SURABAYA, JURNALPOST – Mahasiswa Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), menghadirkan inovasi produk merchandise untuk mendukung promosi delapan museum di Kota Surabaya.
Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pengembangan Marketing Informasi Berbasis Merchandise dan Penguatan Kompetensi Kehumasan bagi Para Pengelola Museum di Surabaya” yang berlangsung di Museum Pendidikan Surabaya, Jalan Genteng Kali Nomor 10, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan ini merupakan hari kedua dari rangkaian pengabdian masyarakat Departemen Informasi dan Perpustakaan UNAIR yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya dan UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya Kota Surabaya.
Jika pada hari pertama peserta mendapatkan penguatan kompetensi kehumasan, strategi pemasaran, dan pelayanan pengunjung, kegiatan hari kedua difokuskan pada pengembangan media promosi museum melalui produk kreatif yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Analisis Informasi Bisnis (AIB) turut berperan dengan memperkenalkan hasil rancangan produk yang dikembangkan berdasarkan karakteristik dan identitas masing-masing museum.
Kolaborasi UNAIR dan Pengelola Museum Diperkuat
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan dari perwakilan tim pengabdian masyarakat Departemen Informasi dan Perpustakaan UNAIR, Ragil Tri Atmi, S.IIP., M.A., dan Kepala UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya Kota Surabaya, Saidatul Maknunah, S.T.
Dalam sambutannya, Ragil Tri Atmi mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin antara pihak universitas dan pengelola museum di Surabaya.
Menurutnya, program pengabdian masyarakat tidak seharusnya berhenti pada penyelenggaraan pelatihan. Evaluasi dan pendampingan lanjutan diperlukan agar hasil kegiatan dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Hari ini bukan hari yang terakhir. Kami tidak akan meninggalkan kerja sama ini hanya sampai di sini,” ujar Ragil Tri Atmi.
Ia berharap kolaborasi yang telah berlangsung hingga tahun kedua tersebut dapat terus dikembangkan melalui pendampingan dan evaluasi bersama.
Sementara itu, Saidatul Maknunah menyampaikan apresiasi atas kontribusi tim UNAIR dalam meningkatkan kapasitas pengelola museum, terutama dalam bidang pemasaran informasi dan pelayanan pengunjung.
“Semoga ke depannya dengan adanya pelatihan-pelatihan ini diaplikasikan kepada teman-teman di lapangan,” tutur Saidatul Maknunah.
Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam pengelolaan museum sehingga memberikan manfaat langsung bagi pengunjung maupun pengembangan kelembagaan.
Tujuh Kelompok Mahasiswa Presentasikan Produk untuk Delapan Museum
Salah satu agenda utama kegiatan adalah presentasi hasil pengembangan produk merchandise oleh mahasiswa mata kuliah Analisis Informasi Bisnis.
Sebanyak tujuh kelompok mahasiswa memaparkan rancangan produk yang ditujukan untuk delapan museum di Surabaya. Setiap kelompok mengembangkan konsep dengan mempertimbangkan nilai sejarah, karakteristik koleksi, serta identitas museum yang menjadi objek pengembangan.
Produk yang diperkenalkan cukup beragam, mulai dari gantungan kunci, scarf, kopi, minyak aromaterapi, hingga tas belanja.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah produk kopi bernama Tjokro Coffee, yang terinspirasi dari Museum H.O.S. Tjokroaminoto.
Produk tersebut menunjukkan bagaimana informasi sejarah dan identitas museum dapat dikembangkan menjadi barang konsumsi yang memiliki nilai representasi sekaligus fungsi praktis.
Tidak hanya menampilkan konsep desain, mahasiswa juga membawa produk yang telah selesai dibuat untuk diperlihatkan secara langsung kepada perwakilan pengelola museum.
Dalam sesi presentasi, setiap kelompok menjelaskan latar belakang pengembangan, pemilihan desain, serta keterkaitan produk dengan museum yang menjadi sasaran.
Para pengelola museum kemudian memberikan tanggapan dan masukan mengenai kesesuaian produk dengan identitas lembaga masing-masing.
Diskusi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh penilaian langsung dari pihak yang berpotensi menggunakan hasil pengembangan produk mereka.
Masukan dari para pengelola juga menjadi bahan evaluasi agar produk dapat disempurnakan sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai bagian dari strategi promosi museum.
Merchandise Berpotensi Menjadi Media Promosi dan Sumber Pendapatan
Pengembangan merchandise menjadi salah satu alternatif untuk memperluas cara museum memperkenalkan koleksi, sejarah, dan identitasnya kepada masyarakat.
Selama ini, informasi mengenai museum umumnya disampaikan melalui ruang pamer, koleksi, kegiatan edukasi, maupun publikasi digital. Melalui pendekatan produk kreatif, pesan dan identitas museum dapat menjangkau masyarakat dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Gantungan kunci, tas belanja, maupun produk lainnya tidak hanya berfungsi sebagai kenang-kenangan bagi pengunjung, tetapi juga dapat memperkenalkan museum kepada orang lain ketika digunakan di luar lingkungan museum.
Selain mendukung promosi, pengembangan produk tersebut membuka peluang bagi pengelola museum untuk menghadirkan sumber pendapatan tambahan melalui penjualan merchandise kepada pengunjung.
Produk yang dikembangkan mahasiswa juga diarahkan untuk dapat diserahkan kepada pihak museum sebagai alternatif barang yang dapat dipasarkan.
Meski demikian, pemanfaatannya tetap memerlukan pertimbangan dari masing-masing pengelola, termasuk mengenai kesesuaian desain, kebutuhan pengunjung, dan potensi pengembangan produk secara berkelanjutan.
Dorong Inovasi dan Keberlanjutan Pengembangan Museum
Melalui keterlibatan dalam kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan akademik untuk menjawab kebutuhan nyata sebuah institusi.
Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan produk kreatif, tetapi juga melakukan analisis terhadap karakteristik museum, merancang konsep pemasaran, serta menjelaskan nilai produk kepada calon pengguna.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari penerapan pembelajaran mata kuliah Analisis Informasi Bisnis di luar ruang kelas.
Bagi pengelola museum, kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai potensi pengembangan produk kreatif sebagai sarana komunikasi, promosi, dan peningkatan layanan kepada pengunjung.
Rangkaian kegiatan hari kedua ditutup dengan sesi penutupan dan dokumentasi bersama antara tim pengabdian masyarakat UNAIR, mahasiswa, serta para perwakilan pengelola museum di Surabaya.
Kolaborasi antara dunia akademik dan pengelola museum ini diharapkan tidak hanya menghasilkan produk merchandise, tetapi juga mendorong keberlanjutan inovasi dalam pengelolaan serta pemasaran informasi museum.
Melalui evaluasi dan pendampingan lanjutan, hasil pengembangan mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat daya tarik museum sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi di Kota Surabaya.
Informasi kegiatan Departemen Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga dapat diikuti melalui Instagram @iipunairofficial.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda