Oleh: Muhammad Irsya Ismaya Universitas Muhammadiyah Malang
JurnalPost.com - Resesi ekonomi, apa arti dari resesi ekonomi? menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resesi ekonomi dapat diartikan sebagai kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negatif, pengangguran yang lebih tinggi, dan pertumbuhan ekonomi riil negatif selama 2 kuartal berturut-turut. dari National Bureau of Economic Research (NBER) mengungkapkan resesi adalah penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang beredar di semua ekonomi. Kondisi resesi ini mampu bertahan lebih dari beberapa bulan. Penurunan ini terlihat pada Produk Domestik Bruto dari PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, serta penjualan wholesale-ritel (grosir-eceran).
Terdapat beberapa penyebab dari resesi ekonomi, antara lainnya yang pertama, tingkat inflasi yang tinggi, apa itu inflasi? Dikutip dari Bank Indonesia Inflasi dapat diartikan sebagai pertumbuhan dengan adanya fee produk dan penawaran yang disukai dan terus-menerus dalam durasi waktu yang positif. Inflasi juga bisa menjadi tujuan nomor satu dari resesi keuangan di suatu negara. karena faktanya Inflasi adalah teknik kenaikan biaya yang terjadi terus-menerus. Sebenarnya, inflasi bukanlah hal yang mengerikan namun bisa memiliki efek yang mengerikan jika berlangsung untuk waktu yang berlarut-larutdan tidak cepat di atasi, dan normalnya inflasi di sebuah negara setidaknya kurang dari 10%.
Yang kedua adapula deflasi yang Berlebihan, sebelumnya deflasi itu apa sih? Dikutip Dari situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), deflasi merupakan kondisi yang menunjukkan bahwa daya beli uang semakin tinggi pada waktu tertentu karena jumlah uang yang tersebar relatif kecil dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia. Dapat disimpulkan bahwa deflasi ini terjadi karena terus menurunnya harga barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Bila ditinjau dari sisi lain, deflasi tampak menguntungkan bagi masyarakat karena harga barang dan jasa jadi lebih murah dan terjangkau, akan tetapi dibalik itu deflasi justru bedampak negatif atau merugikan bagi Produsen karna pendapatan mereka menjadi menurun bahkan bisa mengalami kerugian. Bahkan Bila deflasi semakin parah, tidak menutup kemungkinan Produsen akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mengurangi biaya beban mereka. Dampaknya pula bukan untuk Produsen, akan tetapi untuk negara, dimana Produsen tak mampu membayar pajak karena pendapatannya kurang, kemudian berpengaruh pula terhadap upah minimum.
Kemudian, kebijakan Pemerintah, kebijakan pemerintah juga bisa menjadi sumber atau akar terjadinya resesi, karena semua kebijakan yang diterapkan untuk negara berasal dari pemerintah, contohnya bisa kita lihat dari negara Zimbabwe, salah satunya menerapkan kebijakan dengan mencetak uang dengan sebanyak-banyaknya, dan akibatnya uang tidak ada harganya disana, dan masyarakat disana lebih sering menggunakan sistem barter, saking banyaknya uang yang beredar, pada 2009 pemerintahan Zimbabwe mengeluarkan kebijakan dengan mengeluarkan pecahan uang 1 triliun dollar Zimbabwe dengan tujuan untuk meminimalisir uang beredar. Menurut warga disana uang 1 triliun dollar Zimbabwe hanya cukup untuk membeli 3 telur. Kebijakan pemerintah juga sangat berpengaruh ketika adanya krisis ekonomi, yang dimana ekonomi di suatu negara mengalami penurunan keuangan dan akhirnya bisa merembet berbagai sektor. Jika tidak segera di tangani, negara bisa mengalami resesi bahkan depresi ekonomi.
Selain penyebab penyebab resesi ada juga dampak dari resesi, antara lainnya adalah, naiknya harga barang, ketika suatu negara mengalami resesi maka akibatnya harga suatu barang, terlebihnya barang premier akan mengalami kenaikan, sementara untuk perusahaan juga tidak bisa memproduksi output sesuai dengan permintaan konsumen, disisi lain perusahaan pun mengalami penurunan pendapatan. Perusahaan banyak yang melakukan PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja. Ini membuat harga menjadi meningkat. Kemudian, banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan, kenapa ketika resesi terjadi banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan? Banyak faktor yang mempengaruhi seperti, berkurangnya sumber daya riil, krisis kredit, harga asset saham yang menurun sehingga pendapatan perusahaan mengalami penurunan drastis, jika tidak bisa menanganinya bisa saja mengalami kebangkrutan.
Lalu pengangguran akan meningkat, apabila banyak yang terkena PHK otomatis pengangguran melonjak tinggi, pendapatan mereka pun otomatis mengalami penurunan, jika pengangguran sudah meningkat bisa berpengaruh juga ke sektor Kesehatan dan Pendidikan, akibatnya Kesehatan di Indonesia berkurang karena banyak yang kurang sanggup untuk membayar Kesehatan, disisi Pendidikan pun sama, Ketika Pendidikan sudah tidak menjadi prioritas SDM di suatu negara akan berkurang, dan akan menjadi lebih sulit untuk kedepannya. Jika pengangguran sudah meingkat maka otomaris tingkat kriminal akan lebih meningkat, jika semua kebutuhan tidak tercukupi, banyak orang yang melakukan segala macam hal salah satunya dengan melakukan kejahatan seperti merampok dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan.
Lalu, bagaimana cara menghadapinya? Yang pertama kurangi hutang atau segera lunasi. Kemudian jangan menambah beban di hal hal yang tidak urgent, seperti menambah utang apalagi utang untuk mengantisipasi saat resesi terjadi, yang ada akan menambah beban perusahaan dan akan lebih sulit untuk membayarnya. Lalu sisihkan pendapatan untuk menginvestasikan dan dialokasikan untuk dana darurat pada insturmen liquid seperti emas, obligasi, reksadana, piutang, inventaris dan lain lain. Meskipun begitu bukan berarti kita tidak boleh melakukan ekonomi sama seperti biasanya, karena itu juga bisa membantu untuk menumbuhkan ekonomi, namun lebih diminimalisir untuk kebutuhan yang kurang penting, lebih baik dana yang selain untuk kebutuhan pokok di alokasikan kepada asuransi Kesehatan, dan saving atau investasi untuk dana darurat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda