JurnalPost.com - Kehadiran Mixue di Indonesia sudah bisa dibilang berhasil mengguncang dunia bisnis, khususnya FnB di Indonesia. Dalam kurun waktu 3 tahun, Mixue sudah membuka lebih dari 2000 cabang di seluruh daerah di Indonesia dan sudah terlebih dahulu merajai pasar di negara Asia lainnya seperti China, Taiwan, Vietnam, dan Malaysia. Karena keberhasilan inilah Mixue akhirnya melebarkan sayapnya dan memasuki pasar Indonesia dan kini terhitung sudah ada 20.000 cabang yang tersebar di seluruh dunia.
Ketika kita membahas Mixue, muncul pertanyaan yang tidak terelakkan: "Gimana cara mereka bertahan di tengah gempuran banyaknya kompetitor es krim lainnya?" karena seperti yang kita tau, banyak bermunculan gerai-gerai es krim serupa yang harganya bersaing bahkan bisa lebih murah lagi daripada Mixue. Mari kita kupas tuntas strategi perusahaan es krim dan minuman teh ini.
Pertama-tama, Model bisnis yang dilakukan Mixue itu sangat inovatif. Mereka punya trik andalan yaitu "Group Buying." Ini artinya, semakin banyak orang yang ikut beli, semakin murah harganya. Jadi, orang akan jadi rajin mengajak teman-temannya buat join untuk beli Mixue. Model bisnis yang penuh inovasi ini yang bikin Mixue tetap laku keras.
Selain itu, mereka juga menggandeng pedagang lokal buat nawarin produknya dengan harga grosir. Jadi, nggak cuma kita yang seneng dapet diskon, tapi juga pedagang lokal yang merasakan manfaatnya. Mixue jadi jembatan yang menghubungkan kita sebagai konsumen dengan bisnis lokal.
Terus, Mixue juga udah menjadi bagian penting dari ekonomi lokal. Mereka nggak cuma bawa keuntungan buat diri mereka sendiri, tapi juga berdampak positif di ekonomi lokal lewat investasi dalam logistik dan peningkatan penjualan produk lokal.
Dan ada hal penting yang perlu kamu tau, bisnis model Mixue sudah beralih dari F&B company jadi supply chain company. Jadi Mixue sekarang lebih fokus untuk menjual bahan dan alat yang digunakan untuk produksi product mereka ke mitra bisnisnya.
(Bagian interior di gerai Mixue. Garmbar: Pinterest/beiberry)
Bukan hanya itu aja, yang paling menarik, Mixue juga menerapkan sistem Franchise tanpa bagi hasil. Gerai Mixue yang dapat ditemui di berbagai lokasi bukan menjadi milik langsung dari Mixue, melainkan sudah dimiliki langsung oleh mitra bisnisnya. Mereka mengelola gerai-gerai tersebut tanpa harus membagi hasil penjualan sepeser pun kepada Mixue.
Meski begitu, dengan menerapkan model bisnis supply chain yang telah ditetapkan, jelas Mixue telah membuat mitra-mitra mereka sangat bergantung pada mereka dalam hal pengadaan bahan baku, kemasan, dan mesin pengolah. Dengan kata lain, para mitra akan selalu bergantung pada kelancaran produksinya pada pihak Mixue. Sangat berisiko jika pemilik gerai Mixue beralih ke pemasok lain, karena ini dapat berdampak pada harga dan kualitas produk, atau bahkan mengakibatkan pembatalan kerjasama dengan Mixue.
Dengan menawarkan harga yang terjangkau, Mixue tentu saja berhasil menarik banyak pihak untuk bermitra. Terlebih lagi, konsep kerjasama dengan Mixue sangat ramah dan bersahabat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Mixue akan terus populer dan berkembang dalam beberapa waktu ke depan.
Jadi, kesimpulannya, Mixue tetap kuat berkat strategi unik, kerja sama dengan pedagang lokal, pemahaman tentang konsumen, inovasi, dan kontribusi positif pada ekonomi lokal. Bagaimana, apakah Mixue masih menjadi es krim favoritmu?
Oleh: Nasya Charissa Nabillah Master of Management Technology from President University 2023
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda