JurnalPost.com -- Mengapa negara yang tidak menghadapi persoalan kebakaran lahan gambut sebesar Indonesia justru turut terlibat dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan?
Bagi Indonesia, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah telah menjadi persoalan tahunan. Setiap musim kemarau, sejumlah wilayah menghadapi ancaman kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga perekonomian. Dalam beberapa kejadian, asap bahkan menyebar hingga ke negara-negara tetangga.
Di tengah persoalan yang terus berulang tersebut, terdapat salah satu mitra internasional yang kontribusinya belum banyak mendapat perhatian, yakni Jepang.
Sejak 1996, melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), Jepang telah terlibat dalam berbagai upaya penanganan karhutla di Indonesia, mulai dari pemantauan titik panas hingga penelitian dan pengelolaan lahan gambut.
Lantas, apa saja yang telah dilakukan Jepang dan pelajaran apa yang dapat diambil Indonesia dari kerja sama tersebut?
Dua Dekade Kerja Sama Jepang dalam Penanganan Karhutla
Kerja sama Jepang dan Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan berlangsung hampir dua dekade, yakni sejak 1996 hingga 2015. Kerja sama tersebut dilaksanakan melalui empat fase, sebagaimana dipaparkan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2016.
Pada tahap awal, kerja sama berfokus pada pengembangan sistem peringatan dini, deteksi titik panas (hotspot), serta pemetaan wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi.
Seiring berjalannya waktu, program tersebut berkembang dengan mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, serta pencegahan kebakaran berbasis masyarakat, termasuk di kawasan lahan gambut.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memadamkan api, tetapi juga dengan kesiapan sistem pencegahan sebelum kebakaran terjadi.
Mengapa Peneliti Jepang Meneliti Lahan Gambut Kalimantan?
Selain melalui kerja sama teknis, Jepang turut berkontribusi dalam pengembangan penelitian ilmiah mengenai kebakaran hutan dan pengelolaan lahan gambut di Indonesia.
Universitas Hokkaido, JICA, dan Japan Science and Technology Agency (JST) bekerja sama dengan sejumlah lembaga Indonesia, termasuk Universitas Palangka Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Kerja sama penelitian yang dimulai pada 2008 tersebut berfokus pada kebakaran dan pengelolaan karbon gambut di Kalimantan Tengah.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem pemantauan kebakaran, memahami dinamika karbon pada ekosistem gambut, serta mendukung pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan.
Keterlibatan para peneliti Jepang memperlihatkan bahwa persoalan kebakaran gambut Indonesia juga memiliki dimensi lingkungan global. Kebakaran dan kerusakan gambut tidak hanya berdampak terhadap masyarakat sekitar, tetapi juga berkaitan dengan pelepasan karbon ke atmosfer.
Kebakaran Gambut dan Pentingnya Menjaga Air Tanah
Salah satu aspek penting dalam pencegahan kebakaran gambut adalah pengelolaan muka air tanah.
Penelitian Takashi Hirano dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology pada 2014 menunjukkan adanya hubungan antara penurunan muka air tanah dan peningkatan emisi karbon dioksida akibat penguraian gambut.
Lokasi penelitian di Kalimantan Tengah juga tercatat kehilangan sekitar 0,7 meter lapisan gambut bagian atas akibat dua peristiwa kebakaran.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa gambut yang mengalami pengeringan tidak hanya menjadi lebih rentan terbakar, tetapi juga dapat terus melepaskan karbon meskipun tidak sedang mengalami kebakaran.
Karena itu, pengelolaan tata air untuk mempertahankan kelembapan gambut menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pencegahan karhutla.
Pengendalian muka air tanah, pemantauan kondisi lahan, dan pemulihan kawasan gambut yang mengalami kerusakan perlu dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah.
Tiga Pelajaran Penting bagi Indonesia
Pada 2016, JICA juga memaparkan rencana program pencegahan karhutla berbasis masyarakat untuk periode 2017–2022.
Program tersebut direncanakan mencakup enam provinsi, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Ruang lingkupnya meliputi penguatan kapasitas pengendalian kebakaran, pengembangan desa bebas api, serta pengelolaan gambut dan tata air.
Dari pengalaman kerja sama Indonesia dan Jepang tersebut, terdapat tiga pelajaran penting yang dapat menjadi perhatian.
Pertama, pencegahan harus menjadi prioritas.
Pemadaman kebakaran tetap diperlukan ketika api muncul. Namun, upaya tersebut harus diimbangi dengan pengawasan, pemantauan, dan pengelolaan lahan sejak dini agar kebakaran tidak meluas.
Kedua, data ilmiah harus diterapkan dalam tindakan di lapangan.
Informasi mengenai titik panas, tingkat kerawanan kebakaran, serta kondisi muka air gambut seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan dan tindakan cepat oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.
Ketiga, masyarakat membutuhkan alternatif pengelolaan lahan tanpa pembakaran.
Edukasi mengenai bahaya karhutla perlu disertai pendampingan dan dukungan sarana agar petani memiliki pilihan yang layak untuk mengelola lahan tanpa menggunakan api.
Ketiga pelajaran tersebut memperlihatkan pentingnya menghubungkan penelitian ilmiah, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat dalam satu sistem pencegahan yang berkelanjutan.
Bantuan Internasional Tidak Menggantikan Tanggung Jawab Indonesia
Pengalaman kerja sama Indonesia dan Jepang menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan ilmu pengetahuan, tata kelola yang baik, serta keterlibatan masyarakat.
Namun, tantangan terbesar Indonesia bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut secara konsisten.
Selama pembukaan lahan dengan cara membakar masih dilakukan dan pengelolaan tata air gambut belum berjalan optimal, risiko kebakaran akan tetap ada.
Bantuan internasional dapat memperkuat kapasitas penanganan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab Indonesia untuk mencegah kebakaran sejak awal.
Langkah konkret perlu dimulai dari pengelolaan tata air gambut yang sesuai dengan kondisi setempat, penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar bagi petani, serta penguatan sistem peringatan dini hingga tingkat desa.
Penyekatan kanal, misalnya, dapat menjadi salah satu upaya pembasahan kembali gambut pada lokasi yang sesuai. Sementara itu, pendampingan dan dukungan sarana diperlukan agar masyarakat mampu menerapkan praktik pengelolaan lahan yang lebih aman.
Dalam konteks ini, Jepang dapat berperan sebagai mitra dalam pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Adapun arah kebijakan dan pelaksanaannya tetap menjadi tanggung jawab Indonesia.
Pencegahan Karhutla Membutuhkan Keterlibatan Semua Pihak
Pencegahan karhutla tidak dapat dibebankan hanya kepada satu lembaga atau kelompok masyarakat.
Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa program pencegahan berjalan secara berkelanjutan, bukan sekadar menjadi respons ketika kebakaran telah terjadi.
Di sisi lain, masyarakat dapat berkontribusi dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, serta segera melaporkan indikasi kebakaran kepada petugas yang berwenang.
Upaya tersebut juga perlu didukung pengawasan dan penegakan hukum secara konsisten agar praktik yang meningkatkan risiko kebakaran dapat dikendalikan.
Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan mitra internasional menjadi penting untuk memastikan bahwa hasil penelitian dan pengalaman penanganan kebakaran benar-benar diterapkan di lapangan.
Musim kemarau akan kembali datang, tetapi kebakaran hutan dan lahan tidak seharusnya terus menjadi persoalan yang berulang setiap tahun.
Indonesia perlu membuktikan bahwa pengalaman panjang dan kerja sama internasional yang telah dilakukan mampu menghasilkan perubahan nyata.
Pelajaran dari Jepang menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, melainkan juga dari seberapa efektif kebakaran dapat dicegah sebelum terjadi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda