Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Internasional
  3. Dari Maluku ke Hainan, Pandan Menjadi Jembatan Rasa Indonesia dan China

Dari Maluku ke Hainan, Pandan Menjadi Jembatan Rasa Indonesia dan China

Foto profil Nadia
Penulis: Nadia
23 Agustus 2026, 17.37 WITA Editor: Hasbi
6 menit baca
tanaman daun pandan
Foto tanpa keterangan tanggal ini menunjukkan tanaman daun pandan yang dibudidayakan di bawah tegakan hutan di Wanning, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua) Foto: Xinhua

HAIKOU, JurnalPost.com — Aroma pandan begitu akrab bagi masyarakat Indonesia. Daun hijau memanjang itu hadir dalam beragam hidangan, mulai dari kue lapis, ketan, minuman, hingga aneka makanan penutup. Cukup beberapa helai, pandan mampu meninggalkan aroma khas yang hangat dan mudah dikenali.

Namun, perjalanan pandan ternyata tidak berhenti di dapur-dapur Nusantara. Tanaman yang berasal dari Kepulauan Maluku itu kini tumbuh subur ribuan kilometer dari Indonesia, tepatnya di Provinsi Hainan, China selatan.

IKLAN

Di sana, pandan bukan sekadar tanaman tropis. Ia membawa jejak sejarah, ingatan tentang kampung halaman, hingga membuka jalan bagi industri baru yang terus berkembang.

robot humanoid
Baca Juga

Robot Humanoid Catat 9,39 Detik di Lari 100 Meter, Lebih Cepat dari Rekor Usain Bolt

Aroma Rumah yang Dibawa dari Indonesia

Jejak pandan di Hainan tidak dapat dilepaskan dari warga China perantauan yang kembali dari Indonesia dan sejumlah kawasan Asia Tenggara sejak dekade 1950-an.

Sebagian dari mereka menetap di Xinglong, kawasan di Kota Wanning. Bersama kepulangan itu, mereka membawa kebiasaan, resep, dan tradisi kuliner yang telah melekat selama hidup di Indonesia.

Liang Jinhua termasuk salah satu warga China perantauan yang keluarganya mempertahankan tradisi tersebut.

“Ketika masih kecil, kami selalu menanam beberapa pohon pandan di halaman. Setiap kali membuat kue Nyonya atau memasak kari, kami tinggal memetik beberapa lembar. Aroma itu adalah aroma rumah,” kenang Liang.

Superkomputer
Baca Juga

Jaringan Superkomputer China Hadirkan Agen AI untuk Komputasi Ilmiah Berkecepatan Tinggi

Keluarganya kemudian membuka Restoran Indonesia Isana di Xinglong. Pada Februari 2023, restoran tersebut memperoleh sertifikasi “Restoran Pelestari Cita Rasa Kuliner Indonesia” dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou.

Bagi Liang, pandan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar bahan masakan. Aromanya menjadi penghubung antara kehidupan para warga China perantauan di tanah leluhur mereka dengan kenangan akan Indonesia yang pernah menjadi rumah kedua.

Keterangan foto: 

Dari Tanaman Pekarangan Menjadi Komoditas

Meski pandan telah ditanam di Hainan sejak puluhan tahun lalu, selama sekitar empat hingga lima dekade budi dayanya masih dilakukan secara terbatas.

Perhimpunan, Sarjana, Pertanian, Indonesia, BNI
Baca Juga

Petani sekarang harus jadi Agropreneur yang melek inovasi dan Informasi

Tanaman pandan lebih banyak ditemukan di pekarangan rumah dan belum berkembang menjadi komoditas pertanian berskala besar.

Situasi mulai berubah ketika penelitian ilmiah terhadap pandan semakin intensif dilakukan.

kue lapis pandan
Kue lapis pandan, salah satu makanan populer di Hainan, China selatan, yang dibuat menggunakan daun pandan dan bahan lainnya. (Xinhua)

Sejak 1980-an, Institut Penelitian Rempah dan Minuman di bawah Akademi Ilmu Pertanian Tropis China atau Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences (CATAS) mulai mengumpulkan dan melestarikan berbagai sumber daya plasma nutfah pandan.

Penelitian panjang tersebut kemudian melahirkan varietas unggulan bernama “Zongxiang Banlan”, yang dikenal memiliki aroma kuat.

Namun, mengembangkan perkebunan pandan dalam skala besar bukan pekerjaan sederhana.

Peneliti CATAS, Ji Xunzhi, menjelaskan pandan tidak menghasilkan bunga maupun buah. Tanaman tersebut hanya dapat diperbanyak melalui tunas akar.

Kondisi itu membuat ketersediaan bibit menjadi salah satu kendala utama, terutama karena tingkat kelangsungan hidup bibit sebelumnya relatif rendah.

Untuk mengatasinya, para peneliti mengembangkan teknologi perbanyakan cepat menggunakan kultur jaringan. Metode ini memungkinkan produksi bibit yang lebih sehat dan seragam dalam jumlah besar.

Para ilmuwan juga mengembangkan pupuk organik khusus untuk membantu meningkatkan kekuatan aroma daun pandan.

Tidak berhenti pada aspek budi daya, penelitian toksikologi turut dilakukan guna menyediakan dasar ilmiah terkait keamanan pandan sebagai bahan pangan.

Keterangan foto: 

Kebijakan Membuka Jalan Industri Pandan

Kemajuan teknologi budi daya kemudian bertemu dengan dukungan regulasi.

IKLAN

Sebelumnya, pandan belum tercantum dalam katalog nasional bahan pangan yang disetujui di China. Kondisi itu sempat menimbulkan persoalan bagi industri karena produk olahan pandan pernah ditarik dari pasaran akibat belum tersedianya standar yang mengatur penggunaannya.

Titik penting terjadi pada 2023.

peneliti Institut
Ji Xunzhi (kiri), peneliti Institut Penelitian Rempah dan Minuman CATAS, memeriksa pertumbuhan pandan di pusat pembibitan. (Xinhua/Guo Liangchuan)

Hainan resmi memberlakukan standar keamanan pangan daerah untuk pandan. Kebijakan tersebut membuat Hainan menjadi satu-satunya provinsi di China yang saat ini memungkinkan produksi dan pengolahan makanan berbahan pandan secara legal.

Kepala Biro Pertanian dan Urusan Pedesaan Kota Wanning, Cai Duhao, mengatakan pemerintah setempat bahkan telah menyusun rencana khusus pengembangan industri yang berpusat pada “selembar daun pandan.”

Berbagai insentif diberikan, termasuk subsidi untuk pengembangan pandan melalui pola tumpang sari di bawah tegakan hutan.

Ambisinya cukup besar: menjadikan Wanning sebagai “Kampung Pandan China.”

Wanning juga ingin menjadi pintu pengembangan industri pandan ke berbagai wilayah China sekaligus membuka koneksi dengan pasar internasional.

Pandan Meluas hingga Ribuan Hektare

Transformasi tersebut kini mulai terlihat.

Luas areal budi daya pandan di Hainan telah mencapai sekitar 2.000 hektare.

Kawasan Nanqiao di Kota Wanning memiliki sekitar 300 hektare kebun pandan dan menjadi salah satu basis budi daya pandan terkonsentrasi terbesar di pulau tersebut.

Dari lahan pertanian, pandan kemudian berkembang ke industri pengolahan.

Dalam beberapa tahun terakhir, minuman teh lemon pandan dan kopi pandan semakin populer. Produk lain juga mulai bermunculan, mulai dari mi pandan, aneka kue, aromaterapi, deterjen hingga tanaman hias.

Perkembangan tersebut bahkan melahirkan ungkapan di kalangan pelaku industri bahwa “segala sesuatu bisa dipadukan dengan pandan.”

Selembar Daun yang Mendekatkan Indonesia dan Hainan

Di balik berkembangnya industri pandan, hubungan pertanian antara Hainan dan Indonesia juga semakin intensif.

Pada April 2026, delegasi Universitas Hainan berkunjung ke Indonesia untuk mendorong kerja sama melalui Aliansi Universitas Kawasan Tropis.

Hubungan tersebut berlanjut pada Juli, ketika delegasi ekonomi dan perdagangan Hainan datang ke Jakarta dalam rangka Simposium Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan China (Hainan)-Indonesia.

bibit tanaman pandan
Bibit pandan yang dikembangkan Institut Penelitian Rempah dan Minuman CATAS pada 31 Juli 2026. (Xinhua/Guo Liangchuan)

Pertanian menjadi salah satu sektor utama yang dibahas.

Dalam bidang penelitian, CATAS juga telah menjalin kerja sama dengan Universitas Brawijaya untuk melakukan riset bersama mengenai pengendalian hama dan penyakit pada tanaman tropis.

Pandan yang telah lama digunakan masyarakat Indonesia sebagai bahan pangan maupun untuk berbagai kebutuhan tradisional akhirnya menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana pengetahuan pertanian dapat bergerak melintasi batas negara.

Perjalanan tanaman itu dari Kepulauan Maluku hingga tumbuh menjadi industri di Hainan juga menyimpan cerita tentang migrasi, budaya, teknologi, dan ingatan manusia.

Bagi para warga China perantauan yang pernah hidup di Indonesia, aroma pandan tetap membawa mereka pada kenangan lama.

Sementara bagi Hainan, daun hijau sederhana tersebut perlahan berubah menjadi sumber inovasi dan peluang ekonomi.

Dari sebuah tanaman di halaman rumah hingga ribuan hektare perkebunan, pandan kini menjadi salah satu jembatan kecil yang menghubungkan Indonesia dan China melalui rasa, budaya, serta kerja sama pertanian tropis.

Sumber: Xinhua

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pandan-indonesia-hainan-china-industri-pertanian/97428/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.51 WITA

  • #Berita Xinhua
  • #China
  • #Hainan
  • #Indonesia
  • #Pandan
  • #Wanning
  • #Xinhua
  • #kuliner indonesia
  • #pertanian

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Raih ACRA Award di Thailand, Kepala BSSN Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Hadapi Ancaman Siber

BPKH dan Bank Muamalat Ajak Diaspora Indonesia di Malaysia Persiapkan Haji Sejak Dini

Pakar Indonesia Tertarik Kembangkan Moksibusi Sensitif Panas Usai Forum Pengobatan Tradisional SCO 2026

Pengangguran Pemuda Berpendidikan Tinggi di Sri Lanka Capai 43 Persen, Tertinggi di Asia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan
  2. 2

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  3. 3

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  4. 4

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  5. 5

    Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.