Kota Batu, JurnalPost.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 4 menggelar pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar kotoran kambing bagi Kelompok Tani Bumi Abadi Utara di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di greenhouse Kelompok Tani Bumi Abadi Utara tersebut menjadi salah satu program pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan potensi lokal, khususnya limbah peternakan, untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
KKN MAs merupakan program yang diinisiasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai wadah kolaborasi mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Melalui program tersebut, mahasiswa dari berbagai daerah melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan mengangkat potensi sekaligus menjawab permasalahan di wilayah penempatan.
Pada 2026, Malang Raya menjadi tuan rumah pelaksanaan KKN MAs. Mahasiswa dari berbagai PTMA pun mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dan berkontribusi dalam program pemberdayaan masyarakat di Malang dan wilayah sekitarnya.
Anggota KKN MAs Kelompok 4 berasal dari sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Muhammadiyah Karanganyar, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Muhammadiyah Buton, Universitas Muhammadiyah Bone, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Universitas Muhammadiyah Makassar, serta Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta.
Dorong Pemanfaatan Limbah Peternakan
Pelaksanaan KKN MAs tahun ini mengusung semangat pengabdian yang berorientasi pada ketahanan pangan dan penguatan potensi lokal. Semangat tersebut diwujudkan melalui sejumlah program yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing lokasi pengabdian.
Di Desa Bumiaji, sektor pertanian dan peternakan menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan. Kotoran kambing dari aktivitas peternakan masyarakat berpotensi menjadi limbah apabila tidak dikelola dengan baik. Padahal, bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan pupuk organik.
Kondisi itulah yang melatarbelakangi mahasiswa KKN MAs Kelompok 4 memberikan pelatihan pembuatan POC berbasis kotoran hewan (kohe) kambing kepada kelompok tani.
Pemanfaatan kohe kambing sebagai bahan POC diharapkan menjadi alternatif pengelolaan limbah peternakan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pupuk dalam kegiatan pertanian.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga kesempatan mempraktikkan langsung proses pembuatan POC agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara mandiri.
Petani Antusias Ikuti Pelatihan
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Kelompok Tani Bumi Abadi Utara, Kalik Harianto. Ia mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut karena masih terdapat anggota kelompok tani yang belum mengetahui proses pembuatan pupuk organik cair.
“Kami sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Banyak dari anggota kelompok tani yang belum tahu dan belum pernah membuat pupuk organik cair. Dengan adanya pelatihan ini, kami jadi bisa mengetahui cara membuat dan memanfaatkannya,” ujar Kalik.
Ia berharap pengetahuan yang diberikan mahasiswa dapat diterapkan dalam aktivitas pertanian sehari-hari sehingga memberikan manfaat bagi para petani.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai Pupuk Organik Cair oleh Arlin, mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Bone.
Materi meliputi pengenalan POC, manfaat pupuk organik, kebutuhan alat dan bahan, hingga tahapan pembuatan POC berbasis kotoran kambing.
Para petani terlihat antusias mengikuti pemaparan. Sejumlah pertanyaan disampaikan terkait takaran bahan, proses fermentasi, waktu penyimpanan, hingga cara mengaplikasikan pupuk organik cair pada tanaman.
“Kami datang ke sini bukan untuk menggurui atau merasa paling tahu. Justru kami juga ingin belajar dari Bapak-Bapak yang sudah lebih berpengalaman dalam bertani. Melalui kegiatan ini, kami berharap bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman,” kata Arlin.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi kelompok tani sekaligus menjadi pengalaman pembelajaran bagi mahasiswa selama menjalani program pengabdian.
Praktik Langsung Pembuatan POC
Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik pembuatan POC. Mahasiswa bersama petani mempraktikkan setiap tahap, mulai dari persiapan bahan, pencampuran hingga proses fermentasi.
Praktik langsung dilakukan agar para peserta lebih mudah memahami prosedur pembuatan sekaligus memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan kembali secara mandiri.
Interaksi antara mahasiswa dan petani berlangsung aktif sepanjang sesi praktik. Para peserta berdiskusi mengenai komposisi dan takaran bahan, karakteristik hasil fermentasi, waktu penggunaan, serta cara penerapannya pada tanaman.
Kegiatan tersebut turut dihadiri penyuluh pertanian Desa Bumiaji, Nur Chanifah. Kehadirannya ikut memperkuat proses pertukaran pengetahuan antara mahasiswa, penyuluh, dan masyarakat dalam mengembangkan praktik pertanian berbasis potensi lokal.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Meski acara telah selesai, sejumlah petani masih melanjutkan diskusi dengan mahasiswa mengenai pemanfaatan dan penerapan POC dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
Antusiasme peserta menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap pemanfaatan limbah peternakan menjadi bahan yang memiliki nilai guna bagi sektor pertanian.
Bagi mahasiswa KKN MAs, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mempelajari secara langsung kondisi, pengalaman, serta kebutuhan petani di Desa Bumiaji.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa berharap pengetahuan mengenai pembuatan POC berbasis kotoran kambing dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kelompok tani.
Pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk organik diharapkan menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengoptimalkan potensi lokal, mengurangi limbah, sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mewujudkan KKN MAs sebagai program kolaboratif PTMA se-Indonesia. Kolaborasi mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan diharapkan mampu menghasilkan program pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi desa lokasi pengabdian.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda