Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Bangkrut hingga Harus Mulai dari Nol, Derra Pratama Kini Banting Setir Jadi TikTok Affiliate

  2. Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an: Dari Hafalan Para Sahabat hingga Lahirnya Mushaf Utsmani

  3. Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, Mengapa Masyarakat Masih Merasakan Tekanan Ekonomi?

  4. Mengenal Styphelia javanica, Semak Xerofit yang Mampu Bertahan di Tengah Kekeringan Savana Bromo

  5. Ketika Ilmu Kehilangan Adab: Pentingnya Pendidikan Akhlak Sejak Usia Dini dalam Tradisi Pesantren

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Belajar dari Negeri Sakura: Bisakah Jepang Membantu Indonesia Memadamkan Karhutla?

Belajar dari Negeri Sakura: Bisakah Jepang Membantu Indonesia Memadamkan Karhutla?

V
Penulis: Vanessa Putri Quintan | Universitas Airlangga
07 November 2026, 22.56 WITA Editor: Gilang Pamungkas
07 Nov 2026, 22.56 WITA · 6 menit baca
6 menit baca
JICA Firefighters Combat Smoky Peatland Blaze
Ilustrasi kerja sama Indonesia dan Jepang dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melalui pemantauan kondisi lahan gambut dan upaya pemadaman kebakaran.

JurnalPost.com -- Mengapa negara yang tidak menghadapi persoalan kebakaran lahan gambut sebesar Indonesia justru turut terlibat dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan?

Bagi Indonesia, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah telah menjadi persoalan tahunan. Setiap musim kemarau, sejumlah wilayah menghadapi ancaman kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga perekonomian. Dalam beberapa kejadian, asap bahkan menyebar hingga ke negara-negara tetangga.

IKLAN

Di tengah persoalan yang terus berulang tersebut, terdapat salah satu mitra internasional yang kontribusinya belum banyak mendapat perhatian, yakni Jepang.

asap
Baca Juga

Rakyat Meminta Tolong! Kalimantan Dibakar, Bukan Terbakar

Sejak 1996, melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), Jepang telah terlibat dalam berbagai upaya penanganan karhutla di Indonesia, mulai dari pemantauan titik panas hingga penelitian dan pengelolaan lahan gambut.

Lantas, apa saja yang telah dilakukan Jepang dan pelajaran apa yang dapat diambil Indonesia dari kerja sama tersebut?

Dua Dekade Kerja Sama Jepang dalam Penanganan Karhutla

Kerja sama Jepang dan Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan berlangsung hampir dua dekade, yakni sejak 1996 hingga 2015. Kerja sama tersebut dilaksanakan melalui empat fase, sebagaimana dipaparkan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2016.

Pada tahap awal, kerja sama berfokus pada pengembangan sistem peringatan dini, deteksi titik panas (hotspot), serta pemetaan wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Seiring berjalannya waktu, program tersebut berkembang dengan mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas melalui pelatihan, serta pencegahan kebakaran berbasis masyarakat, termasuk di kawasan lahan gambut.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memadamkan api, tetapi juga dengan kesiapan sistem pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

Mengapa Peneliti Jepang Meneliti Lahan Gambut Kalimantan?

Selain melalui kerja sama teknis, Jepang turut berkontribusi dalam pengembangan penelitian ilmiah mengenai kebakaran hutan dan pengelolaan lahan gambut di Indonesia.

Universitas Hokkaido, JICA, dan Japan Science and Technology Agency (JST) bekerja sama dengan sejumlah lembaga Indonesia, termasuk Universitas Palangka Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Forest Resilience  Fire, People, Renewal
Baca Juga

Bangkit dari Kobaran Api: Pengembaraan Memadamkan Api dan Menghijaukan Kembali Hutan Kita

Kerja sama penelitian yang dimulai pada 2008 tersebut berfokus pada kebakaran dan pengelolaan karbon gambut di Kalimantan Tengah.

Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem pemantauan kebakaran, memahami dinamika karbon pada ekosistem gambut, serta mendukung pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan.

Keterlibatan para peneliti Jepang memperlihatkan bahwa persoalan kebakaran gambut Indonesia juga memiliki dimensi lingkungan global. Kebakaran dan kerusakan gambut tidak hanya berdampak terhadap masyarakat sekitar, tetapi juga berkaitan dengan pelepasan karbon ke atmosfer.

Kebakaran Gambut dan Pentingnya Menjaga Air Tanah

Salah satu aspek penting dalam pencegahan kebakaran gambut adalah pengelolaan muka air tanah.

Penelitian Takashi Hirano dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology pada 2014 menunjukkan adanya hubungan antara penurunan muka air tanah dan peningkatan emisi karbon dioksida akibat penguraian gambut.

Lokasi penelitian di Kalimantan Tengah juga tercatat kehilangan sekitar 0,7 meter lapisan gambut bagian atas akibat dua peristiwa kebakaran.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa gambut yang mengalami pengeringan tidak hanya menjadi lebih rentan terbakar, tetapi juga dapat terus melepaskan karbon meskipun tidak sedang mengalami kebakaran.

Karena itu, pengelolaan tata air untuk mempertahankan kelembapan gambut menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pencegahan karhutla.

Pengendalian muka air tanah, pemantauan kondisi lahan, dan pemulihan kawasan gambut yang mengalami kerusakan perlu dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah.

Tiga Pelajaran Penting bagi Indonesia

Pada 2016, JICA juga memaparkan rencana program pencegahan karhutla berbasis masyarakat untuk periode 2017–2022.

Program tersebut direncanakan mencakup enam provinsi, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Ruang lingkupnya meliputi penguatan kapasitas pengendalian kebakaran, pengembangan desa bebas api, serta pengelolaan gambut dan tata air.

IKLAN

Dari pengalaman kerja sama Indonesia dan Jepang tersebut, terdapat tiga pelajaran penting yang dapat menjadi perhatian.

Pertama, pencegahan harus menjadi prioritas.

Pemadaman kebakaran tetap diperlukan ketika api muncul. Namun, upaya tersebut harus diimbangi dengan pengawasan, pemantauan, dan pengelolaan lahan sejak dini agar kebakaran tidak meluas.

Kedua, data ilmiah harus diterapkan dalam tindakan di lapangan.

Informasi mengenai titik panas, tingkat kerawanan kebakaran, serta kondisi muka air gambut seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan dan tindakan cepat oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

Ketiga, masyarakat membutuhkan alternatif pengelolaan lahan tanpa pembakaran.

Edukasi mengenai bahaya karhutla perlu disertai pendampingan dan dukungan sarana agar petani memiliki pilihan yang layak untuk mengelola lahan tanpa menggunakan api.

Ketiga pelajaran tersebut memperlihatkan pentingnya menghubungkan penelitian ilmiah, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat dalam satu sistem pencegahan yang berkelanjutan.

Bantuan Internasional Tidak Menggantikan Tanggung Jawab Indonesia

Pengalaman kerja sama Indonesia dan Jepang menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan ilmu pengetahuan, tata kelola yang baik, serta keterlibatan masyarakat.

Namun, tantangan terbesar Indonesia bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut secara konsisten.

Selama pembukaan lahan dengan cara membakar masih dilakukan dan pengelolaan tata air gambut belum berjalan optimal, risiko kebakaran akan tetap ada.

Bantuan internasional dapat memperkuat kapasitas penanganan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab Indonesia untuk mencegah kebakaran sejak awal.

Langkah konkret perlu dimulai dari pengelolaan tata air gambut yang sesuai dengan kondisi setempat, penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar bagi petani, serta penguatan sistem peringatan dini hingga tingkat desa.

Penyekatan kanal, misalnya, dapat menjadi salah satu upaya pembasahan kembali gambut pada lokasi yang sesuai. Sementara itu, pendampingan dan dukungan sarana diperlukan agar masyarakat mampu menerapkan praktik pengelolaan lahan yang lebih aman.

Dalam konteks ini, Jepang dapat berperan sebagai mitra dalam pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Adapun arah kebijakan dan pelaksanaannya tetap menjadi tanggung jawab Indonesia.

Pencegahan Karhutla Membutuhkan Keterlibatan Semua Pihak

Pencegahan karhutla tidak dapat dibebankan hanya kepada satu lembaga atau kelompok masyarakat.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa program pencegahan berjalan secara berkelanjutan, bukan sekadar menjadi respons ketika kebakaran telah terjadi.

Di sisi lain, masyarakat dapat berkontribusi dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, serta segera melaporkan indikasi kebakaran kepada petugas yang berwenang.

Upaya tersebut juga perlu didukung pengawasan dan penegakan hukum secara konsisten agar praktik yang meningkatkan risiko kebakaran dapat dikendalikan.

Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan mitra internasional menjadi penting untuk memastikan bahwa hasil penelitian dan pengalaman penanganan kebakaran benar-benar diterapkan di lapangan.

Musim kemarau akan kembali datang, tetapi kebakaran hutan dan lahan tidak seharusnya terus menjadi persoalan yang berulang setiap tahun.

Indonesia perlu membuktikan bahwa pengalaman panjang dan kerja sama internasional yang telah dilakukan mampu menghasilkan perubahan nyata.

Pelajaran dari Jepang menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, melainkan juga dari seberapa efektif kebakaran dapat dicegah sebelum terjadi.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/belajar-dari-negeri-sakura-bisakah-jepang-membantu-indonesia-memadamkan-karhutla/98583/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026, 23.03 WITA

  • #JICA
  • #Jepang
  • #Kebakaran Hutan
  • #Kerja Sama Internasional
  • #Lingkungan
  • #kalimantan
  • #karhutla
  • #lahan gambut

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, Mengapa Masyarakat Masih Merasakan Tekanan Ekonomi?

Menyelamatkan Satu Kehidupan, Menyalakan Sejuta Harapan: Memaknai Pengabdian Kemanusiaan

Mengokohkan Seni dan Budaya sebagai Bahasa Kemanusiaan Universal untuk Membangun Solidaritas Dunia

Mengapa Transparansi Dana Penting bagi Organisasi Mahasiswa?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Di Balik Papan Tulis, Ada Perjuangan Memahami Setiap Anak: Potret Pembelajaran di SDN Ciptaharja

Telkom University Hadirkan Teknologi IoT untuk Pantau Kesuburan Tanah Petani di Banyumas

Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

Universitas Negeri Malang Hadirkan ElectroRace Kit untuk Pembelajaran IPA di MTs Sunan Kalijogo

Pilihan Editor

  1. 1 Sempat Kesulitan Menggunakan BRImo, Nasabah Umi Apresiasi Pelayanan BRI Cabang Bojonegoro
  2. 2

    82,4 Persen Guru Sangat Membutuhkan Flipbook Berbasis Pembelajaran Mendalam untuk Mendukung Kurikulum Merdeka

  3. 3

    Mahasiswa Magang Turut Berkontribusi dalam Penyelenggaraan MTQ ke-32 Kabupaten Tuban 2026

  4. 4

    Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

  5. 5

    Berkarya dengan Teknologi: Mengembangkan Kreativitas dan Nilai Produk Bersama Anak-Anak Jolosutro

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.