JurnalPost.com - Guru memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pendidikan dan membentuk sumber daya manusia. Melalui proses pembelajaran, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan keterampilan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Namun, tanggung jawab besar tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kesejahteraan yang diterima sebagian guru honorer. Persoalan penghasilan yang dinilai belum memadai terus menjadi perhatian publik, termasuk dalam berbagai percakapan di media sosial.
Di TikTok, misalnya, sejumlah warganet menyampaikan kritik terhadap kondisi guru honorer melalui komentar yang menggunakan bahasa sehari-hari, humor, hingga sindiran. Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesejahteraan guru tidak hanya berkaitan dengan jumlah penghasilan, tetapi juga menyangkut penghargaan masyarakat terhadap profesi pendidik.
Menariknya, pilihan kata yang digunakan warganet dapat menjadi gambaran bagaimana sebagian masyarakat memahami kesenjangan antara tanggung jawab guru dan kesejahteraan yang mereka terima.
Sindiran Warganet sebagai Representasi Kesejahteraan Guru
Salah satu komentar yang menarik perhatian muncul dari akun TikTok @lele goyeng yang menuliskan, “guru: banyak dituntut, gaji kek kentut”.
Sekilas, ungkapan tersebut terdengar seperti candaan. Namun, jika dicermati lebih jauh, terdapat kritik sosial mengenai ketidakseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dan penghasilan guru.
Frasa “banyak dituntut” menggambarkan besarnya tanggung jawab yang harus dijalankan seorang pendidik. Sementara itu, ungkapan “gaji kek kentut” menggunakan bahasa tidak formal untuk menyindir penghasilan yang dianggap terlalu kecil dibandingkan dengan tuntutan pekerjaan.
Komentar lain disampaikan akun @krucil melalui kalimat singkat, “honor apa horor”.
Permainan bunyi antara kata honor dan horor menghasilkan sindiran yang sederhana, tetapi memiliki makna cukup kuat. Kata horor digunakan untuk menggambarkan keadaan yang dianggap memprihatinkan, khususnya berkaitan dengan penghasilan guru honorer.
Kedua komentar tersebut menunjukkan bagaimana kritik terhadap persoalan sosial dapat disampaikan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penggunaan humor dan permainan kata membuat pesan lebih mudah dipahami sekaligus menarik perhatian pengguna media sosial. Meskipun demikian, komentar-komentar tersebut merupakan ekspresi individu dan tidak dapat dianggap mewakili pandangan seluruh masyarakat.
Penelitian Zaelani dkk. (2025) mengenai gaya bahasa sindiran dalam kolom komentar TikTok pada akun Anies Rasyid Baswedan membahas berbagai bentuk sindiran yang digunakan warganet untuk menyampaikan kritik dan tanggapan terhadap suatu persoalan.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa di media sosial tidak selalu bertujuan menghibur, tetapi juga dapat menjadi sarana menyampaikan penilaian terhadap kondisi sosial.
Dalam konteks kesejahteraan guru honorer, sindiran dan permainan kata menjadi salah satu cara sebagian pengguna media sosial mengungkapkan keresahan mereka.
TikTok dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi ruang diskusi mengenai persoalan yang terjadi dalam masyarakat.
Namun, ramainya komentar di media sosial tetap perlu dibedakan dari kondisi nyata di lapangan. Kritik warganet dapat menjadi pintu masuk untuk memahami suatu persoalan, tetapi penilaian secara menyeluruh harus didukung oleh data yang akurat.
Tanggung Jawab Besar, Kesejahteraan Belum Seimbang
Profesi guru menuntut tanggung jawab yang tidak sederhana. Seorang guru tidak hanya bertugas mengajar di kelas, tetapi juga mempersiapkan materi pembelajaran, melakukan penilaian, membimbing peserta didik, serta membantu membentuk karakter mereka.
Seluruh pekerjaan tersebut membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kesabaran, dan komitmen profesional.
Sayangnya, penghargaan terhadap guru terkadang lebih banyak disampaikan melalui ungkapan terima kasih dan pengakuan atas jasa mereka, sementara persoalan kesejahteraan belum selalu mendapatkan perhatian yang sebanding.
Guru memang dikenal sebagai profesi yang mengutamakan pengabdian. Akan tetapi, nilai pengabdian tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan ekonomi tenaga pendidik.
Sebagaimana pekerja pada bidang lainnya, guru membutuhkan penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup, mendukung keluarga, dan meningkatkan kompetensi profesional.
Ketika penghasilan tidak sebanding dengan beban pekerjaan, muncul persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Meski demikian, kondisi guru honorer tidak dapat disamaratakan. Besaran penghasilan dan status pekerjaan dapat berbeda berdasarkan daerah, satuan pendidikan, sumber pendanaan, serta kebijakan yang berlaku.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai kesejahteraan guru honorer harus mempertimbangkan kondisi yang beragam agar tidak menghasilkan kesimpulan yang terlalu umum.
Data mengenai penghasilan, status kepegawaian, dan kondisi kerja diperlukan untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya dihadapi tenaga pendidik.
Kesejahteraan Guru Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Persoalan kesejahteraan guru honorer bukan hanya berkaitan dengan kepentingan individu, melainkan juga dengan keberlangsungan sistem pendidikan Indonesia.
Pendidikan berkualitas membutuhkan tenaga pendidik yang kompeten, memiliki kesempatan untuk berkembang, serta mendapatkan dukungan yang memadai dalam menjalankan tugasnya.
Ketidakpastian penghasilan dan status pekerjaan dapat menjadi beban tambahan bagi guru yang harus tetap memenuhi tanggung jawab profesionalnya.
Karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan perlu menjadikan kesejahteraan guru sebagai bagian penting dalam evaluasi kebijakan.
Perhatian tersebut dapat diwujudkan melalui perbaikan sistem penggajian, kepastian pembayaran, kejelasan status kerja, serta perlindungan terhadap tenaga pendidik.
Kebijakan yang disusun juga perlu mempertimbangkan perbedaan kondisi pendidikan di setiap daerah. Langkah perbaikan yang tepat membutuhkan pemetaan persoalan berdasarkan data, bukan semata-mata berdasarkan isu yang ramai diperbincangkan.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran dalam membangun kepedulian terhadap profesi guru. Kritik melalui media sosial dapat menjadi bentuk partisipasi publik selama disampaikan secara bertanggung jawab dan tidak mengabaikan fakta.
Sindiran yang muncul di ruang digital seharusnya tidak berhenti sebagai bahan hiburan atau percakapan sesaat. Perhatian masyarakat perlu diarahkan untuk mendorong evaluasi dan perbaikan yang lebih nyata.
Menghargai Guru Berarti Memperhatikan Kesejahteraannya
Ungkapan “guru: banyak dituntut, gaji kek kentut” dan “honor apa horor” memperlihatkan bahwa bahasa sederhana dapat menjadi sarana menyampaikan persoalan sosial yang serius.
Di balik penggunaan humor dan permainan kata, terdapat kritik mengenai kesenjangan antara besarnya tanggung jawab guru dan kesejahteraan yang dianggap belum memadai.
Meskipun kedua komentar tersebut tidak mewakili seluruh pengalaman guru honorer, keberadaannya menunjukkan bagaimana persoalan pendidikan dapat memperoleh perhatian melalui percakapan digital.
Persoalan kesejahteraan guru tentu tidak dapat diselesaikan hanya melalui kritik di media sosial. Diperlukan kebijakan yang terukur, dukungan berbagai pihak, serta evaluasi berkelanjutan agar kondisi tenaga pendidik dapat diperbaiki.
Pada akhirnya, menghargai guru tidak cukup hanya melalui ucapan terima kasih atau peringatan hari-hari pendidikan. Penghargaan yang sesungguhnya juga harus tercermin dalam perhatian terhadap penghasilan yang layak, kepastian pekerjaan, dan perlindungan profesi.
Sebab, kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan orang-orang yang menjalankan proses pendidikan itu sendiri.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda