Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Darah Kembali Menetes di Tanah Rencong, Insiden Pulo Kenari Pidie Tewaskan Satu Warga

  2. Gerakan Literasi Nasional sebagai Upaya Membangun Budaya Literasi di Indonesia

  3. Plagiarisme di Kalangan Mahasiswa sebagai Pelanggaran Integritas Akademik

  4. MBG dan Tanggung Jawab Negara: Keselamatan Anak Tidak Bisa Ditawar

  5. Universitas Negeri Malang Hadirkan ElectroRace Kit untuk Pembelajaran IPA di MTs Sunan Kalijogo

  1. Beranda
  2. Featured
  3. Di Balik Papan Tulis, Ada Perjuangan Memahami Setiap Anak: Potret Pembelajaran di SDN Ciptaharja

Di Balik Papan Tulis, Ada Perjuangan Memahami Setiap Anak: Potret Pembelajaran di SDN Ciptaharja

A
Penulis: Adiba Zahratul Uyun
05 November 2026, 00.49 WITA Editor: Shella Paramitha
8 menit baca
Di Balik Papan Tulis

“Wilujeung sumping, Teteh Mahasiswa!”

Sapaan dalam bahasa Sunda yang berarti selamat datang itu menjadi awal pengalaman yang sulit saya lupakan ketika memasuki ruang kelas IV SDN Ciptaharja. Anak-anak menyambut kedatangan saya dengan penuh kehangatan. Mereka sudah mengetahui bahwa hari itu akan ada seorang mahasiswa yang datang untuk mengamati kegiatan pembelajaran di kelas mereka.

IKLAN

Saya datang membawa tujuan sederhana, yakni melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung di sekolah dasar. Namun, sejak sambutan pertama itu, saya mulai menyadari bahwa ruang kelas menyimpan lebih banyak cerita daripada sekadar kegiatan membaca, menulis, dan berhitung.

Di balik papan tulis dan buku-buku pelajaran, ada seorang guru yang setiap hari berusaha memahami anak-anak dengan kemampuan, karakter, dan kebutuhan yang berbeda.

Ada siswa yang cepat menangkap penjelasan. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada pula yang baru memahami pelajaran setelah guru menghubungkannya dengan sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perbedaan itu menjadi bagian dari keseharian Neti Fitriyani, S.Pd., atau yang akrab disapa Bu Neti, wali kelas IV SDN Ciptaharja.

Melalui wawancara dengannya, saya mengenal sisi lain dari pekerjaan seorang guru. Mengajar ternyata bukan hanya tentang menyiapkan materi dan menyampaikannya di depan kelas. Lebih dari itu, ada kesabaran, kreativitas, dan kemampuan memahami setiap anak yang terus diuji dari hari ke hari.

Satu Ruang Kelas, Beragam Cara Memahami Pelajaran

Bagi Bu Neti, tidak ada satu cara mengajar yang selalu berhasil untuk semua siswa.

Setiap anak datang dengan kemampuan yang berbeda. Sebagian dapat langsung memahami penjelasan, sementara yang lain membutuhkan pengulangan atau pendampingan lebih intensif.

Keadaan tersebut membuatnya harus menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar setiap siswa tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi.

Sebelum memulai pembelajaran, Bu Neti melakukan asesmen diagnostik awal untuk mengenali kemampuan peserta didik. Hasilnya menjadi pertimbangan dalam menyusun kegiatan belajar, termasuk menentukan pembagian kelompok berdasarkan kemampuan maupun secara heterogen.

pembelajaran di SDN Ciptaharja

Materi yang disampaikan disesuaikan dengan Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP), berikut perangkat dan media yang digunakan.

Namun, rencana yang telah disusun tidak selalu dapat diterapkan begitu saja.

Perencanaan pembelajaran memang disiapkan melalui perangkat tahunan dan semester. Akan tetapi, kebutuhan siswa di kelas sering kali menuntut penyesuaian kembali, termasuk dalam penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan asesmen.

Bu Neti juga berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning, yang mendorong siswa lebih terlibat dalam proses belajar dan memahami materi secara bermakna.

Dari penjelasannya, saya memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar mengikuti rencana pembelajaran yang sudah dibuat. Guru juga harus mampu membaca situasi, mengenali kesulitan siswa, dan menentukan langkah yang tepat agar pembelajaran tetap berjalan.

Sebab, tidak semua hal yang terjadi di ruang kelas dapat diperkirakan sebelumnya.

Ada yang Berani Berhitung, tetapi Malu Membaca Puisi

Salah satu cerita menarik yang disampaikan Bu Neti berkaitan dengan keberanian siswa dalam mengikuti pelajaran.

Menurutnya, beberapa anak justru lebih percaya diri ketika diminta maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika. Namun, keberanian yang sama belum tentu muncul ketika mereka diminta membacakan puisi atau pantun.

Bagi saya, cerita tersebut memperlihatkan sisi menarik dari dunia anak-anak. Seorang siswa yang terlihat percaya diri dalam satu kegiatan belum tentu merasakan hal yang sama ketika menghadapi kegiatan lainnya.

Di sinilah kepekaan guru dibutuhkan.

Bu Neti menggunakan berbagai metode pembelajaran, mulai dari diskusi, tanya jawab, hingga penugasan. Tujuannya bukan hanya membantu siswa memahami pelajaran, tetapi juga melatih keberanian mereka untuk menyampaikan pendapat.

Ia juga berusaha membuat materi terasa dekat dengan kehidupan anak-anak.

Ketika mengajarkan Bahasa Indonesia, misalnya, Bu Neti menggunakan contoh kalimat yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari. Sesekali, nama siswa dimasukkan ke dalam contoh tersebut.

Cara yang tampak sederhana ini membuat pembelajaran menjadi lebih akrab. Anak-anak tidak lagi hanya berhadapan dengan rangkaian kalimat dalam buku, tetapi juga menemukan diri mereka dalam materi yang sedang dipelajari.

Meski sebagian besar siswa cukup aktif bertanya dan menjawab, proses belajar tentu tidak selalu berjalan lancar.

Ada saat ketika siswa mulai kehilangan konsentrasi. Ada pula yang masih kesulitan memahami penjelasan meskipun materi telah disampaikan.

Ketika suasana belajar mulai terasa jenuh, Bu Neti mencoba mengembalikan semangat siswa melalui kegiatan ice breaking.

Jika masih ada yang belum memahami materi, ia kembali memberikan penjelasan.

Bu Neti membiasakan diri menanyakan apakah anak-anak sudah mengerti. Ketika jawabannya belum, ia berusaha mencari cara lain agar materi menjadi lebih mudah dipahami.

Dari kebiasaan tersebut, saya menemukan sesuatu yang penting. Anak-anak membutuhkan ruang untuk mengatakan bahwa mereka belum mengerti, tanpa harus merasa malu atau takut dianggap tertinggal.

Ketika Kreativitas Guru Berhadapan dengan Keterbatasan

Di tengah perkembangan teknologi, Bu Neti terus berupaya mencari cara agar kegiatan belajar tidak terasa monoton.

Buku paket masih menjadi sumber belajar utama. Namun, ia juga memanfaatkan referensi tambahan, termasuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), untuk membantu mencari alternatif penyampaian materi.

Sesekali, kuis digunakan agar siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran.

Keinginan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik sebenarnya cukup besar. Salah satunya melalui penggunaan televisi digital sebagai media pembelajaran.

Sayangnya, fasilitas yang tersedia belum selalu mendukung kebutuhan tersebut.

IKLAN

Letak ruang kelas yang cukup jauh dari kantor sekolah menjadi salah satu kendala dalam penggunaan media pembelajaran. Peralatan yang tersedia juga harus digunakan secara bergantian.

Begitu pula dengan proyektor yang tidak selalu dapat digunakan setiap kali dibutuhkan.

Keterbatasan itu memperlihatkan bahwa kreativitas guru terkadang harus berjalan berdampingan dengan kondisi fasilitas yang belum ideal.

Teknologi memang menawarkan banyak kemungkinan baru dalam pendidikan. Namun, tidak semua sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkannya secara optimal.

Di tengah keadaan tersebut, guru tetap dituntut menghadirkan pembelajaran yang menarik, mudah dipahami, dan mampu menjangkau seluruh siswa.

Bagi saya, persoalan ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seorang guru. Dukungan sarana dan prasarana juga berperan penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik.

Kesabaran yang Tidak Selalu Terlihat

Ketika berbicara mengenai tantangan mengajar, Bu Neti kembali menyinggung perbedaan kemampuan siswa.

Baginya, menghadapi anak-anak dengan tingkat pemahaman yang beragam menjadi salah satu pekerjaan yang membutuhkan kesabaran.

Dalam satu kelas, guru harus memastikan siswa yang cepat memahami pelajaran tetap memperoleh tantangan belajar. Pada saat yang sama, mereka yang mengalami kesulitan juga membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Keduanya harus berjalan bersamaan.

Belum lagi tantangan menjaga motivasi siswa, menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman, serta menghadapi keterbatasan fasilitas.

Semua itu menjadi bagian dari pekerjaan guru yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Sering kali, keberhasilan pembelajaran dinilai dari hasil tugas, nilai ujian, atau kemampuan siswa menjawab pertanyaan. Padahal, di balik pencapaian tersebut terdapat proses panjang yang tidak selalu dapat diukur melalui angka.

Ada penjelasan yang harus diulang. Ada keberanian yang perlu dibangun perlahan. Ada pula anak yang membutuhkan perhatian lebih agar tetap percaya bahwa dirinya mampu belajar.

Bu Neti juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan.

Menurutnya, proses belajar tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Anak-anak membutuhkan dukungan keluarga agar pengetahuan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang dipelajari di kelas dapat terus berkembang di rumah.

Pendidikan, dengan demikian, merupakan pekerjaan bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Pelajaran yang Justru Saya Dapatkan dari Ruang Kelas

Saya datang ke SDN Ciptaharja untuk melakukan observasi. Tujuan awalnya adalah memahami penerapan kurikulum, strategi pembelajaran, dan berbagai tantangan yang dihadapi guru.

Namun, pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas.

Saya menyadari bahwa keberhasilan seorang guru tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan dalam satu pertemuan.

Keberhasilan juga dapat terlihat ketika seorang anak mulai berani mengangkat tangan untuk bertanya, mencoba menjawab meskipun belum yakin, atau akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak selalu tercatat dalam laporan pembelajaran, tetapi memiliki arti penting bagi perkembangan anak.

Dari Bu Neti, saya belajar bahwa mengajar membutuhkan kemampuan memahami manusia, bukan sekadar menguasai materi.

Dari anak-anak kelas IV SDN Ciptaharja, saya belajar bahwa setiap siswa memiliki caranya sendiri untuk tumbuh.

Sapaan “Wilujeung sumping, Teteh Mahasiswa” yang saya terima di awal kunjungan kini memiliki makna lebih dalam. Sambutan itu bukan hanya bentuk keramahan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi saya untuk melihat dunia pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.

Di ruang kelas itulah saya memahami bahwa pendidikan bukan tentang membuat semua anak berjalan dengan kecepatan yang sama.

Ada yang melangkah lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada pula yang sesekali harus berhenti sebelum kembali mencoba.

Tugas seorang guru bukan memaksa seluruh anak tiba bersamaan, melainkan memastikan tidak ada yang kehilangan kesempatan untuk terus belajar.

Di balik papan tulis SDN Ciptaharja, perjuangan itu berlangsung melalui hal-hal sederhana: kesediaan mendengarkan, mengulang penjelasan, memberikan semangat, dan mencoba memahami setiap anak.

Sebab, terkadang pelajaran paling berharga di sekolah bukan hanya apa yang tertulis di papan tulis, melainkan kepedulian seorang guru yang tidak menyerah ketika muridnya belum memahami sesuatu.

Dan mungkin, di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya: bukan sekadar membuat anak menjadi pintar, tetapi memastikan setiap anak merasa dipahami, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.


Identitas Penulis dan Observasi

Penulis: Adiba Zahratul Uyun

Lokasi Observasi: SDN Ciptaharja

Narasumber: Neti Fitriyani, S.Pd.

Jabatan: Wali Kelas IV

Sumber: Hasil observasi dan wawancara langsung.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/potret-pembelajaran-di-sdn-ciptaharja/98544/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026, 02.04 WITA

  • #Dunia Pendidikan
  • #Kurikulum Merdeka
  • #SDN Ciptaharja
  • #karakteristik siswa
  • #metode pembelajaran
  • #observasi sekolah
  • #pendidikan dasar
  • #perjuangan guru

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

Siapa MING VENUS? DJ Asal Surabaya yang Punya 101 Ribu Followers TikTok

Sempat Ragu Pilih Matematika atau Ekonomi, Amaia Berhasil Raih Medali Perunggu OSN 2026

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kisah Mamik Pemilik Toko Kelontong Sekaligus Agen BRILink di Bojonegoro Bantu Warga

Gerakan Literasi Nasional sebagai Upaya Membangun Budaya Literasi di Indonesia

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Kemenag Latih 1.207 PPPK Penghulu, Perkuat Kualitas Layanan Umat

Pilihan Editor

  1. 1 Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan
  2. 2

    Peneliti FMIPA Universitas Negeri Malang Ungkap 4.126 Varian Bakteri Usus Katak Sawah di Kawasan Pertanian

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  5. 5

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.