JurnalPost - Literasi merupakan pengetahuan maupun kompetensi dasar yang harus dimiliki seseorang berdasarkan kesesuaian dengan konteks kebutuhan di dalam masyarakat dan perkembangan zaman. Pada dewasa ini literasi keuangan menjadi isu yang gencar digaungkan untuk dapat mencapai kestabilan ekonomi bagi setiap individu. Terlebih lagi pada masa pandemi ini yang menyebabkan perekonomian melambat menjadikan literasi keuangan sebagai pengetahuan dasar untuk mempu bertahan ditengah ketidakpastian akibat pandemi. Lusardi dan Mitchel dalam National Bureau of Economic Research Working Paper (2008), menyebutkan literasi keuangan memiliki arti sebagai suatu pengetahuan keuangan, dengan maksud tujuan untuk mencapai kesejahteraan. Kemapuan dalam mengatur keuangan perlu dimiliki oleh setiap orang agar mampu bertindak bijak dalam melakukan pengelolaan terhadap aset yang dimiliki secara efektif dan efisien demi terwujudnya kesejahteraan hidup, hal tersebut penting adanya untuk menentukan keputusan dimasa mendatang yang berkaitan dengan keputusan jangka pendek maupun jangka panjang secara tidak langsung.
Lalu apa kaitan literasi keuangan dengan memilih untuk melakukan konsumsi atau investasi bagi seseorang. Jelas literasi keuangan sangat penting untuk membantu mengambil keputusan apakah akan dilakukan suatu konsumsi ataupun lebih memilih untuk melakukan investasi. Organization for Economic Co-operation and Development (2011), mendiskripsikan literasi keuangan sebagai pengombinasian dari pengetahuan, kesadaran, sikap, serta perilaku yang dibutuhkan untuk menyehatkan keputusan keuangan yang pada dasarnya berimbas ketercapainya kesejahteraan pribadi yang baik pada aspek keuangan. Berdasarkan pemaparan OECD tersebut dapat diketahui bahwa literasi keuangan yang baik akan mampu membantu kita untuk mengambil keputusan baik akan melakukan konsumsi ataupun memilih untuk berinvestasi. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Aribawa (2016), bahwa tingkat literasi keuangan dari sudut pandang perorangan maupun keluarga akan memberikan dampak pada kemampuan untuk memiliki tabungan (simpanan) jangka panjang yang dapat digunakan untuk memiliki aset seperti tanah serta rumah, pemenuhan pendidikan tinggi, dan dana hari tua (pensiun).
Namun, Hartono dalam bukunya yang berjudul Teori Portfolio dan Analisis Investasi menyebutkan bahwa konsumsi dan investasi merupakan dua buah kegiatan yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Penundaan konsumsi yang dilakukan sekarang dapat diartikan sebagai suatu investasi untuk melakukan konsumsi dimasa mendatang. Memilih melakukan penundaan konsumsi sebagai bentuk investasi untuk menjamin konsumsi dimasa mendatang merupakan sebuah perilaku keuangan yang tanpa disadari kerap kita lakukan, misal dalam menimbang-nimbang membeli keperluan yang dibutuhkan di suatu supermarket. Dengan membeli kebutuhan yang diperlukan saja tanpa melakukan pembelian yang berlebih sudah termasuk dalam bentuk investasi untuk dapat melakukan konsumsi periode berikutnya.
Mengapa harus berinvestasi? Gozhie dalam bukunya Make It Happen (2020), memaparkan dua alasan untuk melakukan investasi, yakni pertama mencari kenaikan modal. Mencari kenaikan modal berarti kita tidak mengharapkan untuk adanya bagi hasil bulanan, akan tetapi lebih mengutamakan adanya kenaikan nilai investasi dari pertama kali memulai. Alasan yang kedua yaitu mencari penghasilan yang pasif. Mencari pengasilan yang pasif berarti kita mendambakan adanya suatu tambahan penghasilan dari asset finansial yang secara aktif bisa memberikan bagi hasil secara berkala baik dalam bulanan, dalam jangka triwulan, atau tahunan. Apapun alasan yang mendasari untuk melakukan investasi, kita tidak bisa membandingkan keuntungan antara kedua alasan tersebut. Hal ini dikarenakan masing-masing orang memiliki alasan dan tujuannya tersendiri dalam memilih investasi. Misal bagi generasi muda yang masih diusia produktif bisa memilih investasi yang dapat memberikan kenaikan modal secara agresif dengan maksud akan tercapainya kemapanan finansial dalam pribadi masing-masing. Akan tetapi bagi generasi yang sudah memasuki usia yang kurang produktif bisa memulai untuk berinvestasi dengan cara mengalihkan asset finansial yang mulai dapat memberikan bagi hasil secara berkala.
Secara umum investasi yang dilakukan dalam aktiva keuangan dapat berupa investasi langsung dan investasi tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara yang lain. Dengan kata lain investasi langsung dapat dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang dapat diperjualbelikan di pasar uang (money market), pasar modal (capital market), atau pasar turunan (derivative market). Investasi langsung dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, pertama investasi yang tidak dapat diperjualbelikan seperti Tabungan dan Deposito. Kedua Investasi yang dapat diperjualbelikan, baik di pasar uang, pasar modal maupun di pasar turunan. Investasi langsung yang dapat diperjualbelikan di pasar uang seperti T-bill, deposito yang dapat dinegosiasikan. Investasi yang dapat diperjual belikan di pasar modal seperti surat-surat berharga pendapatan tetap contohnya T-bond, Federal agency securities, Municipal Bond, Corporate bond, dan Convertible bond, serta Saham-saham contohnya saham preferen dan sahan biasa. Sedangkan investasi langsung yang dapat diperjual belikan di pasar turunan yakni opsi contohnya Waran, Opsi put, serta Opsi call dan futures contract. Sebaliknya investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain.
Bagaimana hubungan konsumsi dan investasi dengan literasi keuangan? Perilaku seseorang untuk melakukan konsumsi atau investasi dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan orang tesebut. Hasil penelitian Dewi (2017) menyatakan, literasi keuangan dapat mendorong perubahan perilaku seseorang ke arah yang lebih positif dalam membelanjakan uangnya. Dengan demikian, seseorang yang memiliki pengelolaan keuangan yang baik akan membatasi diri untuk melakukan tindakan konsumtif dan menyimpan uangnya untuk kesejahteraan yang lebih baik. Dengan memiliki tingkat literasi keuangan yang baik kita akan mampu mengenali apa kebutuhan yang kita perlukan dan akan mampu mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan. Memiliki pengetahuan akan pentingnya literasi keuangan sangat penting bagi diri kita agar mampu membuat pilihan-pilihan yang tepat dalam memutuskan suatu tindakan yang berkaitan dengan keuangan. Terlebih dimasa pandemi saat ini dimana pergerakan perekonomian yang lambat, membuat kita harus ekstra hati-hati dalam melakukan konsumsi barang maupun jasa yang ditawarkan pada kita. Jangan sampai tergiur penawaran-penawaran yang membuat kita untuk melakukan konsumsi yang berlebih akan sesuatu yang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Menyadari akan kebutuhan diri sendiri akan membantu kita untuk menyisihkan income yang dapat digunakan untuk berinvestasi, sehingga kita akan memperoleh maanfaat yang lebih besar dimasa mendatang.
Oleh: Yosep Fristamara (Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda