Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Praktik “Orang Dalam”: 4 Langkah Mencegah Ketidakadilan dalam Rekrutmen Organisasi Mahasiswa

  2. Mempersiapkan Santri Menghadapi Dunia Kerja Digital, Pesantren Perlu Perkuat Keterampilan Teknologi

  3. Mengapa Transparansi Dana Penting bagi Organisasi Mahasiswa?

  4. Ketoprak Sedap Malam di Cirebon Jual 35 Porsi Sehari, Ini Hasil Kajian Kelayakan Usahanya

  5. Dukung Pengamanan Objek Vital Nasional, Semen Tonasa Jadi Lokasi Latihan Hanud Pasif

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Di Solo, Klakson Motor Lebih Sering Dipakai untuk Menyapa Teman daripada Menghindari Tabrakan

Di Solo, Klakson Motor Lebih Sering Dipakai untuk Menyapa Teman daripada Menghindari Tabrakan

R
Penulis: Radhosa Adam Wibagso
06 November 2026, 00.51 WITA Editor: Gilang Pamungkas
6 menit baca
Solo Dusk Traffic Beneath the Monument
Keterangan Foto: Suasana lalu lintas di kawasan Tugu Keris, Kota Solo, Jawa Tengah, dengan sejumlah pengendara sepeda motor melintas. Budaya kesantunan masyarakat Solo menjadi sorotan dalam penggunaan klakson sebagai alat komunikasi dan peringatan keselamatan di jalan raya. (Ilustrasi/JurnalPost)

JurnalPost.com - Solo dikenal sebagai kota yang lekat dengan budaya kesantunan. Masyarakatnya kerap digambarkan memiliki karakter halus, tidak terburu-buru, serta mengedepankan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut tidak hanya terlihat dalam interaksi sosial, tetapi juga tercermin dalam kebiasaan masyarakat ketika berkendara di jalan raya.

Bagi sebagian pengendara dari luar daerah, lalu lintas di Solo mungkin menghadirkan pengalaman yang cukup berbeda. Di tengah padatnya kendaraan, suara klakson tidak selalu terdengar bersahutan. Jalanan yang relatif tenang seolah menjadi gambaran bagaimana budaya sopan santun turut memengaruhi perilaku berkendara.

IKLAN

Namun, di balik ketenangan tersebut, muncul persoalan menarik yang patut direnungkan. Apakah minimnya penggunaan klakson benar-benar mencerminkan tingginya kesadaran berlalu lintas, atau justru menunjukkan adanya keengganan untuk memberikan peringatan kepada pengendara lain?

Panorama Danau Gegas dan bendungan di Musi Rawas, Sumatera Selatan.
Baca Juga

Danau Gegas di Musi Rawas, Menanamkan Pendidikan Karakter melalui Kearifan Lokal

Ketika Klakson Berubah Menjadi Alat Menyapa

Pada dasarnya, klakson merupakan perangkat komunikasi yang memiliki fungsi penting dalam keselamatan berkendara. Bunyi klakson dapat digunakan untuk memberikan peringatan ketika terdapat potensi bahaya, terutama apabila keberadaan kendaraan tidak terlihat oleh pengguna jalan lainnya.

Akan tetapi, dalam pengamatan terhadap kebiasaan berkendara di Solo, klakson terkadang memiliki fungsi sosial yang lebih menonjol.

Tidak jarang pengendara membunyikan klakson singkat ketika berpapasan dengan teman, saudara, atau tetangga. Bunyi tersebut menjadi bentuk sapaan sederhana tanpa harus menghentikan kendaraan atau membuka percakapan.

Satu kali bunyi pendek sudah cukup untuk menyampaikan pesan bahwa seseorang telah melihat dan mengenali orang yang ditemuinya di jalan.

Pengendara menggunakan ponsel saat berhenti di lampu merah, ilustrasi pelanggaran lalu lintas.
Baca Juga

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Menariknya, kebiasaan membunyikan klakson juga dapat dijumpai ketika sebagian pengendara melewati lokasi yang dianggap wingit atau memiliki kesan angker, seperti jembatan tertentu, kawasan pemakaman, maupun tempat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Dalam konteks tersebut, klakson tidak lagi semata-mata dipahami sebagai alat keselamatan, tetapi juga memperoleh makna sosial dan kultural.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebuah perangkat kendaraan dapat mengalami pergeseran fungsi sesuai dengan kebiasaan serta nilai yang berkembang di lingkungan masyarakat.

Rasa Sungkan yang Berpotensi Mengabaikan Keselamatan

Budaya menjaga perasaan orang lain tentu merupakan nilai positif. Namun, penerapannya dalam berlalu lintas perlu ditempatkan secara proporsional.

Parkit Liar
Baca Juga

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Dalam beberapa situasi, membunyikan klakson untuk memperingatkan pengendara lain justru dapat dianggap sebagai bentuk ketidaksabaran. Ada kekhawatiran bahwa teguran melalui bunyi klakson akan dipersepsikan sebagai tindakan kasar atau memancing konflik.

Akibatnya, sebagian pengendara mungkin lebih memilih diam meskipun melihat tindakan yang berpotensi membahayakan.

Misalnya, ketika kendaraan di depan tiba-tiba berpindah lajur tanpa memberikan tanda, pengendara lain bisa saja enggan membunyikan klakson karena tidak ingin menimbulkan ketegangan.

Begitu pula ketika menghadapi kendaraan yang memotong jalan secara mendadak, berhenti sembarangan, atau melakukan manuver yang sulit diperkirakan.

Apabila kebiasaan tersebut terus dibiarkan, ada risiko bahwa perilaku berkendara yang tidak tertib justru dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, keselamatan lalu lintas membutuhkan komunikasi yang jelas, kewaspadaan, dan keberanian memberikan peringatan ketika memang diperlukan.

Sikap sungkan tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Kesantunan Tidak Harus Berarti Diam

Salah satu situasi yang menarik untuk diamati adalah ketika dua pengendara saling menunggu saat hendak berbelok atau melintasi persimpangan.

IKLAN

Keduanya mungkin berusaha menunjukkan sikap saling menghormati dengan memberikan kesempatan kepada pihak lain. Namun, tanpa komunikasi dan keputusan yang jelas, keadaan tersebut justru dapat menimbulkan keraguan.

Pengendara akhirnya berusaha menebak siapa yang akan bergerak terlebih dahulu.

Dalam kondisi tertentu, keraguan semacam ini berpotensi menghambat arus kendaraan, bahkan menciptakan situasi berbahaya apabila salah satu pihak tiba-tiba mengambil keputusan.

Tentu saja, klakson bukan solusi untuk seluruh persoalan lalu lintas. Penggunaan lampu sein, pengaturan kecepatan, menjaga jarak aman, serta kepatuhan terhadap rambu tetap menjadi hal utama.

Namun, ketika terdapat potensi benturan atau kendaraan lain tidak menyadari keberadaan kita, bunyi klakson singkat dapat menjadi bentuk peringatan yang diperlukan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara penggunaan klakson secara agresif dan penggunaan klakson untuk keselamatan.

Membunyikan klakson berulang kali karena kesal jelas berbeda dengan memberikan peringatan singkat untuk menghindari kecelakaan.

Kesantunan seharusnya tidak diukur dari seberapa jarang seseorang membunyikan klakson, tetapi dari bagaimana ia menggunakan seluruh perangkat kendaraan secara bertanggung jawab.

Mengembalikan Fungsi Klakson Tanpa Menghilangkan Budaya Solo

Ketenangan lalu lintas merupakan salah satu hal yang patut dijaga. Tidak ada alasan untuk mengubah jalanan Solo menjadi ruang yang dipenuhi kebisingan dan perilaku berkendara agresif.

Namun, mempertahankan budaya kesantunan juga tidak berarti mengabaikan aspek keselamatan.

Masyarakat perlu memahami bahwa memberikan peringatan kepada pengendara lain bukanlah tindakan yang otomatis mencerminkan ketidaksopanan.

Sebaliknya, dalam situasi yang tepat, peringatan tersebut justru merupakan wujud kepedulian terhadap keselamatan bersama.

Identitas masyarakat Solo yang dikenal ramah dan santun dapat berjalan beriringan dengan kedisiplinan berlalu lintas.

Pengendara tetap dapat menghormati orang lain tanpa harus ragu memberikan sinyal bahaya. Begitu pula penerima peringatan seharusnya tidak langsung menganggap bunyi klakson sebagai bentuk kemarahan atau serangan pribadi.

Perubahan cara pandang ini penting agar budaya sungkan tidak berkembang menjadi kebiasaan mengabaikan risiko.

Pada akhirnya, klakson memang dapat menjadi bagian dari interaksi sosial. Tidak ada yang salah dengan sapaan singkat kepada teman selama dilakukan secara wajar dan tidak mengganggu pengguna jalan lain.

Namun, fungsi utamanya sebagai perangkat keselamatan tidak boleh terlupakan.

Jalan raya bukan hanya ruang untuk menunjukkan keramahan, melainkan juga tempat setiap orang memiliki tanggung jawab melindungi dirinya sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Karena itu, sudah saatnya masyarakat memaknai kesantunan berkendara secara lebih luas. Menjadi pengendara yang sopan bukan berarti harus selalu diam, melainkan memahami kapan harus mengalah, kapan harus berhati-hati, dan kapan perlu memberikan peringatan.

Sebab, keselamatan di jalan raya jauh lebih penting daripada sekadar menjaga kesan sebagai pengendara yang halus dan tidak pernah membunyikan klakson.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/di-solo-klakson-motor-lebih-sering-dipakai-untuk-menyapa-teman-daripada-menghindari-tabrakan/98562/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 06 November 2026, 01.06 WITA

  • #Budaya Lokal
  • #Keselamatan Berkendara
  • #Lalu Lintas
  • #Solo
  • #kesantunan
  • #klakson motor

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Praktik “Orang Dalam”: 4 Langkah Mencegah Ketidakadilan dalam Rekrutmen Organisasi Mahasiswa

Mempersiapkan Santri Menghadapi Dunia Kerja Digital, Pesantren Perlu Perkuat Keterampilan Teknologi

Ketoprak Sedap Malam di Cirebon Jual 35 Porsi Sehari, Ini Hasil Kajian Kelayakan Usahanya

Jujur Dimulai dari Meja Kasir: Merancang Gerakan Kejujuran dari Kebiasaan Kecil Mahasiswa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Tarbiyah vs Taklim: Mengapa Santri Lebih Butuh Dididik daripada Sekadar Diajari?

Peneliti FMIPA Universitas Negeri Malang Ungkap 4.126 Varian Bakteri Usus Katak Sawah di Kawasan Pertanian

Merawat Payung Enam Warna: Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman Batak

Darah Kembali Menetes di Tanah Rencong, Insiden Pulo Kenari Pidie Tewaskan Satu Warga

Pilihan Editor

  1. 1 Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah
  2. 2

    Telkom University Hadirkan Teknologi IoT untuk Pantau Kesuburan Tanah Petani di Banyumas

  3. 3

    Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. 4

    Kemenag Latih 1.207 PPPK Penghulu, Perkuat Kualitas Layanan Umat

  5. 5

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.