Singapura, JurnalPost.com -Sepuluh pekerja migran wanita Indonesia di Singapura yang juga merupakan mahasiswi Universitas Terbuka Indonesia mengikuti program pelatihan manajemen konflik dan komunikasi berbasis kepribadian pada Minggu (26/5) di YMCA Community Center, Singapura. Program yang diinisiasi oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur ini bertujuan untuk memberdayakan para pekerja migran agar lebih memahami diri sendiri dan rekan kerja, serta terampil dalam menyelesaikan konflik dan berkomunikasi efektif di lingkungan kerja yang beragam.
Pelatihan yang berlangsung selama sehari penuh ini dipandu oleh Dr. Syafrida Febriyanti dan Dr. Aulia Rahmawati selaku dosen Program Studi Ilmu Komunikasi. Acara ini sekaligus merupakan Pengabdian Masyarakat Internasional yang pertamakali dilakukan oleh prodi ini. Para peserta menjalani penilaian kepribadian menggunakan indikator Myers-Briggs, berdiskusi tentang karakteristik masing-masing tipe kepribadian, serta mempelajari gaya manajemen konflik dan preferensi komunikasi yang sesuai.
"Perbedaan kepribadian seringkali memicu konflik di tempat kerja. Melalui pelatihan ini, para pekerja migran dibekali pemahaman mendalam tentang diri sendiri dan orang lain, sehingga mereka dapat menyesuaikan pendekatan dalam mengatasi konflik dan menjalin komunikasi yang lebih baik," ungkap Siti, ketua Komunitas TKI Singapura yang memiliki semboyan “Mendulang Dollar, Mengejar Gelar”. Seluruh anggota komunitas ini selain bekerja sebagai TKI juga sedang menempuh pendidikan paruh waktu Universitas Terbuka Indonesia di berbagai prodi antara lain Manajemen, Komunikasi dan Sastra Inggris.
Selain pemaparan materi, peserta juga terlibat aktif dalam sesi diskusi kelompok dan bermain peran untuk mensimulasikan penerapan keterampilan yang dipelajari. Mereka berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi dalam mengelola konflik di tempat kerja, serta bersama-sama mencari solusi yang efektif.
"Saya sering merasa frustrasi ketika menghadapi rekan kerja yang introvert dan tidak terbuka. Melalui pelatihan ini, saya belajar untuk lebih menghargai kebutuhan mereka dan menyesuaikan gaya komunikasi saya," tutur salah satu peserta dengan tipe kepribadian ESFP.
Di akhir pelatihan, para peserta menyusun rencana aksi individu sebagai komitmen untuk mengimplementasikan strategi resolusi konflik dan komunikasi efektif dalam keseharian. Mereka juga dibekali dengan panduan praktis untuk memahami dan berinteraksi secara positif dengan berbagai tipe kepribadian yang berbeda.
Evaluasi pasca pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pemahaman peserta terhadap tipe kepribadian dan kemampuan dalam mengelola konflik. Mereka juga melaporkan bertambahnya rasa percaya diri untuk menghadapi permasalahan di tempat kerja dan menerapkan strategi komunikasi yang lebih baik.
Syafrida Febriyanti, Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur dan salah satu fasilitator menyatakan bahwa program PkM internasional ini merupakan wujud kontribusi nyata kampus dalam memberdayakan masyarakat, khususnya pekerja migran Indonesia. "Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas mereka, baik sebagai pekerja maupun mahasiswa," pungkasnya. Lebih lanjut, fasilitator kedua, Aulia Rahmawati menyatakan “Pengabdian Masyarakat Internasional ini membantu para diaspora Indonesia sekaligus sebagai mobilitas dosen untuk semakin berjejaring secara global”.
Dengan bekal pemahaman diri yang lebih baik dan keterampilan praktis dalam manajemen konflik dan komunikasi, para pekerja migran wanita Indonesia di Singapura kini lebih siap untuk menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan dalam karir maupun studi mereka. Program ini tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan diri secara profesional, namun juga mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih harmonis dan inklusif.
Keberhasilan program PkM ini diharapkan dapat menjadi model bagi inisiatif serupa di komunitas pekerja migran Indonesia lainnya di negara tetangga seperti Malaysia, Taiwan dan Hong Kong. Dengan memberdayakan lebih banyak individu melalui pelatihan manajemen konflik dan komunikasi berbasis kepribadian, diharapkan dapat tercipta ekosistem kerja yang lebih positif dan saling mendukung, sehingga para pekerja migran dapat berkontribusi secara optimal baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat secara luas. Penulis: Aulia Rahmawati, Syafrida N. Febriyanti
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda