
JurnalPost - Tembakau merupakan salah satu hasil pertanian yang ada di Kabupaten Temanggung. Temanggung, kota dengan julukan kota tembakau ini memiliki kualitas tembakau yang lebih baik daripada kota lainnya. Mengapa tembakau Temanggung bisa dikatakan lebih berkualitas dibandingkan daerah lain? Karena tanah di daerah Temanggung paling baik, sebab berada di lereng gunung dan terdapat banyak kerikil yang cocok untuk menanam tembakau.
“Tembakau di sini bisa dibilang tembakau dengan kualitas baik khususnya tembakau dari Desa Lamuk,” kata Ika salah satu petani di Desa Krembiyangan, Kelurahan Pandemulyo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung (3/10/2021).
Selain Temanggung, wilayah lain di Indonesia yang menanam tembakau di antaranya, Lombok yang wilayahnya sangat subur untuk pertanian tembakau. Jenis tembakau yang dihasilkan yaitu tembakau Senang untuk membuat rokok kretek. Selanjutnya Madura di Kabupaten Pamekasan. Jenis tembakaunya yaitu tembakau Campalok. Lalu Jember, jenis tembakau yang dihasilkan adalah tembakau Besuki na-oogst dengan aroma yang khas dan elastis sehingga sangat pas untuk menjadi bungkus cerutu.
Untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas yang baik diperlukan beberapa serangkaian proses. Proses tersebut dimulai dari menyiapkan media tanam hingga menjadi tembakau yang siap dijual.
“Hal pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan media tanam. Setelah media tanam siap, bibit tembakau ditanam dan disiram agar tanah lembab. Setelah tembakau berumur kurang lebih 100 hari dari masa tanam, tembakau dipetik dari paling bawah, di mana setiap pohon diambil dua lembar. Kemudian daun tembakau ditata dan didiamkan selama kurang lebih tiga malam. Langkah selanjutnya daun tembakau digulung sesuai ukuran mesin pemotong, dirajang dan dicampur dengan gula pasir secukupnya. Lalu daun tembakau ditata di atas rigen (alas yang terbuat dari anyaman bambu). Setelah itu dijemur seharian sampai kering. Setelah dijemur, tembakau disusun kemudian didiamkan semalaman agar aroma tembakau keluar secara alami. Setelah itu tembakau diyem (didiamkan agar tembakau tidak keras, sehingga tidak rusak saat digulung) lalu digulung dan disusun di atas rigen. Langkah terakhir dimasukkan ke dalam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi pelepah pisang yang sudah kering,” kata Ika (3/10/2021) pada siang itu. Satu hektar tanah membutuhkan sekitar 8.000 pohon tembakau. Setiap pohon dewasa dapat menghasilkan sekitar 16-20 lembar daun. Output tembakau yang dihasilkan jika tembakau tumbuh subur mencapai 4-5 ton. Jika dirupiahkan sekitar 24 juta.
Tembakau yang sudah melalui berbagai proses hingga menghasilkan tembakau yang siap diolah ke tahap selanjutnya, umumnya dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan rokok. Hal tersebut juga dilakukan oleh petani tembakau yang ada di Temanggung. Tembakau di Temanggung umumnya dijual ke Gudang Garam. Tembakau yang sudah siap dijual akan diambil oleh orang-orang tertentu yang memiliki KTA Gudang Garam. Tidak ada perjanjian jangka panjang yang mengikat kedua belah pihak.
“Biasanya mereka langsung memberi uang jika tembakau diambil. Tetapi ada juga yang mengutang. Jika tembakau sudah masuk ke Gudang Garam baru mereka akan membayar,” ucap Ika (3/10/2021).
Tidak semua petani bisa memasarkan tembakaunya secara online, sebab tembakau merupakan bahan dasar rokok. Biasanya tembakau yang mereka panen masuk ke pabrik. Jika penjualan secara online mereka kesulitan mendapatkan pembeli. Sebab jika dijual ke luar pabrik rokok mungkin hanya digunakan untuk lintingan dan pembeliannya tidak sebanyak dan secepat di pabrik rokok.
Dalam kegiatan penamanan hingga menghasilkan tembakau yang siap dijual petani membutuhkan beberapa orang untuk membantu dalam proses tersebut. Saat penanaman tembakau membutuhkan kurang lebih tiga orang, tergantung besar kecilnya lahan. Pada saat perawatan pemilik lahan bisa melakukannya sendiri. Saat panen tiba petani membutuhkan kurang lebih tiga orang. Pada saat proses perajangan dan penganjangan membutuhkan kurang lebih enam orang.
Umumnya tembakau ditanam pada bulan April di mana masih terdapat hujan walau tidak sering. Namun pada tahun ini penanaman tembakau bisa dibilang telat. Hal ini disebabkan oleh faktor cuaca. Akhir-akhir ini cuaca di Temanggung tidak menentu, kadang hujan kadang panas. Hal ini membuat petani galau akan hasil tembakaunya. Sebab cuaca sangat berpengaruh terhadap kualitas tembakau yang dihasilkan.
“Perubahan cuaca sangat berdampak pada kualitas tembakau. Sebab jika pengeringan dilakukan lebih dari satu hari maka kualitas tembakau akan kurang baik. Jadi mau tidak mau pengeringan tembakau harus dilakukan satu hari. Memang ada beberapa petani yang mengggunakan oven untuk mengeringkan tembakau, tetapi tembakau yang dihasilkan akan lebih baik jika dikeringkan dengan panas matahari langsung,” kata Ika (3/10/2021).
Jika kualitas tembakau kurang baik tentu akan berdampak pada harga tembakau itu sendiri. Penurunan harga tersebut berdampak negatif bagi petani. Karena perawatan tembakau yang tidak bisa dibilang mudah. Perawatan tembakau agar menghasilkan kualitas yang baik perlu melalui beberapa tahapan, baik pada saat penanaman atau saat mengolah tembakau.
“Perawatan tanaman tembakau yang dilakukan mulai dari membersihkan rumput di sekitar tanaman tembakau. Memastikan agar tanaman tembakau selalu berdiri tegak dan akar-akarnya tidak menjalar ke luar tanah. Sebab jika akar-akarnya keluar maka tanaman tembakau bisa layu. Jika tembakau sudah berbunga, bunganya dipetik. Setelah seminggu sampai 10 hari tunas akan tumbuh di atas daun, kemudian mritili dan daun akan menua,” ucap Ika (3/10/2021).
“Harga tembakau pada tahun lalu sekitar Rp60.000-Rp70.000 per kg. Namun pada tahun ini harga tembakau sekitar Rp35.000-Rp50.000 per kg. Penurunan harga ini disebabkan oleh kualitas tembakau yang menurun akibat kondisi cuaca yang berubah-ubah,” kata Ika (3/10/2021).
Dengan keadaan tersebut petani perlu mencari cara untuk mengatasi kondisi penurunan harga tembakau agar petani tidak merugi. Namun, tidak ada cara untuk mengatasi keadaan tersebut. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga akibat kualitas tembakau menurun. Di mana penurunan kualitas itu disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak dapat di prediksi.
“Ya kalau kata orang-orang sabar aja. Karena kan penyebabnya sendiri cuaca yang berubah-ubah. Di mana cuaca itu tidak bisa kita prediksi. Semisal kita menyemprot tembakau dengan obat-obatan tertentu maka sama saja kita curang. Ya bagaimana lagi, memang kita harus sabar kalau harga turun. Kita cuma bisa pasrah saja jangan sampai main curang,” kata Ika pada siang hari itu (3/10/2021).
Penulis : Irma Nursafitri, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda