistem, UU nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan, INMENDAGAGRI NO 15 TAHUN 2021 Tentang PPKM Darurat, Perubahan sistem di dunia pendidikan dimana sistem belajar mengajar menggunakan daring/online, ini memberikan peluang besar untuk bisnis dibidang Penyediaan sarana Telekomonikasi Digital dan Layanan Data internet, Disamping peluang bisnis besar dibidang kesehatan.
Disisi lain ada yang mengalami ancaman kebangkrutan seperti bisnis dibidang pariwisata dan turunannya , Juga anjloknya harga saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia ( BEI ). Bagi Investor yang memiliki prilaku overconfidence and Trading Volume ( Abaoub & Zaine, 2009 ), The Case of An Emergent Market. Menganggap Turunnya Harga saham jauh dibawah harga wajar di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) adalah kesempatan untuk berinvesatsi di pasar modal. Pernah Indonesia diguncang krisis hebat pada tahun 1998. Waktu itu benar benar tidak hanya menimbulkan ketidakstabilan ekonomi tetapi juga politik. Nilai saham anjlok jauh dibawah harga wajar, nilai rupiah tidak ada artinya dihadapan dolar. Situasi tersebut lantas digunankan sebagai kesempatan berinvestasi di pasar modal, seperti Lo Kheng Hong, Djoko Susanto, Robert Budi Hartono, Michael Bangbang Hartono dan banyak yang lainnya, mereka adalah orang orang yang sangat sukses dipasar modal dan sangat lihai dalam berinvestasi dimasa krisis sekalipun. Mereka percaya bahwa ekonomi berangsur- angsur akan segera pulih.
Sebenarnya investasi apa sih yang musti dilakukan pada saat krisis atau terpuruknya ekonomi?. Berikut ini ada beberapa jenis investasi yang bisa dilakukakan pada masa krisis atau ekonomi nasional yang sedang terpuruk : 1. Investasi Dolar
Kurs atau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar cenderung berubah-ubah. Kadang anagkanya menguat terhadap Dolar, kadang angkanya melemah dihadapan Dolar. Menjadi Tugas Bank Indonesia (BI) dan peran serta pemerintah untuk tetap menjaga agar ketidakstabilan kurs tidak membahayakan. Naik turunnya nilai tukar jadi keuntungan bagi yang menyimpan uangnya dalam bentuk Dolar, Sebagai pilihan Investasi. Bisa dibayangkan bukan, Rupiah yang didapat bila Anda memebeli Dolar sebelum krisis dan menjualnya setelah krisis terjadi.
Sebagai contoh Tahun 1995 nilai tukar rupiah terhadap dolar Rp.2000 / 1 dolar amerika, kemudian ditahun 1998 terjadi krisis moneter/keterpurukan ekonomi yang menyebabkan nilai rupiah melemah menjadi Rp.14.825/1dolar amerika. Kalau anda menukarkan Dolar pada tahun 1998, maka akan meraup keuntungan sebesar Rp.12.825 untuk dsetiap Dolar.
Contoh Lainnya, Anda membeli Dolar pada tahun 2012 dengan kurs sekitar Rp.9.718 per Dolar, Kemudian diberitakan pada tahun 2014, Rupiah melemah dengan nilai tukar mendekati Rp.14.000, Kalau anda menukarkan Dolar Anda pada tahun 2014 anda akan mendapat keuntungan sekitar Rp.4.282 untuk setiap Dolar ( yang dibeli Rp.9.718 per dolar ).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi naik turunnya kurs Rupiah, baik dari luar maupun dalam negeri. Bila ditinjau dari faktor luar, menguatnya ekonomi Amerika Serikat dan kenaikan suku Bunga Acuan The Fed berdampak negatif terhadap Rupiah. Sementara ditinjau dari faktor dalam negeri, kebijakan yang diambil Pemerintah dan Bank Indonesia berdampak langsung terhadap kurs Rupiah. Nah, Bila Anda bernioat berinvestasi Dolar, mulailah rajin memperbarui informasi soal ekonomi dalam negeri dan dunia. Dapatkan informasi terbaru mengenai kurs setiap harinya, Anda bisa memamfaatkan media online untuk terus mendapatkan informasi. Jangan sampai Anda rugi, karena tidak tepat dalam mengambil keputusan. Sebab setiap pergerakan Rupiah perlu dicermati dan dianalisis lebih jauh. 2. Investasi Emas
Emas juga menjadi pilihan investasi yang diambil pada masa krisis. Bila melihat data perkembangan harga emas 21 tahun terakhir di Indonesia, Setiap tahunnya terjadi peningkatan harga Emas. Pada tahun 2000 harga emas per geram di indonesia sekitar Rp.72.000. Lima Tahun kemudian tahun 2005, harga emas mencapai Rp.118.000. ditahun 2010 harga emas mencapai Rp.500.000 per geram, tahun 2015, harga emas dikisaran Rp.545.000 per geram, tahun 2020 pada bulan april harga emas mencapai Rp.928.000 per geram dan saat ini dibulan september tahun 2021, harga emas mencapai Rp.965.000 per geram nya. Melihat kenaikan harga tersebut, emas setidaknya lebih baik sebagai investasi ketimbang tabungan. Sebab nilai emas tidak tergerus inflasi, sementara uang yang disimpan dalam bentuk tabungan akan susut nilainya oleh inflasi. Walaupun demikian investasi emas bukanlah investasi yang menguntungkan dalam waktu singkat. Cukup lama untuk merasakan keuntungan dari kenaikan harga emas.
Apa sich yang mempengaruhi naik turunya harga emas?, Naik turunya harga emas dipengaruhi sejumlah faktor, faktor yang pertama nilai tukar/kurs, bila nilai Dolar menguat terhadap Rupiah, harga emas cenderung turun. Sebaliknya, bila melemah harga emas akan naik. faktor yang kedua yaitu produksi emas di dunia, bila permintaan banyak produksi sedikit, harga emas akan naik, faktor yang ketiga meningkatnya permintaan industri perhiasan akan berdampak pada kenaikan harga emas, yang keempat penyimpanan emas dalam jumlah besar oleh bank sentral dunia, dan yang kelima adalah persoalan politik. Tertarik untuk berinvestasi emas? selain memperhatikan faktor faktor yang disebutkan tadi, Anda juga harus terus memantau pergerakan harga emas, Anda bisa mengetahui harga emas dari hari kehari lewat media cetak ataupun media online. 3. Investasi Saham
Saham merupakan salah satu investasi yeng paling bereaksi terhadap kondisi ekonomi didunia dan dalam negeri. Saat terjadi krisis ekonomi, biasanya harga sahamlah yang paling pertama turun. Disisi lain saat ekonomi pulih, harga saham pulalah yang akan pertama mengalami kenaikan. Reaksi seperti itulah yang membuat investasi saham dikatagorikan sebagai jenis investasi yang beresiko tinggi. Harga saham yang selalu bertengger diatas bisa jatuh seketika bila krisis melanda. Investor yang lengah dalam mencermati situasi akan menderita kerugian karena harga jual saham lebih rendah dari harga waktu mereka beli dulu. Bagi Anda yang berinvestasi saham, masa krisis sebenarnya waktu yang tepat untuk memulainya. Lakukan pembelian saham dengan terlebih dahulu menganalisisnya secara fundamental dan teknikal. Dengan begitu saham yang diproyeksikan akan menguntungkan pasca krisis bisa Anda temukan. 4. Investasi Reksa Dana
Apabila Anda kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari cara berinvesatsi, reksa dana bisa menjadi pilihan lain investasi, pada masa krisis. Anda tidak perlu membuang waktu untuk berlama-lama memantau dinamika yang terjadi dipasar keuangan. seebab seluruh dana yang Anda investasikan dikelola sebaik mungkin oleh manajer investasi. Anda sebagai investor hanya tinggal menerima laporan dari manajer investasi. Reksa dana yang beredar dinindonesia terbagi menjadi empat pilihan, yaitu reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham dan campuran. Anda tinggal memilih mana yang cocok dengan tujuan keuangan, mau yang jangka pendek, pilihlah reksa dana pasar uang, dan ingin yang keuntungannya besar maka pilihlah reksa dana saham. 5. Investasi pembelian Aset
Keterpurukan sektor pariwisata ditahun 2020 dan 2021 ini telah menyebabkan banyak pengusaha hotel dan restoran yang terancam bangkrut dan bahkan mengobral asetnya berupa hotel dan restoran hampir setengah dari harga wajar, Jika Anda memiliki Modal atau Dana cadangan untuk berinvestasi maka inilah saatnya untuk membeli Aset hotel dan restoran tersebut, Pasca pandemi covid 19 ini, maka pemerintah akan berupaya memulihkan kembali sektor pariwisata, jika pariwisata nanti pulih seperti tahun sebelum pandemi maka Anda akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari aset yang Anda beli. Cermati dan Pilih Sesuai Kemampuan Keuangan
Masa keterpurukan ekonomi/krisis membuat kondisi ekonomi dan financial menjadi lesu, namun bukan berarti Anda juga menjadi lesu dalam melakukan apapun, termasuk melakukan investasi. Peluang atau kesempatan tetap ada sekalipun sedang dalam ekonomi terpuruk atau masa krisis. Manfaatkan peluang investasi yang memungkinkan Anda lakukan. Kalau harga emas, Harga saham, Harga aset, turun jauh dibawah harga wajar, maka belilah dan investasikan uangmu. Cermati dan Pilih Investasi dengan melihat kemampuan keuangan Anda.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda