Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Di Balik Anak yang Sulit Fokus, Ada yang Perlu Kita Pahami

Di Balik Anak yang Sulit Fokus, Ada yang Perlu Kita Pahami

Penulis:
  • Salsabila Ramadhani, RA. Sherine Rizka Utami, Ria Abella, Nysa Shafitri Sari, Fadiah Syakib, Amelia Putri Ramadhani

Dosen Pengampu: Mazda Leva Okta Safitri, M.Pd. dan Nurdin Kamil, M.Pd.

Afiliasi: Universitas Sriwijaya

Editor: Gilang Pamungkas
10 Oktober 2026, 11.56 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
anak belajar
Ilustrasi seorang anak yang tampak termenung saat belajar. Kesulitan memusatkan perhatian tidak selalu menunjukkan kurangnya kemauan belajar, tetapi dapat dipengaruhi berbagai faktor.

JurnalPost.com - Di ruang kelas sekolah dasar, pemandangan anak yang sulit memusatkan perhatian saat pembelajaran bukanlah hal yang asing. Ketika guru sedang menjelaskan, ada anak yang memilih mengobrol dengan teman, memainkan alat tulis, memandang ke luar jendela, atau dengan mudah mengalihkan perhatian pada hal-hal di sekitarnya.

Perilaku seperti ini sering kali membuat anak dianggap tidak serius mengikuti pelajaran, bahkan tidak jarang diberi label “malas” atau “tidak mau belajar”. Padahal, sulit fokus tidak selalu berarti anak tidak memiliki keinginan untuk belajar.

Bisa jadi, ada hal lain di balik perilaku tersebut yang memengaruhi kemampuannya untuk mempertahankan perhatian selama pembelajaran. Karena itu, sebelum menilai perilakunya, ada baiknya kita mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dialami anak.

Kesulitan anak dalam memusatkan perhatian saat belajar tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhinya, baik yang berasal dari dalam diri anak maupun dari lingkungan di sekitarnya.

Penelitian Aprina dkk. (2025) menunjukkan bahwa rendahnya konsentrasi dan perhatian siswa dapat berkaitan dengan kemampuan kognitif, kurangnya literasi, rendahnya rasa percaya diri, serta minat dan motivasi belajar yang rendah. Kondisi tersebut juga dapat diperkuat oleh metode pembelajaran yang monoton dan kurangnya dukungan keluarga.

Sementara itu, Ahfiani dan Alani (2026) menemukan bahwa kurangnya konsentrasi siswa juga dapat dipengaruhi oleh minat belajar yang rendah, rasa jenuh atau bosan, persepsi negatif terhadap pembelajaran, serta lingkungan kelas yang kurang kondusif, misalnya suara teman yang berbicara atau aktivitas lain yang mengalihkan perhatian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketika seorang anak terlihat sulit fokus, kita sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa ia malas atau tidak memiliki kemauan untuk belajar.

Bisa jadi, ada kebutuhan, perasaan, pengalaman belajar, atau kondisi lingkungan yang belum kita pahami. Memahami penyebab di balik perilaku anak menjadi langkah penting agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.

Memahami kesulitan fokus anak juga perlu dimulai dari memahami bagaimana anak sekolah dasar belajar. Pada usia ini, anak memiliki karakteristik belajar yang perlu diperhatikan agar mereka dapat terlibat dan memahami pembelajaran dengan baik.

Penelitian Rudin (2026) menunjukkan bahwa peserta didik SD cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, menyukai pembelajaran yang menggunakan gambar atau benda nyata, serta lebih bersemangat ketika materi disajikan secara menarik, menyenangkan, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika guru memberikan contoh yang nyata dan lebih termotivasi ketika pembelajaran berlangsung dengan cara yang menarik.

Sejalan dengan itu, Malatua dkk. (2026) menemukan bahwa pembelajaran aktif melalui tanya jawab, diskusi kelompok, penggunaan media, dan kegiatan yang menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari dapat menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif serta mendorong keterlibatan siswa.

Artinya, anak SD bukan sekadar membutuhkan pembelajaran yang membuat mereka duduk diam dan mendengarkan. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, melihat sesuatu secara nyata, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan mereka.

Ketika pembelajaran terasa dekat dan menarik, anak akan lebih mudah terlibat dalam proses belajar.

Kebutuhan anak terhadap pembelajaran yang aktif, konkret, dan menarik tentu membuat guru perlu mempertimbangkan kembali cara pembelajaran berlangsung di kelas. Guru dapat menggunakan metode dan media yang beragam agar pembelajaran tidak terasa monoton dan perhatian anak tetap terjaga.

Penelitian Amananda dkk. (2025) menunjukkan bahwa variasi media pembelajaran dapat membantu siswa memahami materi secara lebih konkret, meningkatkan keterlibatan, mengurangi kebosanan, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna.

Sementara itu, Risfa dkk. (2026) menemukan bahwa keterbatasan penggunaan media dapat membuat sebagian siswa kurang fokus dan kurang aktif dalam pembelajaran.

Karena itu, media seperti video, gambar edukatif, presentasi interaktif, animasi, maupun permainan edukatif dapat menjadi pilihan untuk membuat pembelajaran lebih bervariasi.

Namun, membuat pembelajaran menarik tidak selalu berarti menggunakan teknologi yang canggih. Gambar, benda nyata, kegiatan praktik, tanya jawab, hingga permainan sederhana pun dapat membuat suasana kelas lebih hidup.

Yang terpenting adalah bagaimana guru memilih metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan anak sehingga mereka dapat lebih fokus, aktif, dan menikmati proses belajar.

Upaya membantu anak agar lebih fokus dalam belajar tentu tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Apa yang terjadi di rumah juga dapat memengaruhi kebiasaan dan kesiapan anak untuk belajar.

Penelitian Maulidah dkk. (2026) menunjukkan bahwa orang tua dapat berperan sebagai motivator, pembimbing, pengawas, sekaligus pendidik. Pendampingan saat belajar, membantu mengatur waktu, memberikan motivasi, serta menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dapat membantu meningkatkan fokus, kedisiplinan, dan ketahanan belajar siswa.

Penelitian Wulandari (2024) juga menunjukkan bahwa pendampingan belajar oleh orang tua memberikan pengaruh positif terhadap minat belajar anak.

Ketika orang tua mulai melakukan pendampingan secara berkala, mengatur waktu belajar, dan menata ruang belajar yang nyaman, minat belajar siswa mengalami peningkatan.

Karena itu, orang tua tidak harus menjadi “guru kedua” yang selalu mengajarkan materi kepada anak. Kehadiran orang tua sebagai pendamping yang memberikan perhatian, membantu membangun rutinitas, dan menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk belajar juga merupakan bentuk dukungan yang berarti bagi anak.

Pada akhirnya, anak yang sulit fokus bukanlah anak yang harus segera diberi label “malas”. Di balik perilaku seperti mengobrol, melamun, bermain, atau tidak memperhatikan pelajaran, mungkin ada rasa bosan, minat belajar yang rendah, lingkungan yang kurang nyaman, cara belajar yang belum sesuai, atau kebutuhan akan perhatian dan pendampingan.

Karena itu, guru dan orang tua perlu melihat lebih jauh daripada sekadar perilaku yang tampak. Anak membutuhkan pembelajaran yang menarik, kesempatan untuk terlibat secara aktif, serta dukungan yang membuat mereka merasa aman dan dipahami.

Sebelum mengatakan, “Kamu malas,” mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan: “Apa yang membuatmu sulit fokus?”

Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan anak dan membantunya menemukan cara belajar yang lebih sesuai.

Sebab, ketika kita memahami alasan di balik kesulitan anak, kita tidak hanya membantunya belajar dengan lebih baik, tetapi juga memberi ruang baginya untuk tumbuh dengan percaya diri dan merasakan bahwa belajar dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Referensi

Ahfiani, P. Al, & Alani, N. (2026). Analisis penyebab kurangnya konsentrasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(01), 690–698.

Amananda, N., Fatmaryanti, S. D., & Anjarini, T. (2025). Analisis keterampilan guru dalam mengadakan variasi media pembelajaran IPA di sekolah dasar. Borobudur Educational Review, 5(01), 70–79. https://doi.org/10.31603/bedr.13312

Aprina, N., Herliani, Darmiyati, & Ridhaningtyas, L. P. (2025). Analisis faktor penyebab kesulitan belajar siswa dalam pembelajaran PPKn kelas IV. Journal of Character and Elementary Education, 4(3), 62–73.

Malatua, M., Panjaitan, S. C., Sinaga, Y. P., Simbolon, U. G., & Hutapea, M. (2026). Implementasi strategi pembelajaran aktif untuk meningkatkan partisipasi siswa di SD Negeri 124391 Pematangsiantar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 10(2), 18823–18827. https://doi.org/10.31004/jptam.v10i2.41091

Maulidah, I., Setiyoko, D. T., & Mumpuni, A. (2026). Peran orang tua dalam membangun konsentrasi belajar siswa (studi kasus SDN Rengaspendawa 04). Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(02), 208–218.

Risfa, N., Nurhayati, N., Lestari, R. A., Nabila, P., & Asral, M. (2026). Analisis media dan metode pembelajaran kelas 2 dan 3 di SDN 3 Lamokato disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah media pembelajaran. Jurnal Pendidikan Tambusai, 10(2), 22693–22699. https://doi.org/10.31004/jptam.v10i2.41974

Rudin, R. B. (2026). Analisis karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik terhadap perencanaan pembelajaran di sekolah dasar. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(01), 57–70.

Wulandari, E. A. (2024). Pengaruh pendampingan belajar oleh orang tua terhadap minat belajar anak. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 14(1), 71–78.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/di-balik-anak-yang-sulit-fokus-ada-yang-perlu-kita-pahami/98099/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.02 WITA

  • #Sekolah Dasar
  • #anak sulit fokus
  • #konsentrasi belajar
  • #metode pembelajaran
  • #motivasi belajar
  • #pendidikan anak
  • #peran orang tua
  • #psikologi anak

Artikel Terkait

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.