Surabaya, JurnalPost.com – Departemen Informasi dan Perpustakaan (IIP) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya dan UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya Kota Surabaya menyelenggarakan kegiatan penguatan kompetensi kehumasan dan pemasaran bagi pengelola museum, Kamis (5/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Museum Pendidikan Surabaya, Jalan Genteng Kali Nomor 10, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, ini bertujuan meningkatkan profesionalisme pengelola museum, khususnya dalam membangun komunikasi publik, mengembangkan strategi pemasaran, serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut menjadi salah satu upaya mendorong transformasi museum agar tidak hanya dikenal sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga berkembang menjadi ruang edukasi, interaksi, dan pengalaman budaya yang menarik bagi masyarakat.
Mendorong Peran Strategis Kehumasan Museum
Penyelenggaraan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh sejumlah tantangan dalam pengelolaan komunikasi museum. Selama ini, fungsi hubungan masyarakat (humas) masih kerap dipandang sebagai bagian pelengkap, bukan sebagai unsur strategis dalam pengembangan museum.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada penyampaian informasi yang kurang konsisten, komunikasi digital yang cenderung berlangsung satu arah, serta belum meratanya standar pelayanan dan komunikasi kepada pengunjung.
Melalui kegiatan ini, para pengelola museum mendapatkan pembekalan mengenai konsep kehumasan, komunikasi publik, strategi pemasaran, hingga pengembangan pengalaman pengunjung yang lebih profesional.
Salah satu narasumber, Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., menekankan pentingnya komunikasi, kemitraan, serta pengalaman pengunjung dalam membangun citra museum yang positif.
“Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang aktif, menarik, dan dekat dengan masyarakat. Surabaya sendiri memiliki banyak museum yang dapat dilihat, sehingga adanya materi ini akan memberikan arahan yang lebih baik,” ungkap Suko Widodo.
Menurutnya, museum perlu menghadirkan pengalaman yang mampu membangun kedekatan emosional dengan pengunjung. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui penyampaian cerita koleksi yang menarik, interaksi yang menyenangkan, serta keramahan petugas dalam memberikan pelayanan.
Pengalaman Pengunjung Menjadi Kunci Daya Tarik Museum
Dalam pemaparannya, Suko Widodo memperkenalkan tiga tahapan penting dalam membangun pengalaman pengunjung museum, yakni datang, terkesan, dan mengajak.

Tahap pertama adalah menciptakan daya tarik yang mendorong masyarakat untuk datang berkunjung. Museum perlu mengomunikasikan keunikan koleksi, nilai sejarah, serta berbagai aktivitas yang dapat dinikmati pengunjung.
Setelah pengunjung datang, pengelola harus mampu memberikan pengalaman yang berkesan. Pengalaman tersebut tidak hanya berasal dari koleksi yang dipamerkan, tetapi juga dari cara informasi disampaikan, interaksi dengan petugas, dan kenyamanan fasilitas.
Tahap terakhir adalah mendorong pengunjung untuk membagikan pengalaman positif kepada orang lain. Rekomendasi dari pengunjung dapat menjadi sarana promosi yang efektif sekaligus memperluas jangkauan informasi mengenai museum.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan museum tidak hanya ditentukan oleh kualitas perawatan koleksi, tetapi juga kemampuan menghadirkan pelayanan publik yang komunikatif, ramah, dan berorientasi pada kebutuhan pengunjung.
Strategi Marketing Museum melalui Media, Komunitas, dan Konten Digital
Selain penguatan kehumasan, peserta memperoleh pembekalan mengenai strategi pemasaran museum yang disampaikan oleh Syamsul Qomar, Founder dan CEO Agendakota.
Dalam materinya, Syamsul menjelaskan bahwa pemasaran museum tidak cukup dilakukan melalui penyebaran informasi mengenai koleksi dan kegiatan. Pengelola juga perlu membangun hubungan dengan berbagai pihak agar museum semakin dikenal dan memiliki jangkauan pengunjung yang lebih luas.
Sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan antara lain menjalin relasi dengan jurnalis dan media, melibatkan komunitas dalam kegiatan museum, membangun kerja sama pendidikan bersama guru dan sekolah, serta memproduksi konten digital secara konsisten.
Konten yang dipublikasikan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan calon pengunjung. Museum dapat memperkenalkan dirinya sebagai tempat belajar sejarah, ruang berkegiatan komunitas, hingga destinasi rekreasi edukatif.
Dalam pembahasan mengenai funnel marketing museum, Syamsul memberikan contoh pentingnya menyesuaikan pesan promosi dengan kebutuhan kelompok masyarakat yang berbeda.
“Bagaimana caranya museum dan pengelola harus mampu mengadvokasikan bahwa museum relevan dengan kebutuhan mereka, misalnya teman-teman yang ingin hang out atau mahasiswa yang ingin membuat acara di Museum Pendidikan karena tertarik dengan informasi mengenai bangunan yang bagus, fasilitas lengkap, dan akses gratis,” jelas Syamsul.
Melalui pendekatan tersebut, pengelola diharapkan mampu menyusun strategi komunikasi yang tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun ketertarikan dan mendorong masyarakat untuk berkunjung.
Pemerintah Kota Surabaya Dorong Peningkatan Kualitas Museum
Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Irwan Andeska Machmudi, A.Md. LLAJ., S.T., M.M., serta perwakilan UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya Kota Surabaya, Saidatul Maknunah, S.T.
Dalam kesempatan tersebut, Irwan menyampaikan pandangannya yang sejalan dengan Saidatul mengenai pentingnya mengubah persepsi masyarakat terhadap museum.
Selama ini, museum masih sering dianggap sebagai tempat menyimpan benda-benda lama yang kurang menarik untuk dikunjungi. Karena itu, peningkatan kompetensi pengelola menjadi langkah penting untuk memperkuat kualitas pelayanan sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Kota Surabaya.
Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan seperti ini, para pengelola diharapkan memperoleh pengetahuan serta keterampilan baru yang dapat diterapkan dalam aktivitas pengelolaan museum sehari-hari.
Peningkatan kualitas museum juga diharapkan mampu memperluas minat kunjungan masyarakat, baik dari Surabaya maupun daerah lainnya di Indonesia.
Menuju Museum yang Lebih Inovatif dan Dekat dengan Masyarakat
Kolaborasi antara Universitas Airlangga dan Pemerintah Kota Surabaya melalui program pengabdian kepada masyarakat ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia di lingkungan museum.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai komunikasi publik, pelayanan pengunjung, serta strategi pemasaran, pengelola museum diharapkan mampu menghadirkan layanan yang semakin profesional dan inovatif.
Penerapan strategi kehumasan yang terarah juga dapat membantu museum membangun identitas yang kuat, memperluas jaringan kemitraan, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif.
Melalui kegiatan ini, museum-museum di Surabaya diharapkan semakin berkembang sebagai destinasi pembelajaran sejarah dan budaya yang tidak hanya menyajikan koleksi, tetapi juga menghadirkan cerita, pengalaman, serta interaksi yang bermakna bagi setiap pengunjung.
Penulis: Indah Nur Maulidya
Informasi mengenai kegiatan Departemen Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga lainnya dapat diakses melalui Instagram @iipunairofficial.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda