Oleh: Sintha Jwita Kristina Pinem Nim: 190501158 Prodi: Ekonomi Pembangunan (Universitas Sumatera Utara)
Pendahuluan Wabah pandemi di Indonesia sudah lebih dari satu tahun berjalan. Sebagai salah satu solusinya, pemerintah menerapkan PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Menurut laporan Bank Indonesia, dengan pemberlakuan PPKM ini, bisa diperkirakan akan berdampak pada menurunnya aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Peraturan PPKM seperti larangan melakukan perjalanan antarkota, anatnegara, bahkan antarbenua. Pusat perbelanjaan, bank, hotel, dan restoran beroperasi dengan batasan tertentu. Dengan adanya pembatasan ini ada sejumlah sektor ekonomi atau lapangan usaha yang terdampak secara langsung oleh COVID-19 dinilai memberikan efek domino terhadap aspek sosial, ekonomi, keuangan, dan pada sektor keuangan.
Perbankan yang memiliki peran sebagai lembaga intermediasi sangat merasakan dampak penerapan PPKM karena dengan pembatasan ini melemahkan kemampuan bank dalam menghimpun dan menyalurkan dana, hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan yang terendah sejak tahun 2018 yaitu tumbuh hanya 1,04% (yoy). Di bulan yang sama pada tahun 2021 pertumbuhan DPK justru meningkat sebesar 11,64% (yoy) yang artinya dana yang terhimpun meingkat akan tetapi tidak diikuti dengan peningkatan penyaluran kredit. Secara ideal, bisnis utama perbankan adalah menyalurkan dana yang telah dihimpun meningkat seiring dengan meningkatnya dana yang dikumpulkan. Rendahnya angka pertumbuhan kredit dan tingginya pertumbuhan DPK tak lain akibat permintaan domestik yang belum kuat dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi COVID-19. Saat ini masyarakat lebih memilih pendapatannya ditabung untuk berjaga-jaga daripada untuk konsumsi atau investasi. Hal tersebut yang kini menyebabkan pertumbuhan DPK lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit.
Pembahasan Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fungsi utama perbankan adalah sebagai lembaga intermediasi yaitu menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunannasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Dalam laporan Bank DBS Indonesia, sektor perbankan diprediksikan siap untuk mendukung penyelesaian krisis yang sedang berlangsung, meskipun bukan berarti tanpa risiko sama sekali. Oleh karena itu, meskipun industri perbankan akan tetap siap mengawal pemulihan perekonomian nasional, tapi akan tetap memperhatikan beberapa kondisi. Adapun tantangan lain yang saat ini menjadi kekhawatiran sektor perbankan di antaranya rasio kredit di kawasan ini yang cukup tinggi, serta rasio pembayaran utang juga cukup tinggi meskipun tier 1 capital buffers telah meningkat hampir di semua wilayah. Ketika dukungan kebijakan stimulus berakhir, beberapa bisnis dan rumah tangga diprediksi akan menghadapi kesulitan yang pada gilirannya bisa mengganggu kualitas aset bank di level regional.
Bahkan sebelum pandemi melanda, pemberi pinjaman sektor swasta di Asia telah memprediksi adanya rasio pembayaran utang yang akan lebih berat selama setengah dekade terakhir. Alhasil diperlukan stimulus kebijakan melalui suku bunga rendah, ketentuan likuiditas yang lebih fleksibel dan program dukungan pemerintah yang memungkinkan untuk menjaga agar risiko kredit tidak terlalu mengkhawatirkan. Meskipun demikian, ada sejumlah titik terang yang memberikan harapan pemulihan ekonomi. Salah satunya adalah terpilihnya Joseph Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) membuka kemungkinan meredanya ketegangan dan perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Hasil uji klinis beberapa vaksin untuk COVID-19 dengan tingkat efikasi di atas 90 persen juga memantik harapan bahwa pandemi akan berangsur-angsur berakhir.
Rendahnya angka pertumbuhan kredit dan tingginya pertumbuhan DPK tak lain akibat permintaan domestik yang lemah dan perbankan yang hati-hati akibat berlanjutnya pandemi COVID-19. Saat ini orang lebih memilih menabung untuk berjaga-jaga daripada untuk konsumsi atau investasi. Hal tersebut yang kini menyebabkan pertumbuhan DPK lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit. Secara spesifik nyatanya tidak semua bank mengalami penurunan kredit di masa pandemi. Di antara bank-bank yang kini bermasalah dalam kredit, beberapa bank wilayah justru berpotensi pertumbuhan kredit paling mumpuni dibandingkan kelompok lainnya. Landasan utama adalah kredit untuk segmen konsumen, terutama untuk ASN. Pada awal 2021, OJK mengatakan pertumbuhan kredit perbankan dalam negeri mencapai 2,73% (yoy), melampaui pertumbuhan kelompok perbankan lainnya, yang masih negatif. Selain bank regional, sejumlah bank umum lainnya juga meningkat pinjaman. Pertumbuhan kredit di tengah permintaan kredit lamban sebagian disebabkan total Rs 30 triliun dana dari bank umum, yang meminta tiga pinjaman dalam tiga bulan. Bank yang kredit kebutuhan saat ini berkurang karena pandemi cenderung untuk melepaskan sebagian dana mereka pada efek seperti obligasi dan obligasi pemerintah (SBN). Tentu saja, ini hanya dilakukan untuk mengelola likuiditas pada level normal. Langkah bank yang kelebihan dana untuk membeli obligasi pemerintah menjadi solusi tepat jika anggaran pemerintah (APBN) saat ini membutuhkan bantuan. Di sisi perbankan, suntikan modal ke SBN dinilai sangat menguntungkan karena fluktuasi harga pasar.
Survei lain yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) terkait permintaan dan penawaran bank menunjukkan bahwa permintaan pembiayaan korporasi telah mulai meningkat pada September 2020. Peningkatan permintaan terutama terjadi pada kredit korporasi. Para responden survei pun memperkirakan permintaan kredit masih akan tumbuh dalam tiga bulan ke depan, meskipun melambat. Peningkatan kebutuhan pembiayaan terutama dialami sektor pertambangan, pengadaan listrik, gas, dan air, konstruksi, jasa keuangan dan real estat. Sebaliknya, kenaikan permintaan kredit oleh industri pertanian, pengolahan, perdagangan, penyedia akomodasi, serta jasa perusahaan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya akan melambat.
Kesimpulan Sejatinya, pertumbuhan kredit akan mengikuti tren pemulihan ekonomi. Jika pemulihan ekonomi berjalan lambat, kredit juga akan sulit tumbuh. Artinya, intermediasi perbankan diperkirakan akan membaik sejalan dengan prospek perbaikan kinerja korporasi dan pemulihan ekonomi domestik, serta konsistensi sinergi kebijakan yang ditempuh. Adapun kinerja korporasi triwulan I 2021 terindikasi secara perlahan membaik. Hal ini tecermin dari peningkatan penjualan, kemampuan bayar, serta penerimaan perpajakan terutama pada sektor industri dan perdagangan.
Pada intinya, kunci dari pemulihan fungsi intermediasi sektor perbankan saat ini adalah dengan membangun confidence para pelaku ekonomi sehingga seluruh sendi perekonomian dapat kembali berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu, koordinasi yang baik antarlembaga terkait di antaranya Bank Indonesia, OJK, Lembaga Penjamin Simpanan, hingga Kementrian Keuangan sangat diperlukan untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan serta mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional.
Daftar Pustaka https://www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/data-dan-statistik/laporan-keuangan-perbankan/default.aspx# Kutipan Laporan Keuangan Perbankan Diakses Pada 29 Agustus 2021 Pukul 13:00 Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id) Kutipan OJK Diakses Pada 29 Agustus 2021 Pukul 13:05 https://www.dbs.com/newsroom/Pentingnya_peran_perbankan_bagi_pemulihan_ekonomi_pasca_pandemi Kutipan Pentingnya Peran Perbankan Bagi Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Diakses Pada 29 Agustus 2021 Pukul 13:13 https://feb.ub.ac.id/harmonisasi-fungsi-intermediasi-perbankan.html Kutipan Harmonisasi Fungsi Intermediasi Perbankan Diakses Pada 29 Agustus Pukul 13:25 https://www.timesindonesia.co.id/read/news/283172/peran-strategis-bank-indonesia-era-pandemi Kutipan Peran Strategis Bank Indonesia Era Pandemi Diakses Pada 29 Agustus Pukul 13:33 https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Laporan-Kebijakan-Moneter-Triwulan-I-2021.aspx Kutipan Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2021 Diakses Pada 29 Agustus Pukul 13:37
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda