JAKARTA, JurnalPost.com – Sebanyak 82,4 persen guru di Indonesia menyatakan sangat membutuhkan media pembelajaran berbentuk flipbook digital yang dirancang berbasis Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa guru memerlukan media belajar yang lebih praktis, mudah diakses, dan relevan untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan.
Temuan tersebut berasal dari penelitian analisis kebutuhan yang melibatkan 30 guru dari berbagai provinsi di Indonesia. Responden berasal dari Aceh, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Papua, sehingga memberikan gambaran mengenai kebutuhan guru dari berbagai wilayah dengan karakteristik yang beragam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator kebutuhan terhadap media flipbook memperoleh tingkat persetujuan di atas 80 persen. Tidak ada satu pun responden yang menyatakan tidak setuju terhadap pengembangan media tersebut.
Tingkat konsensus yang sangat tinggi ini menjadi temuan paling menonjol dalam keseluruhan penelitian dan memperlihatkan adanya kebutuhan nyata terhadap media pembelajaran digital yang dapat digunakan secara mandiri oleh guru.
Pemahaman Pembelajaran Mendalam Masih Belum Merata
Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa implementasi Pembelajaran Mendalam di sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Meskipun pendekatan tersebut mulai diperkenalkan sebagai salah satu penguatan dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, pemahaman guru terhadap konsep tersebut belum sepenuhnya merata.
Data penelitian menunjukkan hanya 16,7 persen responden yang mengaku telah memahami konsep Pembelajaran Mendalam dengan baik dan siap menerapkannya dalam proses pembelajaran.
Sebanyak 46,7 persen responden menyatakan baru memahami sebagian konsep tersebut, sedangkan 33,3 persen mengaku hanya pernah mendengar istilahnya. Bahkan, masih terdapat 3,3 persen guru yang belum mengetahui konsep Pembelajaran Mendalam sama sekali.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar guru masih memerlukan pendampingan, sumber belajar, serta media yang dapat membantu mereka memahami konsep secara lebih sederhana dan aplikatif.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri mengingat keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Mayoritas Guru Belum Menerapkan Pembelajaran Mendalam
Temuan tersebut diperkuat oleh jajak pendapat terhadap 150 guru ekonomi di berbagai daerah. Dari 141 guru yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka, hanya 21,3 persen yang telah menggunakan pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam kegiatan belajar mengajar.
Sebaliknya, sebanyak 72,7 persen guru mengaku belum menerapkannya meskipun telah menjalankan Kurikulum Merdeka.
Data tersebut menunjukkan bahwa implementasi kurikulum belum sepenuhnya diikuti oleh penerapan pendekatan pembelajaran yang menjadi salah satu fokus pengembangannya. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kebijakan pendidikan dengan kesiapan guru di lapangan.
Para guru juga mengidentifikasi sejumlah kendala yang menyebabkan proses adaptasi berlangsung lambat. Sebanyak 60 persen responden mengaku memiliki keterbatasan waktu untuk belajar secara mandiri.
Sementara itu, 50 persen menyatakan masih minimnya media pembelajaran yang mendukung pemahaman terhadap konsep Pembelajaran Mendalam.
Selain itu, 40 persen guru menyebut keterbatasan sarana dan prasarana sekolah sebagai hambatan utama. Sebanyak 33,3 persen responden juga menilai masih kurang tersedia panduan implementasi yang mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan di kelas.
Menurut tim peneliti, berbagai kendala tersebut menunjukkan bahwa guru membutuhkan media belajar yang ringkas, fleksibel, dan dapat dipelajari secara mandiri tanpa harus bergantung pada pelatihan tatap muka yang sering kali terbatas.
Flipbook Digital Memiliki Potensi Adopsi yang Tinggi
Penelitian juga menemukan bahwa media flipbook digital memiliki peluang besar untuk diadopsi oleh guru di Indonesia.
Sebanyak 83,3 persen responden mengaku belum pernah menggunakan flipbook dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian, mereka menyatakan memiliki minat yang tinggi untuk memanfaatkan media tersebut apabila tersedia dengan konten yang sesuai kebutuhan.

Saat ini, guru masih mengandalkan media pembelajaran konvensional maupun digital sederhana. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) menjadi media yang paling banyak digunakan dengan persentase 80 persen.
Posisi berikutnya ditempati buku teks cetak sebesar 73,3 persen dan salindia presentasi sebesar 66,7 persen. Sementara itu, penggunaan flipbook atau buku elektronik baru mencapai sekitar 10 persen.
Rendahnya tingkat pemanfaatan flipbook dinilai bukan disebabkan oleh rendahnya minat guru terhadap teknologi, melainkan karena masih terbatasnya ketersediaan media yang dirancang sesuai kebutuhan implementasi Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam.
Guru Menginginkan Flipbook yang Fleksibel dan Mudah Dipahami
Penelitian juga menggali karakteristik flipbook yang diharapkan guru. Sebanyak 84 persen responden menginginkan media yang dapat diakses baik secara daring maupun luring sehingga tetap dapat digunakan di daerah dengan keterbatasan jaringan internet.
Selain itu, sebanyak 83,3 persen responden mengharapkan flipbook dilengkapi panduan implementasi yang praktis, menarik, dan mudah dipahami.
Persentase yang sama juga menginginkan penyajian materi dalam bentuk infografis, ilustrasi visual, diagram, maupun contoh penerapan sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
Kebutuhan terhadap akses luring dinilai mencerminkan kondisi riil pendidikan di Indonesia. Hingga kini, pemerataan infrastruktur internet belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah sehingga media pembelajaran yang dapat digunakan tanpa koneksi internet masih menjadi kebutuhan penting bagi banyak guru.
Konten Praktis Menjadi Prioritas
Dari sisi materi, guru mengharapkan flipbook tidak hanya menjelaskan konsep teoretis, tetapi juga memberikan panduan implementasi yang dapat langsung diterapkan di sekolah.
Sebanyak 83,3 persen responden menginginkan pembahasan mengenai komponen utama Kurikulum Merdeka, seperti Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dan Modul Ajar.
Selanjutnya, 76,7 persen guru mengharapkan penjelasan mengenai prinsip Pembelajaran Mendalam yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Selain itu, lebih dari separuh responden, yaitu 56,7 persen, menginginkan contoh strategi pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan sesuai karakteristik peserta didik dan kebutuhan sekolah.
Tim peneliti menilai bahwa penyajian materi dalam bentuk microlearning atau pembelajaran singkat dengan bahasa sederhana akan membantu guru mempelajari konsep secara bertahap tanpa harus mengalokasikan waktu belajar yang panjang.
Mayoritas Responden Merupakan Guru Honorer
Profil responden juga memberikan gambaran menarik mengenai kondisi guru di Indonesia. Sebanyak 70 persen responden merupakan guru honorer atau guru tidak tetap, sedangkan 73,3 persen mengajar di sekolah swasta.
Mayoritas responden memiliki pengalaman mengajar antara 11 hingga 20 tahun.
Menurut tim peneliti, karakteristik tersebut memperkuat urgensi penyediaan media belajar mandiri yang mudah diakses.
Guru honorer umumnya memiliki kesempatan yang lebih terbatas untuk mengikuti pelatihan formal yang diselenggarakan pemerintah karena keterbatasan kuota, biaya, maupun lokasi pelaksanaan.
Media digital seperti flipbook dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih efisien karena memungkinkan guru belajar secara fleksibel sesuai waktu yang dimiliki tanpa meninggalkan tugas mengajar.
Solusi Strategis Mendukung Transformasi Pendidikan
Berdasarkan keseluruhan temuan, tim peneliti menyimpulkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan guru dan ketersediaan media pembelajaran yang mendukung implementasi Pembelajaran Mendalam.
Pengembangan flipbook digital berbasis microlearning dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk menjawab tantangan tersebut.
Media ini dinilai mampu membantu guru memahami konsep Kurikulum Merdeka secara bertahap, meningkatkan kemandirian belajar, mengatasi keterbatasan waktu, serta memberikan akses yang lebih luas bagi guru di berbagai daerah.
Tim peneliti juga menilai bahwa pengembangan media pembelajaran digital semacam ini sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia dalam Asta Cita serta mendukung transformasi pendidikan menuju era Society 5.0 yang menekankan pemanfaatan teknologi secara bijaksana dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda