Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Tepache: Inovasi Pangan Berkelanjutan dari Kulit Nanas yang Terabaikan

Tepache: Inovasi Pangan Berkelanjutan dari Kulit Nanas yang Terabaikan

A
Penulis: Ai Imas Faidoh Fatimah - Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan, Sekolah Vokasi IPB University
14 Oktober 2026, 16.50 WITA Editor: Danang Purnama
6 menit baca
Rustic Pineapple Drink Still Life
Ilustrasi minuman tepache hasil fermentasi kulit nanas yang berpotensi dikembangkan sebagai inovasi pangan berkelanjutan dan produk bernilai ekonomi bagi UMKM. (Ilustrasi AI/JurnalPost.com)

JurnalPost.com - Apa jadinya jika kulit nanas yang selama ini dibuang justru dapat diolah menjadi minuman bernilai tambah? Melalui proses fermentasi, kulit nanas dapat dimanfaatkan menjadi tepache, minuman tradisional asal Meksiko dengan cita rasa asam-manis yang khas.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan limbah pangan dan keberlanjutan lingkungan, tepache menawarkan peluang untuk mengubah hasil samping pengolahan buah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Inovasi ini juga berpotensi membuka peluang usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pemanfaatan bahan baku lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan.

IKLAN

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai

Tepache umumnya dibuat dari kulit nanas, air, dan gula yang difermentasi dalam kondisi tertentu. Proses fermentasi tersebut menghasilkan minuman dengan karakteristik rasa dan aroma yang khas.

Foto bersma
Baca Juga

Dari Sagu Menjadi SaBar, Inovasi Pangan Lokal Papua Selatan yang Mengangkat Cerita Kearifan Budaya

Pemanfaatan kulit nanas sebagai bahan baku tepache sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni pendekatan yang menekankan penggunaan sumber daya secara optimal, pengurangan limbah, serta penciptaan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Bagi Indonesia yang memiliki potensi produksi nanas, tepache dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan inovasi pangan berbasis hasil samping pertanian.

Namun, pengembangannya tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Proses produksi perlu dikendalikan dengan baik agar menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, memiliki mutu konsisten, dan sesuai dengan preferensi konsumen.

Penelitian Mengungkap Potensi Tepache

Potensi minuman fermentasi kulit nanas telah dikaji oleh Cika Ridha Rismawati melalui penelitian tugas akhir di Sekolah Vokasi IPB University pada 2025, di bawah bimbingan Ai Imas Faidoh Fatimah.

Suasana kegiatan di Pasar Turi
Baca Juga

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Penelitian berjudul Karakteristik Sensori dan Kapasitas Antioksidan Minuman Fermentasi Kulit Nanas Berdasarkan Jenis Varietas dan Waktu Fermentasi tersebut membandingkan penggunaan kulit nanas varietas queen dan honi dengan variasi waktu fermentasi selama 24, 48, dan 72 jam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis varietas nanas dan lama fermentasi memengaruhi karakteristik sensori serta kapasitas antioksidan minuman yang dihasilkan.

Tepache berbahan kulit nanas varietas queen yang difermentasi selama 24 jam memperoleh respons paling positif dari panelis berdasarkan pengujian sensori.

Sementara itu, kapasitas antioksidan tertinggi ditemukan pada tepache berbahan kulit nanas varietas honi yang difermentasi selama 48 jam, yakni mencapai 35,62 mg AAEAC per 100 mL. Kapasitas antioksidan pada varietas honi juga dilaporkan lebih stabil dibandingkan varietas queen.

kedai pajak sampul 1280x720
Baca Juga

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

AAEAC (Ascorbic Acid Equivalent Antioxidant Capacity) merupakan ukuran kapasitas antioksidan yang dinyatakan berdasarkan kesetaraannya dengan asam askorbat atau vitamin C.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan tepache perlu mempertimbangkan keseimbangan antara karakteristik rasa, tingkat penerimaan konsumen, dan sifat fungsional produk.

Meskipun demikian, hasil pengujian kapasitas antioksidan di laboratorium tidak dapat secara langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan manfaat kesehatan pada manusia. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui potensi manfaat tersebut secara lebih komprehensif.

Peluang UMKM dan Tantangan Keamanan Pangan

Tepache memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk minuman dengan identitas yang menarik, terutama karena mengangkat konsep pemanfaatan bahan lokal, pengurangan limbah, dan inovasi pangan berkelanjutan.

Bagi pelaku UMKM, pengolahan kulit nanas menjadi tepache dapat membuka kesempatan diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai tambah bahan baku yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Namun, keberhasilan produk di pasar tidak hanya ditentukan oleh konsep keberlanjutan. Faktor rasa, harga, kemasan, konsistensi mutu, serta kepercayaan konsumen tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.

IKLAN

Di sisi lain, keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam proses pengembangannya.

Kulit nanas yang digunakan sebagai bahan baku harus berasal dari sumber yang layak untuk pengolahan pangan dan ditangani secara higienis, mulai dari pengumpulan, penyimpanan, hingga proses produksi.

Pengendalian waktu dan suhu fermentasi, komposisi bahan, serta kebersihan peralatan juga diperlukan untuk meminimalkan risiko kontaminasi dan menjaga mutu produk.

Sebelum dipasarkan secara luas, tepache perlu melalui evaluasi dan pengujian yang sesuai, termasuk pengujian mikrobiologi, karakteristik kimia dan sensori, serta penentuan umur simpan.

Proses fermentasi juga perlu memperhatikan kemungkinan terbentuknya alkohol sebagai hasil metabolisme mikroorganisme. Oleh karena itu, kadar alkohol perlu dievaluasi agar produk memenuhi ketentuan yang berlaku dan sesuai dengan sasaran konsumennya.

Selain itu, minuman fermentasi tidak secara otomatis dapat dikategorikan sebagai produk probiotik. Klaim probiotik membutuhkan bukti ilmiah mengenai keberadaan mikroorganisme yang memenuhi kriteria probiotik, jumlah yang memadai, serta manfaat kesehatan yang telah teruji.

Dengan demikian, pengembangan tepache sebagai produk komersial perlu didukung oleh penerapan prinsip keamanan pangan, pengendalian mutu, dan pemenuhan ketentuan regulasi yang relevan.

Menghubungkan Penelitian dan Keberlanjutan

Pengembangan tepache menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak selalu harus dimulai dari penciptaan atau penggunaan bahan baku baru.

Kulit nanas dan berbagai hasil samping pertanian lainnya yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat menjadi sumber peluang untuk menciptakan produk bernilai tambah.

Pendekatan tersebut tidak hanya berpotensi mengurangi jumlah limbah organik, tetapi juga dapat mendorong pemanfaatan sumber daya pertanian secara lebih efisien.

Meski demikian, agar tepache dapat berkembang sebagai produk pangan yang berkelanjutan, masih diperlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, khususnya terkait formulasi, pengendalian proses fermentasi, keamanan pangan, stabilitas mutu, serta daya simpan produk.

Hasil penelitian di lingkungan akademik juga perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri dan UMKM melalui proses produksi yang memenuhi standar serta strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dapat menjadi langkah penting untuk mempercepat penerapan inovasi tersebut dalam skala yang lebih luas.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan tepache tidak hanya diukur dari kemampuannya mengubah kulit nanas menjadi minuman fermentasi, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan produk yang aman, bermutu, layak secara ekonomi, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan dukungan riset, inovasi teknologi pangan, dan kolaborasi berbagai pihak, tepache berpotensi menjadi contoh nyata bagaimana hasil samping pertanian yang selama ini terabaikan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung terwujudnya sistem pangan yang lebih berkelanjutan.


Referensi

Rismawati, C. R. (2025). Karakteristik Sensori dan Kapasitas Antioksidan Minuman Fermentasi Kulit Nanas Berdasarkan Jenis Varietas dan Waktu Fermentasi. Tugas Akhir, Sekolah Vokasi IPB University.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/tepache-inovasi-pangan-berkelanjutan-dari-kulit-nanas-yang-terabaikan/98169/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.59 WITA

  • #IPB University
  • #UMKM
  • #fermentasi
  • #inovasi pangan
  • #kulit nanas
  • #pangan berkelanjutan
  • #tepache

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan
  2. 2

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  5. 5

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.