Ilustrasi salah satu penjual tahu yang ada di daerah Kota Denpasar
JurnalPost - Kata tahu sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Tahu adalah makanan yang dibuat dari endapan perasan biji kedelai yang mengalami koagulasi. Teksturnya yang lembut dan renyah jika digoreng selalu diminati banyak orang mulai dari anak anak,remaja, hingga orang dewasa. Walaupun bukan makanan asli Indonesia, olahan tahu sangat populer di indonesia, bahkan bisa menjadi makanan disaat dompet sedang kering karena harganya yang terjangkau.
Tahu memiliki berbagai macam jenis mulai dari tahu Sumedang, tahu bulat, tahu susu, tahu sutra, dan tahu crispy atau dikenal dengan tahu kremes. Dimasa pandemi Covid-19 ini tahu crispy sedang merajarela dipinggir jalan..Tahu crispy ini sendiri merupakan makanan yang terbuat dari bahan tahu yang dipotong kecil - kecil,ditepungi dan digoreng dengan minyak panas dan dibumbui dengan bumbu kering aneka rasa, dengan ditambahkan bumbu pedas dan aneka rasa lainnya tentu ini akan mengundang minat para masyarakat. Hal inilah yang membuat prospek peluang usaha tahu crispy ini sangatlah menjanjikan. Usaha ini mendatangkan berkah bagi pedagangnya, karena dengan modal yang tidak banyak, kita sudah dapat berwirausaha dengan peluang yang menjanjikan serta dapat mengurangi pengangguran karena dirumahkan atau kena PHK.
Umpama kita ilustrasikan untuk perhitungan usaha jual tahu crispy sebagai berikut :
Adanya faktor psikologi mempengaruhi berinvestasi dan hasil yang akan dicapai.
Oleh karenanya, analisis berinvestasi yang menggunakan Ilmu Psikologi dan Ilmu Keuangan dikenal dengan tingkah laku atau perilaku keuangan (Behaviour Finance). Shefrin (2000) mendefinisikan behaviour finance adalah studi yang mempelajari bagaimana fenomena psikologi mempengaruhi tingkah laku keuangannya. Nofsinger (2001) mendefinisikan perilaku keuangan yaitu mempelajari bagaimana manusia secara actual berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan (a financial setting). Khususnya, mempelajari bagaimana psikologi mempengaruhi keputusan keuangan, perusahaan dan pasar keuangan. Dari konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan bahwa perilaku keuangan merupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan bagaimana manusia melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan dipengaruhi oleh faktor psikologi.
Namun sebelum memulai usaha jualan tahu crispy, perlu dilakukan analisis agar bisa mengetahui,agar prospeknya menjanjikan dan menguntungkan.
Analisis Swot Bisnis Makanan Tahu Crispy Untuk mengetahui kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman dari usaha tahu crispy, perlu dilakukan analisis menggunakan teknik SWOT. Contoh analisis SWOT usaha makanan tahu crispy bisa Anda simak ulasannya berikut:
» Strength (Kekuatan) • Tidak memerlukan modal yang besar • Proses produksi yang terbilang mudah dan murah • Bahan baku yang mudah didapat • Harga produk yang terjangkau • Dapat memproduksi dalam jumlah banyak • Rasa produk yang gurih dan enak
» Weakness (Kelemahan)
• Produk yang tidak laku pada hari itu maka tidak bisa dijual keesokan harinya • Produk akan alot jika terkena angin terus menerus
» Opportunities (Peluang) • Disukai oleh masyarakat luas • Dapat memenuhi pesanan untuk pesta atau catering • Masyarakat yang konsumtif • Lokasi usaha yang strategis (bisa di rumah, dititipkan ke warung, atau menawarkan via media sosial).
» Threats (Ancaman) • Konsumen yang mudah bosan • Banyaknya jumlah kompetitor • Harga bahan baku yang bisa saja berubah-ubah
KEUNGGULAN DAN KEUNIKAN PRODUK Tahu crispy atau kremes ini mempunyai beberapa keunggulan antara lain :
1. Bentuk tahu yang membuat lidah kita merasakan kriuknya yang menjadi strenght bagi perusahaan penjual tahu crispy. 2. Packaging yang menarik membuat konsumen penasaran untuk membeli produk 3. Harga tahu crispy yang lebih terjangkau untuk ukuran makanan cepat saji. 4. Banyak variasi rasa ada yang isian dan original yang membuat rasanya semakin unik.
Tahu goreng crispy kian tenar dan menjadikan pilihan camilan yang disukai oleh semua kalangan.Selain diminati banyak orang, prospek usaha bisnis ini sangat menjanjikan karena keuntungan yang bisa diraup dalam sebulan mencapai Rp 6.000.000 sampai Rp 13.500.000 perbulan.
Ketatnya persaingan pasar menuntut pelaku usaha untuk berfikir kreatif dalam menginovasikan makanan. Membuat makanan biasa menjadi luar biasa dengan tampilan yang lebih menarik dan tentunya menjadi makanan kekinian yang bisa diterima oleh kalangan masyarakat.
Oleh : Ni Putu Juni Asmariati,SE (Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda