“Wilujeung sumping, Teteh Mahasiswa!”
Sapaan dalam bahasa Sunda yang berarti selamat datang itu menjadi awal pengalaman yang sulit saya lupakan ketika memasuki ruang kelas IV SDN Ciptaharja. Anak-anak menyambut kedatangan saya dengan penuh kehangatan. Mereka sudah mengetahui bahwa hari itu akan ada seorang mahasiswa yang datang untuk mengamati kegiatan pembelajaran di kelas mereka.
Saya datang membawa tujuan sederhana, yakni melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung di sekolah dasar. Namun, sejak sambutan pertama itu, saya mulai menyadari bahwa ruang kelas menyimpan lebih banyak cerita daripada sekadar kegiatan membaca, menulis, dan berhitung.
Di balik papan tulis dan buku-buku pelajaran, ada seorang guru yang setiap hari berusaha memahami anak-anak dengan kemampuan, karakter, dan kebutuhan yang berbeda.
Ada siswa yang cepat menangkap penjelasan. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada pula yang baru memahami pelajaran setelah guru menghubungkannya dengan sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perbedaan itu menjadi bagian dari keseharian Neti Fitriyani, S.Pd., atau yang akrab disapa Bu Neti, wali kelas IV SDN Ciptaharja.
Melalui wawancara dengannya, saya mengenal sisi lain dari pekerjaan seorang guru. Mengajar ternyata bukan hanya tentang menyiapkan materi dan menyampaikannya di depan kelas. Lebih dari itu, ada kesabaran, kreativitas, dan kemampuan memahami setiap anak yang terus diuji dari hari ke hari.
Satu Ruang Kelas, Beragam Cara Memahami Pelajaran
Bagi Bu Neti, tidak ada satu cara mengajar yang selalu berhasil untuk semua siswa.
Setiap anak datang dengan kemampuan yang berbeda. Sebagian dapat langsung memahami penjelasan, sementara yang lain membutuhkan pengulangan atau pendampingan lebih intensif.
Keadaan tersebut membuatnya harus menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar setiap siswa tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi.
Sebelum memulai pembelajaran, Bu Neti melakukan asesmen diagnostik awal untuk mengenali kemampuan peserta didik. Hasilnya menjadi pertimbangan dalam menyusun kegiatan belajar, termasuk menentukan pembagian kelompok berdasarkan kemampuan maupun secara heterogen.

Materi yang disampaikan disesuaikan dengan Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP), berikut perangkat dan media yang digunakan.
Namun, rencana yang telah disusun tidak selalu dapat diterapkan begitu saja.
Perencanaan pembelajaran memang disiapkan melalui perangkat tahunan dan semester. Akan tetapi, kebutuhan siswa di kelas sering kali menuntut penyesuaian kembali, termasuk dalam penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan asesmen.
Bu Neti juga berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning, yang mendorong siswa lebih terlibat dalam proses belajar dan memahami materi secara bermakna.
Dari penjelasannya, saya memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar mengikuti rencana pembelajaran yang sudah dibuat. Guru juga harus mampu membaca situasi, mengenali kesulitan siswa, dan menentukan langkah yang tepat agar pembelajaran tetap berjalan.
Sebab, tidak semua hal yang terjadi di ruang kelas dapat diperkirakan sebelumnya.
Ada yang Berani Berhitung, tetapi Malu Membaca Puisi
Salah satu cerita menarik yang disampaikan Bu Neti berkaitan dengan keberanian siswa dalam mengikuti pelajaran.
Menurutnya, beberapa anak justru lebih percaya diri ketika diminta maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika. Namun, keberanian yang sama belum tentu muncul ketika mereka diminta membacakan puisi atau pantun.
Bagi saya, cerita tersebut memperlihatkan sisi menarik dari dunia anak-anak. Seorang siswa yang terlihat percaya diri dalam satu kegiatan belum tentu merasakan hal yang sama ketika menghadapi kegiatan lainnya.
Di sinilah kepekaan guru dibutuhkan.
Bu Neti menggunakan berbagai metode pembelajaran, mulai dari diskusi, tanya jawab, hingga penugasan. Tujuannya bukan hanya membantu siswa memahami pelajaran, tetapi juga melatih keberanian mereka untuk menyampaikan pendapat.
Ia juga berusaha membuat materi terasa dekat dengan kehidupan anak-anak.
Ketika mengajarkan Bahasa Indonesia, misalnya, Bu Neti menggunakan contoh kalimat yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari. Sesekali, nama siswa dimasukkan ke dalam contoh tersebut.
Cara yang tampak sederhana ini membuat pembelajaran menjadi lebih akrab. Anak-anak tidak lagi hanya berhadapan dengan rangkaian kalimat dalam buku, tetapi juga menemukan diri mereka dalam materi yang sedang dipelajari.
Meski sebagian besar siswa cukup aktif bertanya dan menjawab, proses belajar tentu tidak selalu berjalan lancar.
Ada saat ketika siswa mulai kehilangan konsentrasi. Ada pula yang masih kesulitan memahami penjelasan meskipun materi telah disampaikan.
Ketika suasana belajar mulai terasa jenuh, Bu Neti mencoba mengembalikan semangat siswa melalui kegiatan ice breaking.
Jika masih ada yang belum memahami materi, ia kembali memberikan penjelasan.
Bu Neti membiasakan diri menanyakan apakah anak-anak sudah mengerti. Ketika jawabannya belum, ia berusaha mencari cara lain agar materi menjadi lebih mudah dipahami.
Dari kebiasaan tersebut, saya menemukan sesuatu yang penting. Anak-anak membutuhkan ruang untuk mengatakan bahwa mereka belum mengerti, tanpa harus merasa malu atau takut dianggap tertinggal.
Ketika Kreativitas Guru Berhadapan dengan Keterbatasan
Di tengah perkembangan teknologi, Bu Neti terus berupaya mencari cara agar kegiatan belajar tidak terasa monoton.
Buku paket masih menjadi sumber belajar utama. Namun, ia juga memanfaatkan referensi tambahan, termasuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), untuk membantu mencari alternatif penyampaian materi.
Sesekali, kuis digunakan agar siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran.
Keinginan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik sebenarnya cukup besar. Salah satunya melalui penggunaan televisi digital sebagai media pembelajaran.
Sayangnya, fasilitas yang tersedia belum selalu mendukung kebutuhan tersebut.
Letak ruang kelas yang cukup jauh dari kantor sekolah menjadi salah satu kendala dalam penggunaan media pembelajaran. Peralatan yang tersedia juga harus digunakan secara bergantian.
Begitu pula dengan proyektor yang tidak selalu dapat digunakan setiap kali dibutuhkan.
Keterbatasan itu memperlihatkan bahwa kreativitas guru terkadang harus berjalan berdampingan dengan kondisi fasilitas yang belum ideal.
Teknologi memang menawarkan banyak kemungkinan baru dalam pendidikan. Namun, tidak semua sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkannya secara optimal.
Di tengah keadaan tersebut, guru tetap dituntut menghadirkan pembelajaran yang menarik, mudah dipahami, dan mampu menjangkau seluruh siswa.
Bagi saya, persoalan ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seorang guru. Dukungan sarana dan prasarana juga berperan penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik.
Kesabaran yang Tidak Selalu Terlihat
Ketika berbicara mengenai tantangan mengajar, Bu Neti kembali menyinggung perbedaan kemampuan siswa.
Baginya, menghadapi anak-anak dengan tingkat pemahaman yang beragam menjadi salah satu pekerjaan yang membutuhkan kesabaran.
Dalam satu kelas, guru harus memastikan siswa yang cepat memahami pelajaran tetap memperoleh tantangan belajar. Pada saat yang sama, mereka yang mengalami kesulitan juga membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Keduanya harus berjalan bersamaan.
Belum lagi tantangan menjaga motivasi siswa, menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman, serta menghadapi keterbatasan fasilitas.
Semua itu menjadi bagian dari pekerjaan guru yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Sering kali, keberhasilan pembelajaran dinilai dari hasil tugas, nilai ujian, atau kemampuan siswa menjawab pertanyaan. Padahal, di balik pencapaian tersebut terdapat proses panjang yang tidak selalu dapat diukur melalui angka.
Ada penjelasan yang harus diulang. Ada keberanian yang perlu dibangun perlahan. Ada pula anak yang membutuhkan perhatian lebih agar tetap percaya bahwa dirinya mampu belajar.
Bu Neti juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan.
Menurutnya, proses belajar tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Anak-anak membutuhkan dukungan keluarga agar pengetahuan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang dipelajari di kelas dapat terus berkembang di rumah.
Pendidikan, dengan demikian, merupakan pekerjaan bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Pelajaran yang Justru Saya Dapatkan dari Ruang Kelas
Saya datang ke SDN Ciptaharja untuk melakukan observasi. Tujuan awalnya adalah memahami penerapan kurikulum, strategi pembelajaran, dan berbagai tantangan yang dihadapi guru.
Namun, pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas.
Saya menyadari bahwa keberhasilan seorang guru tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan dalam satu pertemuan.
Keberhasilan juga dapat terlihat ketika seorang anak mulai berani mengangkat tangan untuk bertanya, mencoba menjawab meskipun belum yakin, atau akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak selalu tercatat dalam laporan pembelajaran, tetapi memiliki arti penting bagi perkembangan anak.
Dari Bu Neti, saya belajar bahwa mengajar membutuhkan kemampuan memahami manusia, bukan sekadar menguasai materi.
Dari anak-anak kelas IV SDN Ciptaharja, saya belajar bahwa setiap siswa memiliki caranya sendiri untuk tumbuh.
Sapaan “Wilujeung sumping, Teteh Mahasiswa” yang saya terima di awal kunjungan kini memiliki makna lebih dalam. Sambutan itu bukan hanya bentuk keramahan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi saya untuk melihat dunia pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.
Di ruang kelas itulah saya memahami bahwa pendidikan bukan tentang membuat semua anak berjalan dengan kecepatan yang sama.
Ada yang melangkah lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada pula yang sesekali harus berhenti sebelum kembali mencoba.
Tugas seorang guru bukan memaksa seluruh anak tiba bersamaan, melainkan memastikan tidak ada yang kehilangan kesempatan untuk terus belajar.
Di balik papan tulis SDN Ciptaharja, perjuangan itu berlangsung melalui hal-hal sederhana: kesediaan mendengarkan, mengulang penjelasan, memberikan semangat, dan mencoba memahami setiap anak.
Sebab, terkadang pelajaran paling berharga di sekolah bukan hanya apa yang tertulis di papan tulis, melainkan kepedulian seorang guru yang tidak menyerah ketika muridnya belum memahami sesuatu.
Dan mungkin, di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya: bukan sekadar membuat anak menjadi pintar, tetapi memastikan setiap anak merasa dipahami, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Identitas Penulis dan Observasi
Penulis: Adiba Zahratul Uyun
Lokasi Observasi: SDN Ciptaharja
Narasumber: Neti Fitriyani, S.Pd.
Jabatan: Wali Kelas IV
Sumber: Hasil observasi dan wawancara langsung.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda