
Oleh : Wenseslaus Ngampus ( Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha )
JurnalPost - Apa yang pertama kali Anda pikirkan ketika mendengar kata uang ? Kebahagiaan ? Kepuasan ? atau Kenikmatan ? ketiga jawaban itu tentu saja menjadi jawaban yang tepat bagi sebagian besar masyarakat, karena pada kenyataannya dengan uanglah kita mendapatkan kebahagiaan, mendapatkan kepuasan serta memperoleh kenikmatan sebagai seorang manusia. Pendapat ini tentu saja mudah dibantah dengan kata-kata bijak yang biasa terdengar ditengah masyarakat misalnya “Uang bukan segalanya” atau kata-kata bijak yang lain seperti “Uang tidak menjamin kebahagiaan “, kata-kata bijak ini kalau dihadapkan dengan kenyataan hidup tentu saja akan berbanding terbalik, karena pada kenyataanya kita membutuhkan uang untuk bisa bertahan hidup dizaman ini.
Uang merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari denyut kehidupan ekonomi masyarakat. Stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh sejauh mana peranan uang dalam perekonomian. Dalam keseharian dimasyarakat, uang sudah digunakan untuk segala keperluan sehari – hari dan sudah menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupan perekonomian masyarakat itu sendiri. Secara teori uang adalah suatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk mengukur nilai, menukar, dan melakukan pembayaran atas pembelian barang dan jasa, serta pada waktu yang bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan. Dengan begitu strategisnya peran uang dalam kehidupan sehari-hari maka sebuah keniscayaan uang harus selalu tersedia sehingga aktivitas dan kegiatan kita dapat berjalan dengan lancar.
Peran uang yang dirasa cukup strategis memaksa kita harus lebih maksimal dalam upaya untuk mendapatkannya. Ada yang rela beralih profesi demi mendapatkan gaji yang lebih baik, ada yang mengambil dua pekerjaan sekaligus, adapula yang rela merantau meninggalkan keluarga demi mendapatkan pekerjaan yang lebih terjamin dari segi keuangannya, itu semua dilakukan tentu saja karena sadar akan begitu pentingnya peran uang dalam mencapai kesejahteraan keluarga. Uang yang didapatkan dengan susah paya disertai dengan pengorbanan masing-masing sebaiknya juga digunakan dengan bijak dan dilandasi pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Namun pada masa ini kita dihadapkan pada situasi dimana terkadang masyarakat memiliki prilaku yang tidak rasional dalam keputusan pengelolaan keuangan, khususnya berkaitan dengan penghasilan, belanja atau investasi, harusnya seseorang mengedepankan rasionalitas sehinggah hasil keputusannya tidak biasa. Salah satu prilaku keuangan yang tidak rasional dikenal dengan istilah mental accounting atau akuntansi mental.
Menurut Thaler (1985) Mental accounting adalah rangkaian operasi kognitif yang dipergunakan oleh individu maupun rumah tangga dalam mengkode, membuat kategori dan mengevaluasi aktivitas finansialnya. Orang yang mempraktikan akuntansi mental biasanya memperlakukan uangnya seperti halnya dalam pencatatan akuntansi, ada kecenderungan untuk memisahkan uang kedalam rekening yang terpisah (berbeda) berdasarkan kriteria subjektif, seperti sumber uang dan niat untuk setiap pengeluaranya. Menurut teori ini, individu menetapkan fungsi yang berbeda untuk masing-masing kelompok aset, yang sering memiliki efek yang tidak rasional dan merugikan pada keputusan mereka. Dalam mental acconting individu juga menentukan tingkat kegunaan yang berbeda pada setiap jenis pendapatan sehingga berpengaruh pada keputusan penggunaan uang mereka dalam kegiatan konsumsi. Misalnya orang akan cendrung menghabiskan uang yang diperoleh tanpa usaha keras seperti bonus, hadiah atau bantuan sosial.
Saai ini kita banyak menemukan orang/ kelompok yang berprilaku akuntansi mental dalam kehidupan sehari-sehari, namun meskipun banyak orang yang menggunakan akuntansi mental, mereka mungkin tidak menyadari betapa tidak logisnya pemikiran ini. Misalnya, orang sering memiliki ‘celengan’ atau dana yang disisihkan untuk liburan atau membeli rumah, namun disisi lain mereka masih membawa kartu kredit. Dalam hal ini, dari pada menabung untuk liburan, tindakan yang paling logis sebenarnya adalah dengan menggunakan dana yang berada di tabungan untuk melunasi hutang daripada menggunakan kartu kredit. Hal ini tampak cukup sederhana dan simpel tapi kenapa orang tidak berpikir seperti itu? Jawabannya terdapat pada nilai pribadi orang yang memiliki aset tersebut. Dalam contoh kasus seperti inilah faktor-faktor psikologis dan sosial mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang yang dalam teori keuangan dikenal dengan istilah prilaku keuangan (Finansial Behaviour)
Mental accounting tidak selalu menimbulkan kekeliruan, melainkan juga dapat menimbulkan kebaikan yaitu dapat memicu kontrol diri yang sangat berguna bagi kedisiplinan dalam mengelola keuangan. Salah satu contohnya adalah ketika seorang anak kos tetap konsisten membelanjakan uang dari gaji bulanan sesuai rencana maka tentu saja akan sangat bermanfaat karena terhindar dari perilaku boros. Pada point ini tentu saja mental accounting berpengaruh positif terhadap pengelolaan keuangan namun yang perlu dihindari adalah kekeliruan dalam memperlakukan uang karena perbedaan sumber.
1. Berbeda Sumber, Berbeda Prilaku Kondisi ini terjadi ketika orang-orang memperlakukan uang secara berbeda tergantung sumbernya. Contohnya, Individu cenderung “tidak merasa bersalah” saat membelanjakan penghasilan yang didapat dari bonus, dan bahkan terkadang membeli barang mahal yang belum pernah dibeli sebelumnya, dibandingkan dengan menggunakan uang yang didapat dari penghasilan rutin. Contoh lain misalnya ketika seorang karyawan mendapatkan THR, efek mental accounting akan menuntun pada pemikiran bahwa ini merupakan penghasilan tidak terduga atau dianggap sebagai “hadiah” sehinggah dibelanjakan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan. Kedua contoh ini menunjukan bagaimana akuntansi mental dapat menyebabkan penggunaan tidak logis terhadap uang. Secara logis, uang harusnya dipergunakan dengan cara yang sama, dialokasikan untuk hal yang sama dengan manfaat dan tujuan sama pula terlepas dari manapun asal-usulnya.
Memperlakukan uang secara berbeda karena berasal dari sumber yang berbeda merupakan pelanggaran terhadap premi logis. Bagaimanapun menghabiskan uang dengan asumsi sumber yang berbeda akan tetap menurunkan kekayaan Kita secara keseluruhan. Dalam kehidupan sehari-hari hal seperti ini sering sekali kita jumpai namun mirisnya kita tidak sadar bahwa kita sudah memperlakukan uang kita dengan tidak logis dan sebenarnya kita sudah terjebak dalam sebuah ruang yang disebut dengan akuntansi mental.
2. Bagaimana mengatasi akuntansi mental ? Penting bagi kita sebagai individu yang selalu berhubungan dengan pengambilan keputusan finansial dalam kehidupan sehari-hari untuk memahami efek dari mental accounting. Kita hendaknya menjadi lebih berhati-hati dan bijak untuk menentukan sikap terhadap keputusan finansial yang kita buat, agar terhindar dari penggunaan uang yang tidak rasional.
Kunci penting yang perlu dipertimbangkan untuk mengatasi efek akuntansi mental adalah harus ditanamkan pemahaman bahwa uang itu setara, terlepas dari manapun asal-usulnya atau penggunaan yang dimaksudkan, semua uang itu sama. Dengan pemahaman seperti ini keputusan keuangan kita akan lebih terarah pada hal-hal yang bersifat logis dan pastinya apa yang menjadi prioritas dalam pembiayaan akan bisa terealisasi.
Kita juga dapat mengurangi pengeluaran yang sembarangan, dengan menyadari bahwa menemukan uang tidak ada bedanya dengan menghasilkannya dari bekerja. Bonus tidak akan didapatkan ketika tidak menyandang status sebagai pekerja. Menyandang status pekerjapun belum tentu mendapatkan bonus. Perlu kerja keras disertai dengan krestivitas barulah terbuka kemungkinan untuk mendapatkannya. Oleh sebab itu ketika kita berhasil mendapatkan bonus sebaiknya dipergunakan dengan sebijak mungkin dengan tetap mempertimbangakan segala usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan sebelumnya.
Sebagai perpanjangan dari persepsi uang itu sama, individu juga sebaiknya menyadari bahwa menabung dengan bunga yang rendah atau tanpa bunga akan sia-sia jika memiliki hutang (dalam hal ini kartu kredit). Dalam banyak kasus, bunga atas hutang akan mengikis keuntungan yang dapat diperoleh dari rekening tabungan. Apalah artinya memiliki tabungan jika dalam kesempatan yang lain kita dikejar oleh bunga utang yang akumulasinya lebih besar dari bunga tabungan. Walaupun secara teorinya memiliki tabungan itu penting, tapi akan lebih masuk akal untuk menarik tabungan dan dipergunakan untuk melunasi hutang.
Uang yang diperoleh dari hasil kerja keras dan pengorbanan sebaiknya digunakan dengan pertimbangan yang rasional sehingga dapat berpengaruh positif untuk kehidupan pribadi atau keluarga. Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keuangan juga sebaiknya tidak dilakukan dalam kondisi yang tergesa-gesa sehingga menghasilkan keputusan tepat dan terukur serta terhindar dari prilaku keuangan yang tidak rasional. Dengan prilaku yang seperti itu maka kita akan terhindar dari jebakan akuntansi mental.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda