JURNALPOST.COM, JEPANG – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Jepang bagian tengah pada Minggu (8/11/2026) dini hari. Guncangan yang berpusat di Prefektur Shizuoka tersebut mengakibatkan sedikitnya 28 orang mengalami luka-luka, merusak sejumlah bangunan, serta mengganggu layanan transportasi dan pasokan air bersih.
Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA) melaporkan gempa terjadi sekitar pukul 01.04 waktu Jepang atau 00.04 WITA. Pusat gempa berada di wilayah barat Prefektur Shizuoka pada kedalaman sekitar 41 kilometer.
Meskipun berpusat di Shizuoka, guncangan terkuat justru tercatat di Kota Chita, Prefektur Aichi. Wilayah tersebut mengalami intensitas gempa 5 kuat pada skala seismik Jepang yang memiliki rentang 0 hingga 7.
Guncangan juga dirasakan di sejumlah wilayah lainnya, termasuk Nagano, Gifu, dan kawasan sekitar Jepang bagian tengah.
JMA memastikan gempa tersebut tidak menimbulkan ancaman tsunami. Namun, masyarakat yang tinggal di kawasan terdampak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Korban Luka Bertambah di Aichi dan Shizuoka
Berdasarkan laporan perkembangan penanganan bencana hingga Minggu siang, sedikitnya 25 orang mengalami cedera di Prefektur Aichi. Dua di antaranya dilaporkan menderita luka berat.
Sementara itu, tiga orang lainnya mengalami luka ringan di Prefektur Shizuoka. Dengan demikian, jumlah korban luka dari kedua wilayah mencapai sedikitnya 28 orang.
Sebagian korban mengalami cedera ketika berusaha menyelamatkan diri dari guncangan yang terjadi secara tiba-tiba.
Di Kota Tokoname, Prefektur Aichi, seorang perempuan berusia sekitar 50 tahun dilaporkan mengalami patah tulang pergelangan kaki setelah terjatuh.
Di Shizuoka, seorang perempuan berusia 80-an tahun yang tinggal di kawasan Mikkabi, Hamamatsu, terjatuh ketika berusaha berjalan menuju kamar mandi sesaat setelah gempa terjadi.
Perempuan tersebut mengalami cedera pada bagian pinggang dan membutuhkan pertolongan medis.
Korban lainnya dilaporkan berada di Kota Kakegawa dan wilayah Mori. Seorang perempuan berusia 30-an tahun di Kakegawa mengalami dislokasi bahu kanan, sedangkan perempuan berusia sekitar 90 tahun di Mori mengalami cedera bahu setelah terjatuh dari tempat tidur.
Sejumlah peristiwa tersebut menunjukkan bahwa risiko cedera akibat gempa tidak hanya berasal dari bangunan yang rusak, tetapi juga dari kepanikan dan benda-benda yang berjatuhan di dalam rumah.
Kerusakan Bangunan dan Gangguan Air Bersih
Gempa turut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan fasilitas masyarakat.
Di Hamamatsu, sebagian genteng atap sebuah rumah kosong dilaporkan terjatuh hingga memasuki pekarangan bangunan di sebelahnya.
Kerusakan juga ditemukan pada bagian dinding sebuah bangunan di kawasan Mikkabi. Beruntung, tidak ada korban luka yang dilaporkan akibat kedua kejadian tersebut.
Di wilayah lain, guncangan menyebabkan barang-barang di dalam pertokoan berjatuhan dan sejumlah fasilitas harus diperiksa sebelum kembali digunakan.
Gangguan juga dialami warga Kota Higashiura di Prefektur Aichi.
Pemerintah setempat melaporkan sebagian kawasan mengalami penghentian pasokan air bersih setelah gempa. Gangguan tersebut kemudian berhasil dipulihkan sekitar pukul 05.10 waktu setempat.
Meski pasokan kembali tersedia, warga masih diingatkan mengenai kemungkinan air keruh akibat gangguan pada jaringan distribusi.
Pemerintah daerah menyiapkan distribusi air minum kemasan serta layanan bantuan air melalui beberapa fasilitas umum mulai pukul 08.30.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama pemeriksaan jaringan berlangsung.
Kereta Cepat Shinkansen Sempat Mengalami Keterlambatan
Aktivitas transportasi Jepang juga terkena dampak gempa, terutama layanan kereta api yang menghubungkan sejumlah kota besar.
Operator kereta JR Central melakukan pemeriksaan keselamatan jalur Shinkansen Tokaido setelah gempa terjadi.
Layanan kereta di lintasan antara Stasiun Shizuoka dan Gifu-Hashima sempat diberlakukan pembatasan kecepatan sejak awal operasional.
Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, perjalanan kereta kembali beroperasi dengan kecepatan normal pada pukul 08.57 waktu Jepang.
Menurut keterangan operator, sebanyak 29 perjalanan kereta mengalami keterlambatan hingga 52 menit.
Gangguan perjalanan tersebut berdampak pada sekitar 17.000 penumpang.
Selain Shinkansen, kereta malam Sunrise Izumo sempat berhenti di antara Stasiun Maisaka dan Takatsuka untuk menjalani pemeriksaan keselamatan.
Kereta tersebut kembali bergerak sekitar pukul 03.30 waktu setempat. Sekitar 290 penumpang di dalamnya dilaporkan tidak mengalami cedera maupun gangguan kesehatan.
Pemulihan layanan transportasi menjadi salah satu prioritas karena jalur tersebut merupakan penghubung penting aktivitas masyarakat dan perekonomian Jepang.
JMA Ingatkan Potensi Gempa Susulan
Meski situasi berangsur pulih, JMA mengingatkan bahwa wilayah yang mengalami guncangan kuat masih berpotensi menghadapi gempa susulan.
Dalam pernyataan resminya, JMA meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama sekitar satu pekan setelah gempa utama.
"Warga di wilayah yang mengalami guncangan kuat perlu mewaspadai gempa dengan intensitas sekitar 5 kuat selama kurang lebih satu pekan," demikian isi peringatan JMA yang diterjemahkan dari bahasa Jepang.
Badan meteorologi tersebut menjelaskan bahwa periode dua hingga tiga hari setelah gempa utama membutuhkan perhatian khusus.
Berdasarkan pengalaman kejadian sebelumnya, sekitar 10 hingga 20 persen gempa besar diikuti gempa lain dengan kekuatan serupa.
Tidak lama setelah gempa utama, JMA juga mencatat gempa berkekuatan magnitudo 3,3 di wilayah timur Prefektur Aichi pada pukul 02.03 waktu Jepang.
Gempa susulan tersebut menghasilkan intensitas maksimum 2 dalam skala seismik Jepang.
Selain guncangan lanjutan, warga diminta menghindari kawasan yang memiliki risiko tanah longsor dan jatuhan batu, terutama di lereng yang terdampak gempa.
Bagaimana Kaitannya dengan Gempa Besar Nankai Trough?
Gempa yang mengguncang Shizuoka juga memunculkan perhatian terhadap kawasan Nankai Trough, salah satu zona sumber gempa besar di Jepang.
JMA menjelaskan bahwa pusat gempa berada di dalam Lempeng Laut Filipina, pada wilayah yang termasuk kawasan sumber gempa potensial Nankai Trough.
Namun, berdasarkan analisis awal, gempa magnitudo 5,7 tersebut tidak menunjukkan perubahan khusus pada kondisi keterkuncian antarlempeng di kawasan tersebut.
Artinya, kejadian ini belum memberikan dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa gempa besar Nankai Trough akan segera terjadi.
Meskipun demikian, aktivitas seismik dan perubahan kerak bumi tetap dipantau secara berkelanjutan.
JMA juga mengingatkan pentingnya menggunakan informasi dari lembaga resmi dan tidak menyebarkan prediksi gempa yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Pemulihan Berlangsung, Warga Tetap Diminta Siaga
Hingga Minggu, pemerintah daerah di Jepang masih melakukan pendataan terhadap korban dan kerusakan akibat gempa.
Pemeriksaan bangunan, jaringan air bersih, serta fasilitas transportasi dilakukan untuk memastikan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan aman.
Walaupun tidak menimbulkan tsunami, gempa magnitudo 5,7 ini menunjukkan besarnya dampak guncangan terhadap kehidupan sehari-hari, mulai dari keselamatan penghuni rumah hingga kelancaran transportasi publik.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap menyiapkan perlengkapan darurat, memperhatikan kondisi bangunan, serta mengikuti pemberitahuan resmi mengenai aktivitas gempa susulan.
Perkembangan lebih lanjut mengenai kondisi korban dan kerusakan masih menunggu pembaruan dari pemerintah setempat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda