Oleh : KADEK WIDANA, S.E. (Mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)
JurnalPost - Dalam situasi pandemi sekarang ini yang diikuti dengan penerapan social distancing khususnya untuk wilayah Provinsi Bali yang sudah memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 yang diperpanjang hingga 18 Oktober 2021sesuai Inmendagri nomor 47 tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3, Level 2, dan Level 1 Corona Virus Disease 2019 untuk wilayah Jawa dan Bali, memunculkan perilaku konsumen baru, tetapi di satu sisi ternyata membuka peluang bagi bisnis perbankan, finansial, dan online shop untuk memacu pemasaran. Hal itu terungkap dari beberapa penyedia jasa keuangan dan pelaku usaha konvensional yang mulai beralih kedalam bentuk pemasaran modern atau berbasis IT.
Para pelaku usaha tersebut, dapat memanfaatkan ruang digital untuk melakukan promosi kepada pengguna loyal, bahkan menjangkau pengguna baru. Pada saat seperti ini, mayoritas masyarakat cenderung memilih transaksi cashless demi menjaga kesehatan. Pandemi COVID-19 memang menyebabkan kepanikan di pasar keuangan. Banyak Bisnis yang merasakan dampak dari situasi ini, misalnya travel, hospitality, study, makanan dan minuman, otomotif, serta hiburan. Dalam situasi seperti ini, banyak perusahaan dan brand menahan aktivitas pemasarannya untuk sementara waktu. Beberapa bahkan menahan aktivitas tersebut hingga situasi mulai normal dan terkendali. Hal ini menyebabkan berkurangnya aktivitas pemasaran secara umum.
Sebetulnya, brand dapat memanfaatkan situasi ini untuk membentuk kebiasaan baru, serta mengubah channel komunikasi dan penjualannya ke ruang digital. Kebiasaan baru yang terbentuk ini akan tetap bertahan meskipun situasi kembali normal. Dengan ditutupnya mayoritas pusat perbelanjaan, belanja online menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan, mulai dari harian hingga hobi. Melihat minat belanja yang tidak reda, hal ini membuka peluang bagi jasa keuangan dan bisnis baru berbasis IT. Apalagi, beberapa platform jual beli online menganjurkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi secara cashless dengan memanfaat servis pembayaran seperti kartu kredit, transfer, atau e-wallet. Jadi, ini merupakan saat yang tepat bagi bisnis e-commerce dan online shop untuk menggenjot pemasaran.
Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan para ahli ekonomi, salah satunya adalah Prof. Daniel Kahneman – Bank of Sweden Prize in Economic Sciences in Memory of Alfred Nobel 2002, dengan karya yang pertama Integrasi riset psikologi dan ilmu ekonomi yang berkaitan dengan human judgment dan pembuatan keputusan di bawah situasi dan kondi ketidak pastian. Dan yang kedua karya berupa Teori Harapan (prospect theory) – Amos Tversky (1996). Selanjutnya Prof. Daniel Kahneman juga menyampaikan beberapa konsep ekonomi yang berkaitan dengan situasi saat ini, diantaranya ;
1. Dibawah kondisi-kondisi yang tidak menentu, keputusan-keputusan manusia secara sistematis dating dari apa yang diprediksikan dengan teori ekonomi yang standar. 2. Teori prospek memberikan suatu perhitungan harapan yang lebih baik dari perilaku. 3. Pertimbangan manusia bias mengambil jalan pintas heuristic yang secara sistematis menyimpang dari prinsip-prinsip dasar probabilitas. (*D. Agus Harjito/Keuangan Perilaku-Menganalisis keputusan investor).
Selanjutnya, berdasarkan data yang dikumpulkan, rata-rata penurunan kunjungan di beberapa pusat perbelanjaan, lebih dari 50 persen dibandingkan dengan awal tahun 2020. COVID-19 mengubah kehidupan kita serta merubah perilaku keuangan kita dalam mengambil keputusan secara ekonomi. Dalam situasi ini, kita lebih memilih untuk berdiam di rumah dibandingkan dengan bepergian. Social distancing juga membuat kita banyak menghabiskan waktu di ruang digital baik untuk bekerja, berkomunikasi, belanja, atau sekadar mencari hiburan. Di Bali, situasi pandemi dan social distancing memunculkan beberapa perilaku baru, misalnya, the adaptive shopper dan working-from-home. Perubahan ini terlihat dari penggunaan aplikasi belanja dan e-commerce sepanjang awal tahun 2021 sampai dengan sekarang. Hal tersebut dikuatkan dengan data dari Bank Indonesia Provinsi Bali yang mencatat nilai transaksi digital di Pulau Dewata pada saat Pandemi Covid-19 ini mengalami peningkatan. “Khususnya, transaksi digital dengan Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS) dimana tercatat sepanjang 2021 rata-rata nominal transaksi penggunaan QRIS Rp 30 milyar setiap bulanya dengan rata-rata transaksi sebanyak 376 ribu transaksi” (Suber: Bisnis Bali/*dik). Aplikasi yang banyak digunakan adalah aplikasi belanja yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari serta aplikasi khusus jual beli barang bekas.
Masyarakat Bali, terutama kelas menengah dan atas, telah beradaptasi dengan dunia baru ini. Mereka beralih ke cara-cara baru untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dalam situasi ini, hanya beberapa bidang pekerjaan yang menganggap, working-from-home sama seperti bekerja pada situasi normal. Karena mayoritas masyarakat di Bali mengandalkan pekerjaan di bidang pariwisata, selebihnya bekerja di bidang pertanian, perkebunan, kelautan dan perdangangan yang menuntut aktivitas untuk tetap berada di luar rumah. Khusus untuk bidang perdagangan, sudah mulai beralih ke system perdanggangan online. Namun demikian tinggkat penggunaan media online tersebut belum mencapai tingkat yang optimal. Salah satu alasan, hal tersebut dikarenakan, tingkat sumber daya manusia di bidang IT masih rendah. Bagi pedangang konvensional, penggunaan media online masih tergolong hal baru. Sebagian besar pengguna e-commerce dan online shop menggunakan platform-platform besar yang sudah tersedia di aplikasi maupun dalam bentuk web-site. Meskipun penggunaan media social seperti facebook, what’s up, Instagram dan telegram memiliki peran penting dalam pola pemasaran yang baru seperti saat ini.
Komunikasi pemasaran harus tetap dilakukan untuk menjaga posisi sebuah produk di benak konsumen. Dengan tetap menjaga posisi tersebut, akan lebih mudah bagi produk atau perusahaan untuk melakukan pemulihan bisnis pada saat situasi kembali normal. Serta menumbuhkan model-model bisnis dan model pekerjaan dalam bidang yang baru.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda