Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mengenal Styphelia javanica, Semak Xerofit yang Mampu Bertahan di Tengah Kekeringan Savana Bromo

  2. Mahasiswa UNAIR Kembangkan Merchandise untuk Delapan Museum di Surabaya, Dorong Inovasi Promosi Wisata Sejarah

  3. Tim Fakultas Vokasi UM Dampingi Penataan Desain Interior untuk Memperkuat Identitas Institusi

  4. Menjadi Guru yang Pintar "Ngegas" dan "Ngerem": Seni Menjaga Keseimbangan di Ruang Kelas

  5. Praktik Orang Dalam dalam Rekrutmen Organisasi Mahasiswa: Ancaman terhadap Objektivitas dan Integritas

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Ilmu Kehilangan Adab: Pentingnya Pendidikan Akhlak Sejak Usia Dini dalam Tradisi Pesantren

Ketika Ilmu Kehilangan Adab: Pentingnya Pendidikan Akhlak Sejak Usia Dini dalam Tradisi Pesantren

E
Penulis: Enis Vidianingtyas
07 November 2026, 12.02 WITA Editor: Danang Purnama
07 Nov 2026, 12.02 WITA · 9 menit baca
9 menit baca
Enis Vidianingtyas

JurnalPost.com - Pendidikan sering kali dipandang berhasil ketika seorang anak mampu membaca lebih cepat, berhitung dengan lancar, atau menguasai berbagai pengetahuan sejak usia dini. Kemampuan akademik menjadi salah satu tolok ukur yang mendapat perhatian besar, baik dari orang tua maupun lembaga pendidikan. Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat aspek mendasar yang tidak boleh terabaikan, yakni pembentukan adab dan akhlak.

Kecerdasan intelektual memang memiliki peran penting dalam kehidupan. Akan tetapi, pengetahuan yang luas tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan seseorang menjaga sikap dan perkataannya. Tidak sedikit orang yang pandai mengemukakan pendapat, tetapi kesulitan menghargai pandangan orang lain. Ada pula yang memahami berbagai ajaran kebaikan, tetapi belum mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

IKLAN

Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan seharusnya tidak berhenti pada proses penguasaan ilmu. Lebih dari itu, pendidikan memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang berkarakter, memiliki kesadaran moral, serta mampu menggunakan pengetahuannya secara bijaksana.

Dalam perspektif pendidikan Islam, ilmu dan adab merupakan dua unsur yang saling melengkapi. Ilmu memberikan pemahaman, sedangkan adab membimbing seseorang dalam menerapkan pengetahuan tersebut. Keduanya perlu ditanamkan secara beriringan agar proses pendidikan menghasilkan pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.

Nilai tersebut telah lama menjadi bagian penting dalam tradisi pendidikan pesantren. Para santri tidak hanya diarahkan untuk memahami kitab atau mendalami ilmu agama, tetapi juga dibiasakan menghormati guru, menjaga tutur kata, menghargai sesama, dan bertanggung jawab atas perilakunya.

Menariknya, nilai-nilai pendidikan pesantren tidak hanya relevan bagi mereka yang belajar di lingkungan pondok. Prinsip tersebut juga dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter sejak awal kehidupan.

Pendidikan Adab Perlu Ditanamkan Sejak Anak Berusia Dini

Masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan dan perilaku. Pada tahap ini, anak banyak belajar melalui pengamatan, pengalaman langsung, serta interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Perkataan dan tindakan orang tua maupun guru menjadi contoh yang dapat memengaruhi cara anak bersikap. Karena itu, pendidikan adab tidak cukup hanya diberikan melalui nasihat atau penjelasan mengenai perilaku baik dan buruk.

Anak perlu melihat bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika orang tua membiasakan berbicara dengan santun, anak memperoleh contoh nyata tentang cara menghargai orang lain. Demikian pula ketika guru menunjukkan kesabaran, bersikap adil, dan menghormati peserta didik, anak belajar memahami makna akhlak melalui pengalaman langsung.

Dalam ajaran Islam, pentingnya pembentukan karakter anak tercermin melalui nasihat Luqman yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Luqman ayat 17–19.

Nasihat tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari menjalankan ibadah, mengajak kepada kebaikan, melatih kesabaran, hingga menjauhi kesombongan dalam berinteraksi dengan sesama.

Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًاۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa pendidikan anak tidak hanya menyangkut kemampuan memahami sesuatu, tetapi juga mencakup cara memperlakukan orang lain.

Sikap rendah hati, kesopanan, serta kemampuan menghormati sesama merupakan nilai yang perlu diperkenalkan sejak anak mulai mengenal lingkungan sosialnya.

Dalam praktik pendidikan anak usia dini, nilai tersebut dapat ditanamkan melalui kebiasaan sederhana, seperti mengucapkan salam, mendengarkan ketika orang lain berbicara, meminta izin sebelum meminjam barang, serta mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan tersebut dapat menjadi dasar bagi perkembangan karakter anak pada tahap kehidupan berikutnya.

Tradisi Pesantren dan Pentingnya Memuliakan Ilmu

Pesantren memiliki tradisi pendidikan yang menempatkan adab sebagai bagian penting dari proses menuntut ilmu. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga melalui pembiasaan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang santri dibimbing untuk menghargai guru, menjaga hubungan dengan teman, menaati aturan, serta memperlakukan ilmu dengan penuh tanggung jawab.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji dalam kitab Ta'limul Muta'allim Thariq at-Ta'allum, yang menjadi salah satu rujukan dalam tradisi pendidikan Islam.

Kitab tersebut menguraikan berbagai prinsip menuntut ilmu, termasuk pentingnya meluruskan niat, memilih guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, serta menghormati ilmu dan orang yang mengajarkannya.

Pada pembahasan Ta'zhim al-'Ilmi wa Ahlihi, Az-Zarnuji memberikan perhatian khusus terhadap penghormatan kepada ilmu dan ahli ilmu.

Nilai tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan belajar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan memahami pelajaran, tetapi juga berkaitan dengan sikap dan kesungguhan seseorang selama menjalani proses pendidikan.

Prinsip ini dapat menjadi inspirasi bagi lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan taman kanak-kanak dalam membangun budaya belajar yang mengutamakan kesopanan, kedisiplinan, serta tanggung jawab.

Penerapannya tentu perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Pendidikan adab di lingkungan PAUD tidak berarti harus meniru seluruh sistem kehidupan pesantren.

Sebaliknya, nilai-nilai positif yang terkandung dalam tradisi tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas sederhana dan menyenangkan.

Sebagai contoh, anak diajak menjaga buku dan perlengkapan belajar, menunggu giliran ketika berbicara, mendengarkan penjelasan guru, serta mengembalikan mainan setelah digunakan.

Melalui kegiatan tersebut, anak tidak sekadar mengikuti aturan, tetapi mulai memahami pentingnya menghargai orang lain dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Ketika Pengetahuan Tidak Diimbangi dengan Akhlak

Perkembangan ilmu pengetahuan membuka kesempatan yang semakin luas bagi manusia untuk belajar dan memahami berbagai persoalan. Namun, kemajuan pengetahuan juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri dan menjaga perilaku.

Seseorang dapat memiliki kemampuan berpikir yang baik, tetapi tetap membutuhkan bimbingan dalam menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.

Dalam dunia pendidikan, kondisi ini menjadi alasan mengapa pembentukan akhlak tidak boleh ditempatkan sebagai pelengkap semata.

Pendidikan yang terlalu berorientasi pada pencapaian akademik berisiko mengabaikan perkembangan sikap, empati, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Meski demikian, pentingnya adab bukan berarti kemampuan akademik harus dikesampingkan. Keduanya justru perlu dikembangkan secara seimbang.

IKLAN

Anak tetap perlu memperoleh kesempatan belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengeksplorasi berbagai pengetahuan. Pada saat yang sama, mereka juga membutuhkan bimbingan untuk memahami kejujuran, kesopanan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap pembentukan akhlak. Salah satu hadis yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad menyebutkan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Pesan tersebut menegaskan kedudukan akhlak dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalam konteks pendidikan, keberhasilan anak tidak seharusnya diukur hanya berdasarkan banyaknya materi yang dikuasai. Perubahan perilaku yang positif juga merupakan bagian penting dari perkembangan mereka.

Anak yang mulai mampu berkata jujur, menghormati guru, berbagi dengan teman, dan bertanggung jawab terhadap tindakannya sedang menunjukkan proses pembentukan karakter yang patut dihargai.

Menerapkan Nilai Pendidikan Pesantren di Lingkungan PAUD

Penanaman adab kepada anak usia dini membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Pada tahap perkembangan ini, anak belum tentu mampu memahami penjelasan panjang mengenai konsep moral atau akhlak. Namun, mereka dapat belajar melalui contoh, permainan, serta kegiatan yang dilakukan secara berulang.

Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pembentukan karakter.

Kegiatan seperti berdoa sebelum belajar, memberi salam, mengucapkan terima kasih, dan meminta izin dapat menjadi bagian dari rutinitas harian di sekolah.

Anak juga dapat dibimbing untuk menghargai perbedaan, tidak mengejek teman, berbagi perlengkapan, serta membantu orang lain sesuai kemampuannya.

Selain hubungan antarmanusia, pendidikan adab dapat mencakup kepedulian terhadap lingkungan dan makhluk hidup.

Merapikan mainan, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, dan menyayangi hewan merupakan contoh kegiatan sederhana yang memiliki nilai pendidikan karakter.

Namun, pembiasaan tersebut akan lebih bermakna apabila disertai keteladanan dari orang dewasa.

Seorang guru yang mengajarkan kesantunan perlu menunjukkan cara berbicara yang baik. Begitu pula ketika mengajarkan tanggung jawab, guru dapat memberikan contoh melalui sikap disiplin dan konsisten dalam menjalankan aturan.

Dengan demikian, pendidikan adab tidak hanya hadir sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah.

Kolaborasi Keluarga dan Sekolah dalam Membentuk Akhlak Anak

Pembentukan akhlak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pendidikan. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal kebiasaan, nilai, dan pola interaksi sosial.

Karena itu, kerja sama antara orang tua dan guru menjadi faktor penting dalam menanamkan pendidikan adab secara berkelanjutan.

Kebiasaan yang diperkenalkan di sekolah sebaiknya mendapatkan penguatan di rumah. Sebaliknya, nilai-nilai baik yang diajarkan dalam keluarga perlu didukung melalui lingkungan pembelajaran yang positif.

Misalnya, ketika anak dibiasakan merapikan mainan di sekolah, orang tua dapat menerapkan kebiasaan serupa di rumah. Ketika anak belajar meminta maaf kepada teman, keluarga juga perlu menunjukkan bahwa mengakui kesalahan merupakan tindakan yang baik.

Keselarasan pendidikan antara rumah dan sekolah membantu anak memahami bahwa adab bukan sekadar aturan yang berlaku di tempat tertentu, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Proses tersebut membutuhkan kesabaran. Tidak semua anak dapat langsung menerapkan perilaku yang diajarkan. Mereka memerlukan waktu, pendampingan, dan kesempatan untuk terus belajar.

Oleh sebab itu, pendidikan adab sebaiknya tidak dibangun melalui tuntutan yang berlebihan, melainkan melalui pendekatan yang penuh kasih sayang, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Membangun Generasi Berilmu dan Berakhlak

Pendidikan yang bermakna tidak hanya bertujuan menghasilkan generasi yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat.

Tradisi pendidikan pesantren memberikan pelajaran bahwa proses menuntut ilmu berkaitan erat dengan penghormatan, keteladanan, kedisiplinan, serta pembentukan akhlak.

Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk diterapkan dalam pendidikan modern, termasuk pada jenjang anak usia dini.

Melalui pembiasaan sederhana, anak dapat belajar bahwa kecerdasan perlu disertai kerendahan hati, pengetahuan harus digunakan secara bertanggung jawab, dan keberhasilan tidak boleh membuat seseorang kehilangan rasa hormat kepada sesama.

Pada akhirnya, pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang mempersiapkan mereka memasuki jenjang sekolah berikutnya. Pendidikan juga merupakan proses membangun fondasi kepribadian yang akan memengaruhi cara anak menjalani kehidupannya.

Anak perlu tumbuh dengan kemampuan berpikir yang baik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kepedulian, dan kesadaran moral.

Sebab, nilai ilmu tidak hanya terletak pada seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga pada bagaimana pengetahuan tersebut membentuk sikap dan tindakan seseorang.

Jangan sampai pendidikan berhasil melahirkan generasi yang kaya ilmu, tetapi kehilangan adab dalam menggunakannya.


Sumber Rujukan

  1. Al-Qur'an al-Karim, Surah Luqman ayat 17–19.

  2. Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, riwayat tentang penyempurnaan akhlak mulia.

  3. Az-Zarnuji, Burhanuddin, Ta'limul Muta'allim Thariq at-Ta'allum.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pentingnya-pendidikan-adab-sejak-usia-dini-dalam-tradisi-pesantren/98578/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026, 12.27 WITA

  • #Karakter Anak
  • #Pendidikan Islam
  • #akhlak anak
  • #etika belajar
  • #pendidikan Anak Usia Dini
  • #pendidikan adab
  • #tradisi pesantren

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mengenal Styphelia javanica, Semak Xerofit yang Mampu Bertahan di Tengah Kekeringan Savana Bromo

Masjid sebagai Pusat Pendidikan Islam: Antara Semangat Mendirikan Lembaga dan Tantangan Manajemen

Praktik “Orang Dalam”: 4 Langkah Mencegah Ketidakadilan dalam Rekrutmen Organisasi Mahasiswa

Di Solo, Klakson Motor Lebih Sering Dipakai untuk Menyapa Teman daripada Menghindari Tabrakan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Gerakan Literasi Nasional sebagai Upaya Membangun Budaya Literasi di Indonesia

Universitas Negeri Malang Hadirkan ElectroRace Kit untuk Pembelajaran IPA di MTs Sunan Kalijogo

Tarbiyah vs Taklim: Mengapa Santri Lebih Butuh Dididik daripada Sekadar Diajari?

Pengelola Museum di Surabaya Perkuat Profesionalisme Kehumasan, Strategi Pemasaran, dan Pelayanan Pengunjung

Pilihan Editor

  1. 1 Tarbiyah vs Taklim: Mengapa Santri Lebih Butuh Dididik daripada Sekadar Diajari?
  2. 2

    Ketoprak Sedap Malam di Cirebon Jual 35 Porsi Sehari, Ini Hasil Kajian Kelayakan Usahanya

  3. 3

    Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

  4. 4

    Plagiarisme di Kalangan Mahasiswa sebagai Pelanggaran Integritas Akademik

  5. 5

    Menatap Masa Depan Digital: Ketika Teknologi AI Hadir di Waduk Jatiluhur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.