JurnalPost - Penggunaan tanaman obat untuk kesehatan sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia hingga sekarang. Tanaman obat banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan jamu, obat-obatan, serta dipercaya dapat mengurangi efek samping peggunaan obat-obatan kimiawi. Di Indonesia tanaman obat lebih sering dikategorikan ke dalam tanaman Biofarmaka. Di Indonesia, tanaman biofarmaka mencakup lima belas (15) jenis tanaman, diantaranya adalah kunyit, laos/lengkuas, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, temuireng, temukunci, dlingo/dringo, kapulaga, mengkudu/pace, mahkota dewa, kejibeling, sambiloto, dan lidah buaya (Statistik Hortikultura, 2014).
Pada tahun 2020, kunyit merupakan komoditas tanaman obat yang memberi kontribusi terbesar terhadap produksi hortikultura di Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh subur dengan baik di sekitar hutan dan tersebar di seluruh daerah tropis. Kunyit banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina (budidaya-petani.com, 2013). Tanaman obat ini dapat dimanfaatkan sebagai anti oksidan, anti penuaan, penawar racun, mencegah leukimia, untuk diet, mengobati sakit maag (tanamanobat.net,2016).
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, luas panen kunyit di Indonesia tahun 2016 hingga 2020 terus mengalami peningkatan (menunjukkan tren yang positif ) dengan rata-rata meningkat sebesar 12,40% per tahun dari yang semula 5,17 ribu hektar pada tahun 2016 menjadi 8,14 ribu hektar pada tahun 2020. Dengan meningkatnya luas panen kunyit di Indonesia ini, produksi kunyit juga ikut meningkat. Tercatat bahwa produksi kunyit di Indonesia pada tahun 2020 dari tahun sebelumnya meningkat 1,40 % dari yang semula sebesar 190,91 ribu ton menjadi sebesar 193,58 ribu ton. Jika dilihat dari tahun 2016-2020 produksi kunyit di Indonesia cenderung mengalami peningkatan rata-rata sebesar 18,34% per tahun dari yang semula pada tahun 2016 produksi kunyit di Indonesia sebesar 107,30 ribu ton. Meski produksi kunyit menunjukkan tren positif, produksi kunyit sempat menurun hingga 6,71% di tahun 2019. Oleh karena itu, produktivitas kunyit di Indonesia terbilang masih berfluktuatif. Poduktivitas kunyit di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 23,78 ribu ton/hektar, naik 0.88% dari tahun sebelumnya.
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS)
Kenaikan produksi kunyit di Indonesia pada tahun 2020 ini terjadi dikarenakan adanya peningkatan produksi di berbagai provinsi. Menurut data produksi tanaman biofarmaka yang di-update oleh BPS pada tanggal 7 Juni 2021, terdapat sebanyai 18 provinsi di Indonesia yang mengalami peningkatan produksi kunyit dari tahun sebelumnya. Peningkatan produksi kunyit terbesar di tahun 2020 terjadi di Provinsi Papua, Papua Barat, dan Sumatera Utara. Sementara penurunan produksi kunyit terbesar di tahun 2020 terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan Aceh.
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS)
Tiga provinsi dengan total produksi kunyit terbesar di tahun 2020 terjadi di Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Jawa Timur berkontribusi mencapai 53,06% terhadap produksi nasional dengan produksi sebesar 102,72 ribu ton dan luas panen 4,18 ribu hektar. Jawa Barat berkontribusi sebesar 19% dengan produksi mencapai 34.910 ton dan luas panen 1,17 ribu hektar. Jawa Tengah berkontribusi sebesar 17,26% dengan produksi mencapai 31.667 ton dan luas panen 1,63 ribu hektar. Jawa Barat berkontribusi sebesar 8,78% dengan produksi mencapai 16,99 ribu ton dan luas panen 688 hektar.
Nama penulis: Nabila Bianca Putri
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda