Merauke, JurnalPost.com — Sagu telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Papua Selatan. Selain sebagai sumber pangan tradisional, sagu menyimpan nilai budaya dan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.
Potensi tersebut mendorong tim dosen Universitas Musamus (Unmus) bekerja sama dengan UMKM Mama Maya di Kabupaten Merauke untuk mengembangkan produk inovatif bernama SaBar atau Sagu Bar. Produk berbahan dasar sagu ini hadir dalam tiga varian rasa, yakni kacang, pisang, dan kelapa.
Pengembangan SaBar merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penguatan Olahan Sagu melalui Storytelling Kearifan Lokal Papua Selatan dan Inovasi Produk SaBar (Sagu Bar)”.
Program tersebut dilaksanakan bersama UMKM Mama Maya yang dikelola Maya Famia Maria Bapaimu, berlokasi di Jalan Garuda Mopah Lama, Kelurahan Rimba Jaya, Kabupaten Merauke.
Tim pengabdian diketuai oleh Ni Luh Putu Nita Yulianti dari Universitas Musamus. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Berbeda dari pengembangan produk pangan pada umumnya, program ini tidak hanya menitikberatkan pada inovasi olahan sagu. Tim juga mengintegrasikan cerita kearifan lokal Papua Selatan ke dalam kemasan dan media promosi sebagai upaya memperkuat identitas produk.
Mengolah Sagu Menjadi Produk yang Lebih Beragam
Sebelum program pengabdian dilaksanakan, UMKM Mama Maya telah memproduksi sejumlah makanan berbahan dasar sagu, antara lain sagu bakar, sagu pisang, dan cendol sagu.
Melalui pendampingan Universitas Musamus, usaha tersebut mulai mengembangkan SaBar sebagai alternatif olahan sagu dengan bentuk dan pilihan rasa yang berbeda dari produk sebelumnya.
Kehadiran tiga varian SaBar, yakni kacang, pisang, dan kelapa, diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen sekaligus memperluas peluang pemasaran produk pangan lokal.
Untuk menunjang proses produksi, tim pengabdian memfasilitasi penggunaan lima jenis peralatan, yaitu oven, mixer, food chopper, mesin pemarut kelapa, dan vacuum sealer.
Peralatan tersebut digunakan untuk membantu tahapan pengolahan bahan baku, pencampuran, pemanggangan, hingga pengemasan produk.
Selain pengadaan peralatan, tim juga mendampingi penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi SaBar.

Penerapan SOP diharapkan membantu UMKM Mama Maya menjaga konsistensi proses produksi, meningkatkan keteraturan kerja, dan mempermudah pengelolaan usaha ketika kapasitas produksi bertambah.
Kemasan dan Branding Menjadi Perhatian
Inovasi produk tidak berhenti pada pengembangan resep dan proses produksi. Aspek kemasan serta identitas merek juga menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian tersebut.
Tim Universitas Musamus membantu UMKM Mama Maya memperbarui tampilan kemasan agar produk lebih mudah dikenali konsumen.
SaBar menggunakan kemasan berbentuk pouch, sedangkan produk olahan sagu lainnya dikemas menggunakan box atau kotak.
Perbedaan kemasan tersebut disesuaikan dengan karakteristik masing-masing produk sekaligus menjadi bagian dari strategi membangun identitas usaha.
Pengembangan logo dan materi promosi juga dilakukan untuk memperkuat citra UMKM Mama Maya.
Melalui pembaruan ini, produk olahan sagu diharapkan memiliki tampilan yang lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang menawarkan beragam makanan ringan.
Storytelling Kearifan Lokal Papua Selatan
Salah satu pendekatan menarik dalam program ini adalah pemanfaatan storytelling atau penceritaan sebagai bagian dari strategi pemasaran.
Tim pengabdian berupaya menghubungkan produk olahan sagu dengan cerita mengenai kehidupan, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Papua Selatan.
Pendekatan tersebut diterapkan pada kemasan produk sagu bakar dan sagu pisang yang dilengkapi narasi budaya serta kode batang yang mengarahkan konsumen menuju video storytelling.
Dengan memindai kode tersebut, konsumen dapat mengakses konten digital yang memperkenalkan cerita di balik pangan lokal Papua Selatan.
Cara ini memungkinkan kemasan memiliki fungsi lebih luas. Selain melindungi dan memperkenalkan produk, kemasan juga menjadi media penyampaian informasi budaya.
Penggunaan video dan media sosial turut menjadi bagian dari strategi pemasaran digital yang diperkenalkan kepada mitra.
Melalui pendekatan tersebut, UMKM Mama Maya tidak hanya menawarkan makanan berbahan sagu, tetapi juga memperkenalkan nilai budaya yang melekat pada bahan pangan tersebut.
Pelatihan Produksi hingga Pengelolaan Keuangan
Rangkaian program pengabdian berlangsung melalui beberapa tahapan sejak Juli hingga Agustus 2026.
Kegiatan diawali pada 17 Juli 2026 melalui diskusi bersama UMKM Mama Maya mengenai potensi usaha, kendala produksi, dan peluang pengembangan produk.
Selanjutnya, pada 24 Juli 2026, tim melaksanakan demonstrasi produksi menggunakan teknologi pengolahan yang telah disiapkan. Pada tahap inilah inovasi SaBar dengan tiga varian rasa mulai diperkenalkan dan dipraktikkan bersama mitra.
Program kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pada 31 Juli 2026 yang mencakup sejumlah aspek pengembangan usaha.
Materi pelatihan meliputi produksi, pengemasan, penguatan merek, storytelling, pemasaran digital, manajemen usaha, hingga pencatatan keuangan.
Dalam pengelolaan keuangan, mitra juga diperkenalkan pada penggunaan aplikasi BukuWarung untuk membantu pencatatan transaksi usaha.
Pelatihan tersebut bertujuan agar pelaku UMKM tidak hanya memiliki kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga memahami pentingnya pengelolaan usaha secara teratur.
Setelah pelatihan, tim kembali melakukan pendampingan pada 7 Agustus 2026 untuk meninjau penerapan hasil kegiatan.
Pendampingan mencakup proses produksi, pemanfaatan peralatan, pengemasan, penggunaan media digital, serta pencatatan keuangan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi akhir pada 14 Agustus 2026.
Dari keseluruhan program, sejumlah hasil yang berhasil dikembangkan meliputi lima jenis peralatan produksi, tiga varian produk SaBar, satu SOP produksi, dua jenis kemasan, serta logo dan materi promosi berbasis storytelling.
Survei Kepuasan Peserta Capai Rata-Rata 90 Persen
Untuk mengetahui tanggapan peserta, tim pengabdian melakukan survei evaluasi terhadap 20 responden.
Survei tersebut mencakup lima indikator, yakni kesesuaian materi, penyampaian materi, demonstrasi dan praktik, pendampingan, serta manfaat kegiatan.
Hasilnya menunjukkan rata-rata persentase jawaban puas dan sangat puas mencapai 90 persen dari lima indikator yang dinilai.
Indikator penyampaian materi memperoleh penilaian tertinggi sebesar 95 persen.
Sementara itu, kesesuaian materi, demonstrasi dan praktik, serta pendampingan masing-masing memperoleh 90 persen. Adapun indikator manfaat kegiatan mendapatkan penilaian sebesar 85 persen.
Hasil tersebut memperlihatkan respons positif peserta terhadap rangkaian pelatihan dan pendampingan yang diberikan.
Meski demikian, tingkat kepuasan peserta belum dapat dijadikan ukuran langsung keberhasilan ekonomi usaha.
Peningkatan penjualan, pendapatan, maupun keuntungan UMKM Mama Maya masih memerlukan pemantauan dan evaluasi tersendiri untuk mengetahui dampak ekonomi dari program tersebut.
Membuka Peluang Ekonomi dari Pangan Lokal
Pengembangan SaBar menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional memiliki peluang untuk diolah menjadi produk dengan bentuk, kemasan, dan strategi pemasaran yang lebih beragam.
Melalui perpaduan inovasi pangan, penggunaan teknologi produksi, penguatan identitas merek, serta storytelling budaya, UMKM Mama Maya mulai membangun dasar pengembangan usaha yang lebih terarah.
Program ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Ke depan, keberlanjutan inovasi SaBar akan bergantung pada konsistensi produksi, pengendalian kualitas, efektivitas pemasaran, serta kemampuan pelaku usaha menjangkau konsumen.
Evaluasi penjualan dan tanggapan pasar juga menjadi langkah penting untuk mengetahui sejauh mana produk baru tersebut mampu berkembang.
Bagi Papua Selatan, pengembangan pangan berbasis sagu memiliki arti lebih luas daripada sekadar menghadirkan makanan ringan.
Inovasi seperti SaBar membuka kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan pangan daerah sekaligus menjaga cerita budaya yang menyertainya.
Dari sagu menjadi SaBar, kolaborasi Universitas Musamus dan UMKM Mama Maya memperlihatkan bagaimana pengetahuan akademik, kreativitas usaha, dan kearifan lokal dapat dipadukan untuk membuka peluang baru bagi produk pangan khas Papua Selatan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda