JAKARTA, JurnalPost.com - Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Jakarta II menggelar pelatihan bagi kader kesehatan dan masyarakat pra-lansia di Kelurahan Pancoran, Jakarta Selatan, pada 27 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penggunaan gigi tiruan untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 10 kader kesehatan dan 20 warga pra-lansia. Mereka mendapatkan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut, manfaat penggunaan gigi tiruan, hingga cara melakukan perawatan yang tepat.
Pelatihan yang diselenggarakan Jurusan Teknik Gigi Poltekkes Kemenkes Jakarta II ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat sekaligus mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Melalui kegiatan tersebut, kader kesehatan diharapkan mampu menjadi penggerak edukasi kesehatan gigi dan mulut, khususnya bagi masyarakat yang mengalami kehilangan gigi.
Kehilangan Gigi Bisa Berdampak pada Kesehatan Lansia
Kehilangan gigi masih kerap dianggap sebagai kondisi yang wajar terjadi seiring bertambahnya usia. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mengunyah, berbicara, hingga pemenuhan kebutuhan gizi seseorang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk lanjut usia di Indonesia pada 2024 telah mencapai sekitar 12 persen dari keseluruhan populasi.
Peningkatan jumlah lansia menjadi perhatian karena kelompok usia tersebut memiliki kebutuhan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, termasuk kesehatan gigi dan mulut.
Penelitian Susilawati dan sejumlah peneliti lainnya pada 2025, melalui analisis data Riset Kesehatan Dasar yang melibatkan 16.973 responden, menunjukkan sekitar 20,6 persen masyarakat kelompok usia paruh baya dan lansia mengalami kehilangan sedikitnya satu gigi.
Sementara itu, kajian ilmiah Zelig dan rekan-rekannya pada 2022 mengaitkan kondisi kehilangan seluruh gigi dengan peningkatan risiko kekurangan gizi pada kelompok lansia sebesar 21 persen.
Kehilangan gigi dapat menyebabkan seseorang kesulitan mengonsumsi makanan tertentu, terutama makanan yang membutuhkan kemampuan mengunyah lebih kuat.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keragaman makanan yang dikonsumsi serta kualitas asupan gizi.
Penggunaan gigi tiruan menjadi salah satu pilihan rehabilitasi untuk membantu mengembalikan fungsi pengunyahan, memperbaiki kemampuan berbicara, serta menunjang penampilan dan kepercayaan diri.
Namun, keterbatasan informasi, pertimbangan biaya, dan kekhawatiran terhadap kenyamanan penggunaan masih menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat.

Kader Kesehatan Mendapatkan 12 Materi Edukasi
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pembukaan, doa bersama, dan laporan ketua tim pengabdian kepada masyarakat.
Sekretaris Kelurahan Pancoran, Sami Astuti, S.KM., M.K.M., turut memberikan sambutan sebagai bentuk dukungan pemerintah kelurahan terhadap peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.
Sebelum mengikuti pelatihan, seluruh peserta diminta mengerjakan tes awal atau pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan mereka mengenai kesehatan gigi dan penggunaan gigi tiruan.
Materi pelatihan disusun dalam 12 bab yang terbagi menjadi tiga sesi utama.
Sesi pertama disampaikan oleh drg. Marzia Magdalena Tetelepta, M.Si., yang membahas kesehatan gigi dan mulut pada lansia, berbagai masalah yang sering ditemukan, jenis dan manfaat gigi tiruan, serta kondisi yang memerlukan pemeriksaan dokter gigi.
Selanjutnya, tekniker gigi Didik Marsigid, AMTG., SKM., M.Kes., memberikan penjelasan mengenai tahapan memperoleh gigi tiruan, teknik pemasangan dan pelepasan yang aman, hingga cara membersihkan serta menyimpan gigi tiruan.
Pada sesi ketiga, promotor kesehatan Firdy Rama Permana Putra, S.Tr.Kes., M.K.M., membahas pola makan yang sesuai bagi pengguna gigi tiruan, peran kader sebagai penyampai informasi kesehatan, teknik komunikasi yang empatik, serta pengenalan tanda bahaya yang memerlukan rujukan.
Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga mengikuti demonstrasi menggunakan alat peraga berupa model gigi tiruan dan model gigi berlubang.
Tim pengabdian turut membagikan booklet, leaflet, dan poster sebagai media edukasi yang dapat digunakan kembali dalam kegiatan kesehatan masyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, terutama mengenai kenyamanan penggunaan, perawatan, serta prosedur mendapatkan gigi tiruan.
Hasil Evaluasi Menunjukkan Pengetahuan Kader Meningkat
Setelah seluruh materi disampaikan, peserta kembali mengikuti tes akhir atau posttest untuk mengevaluasi perubahan tingkat pengetahuan.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kader kesehatan dari 80 pada tes awal menjadi 97 setelah mengikuti pelatihan.
Berdasarkan pengujian statistik, peningkatan tersebut dinyatakan signifikan dengan nilai p = 0,016.
Sementara itu, kelompok masyarakat pra-lansia juga menunjukkan peningkatan nilai rata-rata, yakni dari 93 menjadi 99.
Meski demikian, perubahan pada kelompok pra-lansia belum mencapai tingkat signifikansi statistik dengan nilai p = 0,098.
Tim pengabdian menilai kondisi tersebut antara lain dipengaruhi tingginya nilai awal peserta serta keterbatasan instrumen evaluasi yang hanya terdiri atas lima pertanyaan.
Dengan kondisi tersebut, ruang peningkatan skor menjadi relatif kecil. Tim berencana menyempurnakan instrumen penilaian untuk kegiatan berikutnya.
Hasil pelatihan ini menunjukkan potensi kader kesehatan sebagai penggerak edukasi masyarakat. Namun, peningkatan pengetahuan belum dapat langsung diartikan sebagai perubahan perilaku atau peningkatan penggunaan gigi tiruan di masyarakat.
Media Edukasi Diserahkan kepada Kader untuk Digunakan Berkelanjutan
Sebagai langkah keberlanjutan program, tim pengabdian menyerahkan media edukasi berupa booklet, leaflet, poster, dan alat peraga kepada kader kesehatan.
Seluruh media tersebut diharapkan dapat membantu kader menyampaikan informasi kepada warga, terutama kelompok pra-lansia dan lansia yang mengalami kehilangan gigi.
Booklet yang dikembangkan tim juga telah memperoleh sertifikat Hak Cipta dengan nomor EC002026212546.
Selain itu, dokumentasi video kegiatan telah dipublikasikan, sedangkan penyusunan artikel ilmiah untuk jurnal nasional masih dalam proses.
Kegiatan ditutup oleh Lurah Pancoran, Hifzillah, S.STP., dan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta.
Poltekkes Kemenkes Jakarta II Siapkan Pendampingan Lanjutan
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kelurahan Pancoran yang memfasilitasi lokasi kegiatan, mengundang peserta, dan membantu koordinasi dengan pengurus lingkungan.

Meski berlangsung dengan baik, tim pengabdian mencatat sejumlah kendala teknis, seperti perubahan jadwal dan keterbatasan waktu diskusi akibat tingginya antusiasme peserta.
Selain itu, pelatihan bagi kader kesehatan dan masyarakat pra-lansia yang awalnya direncanakan berlangsung terpisah akhirnya dilaksanakan secara bersamaan.
Ke depan, tim pengabdian berencana melakukan pendampingan kader secara berkala serta memperkuat koordinasi dengan puskesmas setempat.
Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai gigi tiruan sekaligus memudahkan akses pemeriksaan dan rujukan pelayanan kesehatan gigi.
Melalui pendampingan berkelanjutan, kader kesehatan Kelurahan Pancoran diharapkan tidak hanya mampu memberikan edukasi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi dan mulut sejak usia pra-lansia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda