Bahasa Gaul sebagai Cerminan Identitas Generasi Z
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi. Media sosial, khususnya TikTok, bukan hanya menjadi sarana hiburan, melainkan juga ruang untuk mengekspresikan diri, membangun hubungan sosial, dan memperlihatkan identitas. Salah satu fenomena yang menonjol adalah penggunaan bahasa gaul oleh Generasi Z. Melalui pilihan kata, generasi muda menunjukkan kreativitas sekaligus pemahaman mereka terhadap lingkungan sosial.
Istilah seperti healing, insecure, overthinking, valid, relate, dan slay telah akrab dalam percakapan digital. Kata-kata tersebut tidak sekadar mengikuti tren. Dalam konteks tertentu, istilah itu digunakan untuk menyampaikan perasaan, pengalaman, penilaian, atau kedekatan dengan orang lain.
Misalnya, insecure kerap digunakan untuk menggambarkan rasa kurang percaya diri, sedangkan healing sering dipakai untuk menyebut proses memulihkan diri setelah mengalami tekanan. Makna dan penggunaannya dapat berubah sesuai dengan konteks komunikasi.
Dalam perspektif sosiolinguistik, bahasa berkaitan erat dengan kehidupan sosial. Pilihan kata dapat menandai kelompok, hubungan, suasana, dan tujuan komunikasi. Ketika seseorang menggunakan istilah yang sedang populer, ia mungkin sedang menunjukkan bahwa dirinya memahami tren dan menjadi bagian dari percakapan bersama. Dengan demikian, bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kedekatan sosial.
Fenomena ini perlu dipahami secara bijak. Penggunaan bahasa gaul tidak otomatis menunjukkan rendahnya kemampuan berbahasa seseorang. Sebaliknya, kreativitas dalam menciptakan dan menyebarkan istilah memperlihatkan bahwa bahasa bersifat dinamis. Namun, pengguna tetap perlu memahami makna setiap kata agar tidak menggunakannya secara keliru atau sekadar meniru tanpa mempertimbangkan konteks.
TikTok dan Ruang Pembentukan Identitas Digital
TikTok menyediakan ruang bagi penggunanya untuk menampilkan diri melalui video, teks, musik, komentar, dan tanda pagar. Seseorang dapat memperlihatkan minat, selera humor, gaya hidup, serta pandangannya melalui konten yang dibuat atau dibagikan. Identitas seseorang pun tidak hanya terbentuk melalui interaksi secara langsung, tetapi juga melalui jejak komunikasi yang terlihat di ruang digital.
Sebagai contoh, istilah anak senja sering dilekatkan pada gambaran seseorang yang menyukai suasana tenang, musik, atau puisi. Sementara itu, sebutan introvert kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang lebih nyaman berada dalam suasana tidak terlalu ramai.
Ketika pengguna memilih label tertentu untuk menjelaskan dirinya, ia sedang melakukan pelabelan diri atau self-labeling. Label tersebut dapat membantu seseorang menemukan komunitas dengan minat serupa, tetapi tidak selalu mampu menggambarkan kepribadian seseorang secara utuh.

Pembentukan identitas digital juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Tren, komentar, jumlah tayangan, dan rekomendasi algoritma dapat memengaruhi konten yang diproduksi serta bahasa yang dipilih. Sebagian pengguna mengikuti istilah populer agar lebih mudah dipahami, diterima, atau memperoleh perhatian. Situasi ini menunjukkan bahwa identitas digital terbentuk melalui perpaduan antara pilihan pribadi dan pengaruh sosial.
Dorongan untuk selalu mengikuti tren dapat berkaitan dengan fear of missing out (FoMO), yaitu kekhawatiran tertinggal dari pengalaman atau informasi yang sedang ramai dibicarakan.
Arsieta, Sulistyo, dan Gusfa (2025) mengkaji partisipasi Generasi Z dalam tren budaya FoMO di media sosial melalui studi netnografi pada akun TikTok @Skintific.Id. Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa partisipasi dalam tren merupakan bagian dari interaksi digital, tetapi tetap perlu disertai sikap kritis. Pengguna sebaiknya tidak merasa harus mengikuti setiap tren hanya demi memperoleh pengakuan sosial.
Dengan demikian, TikTok bukan sekadar tempat menyebarkan hiburan dan informasi. Platform ini juga menjadi ruang untuk membentuk citra diri dan membangun hubungan sosial. Meski demikian, apa yang ditampilkan di layar hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang.
Pengguna perlu memahami perbedaan antara persona digital dan jati diri agar tidak menjadikan penilaian warganet sebagai ukuran utama harga diri.
Menjaga Eksistensi Bahasa di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan bahasa merupakan hal yang wajar seiring dengan perkembangan masyarakat, budaya, dan teknologi. Munculnya berbagai kosakata baru di kalangan Generasi Z menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi masyarakat.
Tantangannya bukan menghentikan perkembangan bahasa gaul, melainkan memastikan bahwa kreativitas berbahasa tetap berjalan seiring dengan pemahaman terhadap kaidah dan penggunaan bahasa Indonesia yang tepat.
Bahasa yang sesuai untuk percakapan santai belum tentu tepat digunakan dalam karya ilmiah, surat resmi, diskusi akademik, atau komunikasi formal. Jika bahasa informal digunakan tanpa mempertimbangkan situasi, pesan yang disampaikan dapat menjadi kurang jelas atau tidak sesuai dengan tujuan komunikasi.
Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan memilih ragam bahasa berdasarkan lawan bicara, situasi, dan kepentingan komunikasi. Kemampuan beralih dari ragam informal ke ragam baku merupakan bentuk kecakapan berbahasa, bukan penolakan terhadap kreativitas.
Dalam dunia pendidikan, fenomena bahasa Gen Z di TikTok dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Guru dan mahasiswa dapat mengamati istilah populer, menelusuri maknanya, membandingkan penggunaannya dalam percakapan sehari-hari dan tulisan formal, kemudian mendiskusikan perubahan makna yang terjadi.
Kegiatan tersebut dapat melatih literasi digital, keterampilan berpikir kritis, dan kesadaran bahwa penggunaan bahasa selalu berkaitan dengan konteks. Peserta didik juga dapat berlatih menyunting kalimat agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia tanpa mengabaikan maksud awal penuturnya.
Selain itu, pengguna media sosial perlu membangun kebiasaan berbahasa yang bertanggung jawab. Sebelum menggunakan atau menyebarkan suatu istilah, mereka sebaiknya memahami arti dan kemungkinan dampaknya terhadap orang lain. Istilah yang dianggap lucu oleh satu kelompok belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh kelompok lain.
Oleh karena itu, kesantunan berbahasa tetap penting untuk dijaga, baik dalam percakapan langsung maupun komunikasi di ruang digital.
Bahasa gaul merupakan bagian dari budaya komunikasi Generasi Z. Kehadirannya dapat memperkaya ekspresi dan mempererat hubungan antarpengguna selama digunakan secara sadar dan sesuai dengan konteks.
Generasi muda tidak perlu memilih antara menjadi kreatif dan mencintai bahasa Indonesia. Keduanya dapat berjalan beriringan. Bahasa gaul dapat digunakan dalam komunikasi informal, sedangkan penguasaan bahasa Indonesia sesuai kaidah tetap diperlukan untuk kepentingan akademik, profesional, dan resmi.
Pada akhirnya, bahasa boleh terus berkembang mengikuti zaman, tetapi kesantunan, identitas budaya, dan penghargaan terhadap bahasa persatuan harus tetap dijaga. Kemajuan teknologi seharusnya memperluas kemampuan generasi muda dalam berbahasa, bukan justru mengurangi kesadaran mereka terhadap nilai-nilai budaya bangsa.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda