Bogor, JurnalPost.com — Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pakuan menerapkan lubang biopori di sejumlah rumah warga dan lingkungan SDN Cihideung, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi konservasi sederhana yang dapat membantu meningkatkan daya resap air sekaligus mendorong pengelolaan bahan organik di lingkungan permukiman dan sekolah.
Implementasi biopori melibatkan Alif Nur Setya selaku Penanggung Jawab Program Biopori, M. Siraajul Kahfi selaku Ketua Tim PPK Ormawa BEM FMIPA Universitas Pakuan, serta masyarakat Desa Cipelang.
Sejumlah warga, yakni Cacih, Nanih, dan Rusman, turut menyediakan area di sekitar rumah mereka sebagai lokasi penerapan. Kegiatan juga mendapat dukungan dari Mimit selaku Ketua RT 03 RW 02 Desa Cipelang.
Sementara penerapan biopori di lingkungan sekolah dilaksanakan bersama Kepala SDN Cihideung, Priyani.
Alif Nur Setya menjelaskan bahwa teknologi biopori dipilih karena relatif sederhana dan dapat diterapkan langsung oleh masyarakat di sekitar tempat tinggal.
“Biopori kami terapkan sebagai salah satu upaya untuk membantu meningkatkan resapan air sekaligus memanfaatkan bahan organik yang ada di sekitar. Harapannya, warga tidak hanya mengetahui cara membuatnya, tetapi juga dapat melakukan pemeliharaan dan menerapkannya secara mandiri di lingkungan masing-masing,” ujar Alif.
Menurutnya, keberhasilan penerapan biopori tidak hanya dilihat dari jumlah lubang yang dibuat. Pemeliharaan secara berkelanjutan menjadi bagian penting agar lubang tetap berfungsi dengan optimal.
Karena itu, warga turut diberikan pemahaman mengenai cara mengisi lubang biopori menggunakan bahan organik serta melakukan perawatan secara berkala.
Ketua Tim PPK Ormawa BEM FMIPA Universitas Pakuan, M. Siraajul Kahfi, mengatakan implementasi tersebut merupakan bagian dari pendekatan konservasi lingkungan yang dikembangkan dalam program PPK Ormawa di Desa Cipelang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Hal sederhana seperti biopori bisa menjadi bagian dari pengelolaan air dan lingkungan apabila dilakukan bersama dan dipelihara secara berkelanjutan. Karena itu, keterlibatan masyarakat dan sekolah menjadi bagian penting dari program ini,” jelas Siraajul.
Libatkan Warga dalam Pengelolaan Lingkungan
Penerapan biopori di lingkungan permukiman dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Mulai dari penentuan titik, pembuatan lubang hingga pengenalan cara pemanfaatan dan pemeliharaan biopori.
Mimit selaku Ketua RT 03 RW 02 Desa Cipelang menilai kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap pengelolaan lingkungan.
“Kegiatan seperti ini bagus untuk warga karena langsung diterapkan di lingkungan rumah. Selain menambah pengetahuan, masyarakat juga jadi tahu bahwa ada cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu menjaga lingkungan dan mengelola air hujan,” ungkap Mimit.
Warga yang menjadi lokasi penerapan, yakni Cacih, Nanih, dan Rusman, juga dilibatkan dalam proses pembuatan sehingga diharapkan memiliki pemahaman mengenai fungsi dan perawatan biopori setelah program selesai.
Pembuatan lubang biopori dimulai dengan menentukan lokasi yang sesuai, kemudian tanah dilubangi menggunakan alat pembuat biopori. Lubang tersebut selanjutnya berfungsi sebagai ruang resapan air dan dapat diisi dengan bahan organik.
Keberadaan biopori di sekitar rumah diharapkan membantu air hujan masuk ke dalam tanah sehingga meningkatkan infiltrasi dan dapat berkontribusi dalam mengurangi genangan di lingkungan permukiman.
Biopori Jadi Media Edukasi di SDN Cihideung
Selain di rumah warga, Tim PPK Ormawa juga menerapkan biopori di SDN Cihideung. Penerapan di sekolah diarahkan tidak hanya sebagai sarana konservasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran lingkungan bagi siswa.
Melalui biopori, siswa dapat dikenalkan secara langsung pada proses resapan air, konservasi tanah, pemanfaatan bahan organik, hingga pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
Kepala SDN Cihideung, Priyani, mengatakan pembelajaran lingkungan akan lebih mudah dipahami apabila anak-anak dapat melihat praktiknya secara langsung.
“Dengan adanya biopori di sekolah, anak-anak bisa belajar secara langsung bahwa menjaga lingkungan bukan hanya melalui teori. Mereka dapat melihat bagaimana air dan bahan organik dapat dikelola melalui cara sederhana. Ini bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk membangun kepedulian lingkungan sejak dini,” ujar Priyani.
Lubang biopori dapat diisi dengan bahan organik seperti daun kering dan sisa tumbuhan. Seiring waktu, bahan organik tersebut akan terurai secara alami dan dapat menghasilkan kompos.
Dengan mekanisme tersebut, biopori memberikan manfaat ganda, yakni sebagai sarana peningkatan resapan air sekaligus media pengelolaan sampah organik.
Dorong Konservasi Berkelanjutan
Tim PPK Ormawa turut memberikan pendampingan kepada masyarakat dan pihak sekolah mengenai pembuatan, pemanfaatan, serta perawatan lubang biopori.
Pendampingan dinilai penting karena manfaat biopori tidak berhenti setelah proses pembuatan. Lubang perlu dipelihara dan bahan organik di dalamnya harus dikelola agar fungsi resapan tetap berjalan.
Bagi warga, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat mendorong praktik pengelolaan lingkungan secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah.
Sementara di sekolah, keberadaan biopori diharapkan berkembang menjadi sarana pendidikan lingkungan yang dapat digunakan untuk memperkenalkan hubungan antara air, tanah, bahan organik, dan ekosistem kepada siswa.
Program biopori ini juga berkaitan dengan kegiatan konservasi lereng yang dikembangkan PPK Ormawa di Desa Cipelang.
Peningkatan infiltrasi melalui lubang biopori dapat menjadi salah satu unsur pengelolaan air hujan pada tingkat tapak. Jika diterapkan lebih luas serta dipadukan dengan vegetasi dan praktik konservasi tanah lainnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan lingkungan secara lebih berkelanjutan.
Melalui program ini, Tim PPK Ormawa BEM FMIPA Universitas Pakuan berupaya membangun kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan sekolah dalam menjaga lingkungan Desa Cipelang.
Ke depan, warga dan pihak sekolah diharapkan mampu melanjutkan pemeliharaan biopori secara mandiri sekaligus memperluas penerapannya sesuai kondisi lingkungan masing-masing.
Implementasi tersebut menjadi salah satu contoh bahwa upaya konservasi dapat dimulai melalui langkah sederhana di tingkat rumah tangga dan sekolah. Dengan edukasi, partisipasi masyarakat, serta pemeliharaan secara konsisten, biopori dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan Desa Cipelang yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda