JurnalPost.com - Perkembangan pariwisata Indonesia saat ini melaju sangat pesat sesuai dengan perkembangan zaman. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap keuangan negara. Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia menjadikan suatu potensi wisata yang dapat dibanggakan negara Indonesia. Keindahan alam dan keragaman budaya yang bernilai tinggi dalam pasar industri ekowisata. Keragaman budaya yang dimiliki negara Indonesia dapat berupa keanekaragaman kesenian, bahasa, religi, pakaian adat, pengetahuan dan organisasi sosial. Pertumbuhan ekowisata rata-rata sebesar 10 persen per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata per tahun untuk pariwisata pada umumnya yaitu sebesar 4.6 persen per tahun. (Hijriati & Mardiana, 2014)
Pariwisata desa, dengan fokusnya pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, muncul sebagai pendorong utama dalam menciptakan ekonomi yang tangguh Melalui pengembangan ekowisata dan pemberdayaan pemuda lokal, pariwisata desa menawarkan solusi komprehensif untuk mengangkat komunitas pedesaan dan memastikan masa depan yang lebih cerah bagi semua. Bentuk ekowisata yang berkelanjutan menawarkan cara untuk mengapresiasi keindahan alam sambil melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem yang rapuh. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab, ekowisata menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, sekaligus melestarikan lingkungan untuk generasi mendatang.
Mengembangkan Ekonomi Berkelanjutan: Peran Pariwisata Desa dalam Pengembangan Ekowisata dan Pemuda Lokal Pariwisata desa menjadi strategi penting untuk membangun ekonomi berkelanjutan di daerah terpencil. Melalui pengembangan ekowisata, desa-desa dapat memanfaatkan potensi alam dan budaya mereka untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan melestarikan lingkungan. Di sinilah peran pemuda lokal menjadi sangat krusial.
Pemberdayaan pemuda lokal juga sangat penting untuk keberhasilan pariwisata desa. Dengan melatih dan melengkapi pemuda dengan keterampilan yang dibutuhkan, masyarakat dapat menciptakan tenaga kerja yang terampil yang dapat memenuhi kebutuhan industri ini yang sedang berkembang. Mereka dapat menjadi pemandu wisata, pengelola homestay, atau wirausahawan yang menjual produk kerajinan dan makanan khas desa. Dengan keterlibatan pemuda, desa dapat menciptakan lapangan kerja lokal dan mendorong inovasi dalam pengelolaan pariwisata.
Hal ini tidak hanya memberikan peluang bagi kaum muda, tetapi juga memastikan keberlanjutan pariwisata desa dalam jangka Panjang. Dengan mempromosikan pariwisata berbasis alam, desa dapat menjadi tujuan wisata alternatif yang mengedepankan pengalaman autentik bagi pengunjung sekaligus mengurangi tekanan terhadap destinasi wisata yang sudah terlalu ramai.
Ekowisata dan Pengembangan Ekonomi Ekowisata menggabungkan aspek pariwisata dengan prinsip-prinsip konservasi lingkungan. Dengan mengembangkan tempat wisata yang berkelanjutan, desa-desa dapat menarik wisatawan yang peduli akan alam dan budaya lokal. Kegiatan ekowisata seperti hiking, pengamatan burung, dan wisata budaya tidak hanya mendatangkan pendapatan tetapi juga mempromosikan pelestarian lingkungan.
Masyarakat lokal di minta untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan wisata, sehingga mereka dapat memanfaatkan keuntungan dari industri pariwisata. Ekowisata harus berorientasi pada masa depan, artinya harus dapat dipertahankan secara fisik dan ekonomi tanpa merusak lingkungan. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ekowisata perlu membayar tiket masuk, sewa fasilitas, belanja barang lokal, dan menggunakan jasa lainnya. Ini berarti bahwa pendapatan masyarakat lokal meningkat secara langsung melalui transaksi-transaksi tersebut
Pengembangan Ekowisata dan Contoh Prakteknya Ekowisata ini tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai perjalanan wisata bertanggung jawab. Kegiatan ekowisata yang sedang menjadi tren dunia dan diminati oleh wisatawan merupakan peluang bagi Indonesia, utamanya untuk meningkatkan pendapatan sektor wisata serta penyerapan tenaga kerja khususnya masyarakat lokal. Peningkatan kesejahteraan masyarakat, dapat diharapkan berpengaruh pada kepedulian terhadap kelestarian lokasi ekowisatanya.

Berikut ini merupakan contoh praktek ekowisata yang sederhana dan mudah diterapkan oleh siapa saja di berbagai daerah atau tujuan wisata:
Ekowisata di Hutan Bakau Mangrove Hutan Mangrove Bali atau Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai yang terletak di Denpasar menjadi salah satu spot wisata favorit. Luasannya mencapai 1.373 hektare dengan panjang 1,5 kilometer. Pengunjung bisa rehat sejenak sembari menghirup udara segar di tower khusus di tengah hutan. Tower ini juga instagramable, sehingga banyak dijadikan latar belakang untuk berswafoto. Dari puncak tower pengunjung bisa menikmati keindahan alam hutan bakau dari atas.
Mangrove berfungsi penting bagi sumber pendapatan masyarakat. Apalagi sebagian besar nelayan memeluk Hindu yang memegang teguh konsep Tri Hita Karana, yaitu hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan lingkungan.
Kelompok Nelayan juga memiliki area pembibitan tanaman mangrove. Mereka akan menanami kembali tanaman mangrove yang mati atau rusak. Penanaman mangrove dilakukan hingga ke pelosok-pelosok hutan sembari menggunakan perahu atau kano.
Ada setidaknya 16 jenis vegetasi bakau di Hutan Mangrove Bali didominasi Rhizophora, Bruguiera, dan Xylocarpus. Keberadaannya memberi naungan terhadap satwa air dan darat di sekitarnya. Unit Pelaksana Teknis Taman Hutan Raya Ngurah Rai mencatat sekitar 61 jenis burung, empat reptil, 30 jenis Crustacease, dan delapan jenis ikan hidup di dalamnya.
Hutan Mangrove Bali berada di segi tiga emas pusat pariwisata Pulau Dewata. Lokasinya berdekatan dengan Pantai Sanur, Pantai Kuta, dan Kawasan Jimbaran. Posisi strategis ini memungkinkan pengunjung obyek wisata lain yang awalnya tidak berniat berkunjung, kemudian menjadi tertarik berkunjung.
Manfaat Ekonomi Mengembangkan ekowisata dan memberdayakan pemuda lokal dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi daerah pedesaan. Pariwisata dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan, dan mendorong investasi di infrastruktur. Hal ini dapat mengarah pada peningkatan standar hidup, pengurangan kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, ekowisata dapat membantu melestarikan lingkungan alam, yang sangat penting untuk keberlanjutan jangka panjang.
Manfaat Sosial Pariwisata desa juga dapat memberikan manfaat sosial yang positif. Ini dapat membantu membangun rasa bangga dan identitas komunitas, karena masyarakat setempat melihat nilai dalam warisan dan budaya mereka. Ini juga dapat meningkatkan pemahaman budaya antara wisatawan dan masyarakat setempat, yang mengarah pada toleransi dan rasa hormat yang lebih besar.
Keterlibatan dalam ekowisata sering kali meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan kepada masyarakat mengenai praktik berkelanjutan dan konservasi dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang ekosistem lokal dan tantangan yang dihadapi, sehingga mendorong perilaku yang lebih ramah lingkungan. serta meningkatkan kualitas hidup melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan infrastruktur. Dengan pendekatan yang tepat, ekowisata dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di daerah-daerah tersebut
Kesimpulan Dengan memberdayakan pemuda lokal dan mengembangkan ekowisata, pariwisata desa dapat menjadi penggerak untuk ekonomi berkelanjutan yang seimbang secara ekologis, sosial, dan ekonomi. Ini menciptakan peluang ekonomi baru, meningkatkan standar hidup, melestarikan lingkungan, dan memperkuat komunitas. Dengan berinvestasi para pemuda lokal dan ekowisata dapat membangun masa depan yang lebih cerah bagi daerah pedesaan, Diharapkan ekowisata dapat berperan lebih efektif dalam memberdayakan perekonomian masyarakat daerah, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, serta melestarikan budaya dan lingkungan setempat.
Oleh: Raffadenta Moelia Hanzah
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda