Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya Amati Langsung Proses Persidangan di Pengadilan Agama Surabaya

  2. Nasabah BRI Bojonegoro Ungkap Kemudahan Cicil Emas Lewat BRImo, Praktis dan Fleksibel

  3. Mahasiswa Untag Surabaya Amati Jalannya Persidangan di Pengadilan Agama Surabaya

  4. Simulasi Cicil Emas BRImo dan Galeri 24, DP 15 Persen dengan Tenor 12 Bulan, Berapa Angsurannya?

  5. Bayar Jasa Dokter Kini Lebih Praktis, Pasien Bisa Pakai QRIS BRI

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Pencampuran Bahasa Gaul di Media Sosial: Kreativitas atau Pergeseran Budaya?

Pencampuran Bahasa Gaul di Media Sosial: Kreativitas atau Pergeseran Budaya?

Foto profil Viola Benita Arianti
Penulis: Viola Benita Arianti
01 September 2026, 21.30 WITA • Editor: Rina Maharani
5 menit baca
Bahasa Gaul di Media Sosial

JurnalPost.com - Media sosial tidak hanya mengubah cara masyarakat berinteraksi, tetapi juga memengaruhi cara mereka menggunakan bahasa. Di tengah derasnya arus informasi dari berbagai negara, muncul berbagai istilah baru yang memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Fenomena tersebut semakin mudah ditemukan dalam percakapan Generasi Z dan Milenial di TikTok, X, Instagram, maupun platform digital lainnya. Salah satu contoh yang cukup populer adalah istilah “orang have”, yang digunakan untuk menyebut seseorang yang berasal dari kalangan berada atau memiliki kondisi ekonomi berkecukupan.

IKLAN

Secara bahasa, istilah tersebut merupakan perpaduan antara kata “orang” dalam bahasa Indonesia dan “have” dalam bahasa Inggris. Meski tidak sesuai dengan struktur bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia baku, istilah itu justru mudah diterima dalam percakapan informal karena dianggap singkat, unik, dan memiliki nuansa humor tersendiri.

GEN Z
Baca Juga

Bahasa Gen Z dan Identitas Digital: Kreativitas Berbahasa di Era TikTok

Mengapa Bahasa Campuran Semakin Populer?

Salah satu faktor terbesar yang mendorong munculnya bahasa campuran adalah globalisasi digital. Pengguna media sosial di Indonesia setiap hari berhadapan dengan film, musik, video pendek, meme, hingga percakapan yang menggunakan bahasa Inggris.

Paparan tersebut membuat penggunaan kosakata asing menjadi semakin biasa. Tanpa disadari, seseorang dapat berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dalam satu percakapan. Dalam linguistik, praktik semacam ini dikenal sebagai alih kode atau code-switching.

Selain pengaruh globalisasi, bahasa gaul juga berkembang karena kebutuhan untuk mengekspresikan sesuatu dengan cara yang dianggap lebih santai dan menarik. Ada kalanya sebuah istilah terasa lebih tepat digunakan untuk menyampaikan candaan, sindiran, kekaguman, atau kedekatan dibandingkan padanan bahasa formalnya.

Bahasa gaul juga dapat menjadi identitas kelompok. Seseorang yang memahami istilah yang sedang viral dianggap mengikuti perkembangan percakapan di dunia digital. Dari sinilah muncul rasa kebersamaan di antara pengguna media sosial.

Mahasiswa di kampus
Baca Juga

Anak Muda dan Politik: Jangan Hanya Memilih, tetapi Juga Berpikir Kritis

Beberapa istilah yang banyak digunakan, misalnya:

Istilah GaulAsal PencampuranMakna atau Konteks
Orang HaveBahasa Indonesia + bahasa Inggris “have”Orang berkecukupan atau berasal dari kalangan berada
FOMOFear of Missing OutRasa takut ketinggalan tren, informasi, atau suatu momen
Muka Two-FaceBahasa Indonesia + bahasa InggrisSebutan untuk orang yang dianggap bermuka dua atau tidak jujur
Gaji StandardBahasa Indonesia + bahasa Inggris “standard”Penghasilan yang dianggap biasa atau pas-pasan

Ruang Kreativitas dalam Berbahasa

Kemunculan berbagai istilah baru menunjukkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang diam. Bahasa terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat dan kebutuhan penggunanya.

Di ruang digital, kreativitas berbahasa berkembang dengan sangat cepat. Kata atau frasa yang awalnya digunakan oleh sekelompok kecil pengguna dapat menyebar luas hanya dalam hitungan hari apabila menjadi viral.

Pencampuran bahasa juga dapat memperluas pengetahuan masyarakat terhadap kosakata asing. Seseorang yang terbiasa mendengar istilah seperti healing, overthinking, relate, make sense, atau FOMO setidaknya memiliki kesempatan untuk mengenal arti kata-kata tersebut melalui percakapan sehari-hari.

