JurnalPost.com - Perdagangan Internasional secara garis besarnya dibedakan menjadi perdagangan barang dan jasa. Dimana perdagangan internasional barang fisik menyumbang lebih besar jika dibandingkan dengan jasa. Perdagangan barang dunia telah mengalami peningkatan yang cukup drastis dalam dekade terakhir. Mengutip Blomberg pada 19 Agustus 2021, barometer perdagangan barang WTO naik menjadi 110,4 pada Maret 2021 dimana hal ini merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2016. Hal- hal yang berkaitan dengan perdagangan internasional juga mengalami peningkatan yang signifikan.
Hampir semua negara hidup dipasar global, yang dimana negara menjual barangnya sendiri kepada negara yang membutuhkannya atau sering disebut dengan mengekspor, dan juga negara membeli barang yang mereka butuhkan dari negara lain (mengimpor). Sehingga, dapat dikatakan perdagangan internasional pada saat ini hampir mendekati barter namun dengan sistem yang berbeda. Misalnya seperti ketika negara Y mengimpor hasil produksi negara X, maka negara X juga harus memiliki itikad atau keinginan untuk membeli hasil produksi negara Y, tujuannya agar terjalinnya hubungan yang berkelanjutan antar negara tersebut.
Semua transaksi jual beli antar negara tersebut tentunya disertai dengan pertukaran uang, yang pada dasarnya mengubah aliran mata uang masuk dan keluar dari suatu negara. Neraca perdagangan mempengaruhi nilai tukar mata uang melalui pasokan dan permintaan valuta asing. Ketika neraca perdagangan suatu negara tidak mencapai nol yaitu, ketika ekspor suatu negara tidak sama dengan impor atau lebih banyak penawaran atau permintaan untuk mata uang suatu negara, yang dimana hal itu mempengaruhi harga mata uang negara tersebut di pasar dunia.
Neraca perdagangan mengukur rasio ekspor terhadap impor untuk perekonomian tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan barang dan jasa negara tersebut, begitu juga dengan mata uangnya. Jika ekspor lebih tinggi dari impor, maka akan terjadi surplus perdagangan dan neraca perdagangan positif. Jika impor lebih tinggi dari ekspor, terjadi defisit perdagangan dan neraca perdagangan negatif.
Ekspor > Impor = Surplus Perdagangan = Neraca Perdagangan Positif (+) Impor > Ekspor = Defisit Perdagangan = Neraca Perdagangan Negatif (-)
Defisit perdagangan mampu mendorong harga mata uang suatu negara turun dibandingkan dengan mata uang lainnya. Negara pengimpor terlebih dahulu harus menjual mata uang mereka untuk membeli mata uang negara lain yang menjual barang yang mereka inginkan. Ketika terjadinya defisit perdagangan, mata uang lokal dijual untuk membeli barang asing. Sehingga mata uang negara dengan defisit perdagangan lebih sedikit peminatnya jika dibandingkan dengan mata uang negara yang memiliki surplus perdagangan.
Surplus perdagangan cenderung mengalami apresiasi mata uang. Sehingga banyak negara berusaha melakukan ekspor. Negara-negara yang mengekspor lebih banyak daripada mengimpor melihat bahwa mata uang mereka dibeli oleh negara-negara yang berkeinginan membeli barang-barang yang diekspor. Tentunya hal itu dapat membantu mata uang negara tersebut mendapatkan nilai atau penguatan. Sistemnya yaitu negara eksportir mengkonversi mata uang asing yang diperoleh dari luar negeri kedalam mata uang domestik atau mata uang negara tersebut, sehingga cenderung akan memberikan tekanan ke atas pada mata uang negara domestik atau negara eksportir. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa mata uang yang dalam permintaan yang lebih tinggi cenderung dinilai lebih tinggi daripada yang kurang permintaan.
Namun ada beberapa kasus beberapa negara, meskipun ekspor mereka kuat dan neraca perdagangannya surplus, negara tersebut sengaja melemahkan mata uang mereka, contohnya yaitu Negara Jepang. Jepang melemahkan mata uang mereka sendiri yaitu Yen disaat mengalami penguatan yang sangat tajam. Cara yang dilakukan Jepang yaitu dengan memasok uang lebih banyak pasar, seperti yang diketahui apabila banyaknya jumlah uang yang beredar di pasar akan mengakibatkan inflasi, dan Jepang mengambil langkah tersebut untuk meningkatkan inflasi Jepang sehingga mata uang Yen mengalami pelemahan.
Tujuan Jepang mengambil tindakan melemahkan mata uang Yen yaitu karena pelaku UMKM di Jepang menginginkan profit. Sehingga dengan meningkatnya inflasi, maka pelaku usaha bisa menaikkan harga. Namun, pelemahan mata uang Jepang tidak mengalami pelemahan yang sangat signifikan.
Oleh: Febrina Yola Munthe/180907057/Ilmu Administrasi Bisnis-Universitas Sumatera Utara
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda