24 C
Jakarta
Kamis, Mei 6, 2021

Ramadan Menurut Ilmu Psikologi dan Kedokteran

Oleh : T.M.Ichsan

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh ampunan bagi pemeluk agama Islam.

JURNALPOST – Para muslim di seluruh dunia menyambut bulan ini dengan penuh kegembiraan dan rasa takwa terhadap  Allah SWT. Di Indonesia bulan suci Ramadhan bertepatan pada tanggal 13 April 2021 sampai dengan 13 Mei 2021.

Bulan ini identik dengan sholat Tarawih, Tadarus Al-Qur’an dan tentunya menunggu berbuka puasa atau istilah gaulnya dengan “Ngabuburit’.

Dalam ajaran Islam puasa Ramadhan merupakan puasa yang bertepatan di bulan Ramadhan yang dapat menghapus kesalahan atau dosa yang telah diperbuat, asalkan dilakukan dengan iman dan megharapkan pahala dari ridha Allah SWT.

Manfaat puasa Ramadhan menurut ilmu Kedokteran

  1. Mengontrol gula darah

Dengan berpuasa tubuh kita akan membatasi asupan kalori dan mengurangi resistensi insulin dengan demikian sensitivitas tubuh terhadap insulin dapat meningkat sehingga glukosa dari aliran darah dapat berpindah ke sel tubuh lebih efesien.

  1. Menjaga berat badan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa puasa bisa menurunkan berat badan dengan sehat. Hal ini merupakan karena pembakaran lemak secara berlebihan terjadi akibat kita berpuasa seharian penuh. Akan tetapi perlu kita sadari berat badan akan bertambah jika kita tetap tidak mengontrol kalori yang dimakan saat berbuka.

  1. Meningkatkan kekebalan tubuh

Puasa bermanfaat untuk menigkatkan kekebalan tubuh. Dengan kita berpuasa limfosit akan meningkat hingga 10 kali lipat yang membuat tubuh tetap sehat dan segar.

Nah sangat menarik bukan, selain kita mendapatkan pahala dari Allah SWT kita juga mendapatkan banyak sekali manfaat dari puasa, tidak hanya pada kesehatan fisik tetapi juga pada kesehatan mental, berikut manfaat puasa menurut ilmu psikologi.

 

Manfaat puasa Ramadhan menurut ilmu Psikologi

  1. Puasa meningkatkan kontrol Diri

Puasa menganjurkan untuk menahan diri dari makan, minum dan juga menahan dari prilaku tercela.

Menurut Belgin (1987) mengungkapkan bahwa orientasi religius intrinsik dapat memiliki konsekuensi Positif, termasuk terhadap variable kepribadian seperti kontrol diri, kecemasan,keyakinan irrasional, depresi dan sifat-sifat yang lain.

Munurut Calhoun dan Acocella (1990) kemampuan individu untuk memadukan, mengarahkan dan mengatur prilakunya dalam menghadapi stimulus sehingga menghasilkan akibat yang diinginkan dan menghindari hal yang tidak diinginkan.

  1. Meningkatkan nilai prilaku sosial

Pada waktu berpuasa umat muslim dianjurkan untuk beramal dan besedekah  sebanyak-banyaknya, suasana itu memimbulkan efek positif yang meningkatkan nilai prilaku sosial.

Perilaku tersebut di lakukan secara terus menerus yang menimbukan bekas pada diri seseoarang yang relatif menetap.

  1. Melatih mental anak

Perkembangan seorang anak sangatlah ditentukan oleh orang tuanya dan juga ligkunganya, dengan berpuasa anak dilatih untuk meningkatkan kesabaran dan juga rasa simpati terhadap orang lain. Anak yang di berikan stimulus oleh orangtuanya membuatnya merasa syukur atas apa yang dimilikinya dan juga membuat anak tidak membuang-buang makanan dengan berpuasa anak dilatih untuk saling menyayangi satu sama lain. Puasa membuat anak merasa tentram dan juga damai, hal ini membuat mental anak merasa nyaman dan berkembang dengan baik.

Penulis merupakan Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Masuk

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Masuk

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.