Midnight Doomscrolling in a Tangled Mind
Baca Juga

Brain Rot: Ketika Otak Terjebak dalam Doomscrolling

IKLAN

Dalam konteks sosial, bahasa gaul bahkan dapat berfungsi sebagai perekat. Pengguna dari berbagai daerah dan latar belakang dapat memahami candaan atau tren yang sama karena menggunakan istilah yang sedang populer di internet.

Tantangan bagi Bahasa Indonesia

Di balik kreativitas tersebut, penggunaan bahasa campuran juga membawa sejumlah tantangan. Salah satunya adalah semakin kaburnya batas antara bahasa yang tepat digunakan dalam situasi informal dan bahasa yang seharusnya digunakan dalam situasi resmi.

Jika seseorang terlalu terbiasa dengan bahasa tidak baku, ada kemungkinan bentuk tersebut terbawa ketika menulis tugas akademik, dokumen resmi, surat pekerjaan, atau karya ilmiah. Padahal, setiap situasi memiliki aturan dan ragam bahasa yang berbeda.

Persoalan lain adalah munculnya kesenjangan komunikasi antargenerasi. Istilah yang mudah dipahami oleh pengguna aktif media sosial belum tentu dipahami oleh orang yang jarang menggunakan platform digital.

Percakapan yang dipenuhi istilah seperti FOMO, red flag, spill, healing, relate, atau “orang have” dapat terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Akibatnya, bahasa yang semula dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi justru dapat menciptakan jarak.

Selain itu, penggunaan kosakata asing secara berlebihan juga menimbulkan kekhawatiran mengenai posisi bahasa Indonesia. Apabila setiap istilah lokal terus digantikan dengan kata asing hanya karena dianggap lebih modern, masyarakat dapat semakin jauh dari kekayaan kosakata yang sebenarnya sudah tersedia dalam bahasa Indonesia.

Menempatkan Bahasa Sesuai Konteks

Perkembangan bahasa gaul tidak harus selalu dipandang sebagai ancaman. Bahasa memang akan terus berubah seiring perkembangan zaman, teknologi, dan kebudayaan.

Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat untuk memahami konteks penggunaannya.

Istilah seperti “orang have”, healing, make sense, maupun berbagai bahasa gaul lainnya tentu tidak menjadi persoalan ketika digunakan dalam percakapan santai, konten hiburan, atau komunikasi informal di media sosial.

Namun, ketika memasuki lingkungan pendidikan, dunia kerja, penulisan ilmiah, maupun komunikasi resmi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik, jelas, dan sesuai kaidah tetap diperlukan.

Fenomena pencampuran bahasa di media sosial pada akhirnya menjadi gambaran bagaimana masyarakat Indonesia beradaptasi dengan perkembangan dunia. Kreativitas dalam berbahasa dapat terus tumbuh tanpa harus menghilangkan kepedulian terhadap bahasa nasional.

Menikmati bahasa gaul bukan berarti meninggalkan bahasa Indonesia. Tantangannya justru terletak pada kemampuan setiap orang untuk mengetahui kapan dapat bermain dengan bahasa dan kapan harus kembali menggunakan bahasa Indonesia secara tepat.


Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pencampuran-bahasa-gaul-di-media-sosial/97530/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 18.19 WITA

  • #Bahasa Gaul
  • #Bahasa Indonesia
  • #Generasi Z
  • #Kreativitas
  • #globalisasi
  • #linguistik
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Strategi Mengatasi Mismatch Pengelolaan Aset untuk Menjaga Stabilitas Keuangan

Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

Etika Komunikasi Publik dan Integritas Bangsa: Catatan Kritis Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Urgensi Literasi Digital bagi Generasi Z

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

Dosen UMI Tingkatkan Literasi Ilmiah dan Kesadaran Hukum Guru Pesantren Mizanul Ulum melalui Pelatihan Digital

Mahasiswa Fakultas Hukum UNTAG Surabaya Pelajari Proses Persidangan Cerai Gugat di Pengadilan Agama

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Pilihan Editor

  1. 1 Punya 10 Saham Belum Tentu Aman, Begini Cara Markowitz Menentukan Portofolio Investasi yang Efisien
  2. 2

    Kenalan dengan MING VENUS dan HENYM VENUS, Dua Kreator Musik Surabaya yang Punya Cerita di Balik Karyanya

  3. 3

    Menenun Harapan Bebas Stunting dari Saung AEWO Mulyaharja, IPB University Edukasi Ibu Balita tentang Gizi dan PHBS

  4. 4

    Pertamina Patra Niaga Perkuat Kompetensi Tenaga Teknis melalui Pelatihan BPA dan BKJT di PPSDM Migas

  5. 5

    Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.