Prafi, JurnalPost.com — Sebanyak 13 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman di Distrik Prafi, Papua Barat, mengikuti pelatihan pengembangan produk berbasis pangan lokal yang diselenggarakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 19 Universitas Airlangga (UNAIR), Senin (12/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di SP4, Kampung Udapi Hilir, tersebut memperkenalkan berbagai inovasi olahan pangan sekaligus membekali peserta dengan pengetahuan mengenai pemasaran dan manajemen usaha.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya memanfaatkan komoditas pangan yang tersedia di Prafi agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Selama ini, sejumlah bahan pangan lokal seperti pisang, singkong, keladi, labu kuning, dan hasil perikanan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk makanan dengan variasi yang lebih beragam.
Dalam kegiatan tersebut, TEP 19 UNAIR menghadirkan Dr. Heni Adhianata, akademisi bidang food science dan nutrition yang mengajar di OTTIMMO International MasterGourmet Academy.
Beragam Inovasi dari Bahan Pangan Lokal
Peserta diperkenalkan pada sejumlah alternatif produk makanan yang memanfaatkan bahan baku lokal, mulai dari kue abus dengan tambahan ikan gabus, stik lele, bolu pisang, donat keladi dan labu kuning, hingga abon tuna yang dikombinasikan dengan jantung pisang maupun jamur tiram.
Inovasi lainnya mencakup emping keladi, gethuk singkong, tortilla jagung dengan tambahan lele, serta berbagai olahan berbahan ikan ekor kuning.
Pengembangan produk tersebut tidak hanya berfokus pada variasi makanan, tetapi juga mempertimbangkan kombinasi bahan pangan sumber karbohidrat dan protein.
Sebelum diperkenalkan kepada peserta, tim telah melakukan uji coba formulasi dan pengujian organoleptik untuk mengevaluasi karakteristik produk berdasarkan rasa, aroma, warna, serta tekstur.
Ketua TEP 19 UNAIR, Emyr Reisha Isaura, mengatakan bahwa pelatihan ini berangkat dari potensi bahan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk menciptakan produk baru.
“Pelatihan ini diikuti oleh 13 pelaku UMKM makanan dan minuman di Prafi. Kami ingin mendorong mereka agar dapat melihat potensi bahan pangan lokal sebagai peluang untuk menciptakan produk yang lebih beragam dan memiliki nilai tambah. Harapannya, inovasi ini tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga dapat mendukung pengembangan usaha dan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan produk menjadi salah satu pilihan bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pelaku UMKM Tertarik Mencoba Produk Baru
Sejumlah peserta menunjukkan ketertarikan terhadap inovasi makanan yang diperkenalkan selama pelatihan.
Sri Hartini dan Tutik Ernawati, misalnya, menaruh perhatian pada pengembangan emping keladi dengan tambahan ikan lele. Kombinasi tersebut dinilai menarik untuk dicoba sebagai alternatif produk makanan berbahan dasar keladi.

Sementara itu, Satinem, pelaku UMKM yang selama ini menjalankan usaha sale pisang, melihat pelatihan tersebut sebagai kesempatan untuk mendapatkan inspirasi dalam mengembangkan variasi produk.
“Selama ini kami lebih banyak mengembangkan produk yang sudah biasa dibuat. Melalui pelatihan ini, kami mendapat inspirasi untuk mencoba variasi produk baru dari bahan pangan lokal. Harapannya, inovasi seperti ini bisa menambah pilihan produk yang kami jual dan menarik lebih banyak pembeli,” ungkap Satinem.
Ketertarikan peserta menjadi gambaran awal bahwa pengembangan produk berbasis pangan lokal memiliki peluang untuk diterapkan dalam usaha makanan skala kecil.
Meski demikian, penerapan inovasi tetap memerlukan penyesuaian, terutama berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, biaya produksi, daya terima konsumen, dan kemampuan masing-masing pelaku usaha.
Pengembangan Produk Perlu Diikuti Strategi Pemasaran
Selain memperkenalkan formulasi makanan, pelatihan turut membahas aspek pemasaran dan pengelolaan usaha.
Materi tersebut mencakup perencanaan biaya produksi, penentuan harga jual, strategi promosi, serta pengelolaan usaha agar produk yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap percobaan.
Bagi pelaku UMKM, inovasi makanan perlu diimbangi dengan perhitungan usaha yang tepat. Produk baru yang memiliki rasa dan tampilan menarik belum tentu dapat berkembang apabila biaya produksinya terlalu tinggi atau belum sesuai dengan kebutuhan pasar.
Karena itu, peserta juga didorong untuk mempertimbangkan karakteristik konsumen ketika memilih formulasi produk yang akan dikembangkan.
Pendekatan ini diharapkan membantu pelaku usaha menghasilkan produk yang tidak hanya memanfaatkan bahan pangan lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk dipasarkan secara berkelanjutan.
TEP 19 UNAIR Siapkan Monitoring Lanjutan
Pelatihan yang diikuti 13 UMKM tersebut merupakan tahap awal dari proses pendampingan pengembangan produk pangan lokal di Prafi.
TEP 19 UNAIR berencana melakukan monitoring terhadap tindak lanjut uji coba produk oleh masing-masing peserta. Langkah ini dilakukan untuk melihat sejauh mana formulasi yang diperkenalkan dapat diterapkan dan disesuaikan dengan kondisi usaha.
Melalui monitoring tersebut, tim juga akan mengevaluasi perkembangan percobaan produk serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi pelaku UMKM.
Keberhasilan program nantinya tidak hanya bergantung pada jumlah inovasi yang diperkenalkan, tetapi juga pada kemampuan peserta mengembangkan produk yang layak diproduksi, diterima konsumen, dan memberikan keuntungan.
Dengan memanfaatkan komoditas yang tersedia di wilayah Prafi, diversifikasi pangan lokal berpeluang membuka pilihan usaha baru sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan perikanan masyarakat setempat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda