Oleh: Dian Eka Kusumawati, S.P., M.P.
Dosen Universitas Islam Darul ‘Ulum (UNISDA) Lamongan dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang
Ketika membeli beras, sayuran, buah, atau bahan pangan lainnya di pasar, kita sering kali hanya melihat produk yang sudah siap dibawa pulang. Harga tertera, barang tersedia, lalu transaksi selesai.
Jarang kita memikirkan perjalanan panjang sebelum pangan tersebut sampai di hadapan kita.
Padahal, pangan tidak tumbuh di rak pasar.
Pangan tumbuh di tanah, di lahan pertanian yang setiap musim harus kembali diolah. Ada petani yang menyiapkan benih, mengolah tanah, menanam, memupuk, mengatur kebutuhan air, mengendalikan hama dan penyakit, hingga menunggu tanaman menghasilkan.
Seluruh proses itu membutuhkan waktu, tenaga, biaya, pengetahuan, dan tentu saja keberanian menghadapi risiko.
Dari sinilah pembicaraan mengenai ketahanan pangan seharusnya dimulai.
Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Soal Stok
Ketahanan pangan selama ini sering dikaitkan dengan ketersediaan bahan pangan. Ketika stok beras mencukupi dan produksi meningkat, kita cenderung menganggap persoalan pangan telah selesai.
Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: siapa yang memproduksi pangan tersebut dan apakah mereka masih mampu bertahan untuk terus bertani?
Petani menghadapi berbagai bentuk ketidakpastian. Salah satunya berasal dari kondisi cuaca.
Waktu tanam yang dahulu relatif lebih mudah diperkirakan kini membutuhkan perhatian yang semakin cermat. Curah hujan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan lahan tergenang dan meningkatkan risiko serangan penyakit. Sebaliknya, kemarau berkepanjangan dapat mengakibatkan kekurangan air.
Pada kondisi tertentu, perubahan cuaca bahkan dapat menyebabkan tanaman yang sudah dirawat selama berbulan-bulan tidak menghasilkan panen seperti yang diharapkan.
Bagi petani, kegagalan panen bukan sekadar angka statistik produksi yang menurun. Di baliknya terdapat modal yang sudah dikeluarkan, waktu yang telah diberikan, dan tenaga yang telah dicurahkan.
Ketika hasil panen tidak sesuai harapan, kerugian itu harus ditanggung langsung oleh petani.
Biaya Produksi dan Ketidakpastian Harga
Persoalan berikutnya adalah biaya produksi.
Benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, pengolahan tanah, irigasi, hingga proses panen semuanya membutuhkan biaya. Pada saat yang sama, harga hasil pertanian tidak selalu stabil.
Ketika harga jual turun pada musim panen, pendapatan petani ikut tertekan. Dalam kondisi seperti ini, tingginya produksi belum tentu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
Karena itu, ketahanan pangan tidak cukup diukur hanya dari seberapa banyak pangan yang berhasil diproduksi.
Kita juga perlu melihat apakah kegiatan pertanian tersebut masih memberikan ruang ekonomi yang cukup bagi petani untuk bertahan, berkembang, dan melanjutkan usahanya.
Persoalan ini menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan regenerasi petani.
Pertanian membutuhkan tenaga, inovasi, dan pengetahuan baru. Namun, apabila bertani dipandang tidak memiliki prospek ekonomi yang memadai, tentu tidak mudah mengharapkan generasi muda untuk memilih sektor pertanian sebagai masa depan mereka.
Menjaga Tanah Berarti Menjaga Produksi
Selain persoalan petani, lahan pertanian juga menghadapi tekanan yang semakin besar.
Alih fungsi lahan, penurunan kualitas tanah, keterbatasan sumber air, serta berbagai persoalan lingkungan dapat mengurangi kemampuan lahan dalam menghasilkan pangan secara berkelanjutan.
Tanah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai tempat menanam.
Tanah merupakan modal utama dalam pertanian. Jika kesuburannya terus menurun, kemampuan lahan menghasilkan pangan dalam jangka panjang juga akan ikut terganggu.
Karena itu, penggunaan pupuk dan pestisida perlu dilakukan secara bijaksana.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman juga tidak selalu harus bergantung sepenuhnya pada pestisida. Pengelolaan lingkungan, pemanfaatan musuh alami, sanitasi lahan, pemilihan varietas yang sesuai, hingga penerapan pengendalian hama terpadu dapat menjadi bagian dari praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Pertanian tidak harus memilih antara produktivitas dan kelestarian lingkungan.
Keduanya justru perlu berjalan bersama agar produksi pangan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Pangan Lokal sebagai Kekuatan
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar lainnya dalam membangun ketahanan pangan, yaitu keragaman sumber pangan.
Beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat yang dimiliki masyarakat Indonesia. Ada jagung, singkong, ubi jalar, sagu, talas, dan berbagai komoditas pangan lokal yang sejak lama dikonsumsi masyarakat di berbagai daerah.
Sayangnya, sebagian pangan lokal belum mendapatkan ruang yang sebanding dengan potensinya.
Diversifikasi pangan perlu terus didorong agar masyarakat mempunyai lebih banyak pilihan sumber pangan dan ketergantungan terhadap satu komoditas dapat dikurangi.
Dari sisi petani, pengembangan pangan lokal juga membuka peluang ekonomi baru.
Komoditas yang sesuai dengan karakter lingkungan setempat dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi. Dengan demikian, penguatan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga dapat memperluas peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Panen Bukan Akhir Perjalanan
Pekerjaan dalam sistem pangan tidak berhenti ketika hasil pertanian keluar dari lahan.
Setelah dipanen, pangan masih harus melewati proses pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, hingga akhirnya sampai kepada konsumen.
Pada setiap tahap tersebut terdapat risiko kehilangan hasil.
Buah dapat rusak selama perjalanan. Sayuran dapat layu atau tidak terjual. Hasil panen dapat mengalami penurunan mutu akibat penyimpanan yang kurang tepat.
Kerugian tersebut sebenarnya tidak kecil.
Untuk menghasilkan setiap kilogram pangan, petani telah menggunakan tanah, air, pupuk, tenaga, modal, dan waktu. Ketika hasil tersebut akhirnya rusak atau terbuang, sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya ikut terbuang.
Karena itu, memperbaiki sistem pascapanen menjadi bagian penting dari ketahanan pangan.
Kita tidak selalu harus membuka atau memperluas lahan untuk mendapatkan lebih banyak pangan. Mengurangi kehilangan hasil berarti mempertahankan pangan yang sebenarnya telah berhasil diproduksi.
Teknologi Harus Menjawab Kebutuhan Petani
Teknologi juga memiliki peran penting dalam mendukung pertanian.
Informasi cuaca, teknologi budidaya, alat dan mesin pertanian, sistem irigasi, teknik penyimpanan, hingga pemasaran digital dapat membantu kegiatan pertanian menjadi lebih efektif dan efisien.
Namun, teknologi harus disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
Teknologi yang baik bukan semata-mata teknologi yang paling canggih. Teknologi yang baik adalah teknologi yang dapat diakses, dipahami, digunakan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi petani.
Inovasi pertanian akan jauh lebih berarti apabila mampu menyelesaikan persoalan yang benar-benar dihadapi petani, baik dalam produksi, pengolahan, pemasaran, maupun adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Melihat Pangan Lebih Jauh
Pada akhirnya, ketahanan pangan merupakan persoalan yang panjang dan saling berkaitan.
Ada lahan yang harus dijaga, petani yang perlu diperhatikan, air yang harus dikelola, teknologi yang harus dikembangkan, hasil panen yang perlu diselamatkan, hingga konsumen yang ikut memiliki peran melalui pilihan pangannya.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita melihat pangan sedikit lebih jauh daripada sekadar apa yang tersedia di pasar.
Menjaga ketahanan pangan berarti menjaga seluruh rangkaian yang membuat pangan tetap tersedia: menjaga tanahnya, airnya, teknologinya, jalur distribusinya, pasarnya, dan yang tidak kalah penting, menjaga agar petani tetap mampu dan mau bertani.
Sebab pangan tidak tumbuh di rak pasar.
Ia tumbuh dari tanah, dari kerja petani, dan dari keputusan bersama untuk menjaga pertanian agar tetap hidup.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda